Dry Ice

Dry Ice
Part 7


"Siapa yang mau jadi temanmu?" Aku tersenyum sinis padanya.


Dia cemberut. Matanya mulai berkaca kaca. "Baiklah, jika kau tidak mau menjadi temanku, tapi aku akan menganggapmu sebagai temanku, Kau sudah menolongku, maaf aku merepotkanmu. Turunkan Aku didepan sana." ucapnya.


Seharusnya Aku senang dia menyerah dan tidak memaksaku membantunya lagi. Tapi, mendengar ucapannya, sudut kecil hatiku merasa iba.


Aku menghentikan mobilku. Setelah mengucapkan Terima kasih, gadis ini hendak keluar. Tapi aku menahannya.


"Tunggu. Aku akan memberimu pekerjaan. Aku akan meminta Asistenku untuk memberimu pekerjaan. Apa kau siap menerima pekerjaan apapun?"


"Terima kasih. Aku siap."


"Baiklah" Ucapku sambil menghembuskan nafasku pelan. Kemudian melajukan mobilku lagi menuju kantor.


"Terima kasih. Maaf merepotkanmu"


"Hm" Kataku dengan tetap fokus menatap jalanan di depanku.


"Hey, Kamu masih kuliah?" Tanyaku setelah beberapa saat, tanpa mengalihkan pandanganku dari jalanan di depanku.


"Aku baru saja lulus, S1 Ekonomi. tapi belum mendapatkan pekerjaan." Jawabnya.


Ok, baguslah. Berarti dia tidak harus membagi waktunya dengan kuliah. Dia bisa fokus bekerja.


"Sebenarnya, Aku sudah memasukan lamaran ke beberapa perusahaan. Tapi belum ada satu pun panggilan." Keluhnya.


"Hm" begitulah tanggapanku atas curhatannya.


°


°


°


"An, kamu sudah menyiapkan yang kuminta?" Tanyaku pada Anne setelah Aku sampai di kantor dan berjalan menuju ruanganku. Gadis yang ku tolong tadi mengekor di belakangku.


"Sudah, Nona." Ucap Anne, kemudian melirik pada gadis yang mengekor di belakangku.


"Dia membutuhkan pekerjaan. Tempatkan dia di divisi yang memerlukan tambahan personil" Ucapku mengerti dengan rasa penasaran Anne.


"Baik Nona." Anne sedikit membungkukkan badannya. Kemudian Ia beralih pada gadis itu.


"Mari ikuti saya" Ucap Anne pada gadis itu yang menurut mengikuti Anne, gadis itu melambaikan tangannya padaku seolah berkata 'sampai jumpa'


Dia, gadis itu sepertinya orang yang ceria dan ramah, tapi kupikir dia sok akrab. Ia mudah bergaul bahkan dengan orang yang baru dikenal, itulah yang bisa ku mengerti tentangnya.


Tak lama, Anne mengetuk pintu dan masuk ruanganku.


"Nona, Ini perubahan jadwal yang anda minta hari ini." Anne menyodorkan jadwal padaku.


"An, Aku akan cuti untuk beberapa hari kedepan. Aku percayakan urusan kantor padamu. Jika ada hal yang mendesak kau bisa menelponku."


"Cu.. cuti?" Tanya Anne meyakinkan pendengarannya. Nampak jelas wajahnya yang terkejut mendengar pernyataanku.


Oh ayolah, An. Aku tahu ini diluar kebiasaanku. Tapi, hey kau tidak perlu seterkejut itu, kan?


"Hmm. Aku cuti hanya beberapa hari atau mungkin paling lama satu minggu."


"Baik, Nona. Tapi, ada apa sebenarnya Nona?" tanya Anne penuh rasa penasaran.


Aku terdiam. Apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya?. Aku sibuk berdebat dalam pikiranku, sedangkan Anne masih menunggu jawabanku.


"Ah maaf, Nona. Saya tidak seharusnya mencampuri urusan Anda. Saya.."


"Tidak apa, An" Aku memotong ucapan Anne yang nampaknya merasa bersalah telah bertanya yang menurutnya mencampuri urusanku.


Anne merasa Aku marah padanya karena aku tak kunjung menjawab pertanyaan yang ia lontarkan.


"Aku, akan menikah"


Hah!?


Sepertinya Anne tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"An, pelankan suaramu" Ucapku yang masih menutup kedua telingaku.


"Ah, Maafkan saya Nona"


"Tidak apa. Oh iya, jangan membicarakan ini dengan siapa pun. Tidak ada orang kantor yang mengetahui hal ini, kecuali kau tentunya." Ucapku memperingatkannya.


"Baik Nona. Sesuai permintaan Anda."


"An, aku akan pulang setelah makan siang dengan Presdir CV Trc. Selanjutnya, Aku serahkan padamu."


"Baik, Nona. Anda bisa percaya pada saya."


Ya, Anne lah orang yang paling ku percaya di kantor.


"Baiklah, Aku percaya padamu."


"Anda pulang sekarang, Nona?" Anne bertanya padaku.


"Hm"


"Semoga semuanya lancar, Nona. Saya turut bahagia untuk Anda"


"Hm"


Aku berjalan keluar ruanganku dan Anne yang mengikutiku di belakang. Sesaat kemudian, Dia berjalan agak cepat dan membukakan pintu lift untukku.


Anne mengantarku sampai ke bawah. Aku terhenti saat seseorang menyapaku ketika aku sampai di lobby.


"Selamat siang" Gadis yang tadi menyapaku dengan ceria dan sok akrab.


"Selamat siang" balasku yang mengundang mata setiap karyawan yang melihatku terbelalak kaget. Aku juga agak terkejut karena refleks membalas sapaannya. Ah, sepertinya sifat gadis ini mempengaruhiku?


Biasanya Aku hanya menganggukkan kepalaku. Tapi, barusan Aku membalas sapaan dari seorang Office Girl.


Aku tidak mempedulikan tatapan para karyawan padaku. Aku menghampiri gadis yang tadi pagi - yang sekarang bekerja sebagai office girl.


"Bagaimana pekerjaannya?" tanyaku.


"Hm yah Aku menikmatinya." Ucapnya dengan tersenyum.


"Ok. Good luck"


Setelah mengucapkan itu, Aku berjalan keluar kantor dan memasuki mobilku.


Aku menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Aku mengarahkan mobil langsung ke arah rumahku. Rasanya Aku ingin langsung istirahat dan berbaring saja di kamar.


Sesampainya di rumah, Ibu sudah menyambutku di depan pintu. Aku mengambil tangan Ibuku dan mencium punggung tangannya.


"Kamu kemana saja? Katanya sebentar? Tidak terjadi apa apa, kan?"


"Ibu, Ibu. Aku dari kantor, barusan ada makan siang dengan klien penting. Sekarang Aku disini dan baik baik saja. Ok?"


"Hm baiklah. Bersihkan dirimu dan istirahatlah. Kau tampak begitu lelah, Nak." Ucap Ibu lembut sambil membelai lembut pipiku.


"Baik, Bu. Aku naik dulu ya?"


"Hm, sana istirahatlah."


Aku berlalu menuju kamarku. Menyisakan Ibu yang kurasakan pandangan matanya mengikuti ku. Aku bisa merasakan kekhawatiran Ibuku.


Huft.


°


°


°


Selesai makan malam bersama Ayah, Ibu dan Kak Rasha. Aku mengecek Handphone ku. Pesan masuk Whatsapp dari Fahmi mencuri perhatianku. Yah, terkadang Dia mengirim pesan padaku, sekedar menanyakan kabar atau apa saja yang kulakukan di kantor atau bagaimana sibuknya Dia menjadi seorang Dosen dan mengurus Perusahaaan Keluarganya.


Terkadang Aku tak begitu menanggapinya. Apalagi ketika lelah menyerangku, terkadang Aku merasa terganggu. Tapi, terkadang Aku menantikan pesan darinya. Aku sudah terbiasa.


Bagaimana harimu? menyenangkan? Jangan terlalu memaksakan diri. Aku tidak mau kamu sakit.


Begitulah isi pesan yang Aku terima dari Fahmi. Ada senyum tipis terlukis di wajahku.


Begitulah. Seperti biasanya. Tapi hari ini, Aku hanya bekerja setengah hari agar Aku bisa istirahat.


Aku mengirim balasan yang baru saja ku ketik. Aku mengetik dan mengirim sesuatu lagi


Saya : Aku ingin istirahat. Selamat malam.


Selesai membalas pesan Fahmi, kuletakkan Handphone ku di atas nakas disamping tempat tidurku. Aku juga terbiasa memgakhiri komunikasi kami lebih dulu, seperti sekarang ini.


Aku memilih duduk di kursi yang ada di balkon kamarku. Menatap langit malam yang kegelapannya menelan belahan bumi kami. Namun, bintang bintang yang bertabur di langit malam yang gelap ini, berkelap kelip menghiasi langit malam dan memberikan keindahan di tengah gelapnya suasana malam.


Saat aku menatap bulan tanpa berkedip, rasanya cahaya bulan menyelimutiku.


Meskipun kegelapan ini terkadang membuat kita takut. Tapi, jika langit malam tidak gelap seperti ini. Bukannya tidak mungkin kita bisa menyaksikan keindahan bulan dan beribu pasukan bintang yang berkelap kelip?


Justru, karena langit malam yang gelap ini lah yang telah menunjukkan keindahan itu.


Aku memejamkan mataku menikmati hembusan angin yang membelai lembut wajahku. Saat aku menghabiskan waktu dengan kesendirianku dan keheningan yang setia menemaniku, Aku selalu terlena dan melupakan waktu.


Aku merasakan malam yang semakin larut dari udara yang semakin dingin. aku memutuskan untuk masuk ke kamarku.


Kubaringkan tubuhku diatas ranjang dengan selimut yang kutarik sampai menutupi dadaku.


Hanya tinggal menghitung jam. Apa aku siap?


Bersambung..