Dry Ice

Dry Ice
Part 32


Happy Reading...?


Tok tok tok~


Fahmi mengurungkan niatnya. Ia berdiri dan segera membuka pintu.


"Maaf den, ini bubur buat Non Risha"


"Oh iya, terima kasih Bi"


"Sama-sama, Den"


Setelah Bi Mina turun lagi, Fahmi menutup kembali pintu kamarnya dan menghampiri Risha.


"Sayang, makan dulu yuk!"


"Sini, Mas suapin...Aaaa"


Risha membuka mulutnya, menerima suapan dari Fahmi.


"Maafin Mas, ya Sha. Mas sudah berpikiran yang tidak-tidak tentang kamu"


"Hm" Jawab Risha.


"Tidak heran jika kamu masih marah" Celetuk Fahmi. Jawaban Risha yang singkat, membuat Fahmi berpikir bahwa Risha masih marah padanya. Ia tidak tahu, bahwa Risha sedang mencoba menahan rasa mualnya.


Sampai di suapan ke-3, Risha sudah tidak bisa menahan rasa mualnya. Ia bangun dari tempat tidurnya dan masuk ke kamar mandi.


Fahmi menyusul Risha ke kamar mandi dan memijat tengkuk Risha.


"Jangan kesini Mas. Ini menjijikkan"


"Tidak sayang. Mas tidak mau meninggalkanmu sendiri disini"


°


°


°


Risha POV


Mas Fahmi baru saja keluar untuk membeli obat, dan sekarang disinilah Aku. Berbaring sendiri di tempat tidur ini.


Kepalaku masih terasa pusing dan tubuhku juga lemas, dan lagi, setiap makanan yang masuk ke mulutku akan keluar lagi.


Sebenarnya, ini bukan hal baru bagiku. Tapi, tetap saja Aku tidak terbiasa.


Aku memiliki sedikit masalah dengan lambungku. Makanya, Ibu selalu cerewet jika itu mengenai pola makanku dan juga makanan yang Aku makan.


Ahh, membicarakannya, membuatku merindukan Ibu. Bagaimana kabar Ibu, ya? Apa harus ku telepon? Aku mengambil handphone ku yang tergeletak di atas nakas di samping tempatku tidur.


Beliau pasti sangat khawatir jika mengetahui keadaanku sekarang, meski kondisiku tidak terlalu buruk. Sepertinya, Aku tidak bisa meneleponnya sekarang. Ku letakkan kembali handphone itu di atas nakas.


Drrt drrt~


Aku mendengar suara getaran handphone dari atas nakas. Entah siapa yang menelepon ku. Kuharap itu bukan Ibu. Mungkin saja itu, Mas Fahmi.


Namun, harapan tinggalah harapan. Ibu benar-benar menelepon!


Ekhem..


"Iya, Bu" Jawabku dengan suara yang ku usahakan agar terdengar baik-baik saja.


Sayang, Ibu kangen banget sama Kamu. Bagaimana kabarmu dan Fahmi? Sekarang kalian jarang sekali mampir ke rumah. Lagi sibuk banget, ya?


"I-Ibu, Risha sama Mas Fahmi baik-baik kok Bu. Ibu sendiri, apa kabar? Ayah juga sehat, kan? Maaf Bu. Akhir-akhir ini Mas sangat sibuk, begitu juga dengan Risha"


Ibu sama Ayah juga sehat, syukurlah.


"Syukurlah"


Sha..


"Eh, Iya Bu. Kenapa?"


Kamu sama suamimu, baik-baik saja kan?


"Iya, tadi kan Risha bilang, baik-baik saja kok Bu"


Maksud Ibu, bagaimana hubungan kalian? Tidak ada masalah, kan?


"Tidak, kenapa Ibu menanyakan hal itu?"


Soalnya, Kakak mu bilang. Kamu keliatan sedih?


"Nggak kok Bu. Semuanya baik-baik saja. Ibu tenang saja, Risha akan menjaga hubungan ini"


Baiklah, dan lagi, kapan kalian akan beri Ibu cucu? Teman-teman Ibu, mereka selalu membicarakan cucu mereka.


Nada suara Ibu terdengar sedih.


"Ibu jangan sedih, doakan saja, kami sedang berusaha"


Ibu selalu mendoakan kalian, yang terbaik. Oh iya, dimana suamimu?


"Mas Fahmi lagi...lagi di kamar mandi, Bu"


Oh begitu ya, baiklah, berusahalah! Ibu tidak mau mengganggu kalian lagi, sampai jumpa


Tuut~


Huft…Ibu pasti salah paham saat ku bilang Mas Fahmi lagi di kamar mandi. Ah, sudahlah, yang penting Ibu percaya hubungan kami baik-baik saja dan Ibu juga tidak curiga dengan keadaanku.


"Sha"


"Eh iya" Jawabku terkaget, ah ternyata Mas Fahmi. Sejak kapan Mas berdiri disana?


"Mas sudah pulang?"


"He'em. Siapa yang telepon?"


"Oh, itu Ibu yang telepon. Ibu nanyain kabar kita"


"Oh"


Kenapa dengan Mas Fahmi?


"Kenapa malah disimpan? Kamu harus minum obatnya, sebentar Mas ambilkan airnya dulu"


"Terima kasih, Mas"


Tak lama kemudian, Mas Fahmi masuk dengan segelas air di tangannya. Kemudian, Mas Fahmi membantuku meminum obat.


"Tidurlah, ini sudah malam. Kalau kamu perlu sesuatu bangunkan saja Mas"


"He'em" Perlahan, Aku menutup mataku dan tertidur.


Krrrt,


Aku mengeratkan pelukanku pada Mas Fahmi. Hn, begini lebih hangat. Aku bisa mencium aroma tubuh Mas Fahmi yang khas. Tapi, kenapa Mas membelakangi ku?


Aku masih bisa memeluk Mas Fahmi seperti ini saja sudah cukup. Dengan begini Aku bisa mencium aroma Mas Fahmi sepuasnya.


°


°


°


"Mas?!"


Aku mengucek mataku dan melihat ke kiri dan ke kanan. Kemana Mas Fahmi? Di kamar mandi, ya?


Kurasa hari ini kondisiku sudah lebih baik. Aku bangun dari tempat tidur.


Tok tok tok~


"Mas di dalam?" Tanyaku sambil mengetuk pintu kamar mandi. Tapi, tidak ada yang menyahut, dan lagi tidak terdengar seperti ada yang sedang mandi.


Ceklek.


Kuputuskan untuk membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak di kunci.


Tidak ada. Ah, mungkin Mas di bawah. Sepertinya, Aku mau membersihkan diri dulu.


Selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Aku membereskan selimut dan tempat tidur.


Tok tok tok~


Seseorang mengetuk pintu kamar. Pasti itu Mas Fahmi. Kenapa Mas sampai mengetuk pintu dulu?


"Oh, Bi Mina. Kenapa Bi?"


"Ini sarapannya, Non"


"Hm, terima kasih Bi. Ngomong-ngomong, Mas Fahmi di bawah ya Bi?"


"Den Fahmi sudah berangkat, Non"


Deg


"Su-sudah berangkat? Kapan Bi. Kok Risha tidak tahu?"


"Eh!? Bibi pikir Non sudah tahu. Den Fahmi bilang, Non minta sarapannya diantar kesini"


"O-oh iya ya, kalo begitu terima kasih, Bi. Maaf merepotkan"


"Iya sama-sama Non, tidak apa-apa, Lagi pula Non masih belum sehat benar, kan?"


Memang kapan aku minta diantar sarapan? Mas Fahmi juga pergi tanpa memberitahuku. Kenapa lagi dengannya? Apa Aku membuatnya salah paham lagi? Ah, bukannya Aku sudah menjelaskan semuanya?


Huft, semuanya pasti baik-baik saja.


Pasti ada hal yang sangat penting, jadi Mas pergi terburu-buru.


Apa yang harus ku lakukan seharian di rumah seperti ini? Ah iya, Aku harus menghubungi Anne.


Aku mengambil handphoneku di atas nakas.


"Hallo An"


Iya Non. Hari ini Nona tidak ke kantor?


"Ah iya, Aku tidak enak badan, jadi tidak akan ke kantor?"


"Apa ada jadwal yang sangat penting? dan lagi, jangan beritahu Ibu aku tidak masuk kantor hari ini"


Sepertinya tidak. Tapi,


"Tapi apa?"


Nyonya ada di kantor untuk menemui anda.


"A-Apa?"


"Jangan bilang, Ibu sudah disana?"


hehe..


"Aku harus bagaimana? Apa yang Ibu lakukan pagi-pagi begini?"


Tenang saja Nona, saya akan memberitahu Nyonya bahwa anda sedang tidak masuk kantor. Nyonya akan menemui anda di rumah.


"Tidak, jangan!"


Tapi,


"Jangan sampai Ibu tahu!"


Tapi, Nyonya sedang mendengarkan sekarang!


"Apa maksudmu?"


Nyonya sedang bersama saya.


Jglarrr... Mati Aku!


Mendengar kalimat yang diucapkan Anne, tanpa sadar Aku menutup telepon secara sepihak.


Ibu akan kesini?!


Bersambung...