Dry Ice

Dry Ice
Part 35


Happy Reading...!


Mon maaf kalo banyak typo bertebaran.


Mon maaf, kalo alurnya kurang jelas.


Maka dari itu, mon dukungannya dong, tinggalkan jejak dan saran di kolom komentar, jan lupa like, fav, share!


Terima kasih😘


Beberapa hari telah berlalu. Aku kembali dengan rutinitas dan pekerjaanku.


Kesibukan di perusahaan juga bertambah. Karena, beberapa minggu lagi akan ada pesta di perusahaan. Pesta perayaan pendirian perusahaan yang ke-20. Pesta ini biasa diadakan setiap setahun sekali di akhir bulan Agustus.


Di awal bulan Juli ini, aku berdoa semoga kami selalu diberi kelancaran (dalam hal karir maupun keluarga). Kami siap dengan apa yang akan kami hadapi ke depannya.


Hubunganku dan Mas Fahmi juga menjadi lebih baik lagi. Oh iya, aku berencana untuk memberikan hadiah di hari ulang tahun Mas Fahmi yang jatuh di tanggal 20 Juli! Tapi, aku belum tahu hadiah apa yang harus ku berikan padanya?


Baiklah, sekarang tugasnya bertambah satu lagi. Hadiah buat Mas Fahmi.


Drrt...drrt~


Drrrtt~


Telepon masuk?


Begitu aku lihat dari siapa panggilan masuk itu, kedua ujung bibirku terangkat. Segera ku angkat panggilan itu.


"Iya mas" Kataku begitu ku tekan tombol hijau di layar handphoneku.


Hai sayang, udah siap?


"Udah mas"


Baiklah, mas jemput sekarang.


"He'em"


Love you


"Too"


Tut. Panggilan berakhir.


Aku segera membereskan meja kerjaku. Jadi, begitu mas sampai aku sudah siap dan kita bisa langsung pergi.


"Apa yang begitu membahagiakan Nona?" Sebuah suara yang bernada penuh tanda tanya mengalihkan perhatianku.


Aku menengok ke sumber suara dan ternyata itu Anne yang baru saja masuk.


"Apa kamu sudah melupakan sopan santunmu Nona Anne?" Tanyaku ketus setengah bercanda.


"Apa maksud anda Nona?"


"Apa kamu sudah lupa tatakrama saat memasuki ruanganku?"


"Tidak, saya tidak lupa Nona. Saya sudah mengetuk pintu beberapa kali"


"Oh, benarkah?"


"Ah maaf, sepertinya aku tidak mendengarnya..hehe" Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal dan tersenyum malu.


"No-Nona, apa anda baik-baik saja?"


"Hah!? Ya, baik. Kenapa?"


"A-Anda tersenyum...kupikir ada yang... salah?" Ucap Anne tampak ragu.


"Apa aku terlihat...aneh? Maksudku saat tersenyum, apa aku...terlihat aneh?"


"Ah tidak! Sama sekali tidak aneh. Sepertinya, sekarang anda sudah banyak tersenyum. Saya senang melihatnya" Anne tersenyum.


"Hm"


"Oh iya, apa anda akan keluar?" Tanya Anne.


"Iya, Mas Fahmi sedang di perjalanan menuju ke sini"


Anne mengangguk.


"Oh iya, An" Ucapku tiba-tiba. Yah, karena tiba-tiba aku teringat dengan sesuatu.


"Iya Nona, ada yang bisa saya bantu?"


"Emm, aku mau tanya-"


Tok tok tok~


Anne menatapku, begitu aku mengangguk, Anne segera membukakan pintu.


"Maaf mengganggu, Nona. Ada seseorang yang sedang menunggu anda"


"Hm, baiklah. Aku akan segera kesana" Ucapku dan segera mengambil tas dan handphone ku.


"Oh iya, An. Nanti kita lanjutkan lagi pembicaraannya" Aku tersenyum pada Anne. Anne mengangguk menanggapi ucapanku sambil tersenyum.


°°°


"Mas"


"Hai sayang"


"Maaf, menunggu lama"


"Ayo" Ucapku, Mas Fahmi menggandeng tanganku. Beberapa karyawan menatap pada kami, tapi aku tak menghiraukannya. Toh dia suamiku, kan?


Kami berjalan ke tempat Mas Fahmi memarkirkan mobilnya. Sesampainya disana, Mas Fahmi membukakan pintu mobil untukku. Aku tersenyum melihatnya.


"Terima kasih, mas"


"Tidak masalah, ini bukan hal besar. Kamu pantas mendapatkan perlakuan seperti ini" Ucap Mas Fahmi sambil tersenyum.


Aku tersenyum -lagi. Untuk beberapa saat, kami saling memandang dan bertukar senyum. Sesaat kemudian, tatapan ku tertuju pada bibir sexy Mas Fahmi. Aku langsung memalingkan wajahku untuk mengusir bayangan fantasi liarku. Uh, I hate my mind.


"Em, ayo cepat mas. Waktu kita tidak banyak" Ucapku masih tanpa melihat ke arahnya.


"Hm, baiklah" Mas Fahmi segera masuk ke mobil dan kemudian, mobil melaju membelah jalanan kota.


"Ke tempat biasa, kan?" Mas Fahmi membuka obrolan -lagi- yang sempat terhenti tadi.


"Iya mas. Tidak apa-apa, kan?" Tanyaku.


"Hm? Tidak apa-apa. Memangnya, kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Ah tidak, aku takut mas merasa bosan. Sesekali, kita bisa ke tempat lain kalau mas merasa bosan"


"Tidak, mas tidak pernah merasa bosan, selama itu bersamamu"


Blush


Rasanya, wajahku terasa panas. Aku yakin wajahku sudah memerah sekarang. Uwaa, kenapa Mas Fahmi selalu mengatakan hal-hal seperti itu...


Aku memalingkan wajahku ke luar jendela mobil. Menatap jalanan sambil berusaha menahan perasaanku dan menetralkan debaran jantungku.


"Hei, kenapa kamu melihat kesana terus? Apa mas tidak lebih menarik dari pemandangan jalanan di luar sana, hm?"


"Tidak! Maksudku, aku...aku hanya-"


"Nah, kita sudah sampai. Ayo!" Ajak Mas Fahmi sambil melepas sabuk pengaman yang ku gunakan setelah itu baru membuka sabuk pengaman yang ia gunakan.


Mas Fahmi berlari kecil hendak membukakan pintu mobil untukku. Tapi, saat Mas Fahmi sampai aku sudah membukanya lebih dulu.


"Mas baru saja akan membukakannya" Mas Fahmi tersenyum dan mengulurkan tangannya.


"Tidak usah mas, aku bisa sendiri" Ucapku sambil melangkah turun.


Perlahan, tangan Mas Fahmi yang terulur itu turun. Saat kulihat, raut wajah Mas Fahmi agak murung dan senyumnya luntur.


"Maksudku, aku tidak mau mas kerepotan" Ucapku sambil tersenyum dan meraih lengan Mas Fahmi untuk ku gandeng. Mas Fahmi tersenyum sedikit, kemudian agak menunduk.


"Maaf mas, aku tidak bermaksud menyinggung perasaan Mas Fahmi" Aku memasang wajah menyesal dan hampir menangis. Uh, aku benci jadi emosional begini, tapi aku lebih benci lagi melihat Mas Fahmi murung karena ucapanku.


"Hey, tidak perlu sampai meminta maaf begitu, mas tidak apa-apa" Kata Mas Fahmi sambil menarik hidungku.


"Sudah, jangan menangis. Entar dikira mas ngapa-ngapain kamu lagi"


"Emang iya, kalau aku sampai nangis, itu karena Mas Fahmi"


"Iya, iya. Mas minta maaf. Ayo masuk. Waktu kita tidak banyak, bukan?"


"Jangan ikut-ikutan meminta maaf"


"Iya deh iya, maaf...hehe"


"Tuh kan, maaf lagi" Aku cemberut.


"Haha, kamu tau, kamu tuh lucu banget kalo lagi cemberut gitu" Mas Fahmi menarik hidungku lagi.


"Mas minta maaf karena mas minta maaf" Ucapnya lagi.


"Udah ah mas, ayo masuk" Aku menarik lengan Mas Fahmi untuk segera masuk.


°


°


°


Selesai makan siang, Mas Fahmi mengantarku lagi kembali ke kantor.


"Oh iya mas, akhir bulan Agustus nanti kan ada pesta perayaan pendirian perusahaan, Ayah sama Ibu berencana mengumumkan pernikahan kita secara resmi saat itu, mas tidak keberatan, kan?" Tanyaku memecah keheningan dalam mobil yang melaju menuju kantor.


Mas Fahmi tak langsung menjawab, Ia terdiam selama beberapa saat.


"Mas" Panggilku


"Iya, apa kamu juga tidak keberatan?" Mas Fahmi balik bertanya padaku.


Aku menggeleng dan berkata "Sama sekali tidak, toh kita memang sudah menikah" Seketika, senyuman Mas Fahmi terukir di wajahnya.


"Aku suka senyuman itu" Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutku.


"Apa, bisa kau ulangi lagi?"


"Ah tidak, aku hanya bicara sendiri tadi"


"Apa kamu juga suka pada orang yang memiliki senyuman itu?" Tanya Mas Fahmi.


"Hm" Jawabku menahan malu yang mendera begitu saja.


"I love you" Kata Mas Fahmi. "Jawab dong Sha" Pinta Mas Fahmi karena aku hanya diam saja.


"Love you" Ucapku sambil menutupi wajahku dengan kedua tanganku. Mas Fahmi terkekeh dengan renyah. Huwaa, aku mengatakannya!


Bersambung...