
Sitara masih berjibaku dengan hijab yang akan dia kenakan. Dia sudah bertekad untuk memulai hidup baru, dan sesuai dengan apa yang diajarkan Musa kepadanya. dengan setelan Kurti berbahan satin dengan warna ungu yang terang, sangat cantik di tubuh Sitara.
Musa baru saja selesai mandi, dengan kepalanya yang masih basah. Sesaat Sitara melihat suaminya yang hanya menggunakan singlet tanpa lengan dan handuk yang dililitkan di pinggangnya.
Gluk
Sitara menelan salivanya dengan susah payah. Gadis yang berstatus nyonya itu terpana melihat pantulan suaminya di kaca.
Otot lengan Musa tampak terekspos dengan indah dan sangat terlihat itu terjadi karena rajin berlatih. Ya iyalah gak mungkin kan kekar karena rajin membaca hihihi, Author jadi gagal fokus karena ngebayanginnya, ingat thor dia lakinya Sitara. 🤭
“Tara, kamu sudah siap? tunggu ya sebentar aku akan berkemas.” Musa segera berlalu dari pandangan Sitara yang masih belum rapi dengan hijabnya. Musa mengambil pakaian yang ada di kopernya. dan segera berganti pakaian.
*****
Satish sudah menghabiskan kopi nya di ruang keluarga, sambil menonton berita pagi. “Pengantin baru lama banget sih, katanya mau sarapan bareng Kyai, tapi jam segini msih aja belum ada yang keluar, emang enak kita dianggurin.”
Satish ngomel dengan suara yang pelan, dan tangannya masih sibuk mencari chanel yang dia suka.
“Tuan, mau sarapan di rumah atau diluar?” Bi Parmi selalu menanyakan hal ini setiap pagi kepada satish atau Sitara jika dia dirumah. “Kami mau sarapan bareng mertuanya Sitara Bi, jadi bibi gak usah masak. Oya Bi, nanti tolong undang tetangga sekitaran kita termasuk pak Rt dan pak RW, juga pak Lurah, kita akan mengadakan syukuran sederhana saja untuk pernikahan Sitara.”
“Haaahh kapan Non Tara menikah Tuan? kok Bibi gak dikasih tau?.” Bi Parmi adalah pelayan paling lama di rumah Satish, Mulai dari Sitara masih bayi, sampai serang, jadi dia merasa sedih karena tidak dikabari tentang pernikahan Nona majikannya yang sudah dianggap anaknya sendiri.
“Yaah Bibi kayak gak hapal sama kelakuan Sitara. ini aja bisa terselenggara saya lega banget Bi, rasa-rasanya sulit untuk dipercaya, dalam hitungan jam anak yang dulu Bibi timah-timang, sekarang sudah menjadi gadis yang keras kepala tapi penuh kejutan. .”
Bibi ikut seneng Tuan, semoga langgeng dan hanya maut yang memisahkan kita. siapa nama menantu, Tuan? Satish yang masih berusaha menyesap kopi yang sudah meninggalkan dedak di lantai gelasnya bersiap menjawab.
Ceklek!
Pintu kamar Sitara terbuka, dan serentak Satish dan Bi Parmi menoleh ke tangga, mereka berdua sudah turun dengan jalan berdampingan. Wajah pengantin baru dan rambut Musa yang masih terlihat basah, tadi dia tidak sempat lagi untuk mengeringkannya.
“Mas, kenalin ini Bi Parmi, dia sudah seperti ibuku, sejak aku kecil sudah ada di rumah kami ini.”
“Saya Musa, Bi.”
“Ehh, Sa-saya Bi Parmi.” Bi Parmi merasa gugup dan canggung. Musa menangkupkan kedua tangan di depan dadanya. Dan sedikit membungkuk hormat.
"Non, cantik banget pake hijab, Maasya Allah." Bi Parmi melihat takjub ke arah Sitara.
Sitara yang mendapatkan pujian hanya bisa senyum-senyum malu. “Terimakasih Bi, Maaf pagi ini saya belum bisa sarapan di rumah, karena sudah ada janji dengan Abi dan Umi, Mari Bi, saya permisi dulu.”
Musa yang masih canggung langsung berpamitan. Sitara hanya memberikan senyum tipis dengan wanita paruh baya itu.
“Pa, maaf kami terlambat, yuk sekarang kita berangkat.” Satish tersenyum hangat kepada anak dan menantunya, tidak mau membuang waktu, diapun segera mengikuti mereka berdua.
*****
Ayu dan Harun sudah bersiap untuk turun, memenuhi undangan sarapan bersama keluarga keluarga Sitara dan Musa. Mereka berdua yang masih belum bisa dekat satu sama lain.
Kecanggungan yang akhirnya membuat mereka menghabiskan malam pengantin dengan tenang.
“Aby, kok dari tadi diem aja sih?” Ayu berusaha memecah keheningan, dia sendiri masih merias wajahnya dengan make up tipis, agar tidak terlihat pucat.
“Gak papa Ay, Aby lagi mikir aja.” Harun berusaha memberikan senyum terbaiknya agar Ayu merasa tetap nyaman.
“Ayu, apakah kamu mau segera punya anak?” Harun menatap Ayu dengan serius.
Praaaang!
Bedak yang masih di tangan Ayu, lolos begitu saja dari genggaman tangannya, dan pecah berhamburan. Ayu terkesiap mendengar pertanyaan dari Suaminya. Sesaat dia tersadar dengan bedaknya yang sudah pecah berhamburan. Dengan sigap dia mengambil beberapa lembar tisu dan berjongkok untuk membersihkan lantai kamarnya.
Harun yang melihat Ayu terkejut dan menjatuhkan Bedaknya, diapun segera mendekati Ayu untuk membantu membersihkan lantai.
“Ayu hati-hati nanti kena kaca yang pecah, sini biar aku aja yang bersihin. Ayu, kenapa kamu kaget gitu?” Sesaat mereka berhenti membersihkan lantai. sepasang netra keduanya saling menatap, tapi bibir mereka terkunci.
Tangan mereka yang tadi sama-sama membersihkan pecahan bedak juga berhenti dengan tanpa sadar, jari jari mereka saling bertautan.
“Abi ingin cepat punya anak?” Lolos sebuah kalimat dari bibir Ayu dan itu memecah keheningan diantara mereka berdua. dan Ayu balik bertanya kepada Musa.
“Ehem!” Harun menyadari jari mereka saling bertemu, dan buru-buru sedikit menggeser, sesaat tadi dia lupa bahwa wanita cantik yang ada di hadapannya sudah halal untuk dia sentuh.
Pekerjaan membersihkan lantai akibat bedak yang pecah berantakan, akhirnya sudah selesai. Mereka pun mencuci tangan di wastafel dan Ayu tidak lupa untuk membuang pecahan bedak tadi ke keranjang sampah.
Harun mengambil inisiatif untuk berbicara serius dengan Ayu. Dia akan memulai kehidupan dengan selalu terbuka dalam setiap hal.
Dengan lembut tapi masih terasa gemetar, Harun meraih kedua tangan Ayu, sehingga mereka berdiri berhadapan. “Ayu, aku ingin bicara hal yang serius denganmu, Ayo kita duduk di sofa.”
Ayu mengangguk dan mengikuti Harun ke arah sofa. Harun melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. masih ada waktu satu jam untuk bicara.
“Ada apa Aby, kok aku jadi takut ya?” Ayu menatap netra Harun dengan rasa cemas, hal itu tidak bisa ditutupi dan Harun dapat melihat hal itu.
“Ayu, aku ingin segera memiliki keturunan dari mu, apakah Kamu bersedia?” Harun tidak melepaskan matanya menatap Ayu dengan seksama.
“A-aku pikir kita akan pacaran dulu, secara kan kita sama-sama belum mengenal satu sama lain, terus nanti kalo sudah punya anak, kita makin gak ada waktu, ujung-ujungnya sering ribut, aku takut By.”
Ayu dengan susah payah menyelesaikan kalimatnya, demi bisa mencurahkan isi hati di bawah tekanan tatapan tajam mata Harun.
Jika ditanya bagaimana dengan perasaan Ayu saat ini, jelas tidak karuan rasanya, dan berbagai pertanyaan terus berkembang di kepalanya.
“Ayu, aku ingin kita besok ke dokter untuk memeriksakan diri, aku tidak mau salah satu dari kita nanti bermasalah, sehingga kita tidak diberikan keturunan. Mau ya?”
Harun yang tadinya tajam menatap Ayu, sekarang berubah jadi memelas. Ayu merasakan ada yang aneh dengan kalimat Harun, tapi saat ini dia tidak mau menerka-nerka maunya Harun apa?.
'Dan jika masalah itu ada di diriku, apa yang akan dilakukan Harun? aku bingung, aku takut, apakah dia akan menceraikanku? atau …atau… aahhh, entahlah aku makin takut dengan pikiranku.'
.
.
.
Assalamualaikum pemirsa.
Ada apa ya dengan si Harun ini, baru aja kemaren nikah, kok udah horor gini bawaannya. Ada yang tau gimana nasib pernikahan Ayu?? Yuk pemirsa kasih ide Author ya,
Like, komen dan vote ya. Love you All 💞