Kepentok Cinta Ustadz Gaul

Kepentok Cinta Ustadz Gaul
Bab 23: Setajam Samurai


“Abi, Pak Satish…” Kembali kalimatnya menggantung karena tidak tau harus mengatakan apa. Musa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bersamaan dengan rasa kesal yang semakin menguasai hati nya. 


Sitara yang melihat wajah datar penuh arti dari Abi dan Papa nya, tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya menunduk sambil memainkan ujung pashmina nya yang menjuntai sampai ke paha. 


“Kalian berdua sudah selesai shooting film nya?” Kyai Ibrahim membuka suara dan memecah kecanggungan diantara mereka berdua. 


“Ma-maaf Abi, kami salah, ka…” belum selesai lagi kalimat dari mulut Musa yang sekarang rasanya kaku. Sitara secepat kilat menyambar “Enak aja ‘kami’, kamu aja kali yang salah, jangan ajak-ajak dong kalo bikin pengakuan!” 


Sitara tidak terima dia dikaitkan dengan kesalahan yang terjadi. entah apalah yang ada di pikiran gadis itu. Musa merasa gemas dengan gadis yang ada di hadapannya ini. Ingin rasanya dia menggeprek gadis pecicilan yang sudah menjungkir balikkan wibawa dirinya. Ini jadi Sitara geprek ya Musa, bukan ayam Geprek lagi hahahaha.


“Sudah-sudah kalian berdua itu sudah dewasa, kenapa kelakuannya masih seperti bocah? sekarang kalian berdua ikut Abi ke ruang tengah. 


Tanpa banyak bicara lagi, mereka berdua dan tidak ketinggalan Zahra ikut juga melangkahkan kakinya mengekor di belakang kakak nya, menuju ruang keluarga. 


“Seru nih, sayang kan bestie kalo gak hadir di persidangan pasangan hebat ini hihihi” Zahra bergumam sambil cekikikan sendiri mengikuti langkah dua orang manusia yang sama-sama aneh ini. 


Semua orang anggota rumah Kyai Ibrahim berkumpul di ruang keluarga. Ruangan yang berukuran cukup luas itu sering sekali difungsikan sebagai ruang musyawarah oleh para ustadz yang mengasuh pesantren Istiqomah.


dan sekarang si Ustadz gaul ini yang akan di sidang, wajahnya tampak susah di tebak, malu, marah, kesal semua campur jadi satu. Benar kata orang tua jaman dulu, Hal yang sepele bisa jadi sepuluh. 


Sitara yang duduk tidak jauh dari Musa tampak tenang, atau tepatnya berusaha tenang. Entah apa yang ada dalam pikiran gadis itu saat ini. 


“Siapa dari kalian berdua yang mau menceritakannya duluan?” Kyai Ibrahim sudah menduduki kursi kebesarannya, sementara Satish duduk di kursi yang tidak jauh dari nya.


Musa menoleh ke arah Sitara dan entah bisikan dari mana, Sitara pun menoleh ke arah Musa. mereka saling melempar pandang, seakan mereka berbicara melalui mata. musa kembali menundukkan pandangan dan sesaat kemudian mengangkat kembali kepalanya.


“Abi, tadi Musa pulang kerumah, untuk mengambil beberapa barang yang ada di kamar. Saat Musa keluar kamar dan hendak mengunci pintu, tiba-tiba dari belakang ada yang nabrak.” Sesaat Musa menghentikan ceritanya dan melirik Sitara yang ternyata dari tadi terus menatapnya.


Mata tajam Sitara terus mengintimidasi lirikan Musa. “Musa reflek menangkap tangan tangan si Jagoan itu. Begitu yang Musa alami Abi” tampaknya Musa benar-benar kesal dengan Sitara. 


Sehingga dia tidak mau menyebutkan nama gadis itu. Sementara Sitara sudah bersiap untuk menyemburkan kata-kata mutiara nya kepada Kyai Ibrahim. Hmmm nampaknya musa berubah jadi ABG deh, kesel-keselan saat diganggu temannya wkwkwk


“Abi, tadi Tara ada di kamar, maksud hati ingin beberes dulu sebelum pulang ke Surabaya. Tara sempat ngobrol dengan Zahra. Karena ingat sesuatu dan ingin mengambilnya di dapur, Tara buru-buru keluar kamar. Tau-tau ada si beton tebel ini yang berdiri disitu, jadilah Tara nabrak dia.” Tara tidak kalah sengit menanggapi ucapan Musa, dia pun tidak sudi menyebutkan nama musuhnya itu. 


Dengan bibir manyun nya Sitara kembali menatap Musa dengan pandangan setajam samurai. “Dan dia megang-megang tangan tara Abi, ngaku gak?” kembali dia melayangkan pandangan sengitnya ke arah Musa.


“Iya kan aku tadi udah bilang sama Abi, refleks aja megang tangan kamu, biar kamu gak nyosor lantai, bukannya terimakasih malah nyolot!” Musa yang tadinya sudah meredam emosinya, kini tersulut lagi. Aduuh Sitara ini ya, bikin gemes Author aja deh. 


Kyai Ibrahim yang melihat kedua orang dewasa, sekarang seperti bocah SD yang sedang menghadap guru BP karena membuat kerusuhan. Dia terkekeh merasa sedikit terhibur dengan ulah mereka. Begitulah unik nya Kyai Ibrahim dalam menghadapi santri-santrinya. 


“Apakah kalian berdua masih ingin ribut sampai sore?” 


Deg!


“Tidak Abi.” Entah perintah dari siapa mereka berdua menjawab bersamaan, seperti paduan suara di saat upacara bendera hehehe.


Rasa malu yang terlambat datangnya mulai menyerang perasaan mereka berdua, dan akhirnya tertunduk dengan tekun.


Kyai Ibrahim merubah sedikit posisi duduknya hingga dia merasa nyaman.


“Abi ingatkan kepada kalian berdua anak-anak ku, ada hadist yang dimenguatkan apa yang Abi katakan tadi.”


اِبْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُمَارِ أَخَاكَ وَلَا تُمَازِحْهُ وَلَا تَعِدْهُ مَوْعِدًا فَتُخْلِفَهُ. أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ بِسَنَدٍ فِيهِ ضَعْفٌ


Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah ﷺ  bersabda, “Janganlah engkau mendebat saudaramu, janganlah engkau mencandainya, dan janganlah engkau berjanji kepadanya dengan satu janji yang tidak akan engkau penuhi"


"Anak-anak ku, dalam menyimak makna dari sebuah hadits, kita memang sebaiknya membuka hati dan pikiran agar nantinya tidak salah paham atau salah menerapkan dalam kehidupan" 


Hening sejenak, dan kembali Kyai Ibrahim melanjutkan nasehatnya.


"Banyak hadis-hadis yang menjadi syawahid (hadits lain yang maknanya mirip sehingga menjadi penguat) bagi hadis ini. Contohnya seperti hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim secara marfu’ (sanadnya sampai kepada Rasulullah), Rasulullah ﷺ  bersabda,


إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الأَلَدُّ الخَصِمُ


“Orang yang paling dibenci oleh Allah ﷻ  adalah orang yang suka berdebat (paling lihai dalam berdebat).”


"Hadits ini menguatkan makna dari hadits Ibnu Abbas tadi. Demikian juga larangan-larangan menyelisihi janji yang merupakan sifat orang-orang munafik dan hadis-hadis lainnya yang berkaitan dengan pembahasan ini. Oleh karena itu, hadis ini meskipun secara sanad adalah daif namun maknanya benar."


Mereka yang hadir disitu, haning dan menyimak penyampaian Kyai Ibrahim tentang hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat. 


“Abi, bisa kah saat ini tolong bantu Tara untuk bersyahadat?”


Suara Sitara sangat mengejutkan semua yang ada di ruangan tersebut. Suasana yang hening tadi, tiba-tiba pecah dengan permohonan Sitara untuk bersyahadat. merinding, itulah yang saat ini sedang dirasakan oleh Musa dan yang lainnya.


Musa tanpa sadar memandangi wajah Sitara yang saat ini sedang beradu pandang dengan Kyai Ibrahim. “Nak Sitara, apakah kamu yakin dengan perkataan mu? Kyai Ibrahim kembali menanyakan tentang apa yang sudah gadis itu ucapkan. 


Kedua netra yang sudah termakan usia, tapi sarat dengan ilmu itu menelisik kedalam mata dengan hazel hitam pekat yang ada di hadapannya. dia mencari kebohongan disitu, tapi sayangnya tidak ditemukan. 


“Tara yakin Abi.” 


ALHAMDULILLAH


.


.


.


Assalamualaikum pemirsa. 


Mohon dukungan terus ya, jangan lupa like dan vote nya. Terimakasih.. semangatin Author dong gaes dengan banyakin vote kalian hehehe