Kepentok Cinta Ustadz Gaul

Kepentok Cinta Ustadz Gaul
Bab 47: Dokter Pintu


“Aaawww, Isshh sakit telingaku. Heeyyy Apa yang kalian lakukan di dalam sana!!!” Dokter pintu melepaskan stetoskop yang mengirimkan suara yang sangat jelas di telinganya sehingga memekakkan gendang telinganya. 


Di Dalam kamar.


“Aduuh! kamu kenapa Sitara?” Musa terjatuh dari atas ranjang. Musa yang tadinya sudah siap untuk melaksanakan kewajibannya memberikan nafkah kepada istrinya. Memulai segala sesuatunya dengan lembut. 


Sitara yang awalnya tegang dan panik, mulai melunak. pemanasan itu diterimanya dengan tanpa perlawanan. Disaat tangan Musa menarik tubuh Sitara kedalam pelukannya tiba-tiba Sitara memukul dada Musa dengan kuat dan menendangnya dengan gerakan yang sangat cepat. 


Musa yang tadinya sudah mulai memanas, walau bagaimanapun Musa pria normal, dan yang sedang dia hadapi saat ini adalah istri sahnya. Jadi tidak ada terpikir sedikitpun untuk mereka berganti acara.


Tubuh panas Musa terpental ke lantai, dan itu sangat sakit. bukan hanya pantatnya yang menghantam lantai yang sakit, tapi hati Musa pun merasakan perih karena perilaku istrinya. 


“Ya Allah Mas!” Sitara berteriak dan tersadar dari kebodohannya dan jelas saja ini membuatnya malu. Sitara melompat dari atas ranjang untuk menolong Musa. 


“Mas, maafkan Tara, ayo bangun, sakit ya mas?” Musa hanya bisa meringis menahan sakit. Dia berdiri dengan berpegangan pada tangan Sitara yang sudah terulur. 


“Sakit Tara, kamu kenapa? kalau memang kamu belum siap kenapa gak bilang, aduuhh.” Musa berjalan kembali menuju ranjang mereka. Sitara menuntun Musa dengan perasaan yang tidak karuan.


Mereka kini kembali duduk di tepi ranjang. Sitara menunduk tidak sanggup memandang ke arah Musa. dia meremas ujung bajunya seperti anak kecil yang ketahuan mencuri uang mamanya.


“Tara…” Musa yang sudah menguasai kembali dirinya, menatap Sitara dengan syahdu. Dengan lembut dia menggamit dagu lancip Sitara dan mengangkat wajahnya. 


“Tara, apa yang kamu rasakan tadi?” Musa dengan sabar menunggu jawaban Sitara. dia menatap istri pendekarnya dengan tatapan lembut penuh cinta.


“Ma-mas, maafin Tara, bukan soal belum siap, tapi entah kenapa tadi tiba-tiba tubuh ini merespon dengan cara yang memalukan seperti tadi.” Sitara menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang putih dan mulus. 


‘Hiks.. Hiks..”


“Loh kamu menangis Tara, sudah-sudah kamu tenangkan dirimu dulu ya, apakah reflek mu seperti ini ya? dulu waktu kamu di bangunin umi, trus kamu menyerang umi, dan sekarang terjadi lagi. Tara kenapa kamu sepertinya harus selalu waspada? apa yang membuatmu seperti ini?” Musa meraih kepala Sitara, dia mendekat dan meletakkan kepala sitara ke dada bidang miliknya. 


Rambut Sitra yang hitam dan wangi menyeruak ke dalam indra penciumannya. Pertanyaan Musa membuat Sitara berhenti dari tangisnya. Ada hal yang tidak bisa diceritakan kepada suaminya, sampai kapanpun, hal ini dia lakukan demi sumpah baktinya kepada negara. 


“Mas mungkin ini pengaruh aku yang selalu melatih bela diriku. jadi masih terbawa. Mungkin kita harus mencoba dengan cara yang lain Mas.” Sitara tidak mau suaminya berpikir yang aneh-aneh, dia pun memberikan ide agar perjalanan rumah tangganya tetap bisa berjalan. 


Musa melepaskan pelukannya, dia menatap sepasang netra indah Sitara, dia berusaha menyelami istrinya. Walau banyak pertanyaan yang saat ini sedang bermain di pikirannya. 


“Sitara mari kita mulai perjalanan rumah tangga kita dengan menumbuhkan cinta di hati kita. apa kamu mau?” Sitara tersenyum, dia mengambil tangan Musa dan menciumnya. 


“Aku mau Mas, tolong ajari aku, selama ini aku tidak pernah jatuh cinta, aku hanya suka menikmati cowok-cowok ganteng, tapi itu hanya sebagai hiburan buatku.” Sitara mulai kembali dengan kekonyolannya. 


“Astaghfirullah Tara, kamu nakal ya!” Musa menepuk jidat nya dan menggelitik pinggang Sitara dengan gemas.


“Geli mas.. hahaha ampun.. ampun..” puas mereka bercanda, kini suasana canggung kembali mencair. 


“Kamu suka music? Musa mengalihkan pembicaraan. 


“Ya suka dong, tapi koleksiku lagu-lagu India.” Sitara mengarah ke perangkat audio yang ada diatas meja, dimana semua peralatan elektronik berada disana.  


“Hemm gak papa, sekalian aku ingin menikmatinya, aku juga harus mengenal budaya mu kan. karya-karya seni India sudah terkenal di seluruh dunia, dan sekarang wanita cantik dari hindustan ini melengkapi indahnya hidupku.” Musa mendekat ke arah sitara yang masih sibuk memilih lagu. 


Entah darimana Musa belajar merayu, terasa manis sekali di telinga Sitara. 


Seettt


“Aww Mas..” Musa dengan menghilangkan rasa canggungnya, memeluk Sitara dari belakang. Wajahnya diletakkan pada bahu Sitara. sehingga jarak mereka hanya hitungan beberapa senti saja. 


Musik mulai mengalun, ternyata cara ini mampu membuat keduanya hanyut menikmati kedekatan tanpa jarak. sesekali Sitara mengikuti syair lagu yang mampu menghangatkan hatinya. 


Tubuh mereka yang masih berpelukan itu, bergerak pelan mengikuti irama musik yang mendayu indah. Sitara yang memahami artinya, menjadi terlena. hatinya berbunga-bunga. 


Buru-buru dia mengeluarkan stetoskop yang tadinya sudah di kembalikan ke kantong bajunya. Dengan tergesa-gesa dia memakai alat medis tersebut. 


Sreeekk 


dengan gerakan pelan seakan memeriksa tubuh pasien, dia menajamkan pendengarannya. 


“Ahhh sialan apakah aku melewatkan sesuatu? Musik ini mengganggu saja, apa yang terjadi didalam sana? aduuuhh aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.” Terus saja sosok misterius itu bergumam kesal, dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. 


Dari kejauhan Satish yang keluar kamar untuk mengambil minum d dapur, berhenti sejenak. dia melihat ada bayangan orang di balik tanaman hias yang tingginya hampir sama dengan tinggi orang dewasa. 


“Apa ada maling ya?” Dia bergumam pelan. rumah memang sepi, semua orang sudah dibuai dengan mimpi indah mereka masing-masing. Satish berpikir cepat, dia berjalan pelan menuju ruang makan, disana ada peralatan Golf nya yang bisa dijadikan senjata untuk memukul orang. Dia terus melangkah sambil mengawasi orang yang masih berada di depan pintu kamar Sitara dan Musa. 


“Kurang ajar betul maling itu, mungkin dia kira anakku tidak ada dirumah, sampai dia tau bisa remuk kau dibuatnya, apa aku panggil satpam ya? ahh tapi nanti keburu kabur dia, biarlah ku tangani sendiri, sudah lama juga aku gak olahraga. Ok yang ini saja, cukup besar buat mukul orang.” Satis bergumam sambil memilih stick golf miliknya. 


pelan dia berjalan sambil terus berhati hati, dia was-was jangan-jangan si maling bawa temen, jaman sekarang maling pada pinter, mereka lebih baik membagi hasil dari pada harus kerja sendiri. 


posisi Satish sudah semakin dekat dengan target. Karena terlalu fokus, dia tidak melihat ada meja kecil yang memajang foto-foto keluarganya.


Dug!


Praaang!!!


“Heyyy siapa kamu!” sudah terlanjur basah, ya sudah mandi sekali, sudah terlanjur ribut, ya sudah tangkap aja sekalian. 


Sosok misterius itu menegang. dia melepaskan stetoskop yang berada di telinganya. tamat sudah karirnya, dia sudah ketahuan. Sosok itu menarik napas dalam. Satish sudah bersiap menyambut sosok misterius itu dengan memposisikan sitck golf nya di pundak, siap diayunkan. 


Sreeekk


Bugh


Tidak disangka sosok yang sudah tertangkap basah itu menyerang dengan gerakan cepat memutar dan melakukan gerakan sliding ke arah kaki Satish, berikut pukulan yang dilepaskan ke arah perut Satish.


Gubraaakk!


“Aaakkhhhh!” 


Ceklek!


Satish ambruk, diwaktu yang bersamaan pintu kamar Sitara terbuka, sepasang pengantin ini pun keluar dari kamar mereka, dan…


“Heyy siapa kamu!”


.


.


Assalamualaikum pemirsa.


Siapa ya sosok misterius ini? jangan lupa like dan vote ya pemirsa.


Tunggu juga karya ku berikutnya.


Digantung Mr. Coal.


Terimakasih pemirsa 💞