
Hari berganti, waktu berlalu, hubungan Cici dan Arya semakin hari semakin baik, Arya mulai paham dengan Cici yang menurutnya mampu membuatnya sedikit demi sedikit berubah dan bisa menempatkan diri. Hari ini semua bukti telah dikumpulkan, Arya meminta persetujuan Satish untuk bertindak terhadap Dev. Satish sungguh dilema, ini adalah keluarganya, dia tidak ingin orang lain mengetahui keburukan keluarga, ingin rasanya dia memaafkan Dev.
Arya, Satish dan Raju mengadakan rapat. Sengaja mereka tidak melibatkan Pooja, karena mereka ingin menjaga kesehatan sang mama.
“Aku masih bingung harus bagaimana bersikap, Sitara tidak akan mau melepaskan Dev dan Raj. Aku sangat kenal bagaimana Sitara,” Satish membuka pembicaraan, pria paruh baya itu memijat pelan keningnya. Ravi menyerahkan semua bukti investigasinya, dan memang hanya Dev tersangka tunggal. Sitara sudah memberikan kabar besok dia sudah bisa pulang, dan sudah disiapkan tim medis disini untuk membuka perban wajah baru ustadz gaul itu.
“Satish, aku sebenarnya sangat tidak suka berurusan dengan Raj dan anaknya, sedari dulu memang mereka ingin merebut apapun yang kita punya, menurutmu apakah kita harus mengalah?” tanya Raju pada kakak tertuanya itu.
“Huuff, sebenarnya aku tidak ingin mengambil keputusan sebelum Sitara datang, aku ingin dia yang mengambil keputusan karena setelah aku pensiun dia lah yang akan menggantikan ku,” jawab Satish, jelas sekali di wajahnya menanggung beban. Ada rasa malu jika nanti menantunya yang soleh itu akan mengetahui buruknya keluarga mereka, dan sudah jelas ini akan membuat Sitara kehilangan muka di hadapan suaminya.
Arya banyak diam menyimak sambil membalas chat yang masuk ke ruang pesannya.
[Gimana keputusan papa Ar?] tanya Sitara penasaran.
[Bokap lo maunya lo aja yang eksekusi Ra] jawab Arya, pria tampan itu menyimpulkan sendiri.
[Hah kok gue? lah yang punya perusahaan kan papa, ngasal kali lo?] balas Sitara merasa tak percaya.
[Ciyuus, yuk kita ajak ‘party’ aja si ubur-ubur itu, mau gak?] tanya Arya sambil senyum-senyum.
[Gue kalo di suruh party ama si Dev sih mau banget, till drop ya?] senyum Sitara mengembang sempurna di belahan dunia sebelah sana.
[Jelas dooong, atas restu dari para sesepuh ini, berangkaat kita, buruan balik lo, gimana kabar ipar gue?] Senyum Arya juga terkembang, party ala mereka sudah pasti seru, di jamin trauma yang diajakin party.
[Baiklah, dia mah selalu terawat, gue kan selalu sabar, hahaha]
[Gak caya gue, lo aja gak bisa sabar ama diri lo ndiri, udah ah buruan balik lo, kelamaan disana keburu jadi tape tu si Dev.]
[Iya, bye]
Arya hanya tersenyum-senyum sendiri membayangkan apa yang akan dia lakukan dengan sepupu tercintanya itu.
*****
“Pa, sekarang aku harus gimana?” tanya Dev yang tampak frustasi dan mengacak rambutnya yang sudah tidak karuan. “Papa juga gak bisa mikir, semua sudah terjadi, apa yang kita usahakan selama ini jadi sia-sia aja. Memang seharusnya kita gak ganggu mereka Dev, salah kita nyari musuh,” Raj nampak menyesalkan apa yang sudah mereka lakukan.
Tidak ada yang bisa mereka lakukan karena dua puluh empat jam mereka dijaga ketat oleh Arya yang menurunkan orang-orangnya demi menjaga Raj dan Dev sampai Sitara kembali. Ketika hari itu tiba, Dev merasa sudah tidak ada lagi pilihan kecuali menghadapi hukuman dari sepupu tercintanya itu.
Dev kembali mengingat apa saja yang sudah dia lakukan untuk membuat Sitara celaka, tapi bukannya Sitara yang celaka, Musa menjadi korban yang paling berat mengalami luka bakar, dan belasan orang karyawan yang terkena efeknya. Dev bekerjasama dengan salah satu karyawan yang bekerja di perusahaan milik Sitara untuk menjadi kaki tangannya dalam insiden ledakan mesin di pabrik. Dengan iming-iming uang yang berjumlah besar, membuat oknum itu gelap mata dan melupakan kesetiaan yang selama ini di bangunnya.
Tidak membutuhkan kerja keras yang berarti, Dev berhasil membuat perusahaan Sitara mengalami kerugian yang tidak sedikit. Dendam menguasai hati dan akhirnya melumpuhkan pikiran sehat manusia. Kini hanya penyesalan yang bersarang di hati seorang Dev. tanpa bisa lagi memutar waktu agar Dev tidak melakukan hal bodoh yang hanya akan menghancurkan dirinya sendiri.
*****
Musa tampak sudah semakin sehat, hanya saja wajahnya masih di balut perban dan tangannya juga masih di balut kain kasa. Tadinya mereka berencana untuk membuka perban itu di tanah air, tapi rencana berubah. Musa tidak ingin keluar rumah sakit dengan tampilan seperti mummy. Hal itu pun disetujui oleh Sitara.
Dan tibalah saat pembukaan perban itu. Semua tim dokter yang selama ini merawat luka Musa mulai dari kepala hingga badan, berdiri di belakang Musa yang sedang berhadapan dengan kaca besar. Wajah-wajah tegang yang tersirat di wajah masing-masing orang disana, tidak terkecuali Sitara, yang berdiri di samping suaminya yang duduk di kursi roda.
Dokter Veer yang menjadi pimpinan tim operasi face off Musa maju menjekat, dua orang suster pun mengikutinya dengan membawa nampan yang lengkap dengan peralatan medis.
“Tuan Musa apakah anda siap untuk melihat seperti apa wajah anda sekarang?” tanya Veer dengan nada tenang dan senyum manis yang menenangkan.
“Bismillah dokter, saya siap bertemu dengan diri saya yang baru,” jawab Musa dengan suara yang bergetar. Pria tampan itu berusaha untuk tenang dan terus berdzikir di dalam hatinya.
“Satu, dua, tiga” dokter Veer dengan sigap dan tenang menggunting kasa yang melilit wajah musa, lalu mulai mengurai kain tipis yang menggulung wajah Musa. Kedua mata Musa memang sengaja dia pejamkan. Biarlah dia melihat setelah kain itu selesai terbuka dengan sempurna.
‘Ya Allah inilah takdirmu, tidak ada satupun hambamu yang mampu menolaknya. Berikan hamba keikhlasan hati untuk menerima pemberian mu ya Allah, hamba berserah diri hanya kepadamu, apapun yang berasal dari mu, maka akan kembali semuanya padamu.’ Musa terus berdoa, meminta kekuatan untuk menerima takdir yang kini harus dia jalani. seperti apapun nanti wajahnya, semua harus dia terima dengan lapang dada.
Sitara yang berada di sebelah suaminya pun ikut menutup kedua matanya. Wanita itu sangat ingin mendapatkan kejutan dari suaminya.
“Tuan Musa sekarang buka mata anda pelan-pelan ya,” pinta Veer lembut. Pelan tapi pasti Musa membuka kedua kelopak matanya dengan tidak melepas kalimat takbir dari hatinya.
“Maaya Allah, sungguh luar biasa nikmat yang Allah berikan, Tara, apakah ini benar wajahku?”
❤️❤️❤️
Like, komen, subscribe, vote ya pemirsa. menjelang tamat ini, author sudah siapin novel baru buta nemenin hari kalian. Gak kalah seru ya. JANDA MANDUL