Kepentok Cinta Ustadz Gaul

Kepentok Cinta Ustadz Gaul
Bab 24: Sah


Suara gemuruh terdengar, semua orang yang ada di ruangan itu dengan serentak mengucapkan hamdalah, kecuali Satish tentunya. Semua orang yang ada di ruangan itu tersenyum bahagia. Fatimah yang sedari tadi diam menyimak jalannya perkara, bergegas berdiri dan menghampiri Sitara.


“Maasya Allah, Umi senang mendengar semuanya nak, semoga kamu akan menjadi muslimah yang taat akan perintah Allah dan bisa melaksanakan ajaran Rasulullah.” tanpa terasa buliran bening itu sudah jatuh tanpa bisa ditahan, menganak sungai dan membasahi pipi keriput Fatimah.  


Suasana yang tadinya tegang dan berubah khusyuk karena Kyai Ibrahim yang sedang menceramahi kedua anak muda itu. Sekarang suasana ceria sedang mereka rasakan. Fatimah tampak sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut peristiwa sakral tersebut.


Satish yang tadinya terkejut, nampak bahagia, dia mendatangi Sitara yang duduk berseberangan dengan nya, dengan tidak bisa berkata-kata, dia memeluk erat Sitara.


Greebb


“Papa senang sayang, akhirnya kamu sudah menemukan tujuan hidupmu dan akan kemana kamu setelah mati nanti. selamat ya putri kesayangan papa” tak bisa dibendung lagi, air mata bahagia dari Satish pun membasahi pipi nya yang mulai termakan usia. 


Setelah semua persiapan lengkap, Musa yang bertugas untuk mengumpulkan para ustadz dan santri yang ada. Mereka semua dengan semangat menghadiri acara sakral tersebut. Semua pekerjaan di tinggalkan untuk sementara. 


Satish meminta Zahra untuk membelikan nasi padang dan makanan, sebagai hidangan sebagai ucapan rasa syukur. Halaman rumah Kyai yang luas langsung dilapisi oleh terpal dan dilapisi karpet. 


Kyai Ibrahim langsung menghubungi pak RT dan pak Lurah. Tidak ketinggalan sahabatnya yang menjadi kepala dinas Departemen Agama.


Dengan namanya yang sudah sangat terkenal dan sebagai orang yang disegani, bukan hal yang sulit baginya untuk mengundang mereka semua, walaupun bisa dibilang acara ini mendadak. 


Acara ikrar Syahadat yang akan dilakukan Sitara, dimana dia akan hijrah menjadi seorang muslimah. Acara akan digelar setelah sholat Dzuhur sambil menunggu para tamu undangan datang.


Tanpa terasa waktu berlalu, semua orang sudah datang dan saat ini Kyai Ibrahim sebagai tuan rumah memberikan kata sambutan yang di dengarkan dengan tenang oleh semua yang hadir. 


Banyak nasehat yang di sampaikan kyai Ibrahim, baik untuk Sitara maupun untuk semua yang hadir, karena sesungguhnya setiap saat kita selalu mengharapkan hidayah dari Allah.


Sampailah pada acara inti yang sudah di tunggu-tunggu. Sitara yang tadinya tampak tenang, kini wajahnya tampak sedikit pucat dan ada ketegangan yang meliputi wajah cantiknya yang berbalut hijab pashmina dan baju Kurti, pakaian khas wanita india. 


Mikrofon diberikan kepada Sitara, dengan tangan yang gemetar dia berusaha menarik nafas dalam untuk menenangkan diri nya. 


Zahra dan Fatimah mengambil posisi duduk di sisi kanan dan kiri gadis cantik itu. sementara Satish duduk di samping kanan Kyai ibrahim.


“Nak Sitara, apakah kamu sudah siap untuk bersyahadat?” Tanya Ibrahim.


“Sudah Abi.” jawab Sitara dengan lembut, tapi sangat jelas ada kesungguhan di kalimatnya. 


“Baiklah, kamu ikuti apa yang Abi Ucapkan ya. Bismillahirrohmanirrohim” Sesaat Kyai Ibrahim juga menenangkan debaran jantungnya yang tidak beraturan. selama ini sering dia membantu orang untuk bersyahadat, tapi kali ini memang lain rasanya. 


Setelah dia bisa menguasai diri, Ibrahim langsung menuntun Sitara untuk mengucapkan kalimat syahadat. 


“Asyhadu an laa ilaaha illallaah” (Kyai Ibrahim)


“Asyhadu an laa ilaaha illallaah” (Sitara)


“Wa asyhadu anna muhammadar rasulullah (Kyai Ibrahim)


“Wa asyhadu anna muhammadar rasulullah (Sitara)


“Artinya” kembali Ibrahim membimbing sitara 


“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah.” (Kyai Ibrahim)


“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah” (Sitara)


“Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah." (Kyai Ibrahim)


“ALHAMDULILLAH…” semua orang yang hadir disana seperti paduan suara mengucapkan kalimat yang sama, kalimat syukur atas hidayah dan ridho Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. 


Rasa haru dan bahagia saat ini memenuhi dada Sitara, gadis cantik yang seorang jagoan itupun tak bisa membendung air matanya yang tanpa di komando, sudah langsung menganak sungai dan membasahi pipinya yang halus dan tanpa polesan make up.


Para perangkat desa sibuk menyelesaikan surat menyurat tentang perubahan status Sitara. setelah penandatanganan surat keterangan yang akan digunakan untuk merubah status nya di KTP dan surat surat yang lainnya.


“Alhamdulillah, terimakasih semuanya, atas kehadiran tamu-tamu terhormat kami dalam hajatan dadakan ini.” Kembali Kyai Ibrahim menyapa semua yang hadir untuk berterimakasih. 


“Jadi bagaimana semua para saksi yang hadir, sudah SAH ya anak ku Sitara menjadi saudara sesama muslim kita?” 


“SAAAHHHH” semuanya pun kembali mengatakan secara bersamaan dan semua yang hadir disana tampak sangat berbahagia. 


Acara dilanjutkan dengan makan-makan, “Ayo bapak-bapak, semua yang ada silahkan di nikmati, mohon maaf lo ya karena ini dadakan jadi seadanya saja pak.” Satish mempersilahkan tamu undangan untuk menikmati hidangan yang seadanya. 


Sementara anak-anak santri, mereka yang memang sudah jam makan siang, tanpa disuruh dua kali langsung menyerbu meja yang sudah menumpuk nasi kotak dari restoran padang yang mereka sudah sangat tau dengan kualitas rasanya. 


*****


Hari sudah berganti, Sitara sudah kembali ke rumahnya di Surabaya. sesuai dengan perjanjiannya dengan Kyai Ibrahim, jika Sitara sudah sembuh, maka akan kembali ke Pesantren. 


Ada sebuah perubahan yang terjadi, kini pesantren Istiqomah membuka kelas untuk putri. beberapa kelas tampak baru selesai di bangun. Ini semua berkat sumbangan dari Satish. 


Baru saja kelas di buka, yang mendaftar sudah banyak. Sementara ini kelas hanya dibuka untuk kelas pagi. dan belum ada dibuka asrama untuk santriwati. Sekolah Diniyah (Sekolah khusus pelajaran agama). 


Sekolah ini tidak membatasi umur santriwatinya. dan di kelas ini Sitara adalah santri paling tua umurnya, tapi paling muda ilmu agamanya. ya jelas lah ya, dia kan Mualaf baru beb hehehe 


Sementara Musa yang tampak sangat sibuk di ruang kerjanya, bersama beberapa ustad dan ustadzah yang sudah direkrut untuk mengajarkan kelas putri. Tampak beberapa Ustadzah yang curi-curi pandang ke arah Musa. 


Hari yang melelahkan tapi juga menyegarkan karena ada pemandangan yang segar. Hari sekolah akan di mulai hari senin minggu depan.


Selama satu minggu ini semua tenaga pengajar dan administrasi akan sibuk mempersiapkan semuanya. Mulai dari jadwal pelajaran sampai hal-hal kecil yang akan di urus. 


Ustadz Zain yang tadinya mengurus santri putra, kini diberikan tanggung jawab tambahan mengurusi pembangunan yang masih terus dilakukan.


Ternyata efek dari Mualafnya Sitara membuat orang banyak yang ingin menjadi donatur, tadinya Kyai Ibrahim tidak ingin menerimanya, tapi karena desakan warga untuk membuka kals putri, akhirnya Kyai ibrahim membuka pintu untuk para donatur yang ingin beramal bersama.


Ghofur dan istrinya langsung mengambil peranan. Dia orang pertama yang mendaftarkan diri sebagai donatur, di susul oleh yang lainnya.


Pondok Pesantren Istiqomah kini semakin besar dan semakin luas. pembangunan terus dilakukan agar mampu menampung para santri yang ingin menuntut ilmu dunia akhirat. 


.


.


.


Assalamualaykum pemirsa


Yuk dukung terus karya ku dengan like dan vote nya, agar karya ku makin maju pemirsa, makasiihh ya.


Musa awas ya hati-hati dengan lirikan para Ustadzah baru, kira-kira Sitara gimana ya??