
Makan siang di restoran masakan India masih juga belum selesai, sebenarnya makan siangnya sudah selesai, tapi nampaknya pasangan pengantin baru ini masih belum selesai membongkar isi hati mereka. ini seperti meeting kesepakatan saja hehehe.
“Mas, gimana? kok malah bengong sih? jika Mas merasa ragu, boleh kok mas mundur, mumpung kita berdua masih belum buka segel.” Sitara merasa Musa sangat lama menjawab pertanyaannya. padahal kan sederhana, terima atau aku mundur, gitu aja kok repot.
Lain Sitara, lain lagi dengan Musa. Pemuda tampan yang siang ini tampak berpakaian santai, membuat dirinya semakin terlihat kece. terbukti sejak mereka makan tadi entah berapa banyak wanita yang senyum-senyum memandang ke arahnya, tentu saja itu tertangkap mata Sitara.
Musa beberapa kali membuang nafasnya kasar. Sebenarnya dia tidak pernah menyesal menikahi Sitara. Dia sedang berpikir apa yang harus dia lakukan kedepannya.
“Tara. Dari awal kita bertemu, aku sudah tau tentang perjalanan mu, dan saat kamu tinggal dan belajar di pesantren, sedikit banyaknya aku pun mengenal kamu. Kamu luar biasa dan yang bikin aku terkesan saat kamu sangat peduli dengan pesantren yang saat itu di serang oleh para ninja. Saat ini aku hanya sedang bingung mengatasi perasaan minder ku terhadapmu. Tara, bagaimana dengan uang belanja kamu? dengan standar hidup mu seperti ini, mungkin penghasilanku tidak bisa memenuhi kebutuhanmu. Aku membahasnya saat ini, karena aku ingin kamu tau semuanya tentang aku, dan aku gak mau kamu kecewa karena aku gak bisa memenuhi kebutuhanmu. Itu yang sedari tadi mengganggu pikiran ku Tara.”
Huufff… huuufff…huuffff
Musa menghembuskan nafasnya dengan sedikit memburu, seperti orang yang habis berlari dikejar kucing garong. Musa meraih gelas yang ada di meja, dan dalam sekali teguk minuman yang tinggal setengah itupun kandas.
“Mas, apakah itu menjadi hal yang berat buatmu?” Sitara kembali bertanya.
“Iya Tara.” Musa menatap Sitara sendu.
“Mas, aku tidak akan membebani kamu dengan itu semua. Aku yang akan menyesuaikan diri, karena aku akan ikut dengan suamiku. Beberapa hal yang aku minta kepadamu, jangan pernah berkata kasar kepadaku disaat aku salah atau mungkin sedang membuatmu kesal. Jangan melakukan kekerasan dalam rumah tangga baik fisik maupun mental. Jangan selingkuhi aku dan jangan poligami. Oya dalam seminggu, aku minta ijin untuk datang ke kantor, karena aku tidak bisa meninggalkan kantor begitu saja, sebelum sepupu ku datang dan akan standby di kantor, bukan untuk menggantikan aku, tapi kami akan berbagi tanggung jawab dalam menjalankan perusahaan ini.” apakah mas bisa memenuhi permintaan ku?
Fix pertemuan ini lama-lama seperti sedang bernegosiasi. Tapi mau bagaimana lagi, mereka yang menikah secara mendadak dan tidak pernah pacaran, jadi hanya cara ini yang paling pas untuk bisa berada di rel yang sama, sebelum melangkah jauh.
Musa tersenyum lebar, menampilkan barisan gigi nya yang putih dan rapi. Sitara merasa senyum Musa adalah jawaban bahwa dia bersedia. kembali dia mengambil gelas dan menuangkan air mineral kemasan botol kedalam gelas cantik. Dia Pun meminumnya dengan tenang.
“Sitara, aku akan berusaha untuk bisa menjadi suami yang baik untuk kamu, dan menjadi bapak yang baik untuk anak-anak kita.”
Uhuk..uhuk..uhuk..
Dengan sigap Musa menepuk pelan punggung Sitara dan mengambilkan tisu untuk membersihkan air yang tumpah ke bajunya.
“Pelan-pelan Tara, jangan tergesa. maaf aku salah ngomong ya? Tanya Musa peka.
“Ng-nggak kok Mas, eemm emang mas sudah siap untuk punya anak?” Musa menaikkan sebelah alisnya. “Tara, kita sudah sama-sama dewasa, temen-temenku seangkatan kuliah aja udah banyak yang punya anak, kecuali Harun ya. Apa kamu mau menundanya?”
Sitara kebingungan menjawabnya, seluruh badannya merinding dan entah kenapa telapak tangannya mulai basah dan dingin. membayangkan malam pertama aja dia sudah panas dingin, apalagi sampai itu terjadi, bisa kaburrr saya sodaraaaa!
“Emmm itu wajib ya mas? kalo dibilang aku mau menunda, nggak sih Mas, hanya aku.. aku.. kita harus bahas ini dulu, tapi jangan sekarang ya Mas, please.” Sitara tampak kacau, hingga akhirnya dia berusaha memohon kepada suaminya, untuk memberikannya waktu agar dia siap.
“Kita akan belajar bersama ya untuk hal itu, kamu tenang saja, jangan takut.” Musa mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum sangat manis, sungguh hal ini membuat jantung sitara tidak tentram.
“TARAAAA, ya ampuuuunnn kamu kemana aja? berapa kali pesta, aku gak pernah liat penampakan kamu, padahal kan kamu ratu pestanya!!! Heeii heeiii kamu gak papa kan tara? kamu.. kamu.. oohhh My God, kamu sekarang berhijab? Are you serious?”
Sitara berdiri dan merentangkan tangannya untuk memeluk sahabatnya. “Cindyyyyy, duuuhhh hebohhh ya jeng yang satu ini, liat tu pada ngeliatin kita, suara kamu udah kayak terompet di pasar malem aja. ayo duduk Cind, kamu kesini sama siapa?”
Sitara yang terikut kehebohan Cindy, sahabat pestanya disaat menikmati hiburan dari dunia gemerlap. Sitara sampai lupa mengenalkan Musa yang sedari tadi santai melihat adegan rame antara istri dan sahabat istrinya.
Tapi musa segera mengalihkan pandangan nya disaat pandangannya melihat apa yang seharusnya dia tidak lihat. “Astaghfirullah.” Musa bergumam, dia mengusap wajahnya dengan kasar.
“Cind, kenalin ini suami aku. maaf ya aku belum kasih kabar ke kamu dan temen-temen, karena semuanya serba cepat, jadi aku undang kamu di acara syukuran besok ya di rumah aku, tolong kabarin temen-temen yang lain ya say.” Sitara mendekatkan posisi duduknya dengan Musa.
“Sayang, kenalin ini temen aku, dia temen yang selalu ada di pesta, selain ayu.” Musa kembali mengingat sesuatu, dia mengerutkan keningnya menatap Sitara. ada yang aneh deh batinnya.
“Haaii tampan, aku Cindy, salam kenal.” Cindy mengulurkan tangannya. Dengan bahasa tubuh yang centil, Cindy berdiri, potongan baju dengan leher yang rendah, tentu saja membuat dua benda pusaka itu sedikit mengintip dan memperlihatkan pesonanya. Musa hanya sekilas menatap Cindy dan langsung menundukkan pandangannya sekaligus menangkupkan kedua tangannya di dada.
“Salam kenal Mbak Cindy, saya Musa , suami Sitara.” Musa yang ikutan berdiri, menyambut perkenalan Cindy dengan cara yang berbeda.
Cindy yang sudah banyak tau dengan hal seperti ini dia tidak merasa aneh dan tersinggung, dia pun akhirnya melakukan hal yang sama.
Mereka berdua berbincang melepas Rindu. sementara Musa membuka ponselnya dan membaca beberapa pesan yang masuk dari Whatsapp nya. Musa sibuk membalas pesan dari teman-teman ustadz yang ada di pondok.
Mereka membahas tentang acara syukuran pernikahan Musa dan Sitara yang akan diadakan minggu depan. Rencananya acara akan digelar secara sederhana, mengundang tetangga dan beberapa kenalan Abi dan rekan-rekan Satish.
Abi memang sudah memberitahukan semua orang yang ada di pondok mengenai acara pernikahannya dan membagikan beberapa foto-foto pernikahan kemarin. semua informasi dikirim melalui group.
Ada satu pesan yang berisikan jadwal dakwah rutin yang diisi oleh Musa, dan berlokasi di Surabaya. Besok siang akan ada jadwal ke perusahaan BB untuk mengisi acara Maulid Nabi besar Muhammad Salallahu alaihi wasalam.
Musa akan membawa Sitara hadir di acara itu, sekalian dia akan mengenalkan Sitara kepada jamaah, bahwa dia sudah tidak jomblo lagi. Hal ini agar tidak menimbulkan fitnah jika suatu hari nanti ada yang mengenalinya saat jalan berdua dengan Sitara.
Tanpa terasa waktu sholat Dzuhur pun sudah berlalu beberapa menit yang lalu. Musa melirik istri dan temanya masih saja belum selesai berbincang. Musa yang sudah gelisah akhirnya tidak bisa menahannya lagi.
“Sayang, sepertinya kita harus segera pulang, masih banyak yang harus kita siapkan untuk acara besok.’ Musa mengingatkan Sitara dan sebagai kode bahwa dia tidak nyaman dengan kehadiran Cindy.
“Ulu uluuu mesranya ya kalian berdua. aku jadi iri deh. Maaf ya mas tamvan, eh Mas Musa aku dah ganggu waktu kalian. Tapi jujur ya Tara, aku terpesona dengan suami kamu, dijadiin yang kedua pun aku rela.” Cindy sungguh tidak kuat menahan dirinya untuk tidak menggoda Musa.
.
.
.
Assalamualaikum pemirsa.
Sitara manggil sayang, itu disaat-saat yang gawat aja deh kayaknya saayy hihihi.
Like, comen+vote ya pemirsaku tercinta. I love you all.
Yang mau ngobrol dengan Nuna, yuk gabung di GC