Kepentok Cinta Ustadz Gaul

Kepentok Cinta Ustadz Gaul
Bab 35: Belajar Bareng 1


Musa tampak tenang, sesaat dia melihat jam besar yang menggantung di dinding. waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Musa menoleh ke arah Sitara yang masih saja berdiri mematung dekat pintu kamar mandi. 


Musa berjalan mendekatinya, sementara tubuh Sitara semakin menegang. Otaknya seakan berhenti untuk berpikir, lidahnya seakan kelu, satu hal yang dia sadari adalah, ini malam pengantin mereka, apakah Musa akan meminta haknya sekarang juga, Ya Allah, tolong aku, jerit batin Sitara. 


Musa yang sudah berada tepat di hadapan Sitara, melambaikan tangannya di depan mata gadis itu. Sitara mengerjap-ngerjapkan matanya dengan indah, tapi dia masih belum bisa berkata-kata. 


“Tara, kamu sadar atau pingsan?” 


Gubrak !


Sitara rubuh disaat Musa menanyakan pertanyaan aneh itu, sudah jelas orang berdiri, dan melotot kenapa harus nanya begitu. 


“Astaghfirullah, Tara kamu kenapa? ayo aku bantu berdiri, mau aku gendong?” Tubuh Sitara terasa lunak seperti agar-agar, kaki indahnya seakan tidak mampu menopang tubuhnya. keringat dingin mulai keluar segede-gede jagung di jidatnya. 


‘kenapa lidahku kelu? ihh mau apa dia, tidak…tidak… aku tidak mau di perkosa olehnya, ohh bodoh, dia suamiku bukan di perkosa namanya, tapi dia membawaku ke ranjang, ya Allah tolong selamatkan aku!!’ 


batin Sitara meronta, tapi tubuhnya yang kemarin sangat gagah melumpuhkan musuh, sekarang malah tidak berdaya, dia merasa saat ini keadaannya lebih buruk dari ayam tulang lunak menu favoritnya di restoran langganannya. 


“Tara, kamu saakit? kenapa keringetnya dingin banget, ayo ngomong Tara, apa yang kamu rasain? sakitnya dimana? jangan bikin takut aku, ini malam pengantin kita kan?” 


Tara kaget, dia menatap horor sepasang netra teduh milik Musa. Sungguh dia bingung harus bagaimana, kenapa tubuhnya tidak bisa di gerakkan, ‘Apa jangan-jangan aku stroke? ohh tidak, aku sehat, gak ada penyakit apa-apa, apa ini karena pesona suamiku, ohh tentu tidak ferguso, trus dia tadi bilang ini malam pengantin, hhrrrgggghh awas kau Musa , eh mas Musa.. aahhh kenapa aku, kacau sekali!!” 


Musa tampak semakin bingung melihat tatapan Sitara yang seperti kobaran api yang siap melahapnya. di atas kepala Sitara Musa melihat laba-laba kecil yang sedang berjalan untuk mencari ibunya, Musa bermaksud untuk mengambil dan meletakkannya di tempat lain.


Tubuhnya condong ke arah wajah Sitara, sementara Sitara semakin panik, gadis itu sudah salah paham yang sangat dalam nampaknya terhadap Musa. Dia berpikir Musa akan memulai untuk menyentuhnya. Musa bergerak pelan, tidak mau mengejutkan sang laba-laba.


Bibir Musa semakin dekat dengan wajah Sitara. dan Sitara memejamkan mata, mengumpulkan kekuatan untuk pertahanan diri. Dia belum mengijinkannya, dia tidak ingin Suaminya menyentuhnya disaat dia tidak berdaya seperti ini.


Semakin dekat, dan pasangan pengantin baru ini sedang fokus dengan pikirannya masing-masing. Sejurus kemudian, 


Bugh


Bugh 


Duuaakk


Gubraakk


“Aduuh…Astaghfirullah!!”


“Aduuhh Tara kamu kenapa?” Musa terjengkang dan mendarat di lantai kamar Sitara, dengan pantat yang sangat sakit.


Sitara dengan kekuatan penuh memukul dada dan menendang perut suaminya dengan gerakan yang begitu cepat, sehingga Musa tidak sempat menahan serangan Istrinya. 


“Astaghfirullah, Ma-mas gak papa?” Seketika Sitara menyadari ada yang salah dengan dirinya, dan sekarang tubuhnya sudah kembali bisa digerakkan. panik, itulah yang dia rasakan. Dengan gerakan melompat dia turun dari ranjang.


“Mas mau ngapain aku sih, kan kita belum ngobrol apapun, kok mas udah main nyosor aja, mas itu mesum banget!” Sitara tidak sabar lagi untuk menyemprot suaminya dengan segala prasangkanya, yang sudah dia tahan saat tubuhnya mati gaya.


sekarang mereka berdua duduk berhadapan di lantai, Sesekali Musa menggosok pantatnya yang masih sakit. Sitara sudah bersiap membuka mulut untuk kalimat seterusnya, Musa buru-buru mengangkat tangannya dan jari telunjuknya hinggap di bibir seksi Sitara yang sudah mulai terbuka,


Pipi mulus Sitara yang sudah bersih dari make up pengantin tadi sore, bersemu merah, karena lampu masih terang, Musa mampu melihat pipi istrinya yang merona. 


“Sssttt.. sudah jangan ngomong terus, tolong bantu aku naik ke ranjangmu, sakit tau.” Musa berusaha berdiri, dan Sitara yang sempat terpesona dengan perilaku Musa barusan, membuatnya mengikuti perkataan Musa membantunya berdiri.


Musa duduk di bibir ranjang. dia menepuk tangannya di ranjang, menandakan dia ingin Sitara duduk di sebelahnya. “Sitara aku ingin bicara dengan mu sebelum kita tidur. tadi aku bingung kenapa reaksimu seperti itu, tapi aku rasa kamu sudah salah paham sama aku.


Sitara taau dengan yang suaminya maksud, dia tidak menjawab karena menahan malu di hati, mengingat dia sudah mengira suaminya akan memanfaatkan dirinya yang sedang tidak berdaya.


“Sitara malam sudah semakin larut, aku ingin melaksanakan sunnah pengantin baru, sekaligus aku ingin kita belajar bersama untuk memulainya. apa kamu mau, Istriku?” Musa bertanya dengan suara yang sangat merdu, dan penekanan pada kata terakhir dari kalimatnya.


“I-iya mas, aku mau, tolong ajari aku, dan se-sekalian aku minta maaf atas kejadian tadi, sungguh aku tidak sengaja.” Sitara menatap Musa dengan tatapan melas. Musa tersenyum melihat istri jagoannya. 


“Guru ku pernah mengajarkan tentang bab pengantin, pelajaran ini dikutip dari buku dari buku ‘Fiqih Cinta’ karya Abdul Aziz Ahmad, berikut adalah pendahuluan tentang adab untuk malam pertama bagi pasangan pengantin baru sesuai dengan syariat Islam.” Musa menjeda kalimatnya.


“Pertama, disunahkan bagi suami meletakkan tangan di atas kepada istri, lalu menyebut nama Allah SWT dan doa minta berkah, dari hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Abu Dawud, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Jika salah satu dari kalian menikahi seorang wanita, maka peganglah ubun-ubunnya, sebutlah nama Allah SWT, dan berdoalah dengan doa berkah, dan ucapkan” 


Musa meletakkan tangannya di ubun-ubun Sitara sesuai dengan apa yang dia ucapkan, dan membacakan doa nya


“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu agar Engkau memberikan kepadaku kebaikannya dan semua kebaikan yang telah Engkau ciptakan untuknya, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan dari semua kejahatan yang telah Engkau ciptakan pada dirinya. ”


Sitara mengikuti dengan khusyuk, dia memejamkan kedua mata indahnya, meresapi tiap bait doa yang diucapkan oleh suaminya.


Darahnya berdesir lembut dan hatinya merasa tentram. Musa kembali melanjutkan setelah menarik tangannya dari kepala Sitara. 


Kini tangannya menggamit kedua tangan Sitara dan dengan perasaan yang sedikit ragu, tapi dia memberanikan diri untuk menggenggamnya. 


“Kedua, disunahkan untuk shalat dua rakaat dan berdoa kepada Allah SWT setelah sholat. Diriwayatkan oleh ibn Abi Syaibah dengan sanad jayyid, dari Syaqiq, ia berkata: “Suatu ketika seorang pria yang bernama Abu Huraiz datang dan bertanya: “Aku menikahi seorang budak wanita yang perawan, aku takut ia membenciku. Lalu Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata: “Cinta itu berasal dari Allah, dan kebencian itu berasal dari setan. Setan ingin kalian membenci sesuatu yang telah dihalalkan oleh Allah SWT kepada kalian. Jika kamu menemuinya, maka perintahkan ia shalat dua rakaat di belakangmu, setelah itu ucapkan “Ya Allah, berkahilah aku pada keluargaku, dan berkahilah mereka kepadaku. Ya Allah, jika Engkau menyatukan kami, maka satukan kami dalam kebaikan dan jika Engkau menentukan untuk berpisah, maka pisahkan kami untuk kebaikan. ”


Musa menatap netra indah istrinya, “Mau kah kamu sholat sunnah dua rakaat bersamaku? ini ibadah pertama kita secara berjamaah, dan aku akan mengawalinya dengan meng-imami kamu.” Musa memberikan senyuman terbaiknya, dan itu membuat jantung Sitara kembali berdetak kencang. 


“Iya, aku bersedia.” jawaban Sitara membuat Musa merasa bahagia, dia membimbing Sitara ke kamar mandi untuk ber wudhu. Mereka melaksanakan shalat berjamaah.


“Assalamualaikum”


Assalamualaikum”


.


.


.


Assalamualaikum pemirsa.


Waahh makin seru niih pasangan kilat, penasaran kaann, yuk dukung terus karya ku ya dengan memberikan Like, Komen dan Vote, ajak juga semua temen, sodara, tetangga untuk ikut baca ya, terimakasih pemirsa, love you all