
“Aku tau kau belum tidur Ayu.”
Deg!
Ayu tidak kuat menahan rasa sesak yang memenuhi ruang dadanya.
“Mas, jika aku ternyata mandul, apa yang akan kamu lakukan?” Ayu bicara masih memunggungi Harun. Bulir-bulir bening di matanya terus saja mengalir. Harun tercenung. Dia tidak menyangka Ayu akan menanyakan hal seperti itu.
“Ayu, apakah kamu marah?”
Ayu membalik tubuhnya, wajahnya kini sangat dekat dengan Harun. lama dia menatap suaminya yang sering berubah-ubah itu. Ayu duduk dan bersila. entah kerasukan setan dari mana dia siap untuk menumpahkan semua isi hatinya.
“Mas Harun mau tau aku marah apa nggak kan? sekarang mas harus mendengarkan baik-baik, jangan menyela kalimatku. Mas Harun menikahi aku baru kurang lebih seminggu yang lalu. Tapi aku sudah merasa tertekan, setiap habis berhubungan mas selalu membahas tentang anak. Mas Harun itu orang yang paham agama, kemana imanmu mas? dimana kamu letakkan Allah yang selama ini kamu sembah. Aku lelah mas, aku lelah! Mas bukan orang bodoh, tapi ternyata mas mau dibodohi oleh nafsu. kegelisahanmu sangat tidak beralasan, jika kamu ada di posisi ku, bagaimana? jika ternyata kamu laki-laki mandul bagaimana? aku merasa kamu selalu mendesakku, mencari kesalahan ku. Kamu menganggap aku ini robot? kamu menabur benih lalu besok pagi akan jadi bayi. AKU BUKAN MESIN MAS!!! hiks…hiks…”
Tumpah semua isi hati Ayu malam ini. Dan Harun hanya terdiam dan terpana melihat Ayu yang marah. “Ayu, aku minta maaf.” cicit Harun sambil menunduk.
“Maaf, enak aja mas bilang maaf, setelah melakukan semua kekerasan pada mentalku. Seharusnya mas mikir dulu sebelum ngomong. Setiap hari mas bilang maaf, selalu seperti itu. Mudah ya mas bilang maaf, tapi mas gak pernah berusaha untuk koreksi diri. Mas selalu mendahulukan maunya mas, mas gak mikir gimana aku!” kembali Ayu menghabiskan rasa sesak di hatinya.
Malam ini menjadi malam yang sangat buruk bagi Ayu, tapi dia sungguh lega. Saat ini yang dia pikirkan hanyalah kelapangan hatinya, Dosa? dia tidak sempat berpikir tentang hal itu. Harun yang sedari tadi diam mendengarkan semua ungkapan hati Ayu, hanya mampu tertunduk. Saat ini dia merasa bersalah.
“Ada apa dengan diriku, kenapa aku selalu merasa seperti ini?”
*****
Pagi hari, disaat semua keluarga berkumpul, Musa dan Sitara menuruni tangga dengan bergandeng tangan. Wajah mereka cerah ceria, secerah mentari pagi ini yang bersinar terang. Daadee memperhatikan mereka berdua. Sitara yang sekarang menggunakan hijab itu tampak semakin cantik.
“Kalian berdua jangan mengumbar kemesraan di depan kami!” sungut Pooja, dah hal itu di dukung oleh Zahra yang jiwa jomblonya meronta-ronta.
“Daadee bener banget, mereka berdua sangat tidak berperasaan Daadee,” cicit Zahra. Pooja yang duduk bersebelahan dengan Zahra menoleh dan mengangguk dengan senyuman mencebik.
“Pagi semua,” sapa Sitara melepas kecanggungannya. Tapi matanya menatap tajam kearah Pooja. Sementara Satish duduk dengan gelisah. “Pagi Tara, Musa ayo duduk kita sarapan.” Satish sebagai tuan rumah berusaha membuat Sitara tenang, dia sangat tahu putri kesayangannya akan mengamuk ketika urusan pribadinya dicampuri apa lagi dengan kekonyolan mamanya semalam.
Mereka duduk di kursi masing-masing, tidak lupa berdoa dengan agama masing-masing. Sarapan berjalan dengan tenang. Selesai makan, Sitara yang sudah bersiap untuk mengajak Daadeenya bicara empat mata, gagal karena Ibrahim sudah lebih dulu bicara.
Pak Satish dan madam Pooja, kami akan kembali ke pesantren pagi ini. Kami akan menyiapkan acara syukuran di pesantren. Agar para tetangga dan kerabat mengetahui pernikahan anak-anak kita. bagaimana pak Satish?” Satish menoleh ke arah Pooja.
“Kyai Saya akan mengirimkan orang kesana untuk membantu Kyai. WO yang kemarin kita pakai, bisa kita suruh kesana untuk persiapan, jangan sampai Kyai kecapekan.” Ibrahim melihat ke arah Fatimah. Seakan meminta pendapat dari istrinya.
Pagi ini mereka sudah menyepakati acara syukuran pernikahan Musa dan Sitara di pesantren dengan menggunakan jasa wo. Pooja hanya menyimak saja, pikirannya masih belum tenang dengan kejadian semalam yang membuat mood nya hancur pagi ini.
“Pa, pagi ini Tara mau ajak mas Musa ke kantor ya, sekalian ngenalin mas Musa ke semua karyawan.” Mereka berdua memang tidak mengambil cuti dari kegiatan mereka masing-masing. “Ya bagus itu Tara, kalian mau berangkat jam berapa?” jawab Satis sekaligus bertanya.
“Nanti pa, bareng aja sama Abi dan Umi.” sahut Sitara. Musa hanya mengangguk dan tersenyum. Suaminya pagi ini lebih banyak diam. “Kalau begitu, ayo sekarang saja, biar gak kesiangan, ayo Umi, kita masih harus mampir kerumah mas Nugroho untuk meminta beliau hadir di acara syukuran nanti.” Ajak Ibrahim kepada Istrinya.
Mereka akhirnya mengakhiri acara sarapan pagi dengan sedikit diskusi. Kedua keluarga akhirnya berpisah. ibrahim kembali ke pesantren dan Musa bersama Sitara berangkat kekantor. di perjalanan Musa yang sedang menyetir mobil milik Sitara hanya banyak diam dan tampak fokus dengan jalanan yang sedikit macet.
“Mas, kok diem aja, kenapa? Sitara memecah kesunyian. “Ehem, gak papa Tara, hanya-hanya masih belum terbiasa aja mungkin.”
Blushhh
Pipi Sitara merona merah, dia sangat paham dengan apa yang musa maksud. Dia membuang pandangannya ke arah jendela. bibirnya tersenyum kecil dan hatinya jedag jedug.
“Tara, boleh mas tanya?” Sitara menoleh dan menatap Musa lekat. “Ya mas, mau tanya apa?” jawab Sitara. “Ehhmm apa di bagian situ masih sakit?” Musa melirik ke bagian bawah perut Sitara sebagai tanda menunjuk bagian yang dia maksud.
“Maass ih, nanya nya kok itu?” balasnya manja. Sitara tidak bisa menahan malu, dia langsung mencubit sayang perut samping Musa.
“Awww sakit Tara, tangan kamu ya pedes tau.” Musa meringis seperti orang yang sedang teraniaya tapi tidak melepaskan senyum dari bibirnya.
Si kuda hitam itu pun terus berjalan menyusuri jalan, dan tanpa terasa mobil mewah itu memasuki halaman parkir dan Musa memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus owner.
Mereka berdua turun dan Sitara tidak mau melepaskan gandengan tangannya dari Musa. Sebenarnya Musa merasa risih dengan sikap Sitara yang seperti ini, tapi dia bisa apa. “Selamat pagi bu.” Satpam yang bertugas di halaman parkir menyapa mereka. “Pagi pak, selamat bertugas ya.” Sapa Sitara ramah.
sesampai di lobby gedung berlantai lima itu, Sitara kembali menjadi pusat perhatian semua karyawan yang baru saja datang.
“Eh itu kan Ustadz Musa, bener gak sih Rum?” salah satu karyawan berbisik kepada temannya. “Bener, aslinya emang cakep ya ternyata, bikin adem hati say.” balas wanita yang dipanggil Rum.
“Ustad Musa?” Seorang wanita memanggil musa dari arah belakang, sontak membuat Musa menoleh dan pautan tangannya dengan Sitara terlepas.
.
.
Assalamualaikum pemirsa. Siapa ya perempuan itu?? Tolong tinggalkan jejakmu dengan Like+vote ya pemirsa. Jangan lupa mampir juga ke novel ku. Digantung Mr. Coal. Yukk cuuss bacaaa