
Happy Reading...😘
Mon maaf bila ada kesamaan nama, tempat atau alur, itu adalah unsur ketidaksengajaan...🙏🙏
PT. Weinhard Group Tbk.
"Terima kasih Mas"
"He'em"
Aku membuka sealbelt dan bersiap untuk turun dari mobil.
"Tunggu"
Aku berbalik dan
Cup
Mas Fahmi mengecup keningku.
"Semangat" Ucap Mas Fahmi tersenyum. Aku mengangguk dan segera turun dari mobil. Petugas keamanan yang berdiri di dekat pintu masuk membukakan pintu untukku dan sedikit membungkukkan kepalanya.
"Selamat pagi Non Risha" Sapa seorang gadis dengan seragam Office girl-nya.
"Selamat pagi"
"Non kemana saja baru masuk kantor lagi? Sakit?" Tanya gadis itu. Aku ingat, ini gadis yang ku tolong waktu itu namanya... ah Aku lupa siapa namanya.
"Tidak, saya ada urusan" "Nona, selamat pagi. Anda sudah datang?" Anne tiba-tiba menyapaku.
"Pagi, Aku baru saja sampai"
"Mari, Nona" Anne sedikit membungkukkan kepalanya.
"Ah, kalau begitu...."
"Sampai jumpa, Nona" Ucap gadis itu mendahului ucapanku.
"Hm" Jawabku sambil mengangguk dan berlalu dari tempatku berdiri. Anne membukakan lift untukku dan segera masuk setelah Aku masuk.
"Bagaimana pekerjaanya?" Tanyaku basa basi.
"Em, maksud Anda gadis itu?"
"Hem"
"Dia bekerja dengan baik"
"Hm, baguslah kalau begitu."
Ting
Pintu lift terbuka, mengantarku ke ruangan kerjaku.
Suasana kantor khususnya ruangan kerjaku, aromanya, bentuk dan warnanya, tumpukan berkas dan semuanya, Aku merindukannya.
Aku duduk di kursi kebesaranku. Nampak sebuah foto dengan figura cantik berdiri di mejaku. Aku mengusap foto yang menampakkan keluargaku, Ayah, Ibu dan Kak Rasha.
Sesaat kemudian, benda kecil yang melingkar di jari manisku berkilauan. Aku menatapnya lekat.
Ehm....
Anne berdehem, menyadarkanku.
"Maaf, Nona. Bagaimana dengan pernikahan anda?" Tanya Anne.
"Hmm, begitulah.... An?"
"Iya, Nona"
"Bisakah Aku bicara denganmu sebentar sebagai seorang teman, bukan sebagai seorang karyawan?"
"Baiklah, tentu saja Nona"
"Kau bisa memanggilku Risha, seperti dulu, oke?"
"O-Oke"
"Sepertinya pernikahan itu tidak terlalu buruk" Ucapku.
"Maksudmu?"
"Yah, Maksudku. Dia sangat baik dan perhatian, dan... tampan" Ah, apa-apaan kata terakhirku itu, Aku yakin wajahku memerah sekarang.
"Kamu menyukainya?" Tanya Anne antusias matanya berbinar.
"Hm, entahlah. Mungkin?" Jawabku agak ragu.
"Oh Ya Tuhan! Seorang Risha jatuh cinta?" Nah kan, sifat aslinya keluar.
Anne, Dia teman sekelas saat Aku duduk di bangku kuliah. Meskipun Aku tidak tahu, apakah dulu Aku berteman dengannya atau tidak. Tapi yang pasti, Kami sekelas. Dia selalu mengajakku bicara meski terkadang Aku tidak terlalu menanggapinya.
Aku mengangkat bahuku dan memasang wajah datarku. Apa Aku jatuh cinta padanya? Ah itu juga yang jadi pertanyaan besar ku.
"Apa maksudmu Kau tidak tahu? Bahkan wajahmu bersemu saat membicarakannya tadi"
"Aku tidak tahu apa Aku benar-benar mencintainya atau tidak. Atau hanya perasaan terkesan saja atas perlakuannya padaku?"
"Aku tidak tahu. Apa Aku bisa jatuh cinta? Atau apa Aku boleh merasakan hal seperti itu?"
"Maksudmu jatuh cinta? Tentu saja. Kenapa tidak?"
Aku terdiam.
"Sha?" Panggil Anne. Aku tak menjawab, hanya menoleh ke arahnya.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Anne tak jelas
"Apanya?"
"Kalian sudah melakukannya, kan?"
"Melakukan apa? Bicara yang jelas, An"
Malam pertama. Bisik Anne di telingaku.
Blush. Wajahku terasa panas. Kenapa Anne harus menanyakan hal seperti itu?
"Belum ya?" Tebak Anne.
"Kenapa jadi membicarakan hal itu? Sudahlah Aku mau bekerja. Apa saja jadwalku hari ini?" Aku berusaha menutupi kegugupanku dan mengalihkan pembicaraan ini.
"Kamu tahu?" Aku tidak menjawab pertanyaan Anne. "Rasanya...sakit, tapi...." "Sudah, sudah. Aku tidak berminat membicarakan itu" Sanggahku.
Anne memang sudah menikah beberapa waktu lalu. Katanya, Dia menikah dengan teman sekelas waktu kuliah S1 dulu. Namanya Andre, yah itu namanya kalau Aku tidak salah ingat. Ah, Aku bahkan tidak ingat pernah sekelas dengan orang bernama Andre.
Anne kembali dengan tugas-tugasnya, dan Aku memeriksa beberapa berkas mengenai proyek pembangunan Mall di daerah X.
°
°
Mau makan siang bareng?
"Emm, kayaknya gak bisa. Aku makan di kantor aja"
Ooh gitu ya.
Tut.
Telepon ditutup. Lho, apa Mas Fahmi marah? Kok langsung ditutup? Ah sudahlah. Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku.
Sekarang Aku sedang bekerja, Aku tidak boleh memikirkan hal lain. Fokus.
Tak lama kemudian,
Tok tok tok
Anne bangkit dan segera membuka pintu. Nampak salah satu staf sekretarisku di balik pintu, Dia masuk setelah Anne membukakan pintu.
"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda, Nona"
"Siapa?" Tanyaku heran
"Beliau tidak mengatakan namanya. Tapi, katanya Nona mengenalnya"
Astaga, siapa yang bertamu di jam kerja begini. Berarti bukan Ibu, kan? Jika Ibu, Dia pasti akan mengenalnya.
"Katakan saya sedang bekerja. Tidak bisa menemui siapapun"
"Baik, Nona" Dia berpamitan dan keluar.
Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu lagi.
"Nona, Orang tadi menitipkan ini untuk Nona. Katanya ini makan siang untuk Anda"
Deg.
"Baiklah. Letakkan saja disana"
Siapa? Ibu? Atau jangan-jangan Mas Fahmi? Tapi, Dia pasti sedang bekerja, kan?
Aku membuka Handphone ku, Aku akan menyanyakannya pada Ibu. "Em, An. Bisa kau tunggu di luar dulu?" Pintaku pada Anne.
"Baik, Nona" Jawab Anne mengerti .
Hallo
"Hallo, Bu"
Risha, ada apa? Tumben nelepon, apa ada masalah?
"Ah tidak, Bu. Aku hanya ingin bertanya, apa Ibu pergi ke kantor?"
Tidak, Ibu tidak pergi kemana-mana, Ibu ada di rumah. Memangnya kenapa?
"Oh, gitu ya Bu. Tidak, hanya saja Aku seperti melihat seseorang yang mirip dengan Ibu. Aku kira Ibu, sepertinya Aku salah lihat. Kalo begitu...."
Tunggu tunggu, Kamu sudah bekerja lagi? Bukannya Kamu masih cuti?
"Ahaha, itu ada pekerjaan penting mendadak" Aku beralasan dan tertawa hambar.
Ah...baiklah. Oh iya, malam ini Ibu dan Ayah mau makan malam di rumahmu, Boleh kan?
"Aku akan memberitahu Mas Fahmi"
Ibu sudah bicara sama Nak Fahmi
"Baiklah. Aku harus melanjutkan pekerjaanku" Kenapa Mas Fahmi tidak bicara dulu padaku kalau Ibu akan kerumah?
"Jangan lupa, sekarang suamimu no. 1, pekerjaan itu no. sekian"
Tut. Telepon berakhir.
Pekerjaan itu no. 1, bukankah Ibu sudah tahu itu? Aku mencintai pekerjaanku.
Sepertinya, Aku harus menelepon Mas Fahmi.
"Mas" Panggilku, setelah telepon diangkat.
Kenapa sayang?
"Kenapa tidak membicarakannya dulu denganku?"
Tentang apa?
"Ibu"
Mas tadi datang ke kantormu, tapi katanya Kamu lagi sibuk, tidak bisa menemui siapapun. Jadi Mas kirim pesan.
"Jadi, Mas yang nganterin makan siang ini?"
He'em. Jangan lupa di makan. Kamu boleh bekerja asal jangan lupa makan dan istirahat, jangan terlalu memaksakan diri.
"Terima kasih, Mas. Maaf, Aku tidak menemuimu dulu tadi"
Tidak apa, Mas mengerti.
"Hm. Terima kasih" Aku menutup telepon itu. Kulihat notifikasi di Handphone ku, ternyata benar, Mas Fahmi sudah mengirim pesan padaku. Bodoh, seharusnya Aku mengecek handphone ku.
Aku beralih pada kotak makan siang yang diberikan Mas Fahmi. Ada Jus alpukat kesukaanku juga.
Mas Fahmi begitu baik dan pengertian. Dia bahkan tidak marah karena Aku tidak menemuinya. Aku bahkan tidak bisa menjadi istri yang baik, tapi Dia menjalankan tugasnya sebagai seorang suami dengan tulus.
Kamu begitu baik, tulus dan pengertian, bagaimana bisa Aku tidak menyukaimu? Kamu harus bertanggung jawab, Mas. Karena sepertinya, Aku memang sudah menyukaimu.
Bersambung..
Jan lupa dukungannya ya....
👉 Like
👉 Comment-krisan
👉 Fav
👉 Vote
👉 Rate5
Terima kasih...😉😘