
Happy Reading..!
Jan lupa dukungannya ya..😉😘
"Mas Kak Rasha, Mas. Gimana ini Mas?" Aku menarik ujung lengan baju Mas Fahmi.
"Gimana apanya, Sha?" What, Gimana apanya, katanya..?
"Fotonya, Mas"
"Yaudah lah, Sha. Udah di kirim ini. Kita juga nggak ngapa ngapin, lagian udah sah juga, kan?"
Ugh. Udahlah.
°
Makan malam
Sebenarnya Aku tidak berselera untuk makan. Tapi kupaksakan makan meski sedikit, karena Aku sudah terduduk di meja makan ini bersama keluargaku.
"Sayang, kamu kenapa kok makannya sedikit? Makanannya gak enak ya? Apa kamu sakit?" Tanya Ibu beruntun.
Aku menggeleng geleng kan kepalaku dan menjawab..
"Gak papa, Bu. Makanannya enak kok. Aku cuma.. cuma lagi gak nafsu aja"
Ibu tersenyum lembut padaku.
"Gak apa apa, Bu. Adikku ini cuma gugup aja kayaknya. Secara malam ini kan..." Ucap Kak Rasha yang sengaja tak melanjutkan ucapannya dan memasang wajah dan senyum yang mengejek.
"Terserah" Jawabku atas ejekan Kak Rasha dan memutar bola mataku jengah. Kemudian kulihat Fahmi yang tetap diam dan, He hey, kenapa kau jadi terlihat gugup..?
Aku segera menyelesaikan dan menghentikan acara makanku. Ku letakkan sendok dan garpu dengan posisi menutup.
"Duh cepet banget sih, udah gak sabar ya?" Lagi lagi Kak Rasha menggodaku tapi Aku hanya memutar bola mataku. Sekilas kulirik kearah Fahmi. Hah!? Demi apa, Fahmi sampai bersemu begitu.
Kak Rasha, ini salahmu. Aku menatap tajam pada Kak Rasha.
"Owoho. Tenang Adik manis, kenapa kau menatapku seperti itu?"
Ck. Aku tak menjawabnya.
"Rashaa.." Panggil Ibu sambil tersenyum.
"E.. ehh Iya, Bu. Aku nggak ngapa ngapain kok.. hehe" Kak Rasha menjawab diikuti cengirannya.
"Risha sayang, Nak Fahmi. Kalian pasti mau melanjutkan yang tadi ya. Ibu sudah tak sabar buat menimang cucu.."
Ibu mengatakannya dengan tersenyum senyum dan tatapannya seolah mengatakan 'Ibu sudah melihat foto kalian tadi.. hihi'
Oh tidak, sekarang Ibu sama saja dengan Kak Rasha.
"Sudah sudah. Risha, Nak Fahmi. Jika sudah selesai kalian pergilah istirahat, pasti kalian cape, kan?" Suara Ayah menginterupsi.
Demi apapun, Aku sangat berterima kasih padamu Ayah.
"Nikmati malam kalian" Lanjut Ayah sedikit menyeringai.
A.. Ayah. Kalian sudah bersekongkol rupanya. Baiklah..
"Mas Fahmi, Mas sudah selesai, kan? Ayo kita naik Mas" Ucapku dengan lembut dan menatap intens pada Fahmi.
"Sudah, Ayo" Ucap Fahmi. Kenapa jadi dia yang bersemu? Uh, ini malah seperti Aku yang menggodanya.
Aku dan Fahmi pergi ke kamarku setelah mengucapkan selamat malam pada Ayah, Ibu dan Kak Rasha.
Aku sudah mengenakan piyamaku dan menyikat gigiku. Kubuka pintu kamar mandi dan kulihat Fahmi sedang duduk di ranjang dan bersandar pada kepala ranjang.
Aku berjalan menuju ranjang kemudian naik. "Selamat malam" Ucapku tanpa melihat kearahnya. Aku tidur dengan membelakanginya, kutarik selimut hingga menutupi bahuku.
"Selamat malam. Mimpi indah" Ucapnya dengan tersenyum Meskipun Aku tak melihat wajahnya, Aku bisa melihat senyumannya dari suaranya saat berbicara.
Kucoba menutup mataku dengan perasaan was was. Aku akan tidur seranjang dengan Fahmi, pria asing yang tiba tiba datang dan menikahiku.
Yah, Dia suamiku sekarang.
Dia Suamiku
Dia Suamiku
Aku membaca mantra itu berulang kali dan berusaha tenang.
Aku berhasil, Aku mulai tenang dan mengantuk. Aku bersiap menjelajahi alam mimpi dengan menyunggingkan senyum di wajahku, merasakan suatu kehangatan yang menelusup dalam diriku.
Aku hendak bangun, namun sebuah tangan kekar melingkar sempurna di perutku, kulihat itu tangan kiri Fahmi. Setelah kurasa rasa, sepertinya tangan kanan Fahmi berada dibawah kepalaku. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang terasa menggelitik di tengkukku.
Kenapa Aku bisa berbantalkan lengan Fahmi? Apa semalaman kepalaku menindih tangannya? Apaa Dia tidak merasa pegal?
Arghhh kenapa kepalaku dipenuhi pikiran pikiran seperti itu.
"Fah, Fahmi.. Ini sudah Pagi" Ucapku dengan menepuk nepuk pelan tangan kirinya yang melingkar di perutku.
Emhh
Dia hanya melenguh, tapi tidak bangun, bahkan Ia tidak membuka matanya. Setelah berkali kali ku tepuk tepuk tangannya, akhirnya Ia terbangun.
Fahmi menarik tangan kirinya yang melingkar di perutku. Akhirnya Aku bisa bangun. Kaki Kananku baru akan menyentuh lantai saat Fahmi menarik tengkukku dan mendaratkan bibirnya di bibirku.
Itu ciuman pertamaku! Tanpa di komando, detak jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya.
Tiba tiba saja Dia menciumku, membuatku tak bisa menolaknya. Mataku membulat sempurna, Aku begitu terkejut dan sudah berniat untuk menamparnya jika tidak ingat bahwa Dia suamiku.
Lama Ia menempelkan bibirnya di bibirku, yah, Ia hanya menempelkan bibirnya, kulihat Ia memejamkan matanya. Sesaat kemudian Ia menarik bibirnya dan berkata..
"Morning kiss" Senyuman menghiasi wajahnya.
Aku hanya diam dengan ekspresi datarku. Fahmi mencondongkan badannya dan mendekatkan wajahnya padaku, meraih tengkukku lagi, sepertinya Ia hendak menciumku lagi. Tapi,
"Aku belum menyikat gigi" Kilahku sambil mendorong dadanya pelan. Lagi lagi Dia selalu tersenyum.
Aku segera berlalu ke kamar mandi. Aku menatap cermin di dinding kamar mandi. Alasan macam apa itu? Belum menyikat gigi? Ini gila, kenapa Aku mengatakan hal seperti itu. Dalam hati, Aku merutuki kebodohanku.
Huft..
Aku berendam air hangat dan membiarkan kecemasanku menguap. Setelah beberapa menit, Aku segera membersihkan tubuhku dan menyelesaikan ritual mandiku.
Oh tidak!
Aku lupa, handuk dan jubah mandiku kuletakkan di ruang ganti semalam. Apa Fahmi masih di kamar? Siapa sebenarnya yang mendesain rumah ini? seharusnya ada pintu yang menghubungkan langsung antara kamar mandi dan ruang ganti. Ahh Aku jadi menggerutu kesal sekarang.
Baiklah..
"Fah.. Maksudku, Mas Fahmi. Apa kau di dalam?" Tanyaku dari dalam kamar mandi.
"Mas Fahmi.." Panggilku dengan suara agak bergetar menahan gugup?
"Ada apa Sha? Kamu baik baik aja kan?" Nada bicaranya terdengar khawatir
"Hm, yah. Sebenarnya.. itu.."
"Apa ada masalah?" Tanyanya lagi sedikit cemas.
"Aku melupakan handukku" Aku mengatakannya dengan sekali tarikan nafas dan mata terpejam menahan malu seakan Fahmi sedang melihatku tanpa sehelai benang yang menutupiku, padahal Fahmi tidak bisa melihatku.
Aku mendengar Fahmi terkekeh. "Baiklah" Jawabnya kemudian.
Tak berapa lama, Fahmi mengetuk pintu, saat pintu kubuka sedikit, Fahmi menyodorkan handuk.
"Terima kasih" Ucapku dan menyambar handuk yang di sodorkannya, segera ku tutup kembali pintunya.
Dia hanya memberiku handuk ini? Kenapa Dia tidak membawa jubah mandi saja. Handuk ini terlalu kecil.
Huft.. yasudahlah.
Benar kataku. Handuk ini kekecilan, hanya menutup sampai paha atasku. Tapi, baiklah, begini lebih baik dari pada tidak memakai handuk sama sekali.
Aku membuka pintu kamar mandi dan melangkah keluar.
Deg.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanyaku pada Fahmi yang berdiri tepat disamping pintu kamar mandi.
"Menunggumu. Aku juga mau ke kamar mandi" Jelasnya.
"Oh" Aku melanjutkan langkahku dan membuka pintu ruang ganti. Baru saja kupegang knop pintu, langkahku terhenti.
------------------------------------------------------
"Sepertinya, keputusan kita untuk segera menikahkan Risha tidak salah. Dan sepertinya, Dia akan menerima Fahmi." Ucap Erika pada suaminya, Jade Weinhard
"Ayah lihat kan semalam? sepertinya Risha mulai menerima Fahmi" lanjut Erika, Nyonya Weinhard.
"Entahlah, Bu. Tapi semoga saja ini keputusan yang benar."
Bersambung..