Kepentok Cinta Ustadz Gaul

Kepentok Cinta Ustadz Gaul
Bab 37: Salah Paham


Pagi yang terasa dingin tidak menyurutkan pasangan pengantin baru ini untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang hamba kepada penciptanya. Dalam doa mereka, memohon ampunan serta hidayah agar tidak berada dalam kemungkaran dan kesesatan. 


Selesai melaksanakan Shalat, Musa berbalik lalu duduk berhadapan dengan Sitara, dia mengulurkan tangannya dan Sitara mengambil dan mencium punggung tangan sang suami dengan takzim. 


Terlihat sangat damai di hati dua orang yang masih saling asing. “Mas hari ini mau kemana?” Sitara berusaha untuk mengakrabkan diri dengan suami, dan berusaha untuk bersikap biasa. 


“Sebenarnya ingin membawa kamu kembali ke pondok, karena acara kita yang mendadak ini, aku banyak meninggalkan pekerjaan, bagaimana menurut kamu Tara?” Musa yang paham dengan kegugupan Sitara atas peristiwa pagi tadi, berusaha untuk bersikap biasa saja, walau hatinya masih ingin menggoda sang istri.


“Mas, pengennya aku sih kita nginep beberapa malam disini. kasian Papa kan, walau dia orang sibuk, saat ini dia pasti pengen kita ada waktu buat dia, apalagi mas anak baru nya dia.” Sitara menatap Musa dengan memelas.


“Anak baru? kayak di sekolah aja.” Musa tersenyum yang menyadari kalimat Sitara yang bagi dia sedikit asing. “Hmm maksudku, Mas sekarang kan menjadi anak nya papa juga, itu karena kita menikah. jadi kan mas menjadi anak papa yang baru.” begitu maksudku. 


Sitara menjelaskan maksudnya, dia tidak ingin kebiasaan mereka berdebat kucing akan mulai lagi, gadis itu sangat takut jika di bilang istri durhaka, yang berani berkata keras atau berdebat dengan suami. 


Itulah yang Sitara pelajari dari buku-buku dan kajian yang selama ini dia pelajari dan ikuti. 


“Owwh oke oke aku paham. Oya tara, karena aku sudah menjadi suamimu, maka aku akan bertanggung jawab atas dirimu, lahir dan batinmu, dunia dan akhiratmu.”


Deg


Deg


Deg


Sitara merasakan debaran jantungnya semakin cepat, beda dengan tadi, ‘Jangan sekarang mas, aku belum siap, kita masih perlu merasa saling nyaman dulu!’ hati Sitara memberontak.


Dia paham kemana arah suami nya yang tampan itu bicara. tanpa terasa dia menggigit bibir bawahnya. Musa melihat perubahan di wajah istrinya. 


“Tara, apa aku salah bicara?” Musa mengambil tangan Sitara yang sudah dingin dan wajah yang tampak panik, tapi tubuhnya beku.


Kedua netra mereka saling memandang, tapi kembali kesunyian melanda dua insan yang sedang salah paham dalam diam.


“Ma-mas mau apa?” Yess! akhirnya ada juga kalimat yang mampu lolos dari bibir nya yang sedari tadi terkunci. “Ehem.. kenapa kamu tegang? kan aku belum ngomong apa-apa? tapi aku suka melihat kecantikan mu pagi ini, kamu cantik sekali istriku.” 


Blussshhhh


Entah darimana datangnya sayap ini, Sitara merasa tubuhnya ringan dan melayang layang keliling kamar. (Author ikut ngelamun bayangannya hihihi).


“Apaan sih mas, jangan terlalu manis kalo bicara, nanti aku bisa kena diabetes.” Sitara sesaat lupa dengan maksud dari kalimat awal Musa yang sampai detik ini belum terungkap tentang permintaannya.


tapi Sitara sedang bahagia dan jiwanya melayang efek dari pujian, padahal dia belum mandi di pagi yang dingin ini. Sementara tujuan Musa berhasil membuat istrinya lepas dari kebekuannya yang tidak bisa di sembunyikan dari Musa.


“Tara, aku meminta kamu untuk menutup aurat mu di hadapan orang yang bukan muhrim mu, apakah kamu bersedia?”


“Huufffff!” Sitara menghembuskan nafasnya dengan kasar, lega, itu yang dia rasakan. ‘Kirain minta yang itu, syukurlah dia nggak ngebahas itu.”


“Mas, bukannya aku sudah menutup kepala dengan pashmina dan berpakaian sopan? apa itu kurang Mas?” Sitara memainkan ujung piyamanya. 


“Sitara, rambutmu sangat indah, tubuhmu juga bisa membuat ku tergoda, apalagi orang lain di luar sana, dan aku tidak mau berbagi dengan orang lain. hanya aku yang boleh melihat dan menikmati keindahan yang halal ini. ini semua karena wanita sangat mulia. dan aku ingin memuliakan kamu istri ku.”


“Istriku, Allah mengatur semuanya dalam keindahan firmannya yang berbunyi 


 QS. Al-Ahzab: 59


يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ


فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا


“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak wanitamu, dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.”


Musa menjeda sejenak, dia memperhatikan wajah istrinya. Dia tidak ingin Sitara melaksanakan kewajibannya, sebagai seorang muslimah dengan rasa terpaksa dan dengan mengetahui dasarnya, hal ini akan membuat Sitara makin yakin saat melaksanakannya.


Hal ini bukan karena cemburu buta dari seorang Musa yang kini menjadi suaminya, tapi ini perintah dari Allah Subhanahu wa ta'ala. 


“Tara boleh aku melanjutkan? tidak hanya satu perintah yang allah berikan dalam hal menutup aurat, hal ini terdapat juga di surah An-Nur ayat 31, yang bunyinya:


QS. An-Nur: 31


وَقُلْ لِّـلۡمُؤۡمِنٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ اَبۡصَارِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوۡجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِيۡنَ زِيۡنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَا‌ وَلۡيَـضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوۡبِهِنَّ‌ۖ وَلَا يُبۡدِيۡنَ زِيۡنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اٰبَآٮِٕهِنَّ اَوۡ اٰبَآءِ بُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اَبۡنَآٮِٕهِنَّ اَوۡ اَبۡنَآءِ بُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اِخۡوَانِهِنَّ اَوۡ بَنِىۡۤ اِخۡوَانِهِنَّ اَوۡ بَنِىۡۤ اَخَوٰتِهِنَّ اَوۡ نِسَآٮِٕهِنَّ اَوۡ مَا مَلَـكَتۡ اَيۡمَانُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيۡنَ غَيۡرِ اُولِى الۡاِرۡبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفۡلِ الَّذِيۡنَ لَمۡ يَظۡهَرُوۡا عَلٰى عَوۡرٰتِ النِّسَآءِ‌ۖ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِاَرۡجُلِهِنَّ لِيُـعۡلَمَ مَا يُخۡفِيۡنَ مِنۡ زِيۡنَتِهِنَّ‌ ؕ وَتُوۡبُوۡۤا اِلَى اللّٰهِ جَمِيۡعًا اَيُّهَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ


“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara ***********, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung."


Musa melantunkan firman Allah dengan sangat merdu, dan membacakan artinya dengan sangat lembut dan menyejukkan hati. Sitara yang mendengarkan kuliah subuh dari suaminya, mampu tergetar hatinya. 


“Mas, tolong bimbing aku tanpa ada rasa bosan, aku akan menutupnya mulai dari sekarang Mas.” Musa yang mendengar langsung ke relaan istrinya dalam mengikuti permintaannya.


Musa mengangguk dan tidak melepaskan senyum manis nya yang bikin Sitara betah untuk terus memandang. Musa mengecup kening istrinya dengan lembut, sekaligus mengakhiri ceramah nya pagi ini. 


“Mas..” Sitara memanggil suaminya yang sudah berdiri dan melipat sajadahnya.”Hmm?” Musa menyahut dan menoleh ke arah Sitara yang juga sedang berdiri. 


“Enak nya punya suami ustadz ya, pagi-pagi dikasih siraman rohani, adeeemm rasanya di hati.” Sitara berbicara sambil menekan dadanya dan sebentar memejamkan matanya, seperti sedang merasakan hatinya yang dingin. 


“Lebaaayyy dehhhh.. hahaha.” Musa mencubit hidung mancung Sitara yang begitu menonjol. “Ihh mas, sakit tau..” Sitara mengerucutkan bibirnya. Sejurus kemudian, gadis itu pun memegang pinggang Musa dan mengelitiknya, hal itu membuat Musa merasa kegelian. 


Mereka tertawa bersama dengan segenap rasa bahagia yang mengawali pagi mereka.


Pagi yang indah penuh gelak tawa dan tanpa terasa kini mereka sudah berpelukan. Pagi yang indah, membuat seorang gadis yang selama ini barbar mau melunak di tangan seorang ustadz tampan dan dikenal gaul oleh fans nya. 


.


.


.


Assalamualaikum pemirsa.


Author mau curhat nih, sedih deh liat view nya turun, jadi kurang semangat nih gaess. semangatin lagi dong pemirsa ku tercinta, jangan lupa like+vote ya, hadiahnya juga ya, Love you all 💞