Dry Ice

Dry Ice
Part 22


Happy Reading...!


"Memangnya kenapa, Non?"


"Susahnya itu ribet, mesti di kukus, di haluskan terus masih harus di goreng juga. Prosesnya lumayan ya, Bi"


"Iya Non. Tapi kalo sudah terbiasa, tidak akan terasa susah dan ribet, Non."


Baiklah, Aku akan berusaha..


°


°


°


Selesai membantu Bi Mina menyiapkan makan siang, Aku memanggil Mas Fahmi di kamar.


"Mas" Panggilku sambil membuka pintu. Tidak ada yang menyahut dan kudapati Mas Fahmi yang terbaring di ranjang. Dia sudah mengganti pakaiannya. Sepertinya Mas Fahmi tertidur setelah membersihkan dirinya.


Aku mengguncang-guncangkan bahu Mas Fahmi bermaksud membangunkannya.


"Emm" Jawabnya tanpa membuka matanya.


"Makan siang sudah siap, Mas. Bangunlah" Kataku.


Mas Fahmi mengerjapkan matanya, Dia berusaha membuka matanya sambil mengulurkan tangannya.


Aku menarik uluran tangan Mas Fahmi -untuk membangunkannya. Tapi, bukannya Mas Fahmi yang bangun, malah Aku yang tertarik dan jatuh menimpanya. Segera tangannya melingkar di pinggangku, menahan tubuhku.


"Mas, apa yang..."


"Biarkanlah begini sebentar saja" Ucapnya memotong perkataanku.


Kepalaku jatuh tepat di dada bidang Mas Fahmi membuat aroma maskulin dari tubuh Mas Fahmi memenuhi indera penciumanku.


"Mas, Aku mau ke kamar mandi" Ucapku setelah beberapa saat.


"Hm, baiklah" Akhirnya Mas Fahmi melepaskanku.


"Makan siangnya sudah siap, Mas" Ucapku -lagi. "Sepertinya Mas harus mencuci muka dulu" Kataku lagi.


"He'em" Jawab Mas Fahmi dan beranjak ke kamar mandi.


Ada apa dengannya? Padahal tadi masih baik-baik saja. Aku tidak mengerti dengan perubahan sikap Mas Fahmi.


Aku bisa melihat perubahan kecil itu. Jika Aku yang dulu mungkin tidak akan menyadarinya atau tepatnya tidak akan peduli. Tapi, setelah bersamanya selama ini, Aku merasa...Aah bagaimana Aku mengatakannya? Yang pasti Dia mampu mempengaruhiku. Membuatku terganggu saat sesuatu menganggunya.


Aku menggelengkan kepalaku. Mas Fahmi baik-baik saja. Tidak ada yang perlu Aku pikirkan. Tak lama kemudian, Mas Fahmi keluar dari kamar mandi


"Mas turun duluan aja ya. Aku mau mandi dulu" Ucapku. Mas Fahmi membalasku dengan mengangguk, hanya mengangguk. Tidak seperti biasanya. Tapi, sudahlah.


Aku berbalik dan segera masuk ke kamar mandi. Aku mempercepat ritual mandiku supaya Mas Fahmi tidak menunggu lama di meja makan, pikirku.


Setelah selesai memakai pakaian santaiku, Aku hendak membuka knop pintu kamarku saat kudengar Handphone Mas Fahmi bergetar beberapa kali.


Awalnya hendak kuabaikan saja Handphone itu. Tapi, saat Ia bergetar lumayan lama, Aku jadi penasaran. Sepertinya ada telepon masuk dan mungkin saja itu hal penting?


Aku berjalan menuju handphone Mas Fahmi yang tergeletak di ranjang.


Nomor tidak dikenal. Aku bertanya-tanya, siapa? Akhirnya kuputuskan untuk menjawab telepon itu dan menuntaskan rasa penasaranku.


Fahmi~ Terdengar suara dari seberang setelah ku jawab panggilan masuk itu.


Akhirnya Kamu menjawab teleponku. Kenapa tidak membalas pesanku? Ucapnya lagi sebelum Aku mengeluarkan sepatah kata-pun.


Aku kangen Kamu. Kapan kita bertemu lagi? Ucapnya lagi dengan suara manjanya yang terdengar dibuat-buat.


Aku mengepalkan tanganku. Siapa sebenarnya wanita ini? Jika ini salah sambung, kenapa Dia menyebut nama Mas Fahmi?


Ada apa ini sebenarnya? Apa katanya tadi, kangen? Siapa wanita ini? Terus Dia bilang, kapan bertemu lagi? Apa selama ini mereka sering bertemu? diam-diam? Apa yang Mas Fahmi lakukan di belakangku?


Hei, kenapa Kamu diam saja? Apa Istrimu ada disana? Ap...


Tut.


Aku memutuskan telepon itu sepihak. Dia bahkan tau tentangku? Sudah sejauh mana Mas Fahmi bermain di belakangku? Padahal baru beberapa bulan saja kami menikah, apa selama ini Mas Fahmi hanya berpura-pura?


Hatiku terasa dicabik-cabik. Padahal Aku sudah mulai membuka diriku dan hatiku, Aku mulai bisa menerimanya. Lalu apa semua ini? Hah, ini salahku yang tidak bisa mempertahankan dinding pertahananku.


Kulihat kembali handphone Mas Fahmi. Aku membukanya dan menghapus riwayat panggilan barusan. Jika Mas Fahmi tidak ingin Aku tau, maka akan Aku ikuti permainannya. Aku akan berpura-pura tidak tau seperti yang Kamu inginkan, Mas.


Tidak kubuka beberapa pesan masuk whatsapp yang kuyakini dari wanita tadi. Aku menatap walpaper handphone Mas Fahmi, foto kami berdua saat di taman tadi.


"Apa-apaan ini?" Kenapa jadi Aku yang menangis? Huft. Segera kuusap air mata si*lan itu.


Kuletakkan kembali handphone Mas Fahmi di ranjang. Aku melihat cermin untuk memeriksa penampilanku. Aku tidak boleh terlihat kacau. Kupasang wajah datarku lagi.


Saat Aku akan melangkah menuruni anak tangga, kulihat Mas Fahmi yang hendak naik.


"Oh sudah mau turun rupanya"


"Maaf menunggu lama" Ucapku.


"Tidak apa" sahut Mas Fahmi tersenyum lembut. Tapi, senyum itu terasa mengolok-olokku. Bodohnya Aku yang selalu tertipu senyuman itu.


"Silakan Den Fahmi, Non Risha. Nanti makanannya keburu dingin" Bi Mina tiba-tiba bersuara. Dia masih berdiri menatap kami.


"Ayo makan, Bi" Ajakku.


Setelah kulihat Bi Mina ikut duduk, Aku mulai mengisi piringku.


"Sha?" Panggil Mas Fahmi. Dia menatapku kemudian menatap piringnya yang masih kosong.


Huft~


"Aku lupa" Segera Aku mengisi piring Mas Fahmi.


"Silakan, Mas"


Kami makan dengan khidmat, tak ada yany bersuara.


"Perkedelnya agak beda ya, Bi" Tiba-tiba saja Mas Fahmi bersuara.


"Benarkah? Itu perkedel yang biasa kok, den. Hanya saja Non Risha yang memasaknya?"


"Benarkah?" Tanya Mas Fahmi dengan mata yang berbinar-Binar. Dia tersenyum lembut padaku yang hanya kubalas dengan senyum tipis.


Apa benar Mas Fahmi ada main dengan wanita lain? Kenapa Dia masih bisa tersenyum seperti ini? Atau bahkan senyuman itu bukan hanya milikku?


"Ah, Eh iya" Jawabku gelagapan saat sebuah tepukan mendarat di bahuku.


"Kamu kenapa?" Tanya Mas Fahmi.


Aku hanya menggeleng.


"Mungkin Aku hanya lelah. Sepertinya Aku akan istirahat saja setelah ini" Ucapku kemudian.


"Apa Kamu sakit? Badanmu agak hangat" Mas Fahmi menempelkan tangannya di dahiku untuk mengecek suhu tubuhku "Kamu harus banyak istirahat" Lanjutnya.


Apa Kamu juga perhatian seperti ini pada wanita itu, Mas? Entah kenapa mendapat perhatian seperti ini malah membuatku membayangkan bagaimana kalau ternyata bukan hanya Aku saja yang diperlakukan seperti ini?


"Mas?" Panggilku


"Hm?"


"Aku ingin bicara denganmu setelah makan?"


"Eh, baiklah. Apa ada masalah?"


"Ah tidak ada, hanya ada beberapa hal yang ingin Aku tanyakan pada Mas Fahmi"


"Tentu saja, Aku akan menjawab setiap pertanyaanmu" Mas Fahmi tersenyum kemudian menggenggam tangan kiriku.


Segera ku lepaskan genggaman Mas Fahmi sebelum semua kata-kata yang ku rangkai dalam otakku ambyar.


Mas Fahmi nampak terkejut saat Aku melepaskan tangannya.


"Aku sudah selesai. Aku akan menunggumu di kamar" Ucapku.


"Bi, Risha duluan, ya?"


"Silakan, Non" Jawab Bi Mina. Sebelum kembali ke kamar, Aku menyimpan piring bekasku di wastafel kemudian mencuci tanganku.


Aku menaiki tangga dan masuk ke kamar. Aku akan menanyakannya langsung pada Mas Fahmi. Aku tidak mau berasumsi sendiri. Yah, sebaiknya kutanyakan langsung.


Apa Mas Fahmi akan mengatakan yang sebenarnya?


Ceklek


"Sha" Mas Fahmi memanggilku dan membuka pintu. Melihatku sedang duduk di tepi ranjang, Dia menutup pintu dan duduk di sebelahku.


"Apa Kamu ada masalah?" Tanya Mas Fahmi.


Bersambung...