
Musa menikmati satu-persatu hidangan yang tersedia, dengan sangat teliti dia meresapi cita rasa kaya akan rempah-rempah yang sangat tajam terasa di lidah. Sitara yang memang sudah lapar sedari tadi fokus menghabiskan nasi biryani dan beberapa lauk yang tersedia.
Karena makan hanya berdua, dan ini adalah makanan kesukaan Sitara, maka dia tidak lagi memikirkan orang yang melihat dia keheranan. Cantik-cantik kok rakus, Musa sesekali melirik ke arah istrinya.
‘Tara kamu lucu banget sih kalo lagi kalap begini, makan kok kayak orang gak makan seminggu. dan woow banyak juga dia makan, untung badannya gak gendut walau makan banyak, hihihi’
Musa membatin saja, tapi iya sih, Sitara punya keistimewaan dimana dia memiliki berat badan yang cenderung stabil, walau makan banyak. Yaa mungkin ini juga karena Sitara aktif melakukan Yoga.
Setelah semua hidangan di cicipi oleh Musa dan Sitara, hitungannya makan besar, bukan icip-icip. Musa merasa tinggal satu lagi hidangan yang belum dia makan, KULFI.
“Hmm kayaknya seger ni, tapi kok ada rempah nya Tara? apa ini termasuk keluarga es krim? Musa memegang semacam tangkai dan memperhatikan bentuknya, ada taburan kacang pistachio di bagian luarnya.
Sluurp
Dengan memasukkan Kulfi kedalam mulutnya, terasa sangat lembut dan benar-benar bikin nagih. Musa tidak mau berlama-lama untuk mencoba, karena Kulfi ini bisa mencair.
“Iya Mas itu bahannya sama dengan es krim di dominasi oleh susu. hanya saja ada bumbu khas yang menyertainya, mas Suka?”
“Hmm iya, enak Tara, kamu mau coba?” Musa memberikan Kulfi yang tadi sudah dia makan dan menyorongkan tangannya ke mulut Sitara. Sitara yang di todong Kulfi, dan itu dari tangan Musa langsung, sontak membuatnya merona.
‘Ini sama saja satu Kulfi berdua, ihh romantis juga nih si ustadz, hehehe, eeiitss bentar, dia sadar gak ya?’
“Aaaakk” Musa memberikan aba-aba ke Sitara untuk membuka mulutnya, tangan kiri Musa menadah di bawah tangan kanannya, takut lelehannya mengenai baju Sitara.
“Eeemmm enak Mas, apalagi itu dari Mas, makin meleleh aku.” Musa salah tingkah di gombalin Sitara. “Tara, kamu ahli juga ya ngegombalnya.” Sitara merasa senang melihat Musa yang tersipu malu.
Biasanya cowok yang gombalin cewek, tapi itu tidak berlaku bagi Sitara. Gadis itu memang tergolong orang yang unik, supel, mudah bergaul, dan satu lagi Sitara gadis yang agresif, tapi dia tidak murahan, bahkan pacaran saja dia tidak pernah.
Banyak temannya pria, yang akhirnya baper karena sering di gombalin Sitara. Tapi akhirnya mereka harus menerima kekecewaan, karena Sitara tidak bermaksud untuk jatuh cinta atau menerima cinta mereka.
Kali ini Musa terkena virus gombal dari Sitara, Syukurnya mereka sudah terikat tali pernikahan, walau mungkin saat ini mereka masih belum saling mencintai.
selesai makan mereka pun bersantai, dan melihat situasi sudah nyaman, Musa berniat untuk bicara serius dengan Sitara.
“Sitara, apakah kita bisa bicara serius sekarang?” Sitara yang paham apa maksud dari Musa , sedikit merubah posisi duduknya. “Ya Mas, aku dengan senang hati akan memperhatikan apa yang mas akan bicarakan.” Karena gugup, Sitara mendadak menjadi formal bicara dengan Musa.
“Sitara, setelah aku melihat kehidupanmu, jujur saja aku minder. ternyata kita benar-benar seperti ibu jari dan kelingking. kamu yang orang gedongan, sementara aku hanya seorang ustad. Aku pernah ditawari Abi untuk mencoba daftar CPNS, tapi aku berfikir panjang, Abi sudah merintis pesantren ini sejak lama. Jika aku menjadi PNS maka siapa yang akan meneruskan perjuangan Abi untuk umat. Abi selalu berkata, bahwa Abi bekerja di perusahaan Allah, ya seperti yang sekarang kamu liat. Untuk menopang ekonomi kami memiliki usaha kecil, Alhamdulillah selama ini cukup. Kami tidak bergantung pada donatur, karena program kami adalah pembenahan dan pembekalan pada santri menuju masa depan mereka, setelah hijrah dari masa lalu. Papa kamu hadir dengan suka rela memberikan sarana dan ilmu untuk satu unit usaha lagi, berikut dengan marketnya, hal ini sangat luar biasa bagi kami. Semua yang papa kamu berikan itu bukanlah nilai yang kecil, dan aku yakin itu akan sangat menolong perekonomian pesantren, dan membuka lapangan kerja. Sitara apakah kamu sudah berpikir sebelumnya dengan apa yang aku punya saat ini. Apakah kamu siap untuk menjadi pendampingku dengan keadaanku yang seperti ini, Aku harap kamu mau berfikir lagi, aku tidak mau kamu terpaksa menjalani hidup bersama ku sementara kamu tersiksa?”
Lama mereka saling pandang, Sitara sendiri sebenarnya bingung untuk menjawab. Untuk mengurangi rasa gugupnya Sitara mengambil minuman yang masih ada di atas meja.
Gluk.. gluk
Tenggorokannya yang mendadak kering, kini basah dengan minuman segar pelepas rasa dahaganya. Musa menjelaskan semuanya dengan panjang lebar, dan Sitara paham bahwa suami dan keluarganya memang mengabdikan dirinya untuk umat, mendirikan lembaga non profit, itu tidak semua orang mampu melakukannya.
dijaman sekarang ini banyak yang berlomba-lomba mengumpulkan kekayaan dunia untuk mencapai kemerdekaan finansial dan menjadikan diri sebagai sultan. Dengan membangun kerajaan bisnis di segala sektor, bahkan demi nafsu dan ambisi, rela melakukan dengan cara-cara yang kotor bahkan mampu mencelakai orang lain.
“Mas, jujur ya, aku sebenarnya bingung harus menjelaskan dari mana dulu. Aku berharap Mas mau menerima penjelasanku dan ini tidak dibuat-buat. Aku tidak mempermasalahkan tentang perbedaan kita dalam hal ekonomi. aku siap jika Mas Musa mengajak ku untuk hidup seperti yang biasa Mas jalani, dan Papa atau keluargaku tidak berhak ikut campur. Pada dasarnya aku bukan orang yang menyukai kemewahan, aku lebih senang bekerja keras dan tantangan. Bagiku kehidupan Mas sangat menantang. Dimana orang saat ini berlomba-lomba mencapai kesuksesan dengan mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya, sementara Mas dan keluarga sibuk berpacu membenahi umat yang tersesat. Mas, aku siap untuk menjalani hidup bersamamu. Tapi Mas, maaf saat ini aku harus jujur, aku masih belum ada rasa cinta kepada Mas Musa, aku berharap Mas bisa memahaminya, tapi aku yakin, cinta akan hadir seiring dengan berjalannya hubungan ini.”
Musa menatap mata Sitara sepanjang dia bicara. Musa ingin menemukan kebohongan disana, tapi bola mata istrinya memberikan jawaban bahwa apa yang Sitara ucapkan adalah jujur dari hati. Gadis yang istimewa, tidak hanya parasnya yang cantik, tapi dia memiliki hati yang cantik juga.
Masa lalu dia yang sering menghabiskan waktu ke tempat-tempat hiburan, berteman dengan minuman keras, semua itu karena dia belum mendapatkan orang yang tepat untuk membimbingnya.
Walau sering melakukan tindakan konyol, lucu dan sekaligus menyebalkan, ternyata Sitara Kumari adalah sosok wanita yang memiliki hati lembut dan mau memikirkan sesama. Bagi Musa itu adalah kesempurnaan.
“Mas, apakah Mas bisa menerima penjelasanku? Aku ingin Mas mau berkata jujur, apakah Mas bersedia menerima aku dengan segala kekurangan ku? aku belum bisa menjadi istri yang ideal, orang mengenal Mas sebagai ustad, sementara sekarang, orang akan mencibir Mas, ustad kok nikah sama anak yang hobi dugem. Mas sudah pikirkan itu?”
.
.
.
Assalamualaikum pemirsa.
Kira-kira apa ya jawaban Musa??
Dukung terus karya receh ku ya pemirsa. Like, komen + Vote.
bagi yang mau ngobrol sama Nuna, yuk ikut di Group Chat. I Love U all 💞