Dry Ice

Dry Ice
Part 13


Happy Reading..!


Ikuti terus ceritanya ya, 😉 jan lupa dukungannya juga dengan :


👉 Like


👉 Comment - Krisan


👉 Vote


👉 Rate5


Terima kasih😘


Huft..


Setelah mengganti pakaianku, Aku menjatuhkan tubuhku di ranjang dengan kedua kakiku menjuntai di tepi ranjang. Tapi kemudian Aku teringat dengan pakaianku yang masih dalam koper.


Sepertinya Aku harus membereskan pakaianku dulu di lemari. Aku membuka lemari pakaian dan yah bagus sekali, masih ada ruang kosong untuk menyimpan pakaianku.


Aku merapikan pakaianku dalam lemari dan menyimpan alat make up di meja rias. Sepertinya Mas Fahmi sudah menyiapakan semua ini.


Aku harus terbiasa memanggilnya Mas. Karena Aku sudah bertekad untuk berusaha menerima pernikahan ini.


Tanpa sadar Aku menyunggingkan senyum. Aku benar benar tidak akan sadar jika Aku tidak sedang menatap pantulanku di cermin.


Mas Fahmi orang yang baik dan pengertian. Seharusnya Aku bersyukur mendapatkan suami sepertinya.


Mas Fahmi keluar dari kamar mandi tepat saat Aku hendak menyimpan koperku di atas lemari. Mendengar suara pintu terbuka, refleks Aku memandang ke sumber suara dan kudapati Mas Fahmi yang nampak segar baru saja selesai dengan ritual mandinya.


Handuk melilit di pinggangnya. Dada bidangnya dan perutnya yang sixpack terekspos. Tanpa sadar, Aku memandanginya tanpa berkedip.


"Ehm.." Mas Fahmi berdehem, hal itu menyadarkanku dan membuatku memalingkan wajahku yang memerah karena pemandangan di depanku. Beruntung tanganku masih menahan koper, jika tidak, sudah dipastikan koper itu menimpa kepalaku.


Kenapa Dia berjalan kearahku?


Sial, rasanya kakiku sulit untuk bergerak. Sedangkan Mas Fahmi semakin mendekat. Gawat, gawat.. Ah, Aku jadi panik sendiri..


Tanganku gemetar dan tanpa sadar Aku menarik tanganku untuk menutupi wajahku. Aku lupa dengan kopernya.


Grep, srek..


Mas Fahmi sudah berada di belakangku. Dia menahan koper itu tepat sebelum Ia jatuh menimpa kepalaku kemudian menyimpannya di atas lemari.


Aku berbalik dan membenamkan wajahku di dada bidangnya tanpa membuka mataku. Rasa malu yang tergantikan rasa takut saat tanpa sadar Aku menarik tanganku dan koper itu hampir saja jatuh menimpaku.


"Terima kasih" Ucapku. Aroma segar memenuhi indera penciumanku. Ternyata seperti ini aroma tubuh Mas Fahmi, menyegarkan dan menenangkan. Aku meraba raba dada bidang itu dengan telapak tanganku.


"Sayang, apa Kamu sedang menggodaku?" Suara Mas Fahmi menyadarkanku.


"Ah" Mataku langsung terbuka lebar. Aku melangkah mundur, hingga kaki dan punggungku terantuk lemari.


"Ma-Maaf Mas. Aku.. Aku tidak sengaja."


"Tidak apa sayang. Toh itu juga hak Kamu karena Mas adalah milikmu."


Milikku? Wajahku terasa panas.


Mas Fahmi menarik tanganku dan menempelkannya di dadanya. Aku bisa merasakan detakan jantungnya yang sama cepatnya denganku.


"Kamu bisa menyentuhnya sepuasmu" Ucap Mas Fahmi sambil tersenyum.


Aku memalingkan wajahku lagi dan menarik tanganku.


"Aku kebawah dulu" Aku ingin segera bebas dari situasi seperti ini. Aku menuruni setiap anak tangga dan berakhir di sofa depan TV. Kupegang dadaku merasakan jantungku yang berpacu dengan cepat.


Setelah merasa tenang, Aku mengambil remote TV dan menyalakan TV untuk sekedar mengusir kebosananku. Hanya ada Aku dan Mas Fahmi di rumah ini. Jadi terasa begitu sunyi. Tapi Aku menyukainya, Aku tersenyum tipis.


Aku menatap sekelilingku. Rumah ini, Aku sangat menyukainya. Paduan warna cat dinding dan interior nya pas dengan seleraku. Rasanya rumah ini memang dibuat khas untukku.


Aku sibuk dengan pikiranku tanpa menghiraukan suara TV yang mengoceh minta diperhatikan. Hingga, mataku terasa berat dan sepertinya Aku ingin terlelap sebentar.


Aku tenggelam dalam mimpiku. Aku merasa tubuhku seperti melayang. Terasa seperti sedang tidur beralaskan awan yang terasa lembut dan hangat. Tapi ini terasa nyata sekali.


Aku melanjutkan tidurku yang rasanya semakin nyaman dan empuk.


°


Aku mengucek mataku mengumpulkan kembali kesadaranku. Aku terduduk dan kudapati Aku sudah berada di kamar. Ntah berapa lama Aku tertidur dan entah seberapa nyenyak nya, hingga Aku tidak sadar sudah berada di kamar dan sepertinya hari sudah sore.


Aku menatap sekelilingku, tidak ada siapa pun. Dimana Mas Fahmi?


"Mas" Panggilku. Tidak ada jawaban


"Maas" Kemana Kamu Mas?


"Mass.. Eh Mas dari mana?" Tanyaku pada Mas Fahmi yang muncul dibalik pintu.


"Mas di kamar sebelah. Mas dengar Kamu teriak teriak manggil Mas. Makanya Mas langsung kesini."


"Maaf Mas. Aku pikir Mas kemana. Lagi kerja, ya?" Tanyaku karena Mas Fahmi bilang Dia dari kamar sebelah yang berarti ruang kerja.


"Maaf Mas. Aku sudah mengganggu Mas bekerja"


"Tidak sayang, Mas cuma lagi nyiapin buat besok. Oh iya, besok Mas harus ke kampus, karena sebentar lagi kan ada UAS. Makanya Mas gak bisa ambil cuti banyak banyak. Ada banyak yang harus di persiapkan." Jelas Mas Fahmi.


"Iya Mas"


"Tapi, besok Kamu sendiri di rumah, gak apa apa?"


"Nggak apa apa, Mas. Aku lebih nyaman sendiri. Maksudku, saat sendiri lebih damai, maksudku gak berisik gitu Mas" Aku mencoba menjelaskan bahwa Aku tidak bermaksud mengatakan Aku ingin sendiri. Maksudku Aku tidak masalah dirumah sendiri.


"Iya, Mas paham"


"Mas, Aku tidak merasa terganggu dengan keberadaanmu. Rasanya Aku sudah terbiasa dengan keberadaanmu" Entah kenapa kata kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Aku tidak ingin Mas Fahmi merasa bahwa Dia mengganggu hidupku -meskipun pada awalnya begitu- Sekarang Aku, yah benar. Aku terbiasa dengan keberadaanmu, Mas.


"Terima kasih, Sha" Mas Fahmi memelukku. "Tapi, Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk menerimaku secepat itu. Aku ingin Kamu benar benar menerimaku, bukan karena terpaksa dan Aku akan bersabar untuk itu" Lanjut Mas Fahmi tanpa melepaskan pelukannya.


Apa Mas Fahmi berpikir Aku mengatakan hal itu karena terpaksa?


°


°


°


"Sepertinya kita harus memesan makanan untuk makan malam hari ini" Ucap Mas Fahmi sambil menyenderkan kepalanya di kepala ranjang.


"Kenapa?"


"Tidak ada bahan masakan yang bisa di masak. Mas lupa seharusnya tadi siang Kita mampir ke Minimarket, belanja bahan masakan" Mas Fahmi tersenyum, Dia memang selalu tersenyum seperti itu.


"Delivery aja, nggak apa apa, kan?"


"Gak apa apa, Mas"


"Mas?"


"Kenapa, Sha?"


"Sebenarnya, Aku... Aku tidak bisa memasak" Ucapku sambil memeluk kedua lututku dan menunduk menutupi wajahku.


"Mas tau, kok" Jawab Mas Fahmi santai dan masih saja tersenyum. Aku langsung mengangkat kepalaku.


"Tau dari mana?" Tanyaku "Oh, pasti dari orang rumah ya" Aku menjawab pertanyaanku sendiri.


"Tapi, Aku akan belajar Mas" Ucapku bertekad dan menatap Mas Fahmi.


"Baiklah. Tapi jangan terlalu memaksakan diri. Mas bisa memasak, biar Mas yang memasak"


"Gak bisa gitu dong Mas. Itu kan tugasku" pungkasku.


"Tugasmu? Bagaimana kalo Kamu kerjain tugas lainnya saja" Bisik Mas Fahmi di telingaku dan dengan sengaja Dia menjilat telingaku.


Sshh


"Geli Mas" Aku menutup kedua telingaku, jantungku berpacu dengan cepat.


Aku paham maksud Mas Fahmi dengan tugas lainnya. Tapi, Aku belum siap dan terlalu takut.


Melihat reaksiku, Mas Fahmi menggeser tubuhnya sedikit menjauh.


"Maaf Mas. Tapi, Aku belum siap"


Mas Fahmi tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia mendekat kemudian mencium keningku. "Mas mengerti" Ucapnya.


"Oh iya, sebentar, Mas akan memesan makanan untuk makan malam kita"


"He'em" Aku mengangguk


"Terima kasih, Mas"


"Sayang, Kamu selalu saja meminta maaf dan berterima kasih. Bentar yah" Mas Fahmi sibuk mengotak atik Handphone nya.


Bersambung..


Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga sehat selalu yaa..


Salam hangat buat readers tersayang..😉😘