Dry Ice

Dry Ice
Part 38


"Mau sarapan apa? Dimana?"


"Terserah mas. Aku ikut"


"Istri yang baik" Mas Fahmi mengusap pucuk kepalaku.


°


°


°


Aku membuka handphoneku dan mencari nama seseorang di kontakku.


Ya, Anne. Aku harus memberitahunya bahwa aku akan datang terlambat hari ini.


Selamat pagi, Nona. Ada yang bisa saya bantu?


"Pagi, An. Aku akan datang terlambat hari ini"


Baik, Nona. Anne menjawab tanpa bertanya sedikit pun.


"Terima kasih, An"


Sama-sama, Nona


Tut~ Aku menutup panggilan.


"Siapa? Anne?" Tanya Mas Fahmi dari balik kemudi tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.


"Ah, ya. Aku memberitahu Anne bahwa aku akan datang terlambat"


Mas Fahmi hanya ber'oh'ria mendengar penjelasanku.


"Kita sarapan dimana, mas?"


"Cie cie~ manggilnya udah kita-kitaan"


"Ih, apaan sih mas" Aku memukul bahu Mas Fahmi.


"Aww sakit yang" Mas Fahmi meringis dengan memasang wajah seperti orang yang tertindas.


"Yaampun mas, orang mukulnya pelan juga" Protesku. Mas Fahmi terkekeh.


"Jadi, sarapan dimana mas?"


°°°


"Serius mas? Ini kita sarapan disini?"


"He'em"


Mas Fahmi membawaku ke kantornya. Tepatnya ke kantin yang terletak di lantai bawah kantornya. Keberadaan kami tak luput dari beberapa pasang mata yang menatap kami dengan berbisik-bisik.


Ini pertama kalinya aku masuk ke kantornya Mas Fahmi. Eh?! Sepertinya ini yang kedua kalinya. Aku ingat pernah kesini sekali waktu itu. Waktu itu juga untuk sarapan bersama. Bedanya, waktu itu...kami sarapan di ruangannya Mas Fahmi.


"Mas, sepertinya kamu sangat terkenal ya?" Aku berbisik pada Mas Fahmi.


"Apa maksudmu?" Tanya Mas Fahmi dengan sebelah alisnya yang terangkat karena heran.


"Mereka semua menatapmu, mas" Bisikku lagi.


Mas Fahmi terkekeh geli.


"Aku bekerja kantor ini, siapa yang tidak mengenalku di kantor ini?"


"Ooh iya ya. Tapi, apa mereka harus terus menatapmu seperti itu?"


"Maaf, Pak-Bu ini pesanannya" Seorang wanita muda menghampiri kami dengan nampan di tangannya dan senyuman ramah yang terukir di wajahnya.


"Terima kasih, Mbak" "Terima kasih" Kami menjawab hampir bersamaan.


"Gak perlu senyum-senyum terus kayak begitu, Mbak-nya juga sudah pergi" Ucapku ketus dengan menekankan kata "Mbak-nya" melihat Mas Fahmi terus menyunggingkan senyumnya.


"Cie~"


"Apasih mas"


"Ternyata kamu cemburuan juga ya~"


"Siapa yang cemburu" Kataku sambil menyuapkan nasi uduk yang masih hangat.


"Kamu!"


Uhuk uhuk... Aku tersedak mendengar ucapan Mas Fahmi.


"Makanya kalo makan itu jangan buru-buru. Jangan lampiaskan kekesalanmu pada makanan ini" Dengan sigap Mas Fahmi memberiku air dan membantuku meminumnya.


"Mas..." Aku merengek. Ah si*l, kenapa aku jadi seperti ini?!


"Iya iya, maaf. Lanjutkan sarapannya. Ntar mas antar kamu ke kantor.


"Hm"


"Kenapa malah cemberut sih, hm?" Tanya Mas Fahmi.


"Tidak" Jawabku singkat. Aku ingin sesegera mungkin menyelesaikan sarapanku.


Beberapa saat kemudian..


"Aku sudah selesai. Ayo!" Ajakku. Aku bersiap untuk segera pergi dari sini.


Aku berdiri dan menarik lengan Mas Fahmi.


"Se-sebentar, Sha!" Mas Fahmi menahan tanganku.


"Mbak" Panggil Mas Fahmi pada penjaga kantin yang mengantarkan pesanan kami tadi.


"Apalagi sii mas?" Tanyaku bernada protes. Ya protes, protes dengan sikap Mas Fahmi yang selalu ramah pada siapa pun itu.


"Mas bayar dulu pesanan yang tadi, ok?"


"Sini biar Risha aja. Mas duluan aja ke mobil" Ucapku.


Mas Fahmi menarik tanganku dan membawaku ke kasir. Mas Fahmi membayar pesanan kami dan segera menarikku keluar setelahnya.


"Cari perhatian?" Mas Fahmi mengernyit heran.


"Aku nggak suka mas dilihatin kayak gitu sama orang-orang. Mas hanya milikku, hanya aku!"


"Ka-"


"Mas mau bilang aku cemburu? Iya, aku cemburu" Aku memotong ucapan Mas Fahmi dengan menggebu-gebu.


"Mas nggak suka sama yang cemburuan?" Tanyaku dengan wajah kesal. Ah aku tidak tahu. Rasanya emosiku jadi meledak-ledak.


"Ng-"


"Sudahlah. Antarkan aku ke kantor" Pintaku dengan ketus, sebelum Mas Fahmi sempat menjawab pertanyaanku.


Mas Fahmi tak bergeming. Ia hanya diam saja dan menatapku. Aku memalingkan wajahku keluar jendela.


"Ayo jalan mas!" Pintaku lagi.


°


°


°


"...na"


"No-...na. Nona!?" Panggil Anne.


"Eh iya An, kenapa?" Tanyaku, kaget.


"Nona, saya-………………"


Puk


Tiba-tiba saja Anne sudah berada di sampingku dan menepuk bahuku. Aku melonjak terkejut.


"Nona tidak apa-apa?" Tanyanya.


"Ah tidak. Aku baik-baik saja" Aku tersenyum sambil menggaruk tengkukku.


"Apa Nona sudah tahu hadiah apa yang akan nona berikan?"


"Hadiah?"


"Ya hadiah. Hadiah untuk ulang tahun yang nona bicarakan waktu itu"


"Oh iya ya. Saya lupa"


"Saya pikir, nona sedang memikirkan hal itu"


"Oh iya. Sepertinya sudah mau gelap. Kamu belum pulang?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Tadi saya sudah mau pamit. Tapi sepertinya nona sedang melamun jadi tidak mendengarnya"


"Begitukah? Baiklah. Kau sudah boleh pulang"


"Terima kasih, nona."


°°°


Aku memijit pelipisku. Hari ini, emosiku rasanya tidak stabil dan aku tidak bisa berkonsentrasi dengan benar.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Mas Fahmi. Aku hanya diam tak menjawab.


"Sayang" Mas Fahmi menarik kedua bahuku dan membuatku menghadapnya. Aku meringis merasakan sakit.


"Ah maaf" Mas Fahmi melepas cengkeramannya di bahuku.


"Bu-bukan mas. Perutku yang sakit" Ucapku sambil memegangi perutku yang terasa mules. Sepertinya ini....


"Sakit? Sakit banget ya? Apa harus di bawa ke rumah sakit? Kenapa tiba-tiba sakit perut? Kamu salah makan ya?" Tanya Mas Fahmi bertubi-tubi dengan raut wajah khawatir dan paniknya.


"Antar aku ke kamar mandi mas" Pintaku karena rasanya aku tidak kuat berdiri dan berjalan dengan benar.


"Kamar mandi? Ah baiklah" Mas Fahmi membantuku ke kamar mandi.


Huft. Sesuai dugaanku. Aku datang bulan. Perutku terasa sakit karena ini hari pertama aku datang bulan.


Oh tidak! Aku lupa membelinya, persediaan pembalutku sudah habis. Aku menepuk jidatku.


"M-Mas" Panggilku.


"Iya sayang. Kenapa? Perlu bantuan? Apa perlu mas masuk?"


"I-Itu mas. Risha butuh pembalut"


"Ah baiklah. Dimana kamu meletakkannya?"


"Persediaannya sudah habis mas. Mas, bisa tolong belikan di Mini Market dekat sini, kan?" Tanyaku memelas.


"Baiklah. Kamu tunggu sebentar ya"


Yah, memang bukan sekali ini Mas Fahmi membantu membelikan pembalut untukku. Dia tidak pernah mengeluh atau pun merasa malu saat aku memintanya. Haah, Dia memang sangat baik dan pengertian. Suami idaman!


Beberapa saat kemudian. Tidak sampai 10 menit aku menunggu.


Tok tok tok~


"Sha" Panggil Mas Fahmi.


Ceklek


Aku membuka pintu kamar mandi disusul tangan Mas Fahmi terulur dengan barang yang sangat ku butuhkan.


"Emm, itunya mas"


"Hah!? Itunya apa?" Tanya Mas Fahmi heran dan bingung.


"Itu... em, celana dalamnya" Ucapku dengan suara kecil karena malu.


"Ah o-oh i-iya" Mas Fahmi malah ikut tergagap.


Bersambung...