
Happy Reading!❤
"I love you" Kata Mas Fahmi. "Jawab dong Sha" Pinta Mas Fahmi karena aku hanya diam saja.
"Love you" Ucapku sambil menutupi wajahku dengan kedua tanganku. Mas Fahmi terkekeh dengan renyah. Huwaa, aku mengatakannya!
°
°
°
Aku menghentikan aktivitasku dengan handphoneku dan menatap Mas Fahmi.
"Makasih mas, aku turun ya" Ucapku setelah mobil Mas Fahmi berhenti di parkiran kantor.
Mas Fahmi mengusap pucuk kepalaku.
"Em, hari ini pulang jam berapa? Mas jemput ya!"
"Hari ini, aku pulang agak malam kayaknya, nggak apa-apa kan?"
"Ada beberapa hal yang harus Risha siapkan"
"Hm, baiklah. Nanti telepon saja mas, biar mas jemput"
"Terima kasih mas" Ucapku.
"Kenapa mas?" Aku menghentikan tanganku yang hendak membuka pintu mobil, karena Mas Fahmi menahan tanganku yang lain.
Mas Fahmi menatapku intens. Pun dengan mataku, tatapanku mengabsen setiap yang ada pada wajahnya. Matanya, hidungnya dan...bibirnya.
Huft. Aku menghela nafas sambil menutup mataku. Menepis fantasi liarku.
Cup.
Kurasakan kecupan lembut di dahiku. Sesaat kemudian, wajah Mas Fahmi sudah berada tepat di depan wajahku ketika aku membuka mataku.
Deg
Deg
Mas Fahmi menempelkan hidungnya dengan hidungku. Kedua tangannya memegang bahuku. Matanya tertutup.
"Mas- mmph" Mas Fahmi membungkam mulutku dengan mulutnya. Aku mengikuti permainannya tanpa perlawanan.
Hah...hah...hah
Nafas kami terengah-engah begitu Mas Fahmi melepaskan pagutannya. Mas Fahmi mengusap bibirku dan aku...aku menunduk karena malu.
Aku segera merapikan pakaian dan rambutku. "Aku turun mas" Pamitku yang diangguki oleh Mas Fahmi.
Sebelum benar-benar masuk ke kantor, aku menengok ke belakang dan kudapati mobil Mas Fahmi yang belum beranjak dari tempatnya. Aku tersenyum berharap Mas Fahmi dapat melihatnya.
Aku masuk agak tergesa-gesa. Aku ingin cepat-cepat masuk ke ruanganku. Tapi, tiba-tiba sebuah tangan menarikku dan membuat tubuhku menempel padanya seakan kami sedang berpelukan.
Sekilas, aku melihat wajah Mas Fahmi yang tersenyum padaku. Tapi sesaat kemudian,
"Maaf Nona. Saya tidak bermaksud" Pria itu menarik tangannya yang beberapa detik yang lalu berada di pinggangku. Dia menunduk-nundukan kepalanya berkali-kali
"Tadi, anda hampir saja menabrak peralatan itu, Nona. Maafkan saya" Dia menunjuk pada peralatan kebersihan yang tergeletak begitu saja.
"Hm, Saya berterima kasih pada anda Pak Doni" Ya, Dia adalah kepala divisi humas -Pak Doni.
"Tidak apa-apa Nona"
Setelah itu, aku segera masuk ke dalam lift.
Aku baru saja sampai di ruanganku, saat seseorang mengetuk pintu. "Masuk" Ucapku.
"Maaf, Nona. Ini handphone anda, receptionist meminta saya untuk memberikannya pada anda" Ucap salah satu staf sekretarisku.
Handphone? Aku mengecek tas ku dan benar saja, handphone ku tidak ada.
"Ah iya, terima kasih" Ucapku sambil mengambil handphone itu.
"Baik nona, saya permisi" Pamitnya sambil menundukkan kepalanya. Aku mengangguk.
Sepertinya tertinggal di dalam mobil Mas Fahmi tadi. Eh, apa Mas Fahmi belum pergi ya?
Aku berjalan mendekat ke arah jendela kaca yang membuatku bisa melihat pemandangan di bawah sana. Tidak ada, sepertinya sudah pergi.
Mobil Mas Fahmi sudah tidak terlihat. Mungkin mas baru saja pergi setelah mengembalikan handphoneku.
"Mas Fahmi" Gumamku. Aku akan mengirim pesan padanya!
Send to : Mas Fahmi❤
Terima kasih mas. I Love You
beberapa saat aku menunggu. Tapi tidak ada balasan apapun dari Mas Fahmi. Oh iya, mas kan lagi di jalan, hehe. Aku menepuk dahiku yang tidak bersalah.
Aku melanjutkan beberapa pekerjaanku yang belum selesai. Sesekali, aku mengecek handphone ku, berharap ada pesan balasan dari Mas Fahmi. Tapi, nihil. Tidak ada satu pesan pun dari Mas Fahmiku.
Mas Fahmiku! Hah, mulutku terasa aneh mengatakannya seperti itu, hihi. Huft, gila, aku pasti sudah gila.
°°°
Aku menarik nafas pelan dan menghembuskannya.
"Ada hal yang mengganggu anda, Nona?" Tanya Anne tiba-tiba.
"Baik Nona" Anne membuatkan jus untukku.
Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Aku harus segera menyelesaikannya.
Tak lama kemudian
"Ini jus nya Nona"
"Terima kasih, An"
Jus ini terasa segar begitu melewati kerongkonganku.
"Oh iya, An. Biasanya, hadiah apa yang biasa di berikan untuk hadiah ulang tahun?"
"Em, bermacam-macam nona. Anda bisa memberikan apa yang suami anda sukai" Saran Anne. Tunggu!
"Kenapa su-suami?"
"Bukankah anda ingin memberikan hadiah pada suami anda?"
"Ba-bagaimana kau tahu?"
"Jadi, benar ya. Saya hanya menebaknya"
"ANNE! Ah sudahlah, jadi hadiah seperti apa?"
"Saya akan membisikkannya, boleh kan?"
Aku mengangguk. Anne mendekat dan membisikkan sesuatu padaku.
Blush
"Bagaimana Nona?"
"Apa, apa tidak bisa yang lain?"
"Yah, bisa saja nona. Tapi, menurut saya itu akan lebih spesial"
"Gi-gitu ya" Aku mengusap tengkukku. Aku merinding memikirkannya. Apa aku harus melakukannya?
Aku memeriksa handphoneku. Apa Mas Fahmi lupa mencharger handphonenya? Mas Fahmi tidak membalas pesanku sama sekali. Sudah jam 8 malam. Aku harus segera pulang.
Apa aku harus menelepon Mas Fahmi? Sepertinya, aku naik taxi saja.
"An, sepertinya hari ini sampai disini saja. Ini sudah terlalu malam"
"Baik, Nona"
"Nona pulang sendiri atau dijemput?"
"Aku akan naik taxi saja, An"
"Bagaimana kalau anda ikut saja dengan kami"
"Kami?" Tanyaku bertanya-tanya.
"Maksudku, suamiku akan menjemputku, kamu bisa ikut dengan kami, lagi pula kita searah, kan?"
"Tidak perlu An. Aku tidak mau mengganggu dan merepotkan kalian"
"Hey, apanya yang merepotkan. Ikutlah, apa sebagai seorang teman, aku tidak bisa mengajakmu?"
Hey hey, kenapa jadi kamu yang membujukku?
"Ah, baiklah. Terima kasih banyak An"
°°°
Shit!
Aku malah berasa menjadi obat nyamuk diantara mereka -Anne dan suaminya.
Sepertinya, mereka sama sekali tidak menganggapku ada. Apalagi aku duduk sendirian di kursi belakang. Apa kau sengaja pamer di depanku, An? Awas saja kau! Membuatku iri saja. Argh, aku ingin cepat ketemu Mas Fahmi!
Saat aku masih sibuk mengumpat pasangan suami istri ini di dalam hati, tiba-tiba mobil berhenti.
"Kita sudah sampai, Nona" Ucap Anne.
"Oh, rupanya kau mengingat keberadaanku"
"Apa maksudmu Nona?" Anne menyeringai.
Benar kan kataku, dia pasti sengaja.
"Tidak ada. Terima kasih banyak atas tumpangannya, selamat malam"
"Selamat malam" Mereka menjawab bersamaan. Aku turun dan berdiri sampai mobil itu melaju menjauh.
Aku membuka pintu. Suasana hening dan sunyi. Kemana Mas Fahmi dan Bi Mina? Sedang istirahat kali ya.
Segera kunaiki setiap anak tangga menuju kamarku. Begitu aku sampai di depan pintu kamar, Mas Fahmi sudah berdiri menatapku dengan kedua tangannya bersedekap di dadanya.
"Mas menungguku ya? Maaf ya mas, padahal mas tidak usah menungguku, mas bisa istirahat lebih dulu"
Mas Fahmi tidak menyahut, hanya menatapku tajam. Aku menelan ludahku. Apa aku sudah membuat kesalahan lagi?
Bersambung...