
Happy Reading...!
Maaf baru up, ada beberapa hal yang tidak bisa saya tinggalkan🙏🙏
Mon dukungannya jg ya...hehe
"Terima kasih, Bi"
"Sama-sama, Nona. Tidak perlu sungkan-sungkan. Panggil saja Bibi kalau Non membutuhkan sesuatu"
"Baiklah, sekali lagi terima kasih" Bi Mina tersenyum padaku dan mengusap bahuku, menyalurkan kekuatan padaku.
"Non sungguh istri yang baik" Kata Bi Mina. Aku hanya tersenyum getir mendengarnya dan berlalu kembali ke kamar.
Istri yang baik? Jika saja Bibi tau kalau Mas Fahmi sakit karena Aku, apa Bibi masih menganggapku sebagai istri yang baik?
Ku buka pintu kamar dengan semangkuk bubur di tanganku.
"Mas, kenapa melamun?" Tanyaku sambil menghampirinya, kulihat Mas Fahmi melamun sambil duduk bersandar di kepala ranjang.
"Ah tidak, Mas tidak melamun" Jawabnya terdengar lemah.
"Mau Risha suapin?" Aku duduk di tepi ranjang menatapnya dengan tersenyum. Mas Fahmi tersenyum dan mengangguk pelan.
"Aaaa" Aku membuka mulutku memberi isyarat agar Mas Fahmi juga membuka mulutnya.
Mas Fahmi membuka mulutnya dan menerima suapan ku.
"A-air" Pinta Mas Fahmi setelah menerima suapan pertama. Ah, Aku lupa membawa air minum.
"Sebentar Mas, Risha ambilkan" Aku bangkit dari dudukku setelah ku letakkan mangkuk berisi bubur itu di atas nakas.
Tok tok tok
Baru saja Aku berdiri, terdengar suara ketukan di pintu.
"Non, ini Bibi ambilkan air minumnya" Suara Bibi dari balik pintu kayu itu.
"Oh, Iya Bi" Segera ku buka pintu dan nampaklah Bi Mina dengan segelas air di tangannya.
"Terima kasih, Bi"
Ting tong, ting tong
"Sama-sama, Non. Sepertinya ada tamu, Bibi bukakan dulu pintunya ya, Nona"
Aku mengangguk dan segera kembali duduk di tepi ranjang.
"Minum?" Tanyaku sambil menyodorkan gelas ke depan mulut Mas Fahmi. Aku membantu Mas Fahmi minum.
Tok tok tok
Pintu kamar di ketuk (lagi)
"Sebentar Mas" Ku letakkan gelas di atas nakas dan beranjak untuk membuka pintu.
Ceklek
"Oh, An. Masuklah" Ucapku pada Anne "Terima kasih, Bi" Ucapku berterima kasih pada Bi Mina yang sudah mengantar Anne ke kamarku.
"Sama-sama, Non. Bibi permisi ke belakang ya, Non" Pamit Bi Mina yang ku balas dengan anggukan kepala.
"Terima kasih, An. Maaf merepotkanmu di akhir pekan begini" Ucapku sambil mempersilakan Anne duduk di sofa.
"Tidak apa, Nona"
"Tidak usah memanggilku 'Nona' ini bukan di kantor dan bukan jam kerja juga"
"Hm, baiklah. Apa ada hal lain yang bisa kulakukan?"
"Sepertinya tidak. Aku berterima kasih dan meminta maaf padamu karena mengganggu waktu istirahat di akhir pekanmu"
"Tidak apa, Sha. Aku senang bisa membantumu" Ucap Anne sambil tersenyum "Oh iya, bagaimana keadaan suamimu?" Tanya Anne berjalan menghampiri Mas Fahmi.
"Akhirnya, ada yang mengingat keberadaanku" Kata Mas Fahmi sedikit bercanda meski dengan suara agak lemah.
"Maaf, Mas. Oh iya, An ini suamiku Mas Fahmi, dan Mas ini Anne asisten pribadiku"
"Dan..."Anne menatapku dan menggantungkan ucapannya.
" Dan, temanku?" Kataku.
"Teman" Kata Anne tersenyum.
"Hai, Aku Anne. Ternyata suami Risha sangat tampan ya, hihi" Anne tertawa meledekku.
"Halo, panggil saja Fahmi. Terima kasih" Mas Fahmi tersenyum.
"Pantas saja Risha setuju untuk menikah. Siapa yang akan menolak kalau orangnya setampan ini"
Hei hei, apa yang kau katakan An...
"Kau tau? Risha ini wanita yang gila kerja. Aku sangat terkejut saat Dia bilang Dia akan menikah...hihi" Anne masih saja tertawa.
"Tidak pernah ku lihat ataupun mendengar Risha dekat dengan seorang pria. Tak pernah juga ada seorang pria yang berniat mendekatinya, jika pun ada, mereka tidak berani untuk mendekatinya." Anne menundukkan kepalanya sebentar, kemudian mengangkatnya kembali dan tersenyum.
Cukup, An....
"Ya, saya memang beruntung karena mendapatkan istri seperti Risha. Dia baik dan sangat perhatian"
"Perhatian? Ya, Risha memang banyak berubah sekarang"
"Tidak" Ucapku membuat Mas Fahmi dan Anne menatapku.
"Aku, Aku yang beruntung karena dicin- maksudku karena mendapatkan suami seperti Mas Fahmi"
"I Love You" Kata Mas Fahmi sambil tersenyum. Aku tidak menjawabnya, hanya bisa mematung di tempatku sambil menatapnya.
"Ehem..ehemm...." Anne berdehem.
"Ah iya, obatnya. Sekarang Mas Fahmi minum obat dulu, ya" Ucapku sambil mengeluarkan obat yang di beli Anne, aku mencoba mengalihkan pembicaraan ini.
Ku bantu Mas Fahmi minum setelah meminum obatnya.
"Sekarang lebih baik Mas Fahmi istirahat. Sekali lagi, terima kasih An"
Anne mengangguk dan tersenyum.
"Kalo begitu, Aku pamit dulu, Sha, Fahmi"
"Oh, sudah mau pulang?" Tanya Mas Fahmi.
"Iya, Saya juga mau menikmati akhir pekan saya sebelum kembali bekerja besok" Kata Anne mengedipkan sebelah matanya.
"Oh begitu ya" Ucap Mas Fahmi.
Anne mengangguk dan tersenyum sebelum Dia berbalik menuju pintu.
Sret.
Tiba-tiba Anne berbalik dan berkata.
"Oh iya, semoga lekas sembuh"
"Terima kasih" Balas Mas Fahmi.
"Aku akan mengantar Anne kedepan" Kataku menyela.
Sesaat, Aku berbalik menatap Mas Fahmi sebelum membuka pintu. Kulihat Mas Fahmi menatap pada kami -Aku dan Anne.
Kenapa Mas Fahmi terus menatap Anne? dan wajah murung yang Mas Fahmi tunjukkan saat Anne bilang akan pulang, apa maksudnya coba?
Apa jangan-jangan...ah tidak-tidak. Mas Fahmi tidak akan begitu. Jika sampai kamu begitu, awas saja Mas. Aku akan membuat perhitungan denganmu. Aku menggerutu dalam hati.
"Terima kasih, An. Maaf mengganggu hari minggu-mu" Ucapku.
"Tidak apa. Aku senang kau mengandalkan Aku, Aku jadi bisa melihat dan bertemu dengan suamimu" Anne tersenyum.
"Bagaimana menurutmu?"
"Apanya?"
"Suamiku -Mas Fahmi?"
"Dia orang yang baik dan juga tampan"
"Apa kau menyukainya?" Tanyaku mendelik padanya.
"Suka" Jawab Anne membuatku sedikit merenggut.
"Eh...tidak-tidak. Maksudku bukan suka yang seperti itu. Aku sudah punya suami, ok!"
"Jadi, jika tidak punya suami, kau akan menyukainya?" Nada bicaraku terdengar tidak ramah sama sekali.
"Yah tidak juga. Sudah ku bilang bukan suka seperti yang kamu kira. Lagian Dia kan suamimu"
"Kalo Dia bukan suamiku?" Tanyaku menyelidik. Aku hanya fokus pada kalimat terakhirnya 'lagian Dia kan suamimu'
"Emm, entahlah. Mung...kin?" Anne terdiam sejenak. Kemudian
"Tapi, sungguh. Sekarang Aku tidak berniat menjadi rivalmu, ok?" Tanya Anne meyakinkanku.
"Aku tidak berniat meninggalkan suami tercintaku" Jawab Anne serius.
"Kau...Cemburu? Pfft" Anne bertanya sambil menahan tawanya.
"Jangan tertawa" Aku memukul bahunya pelan dengan wajah merona.
Pfft..hwahaha... "Kau cemburu? Padaku?" hahaha
"Tidak, ku bilang tidak, An" Ahh, Aku malu...
"Tidak apa, Risha, tidak perlu malu. Tidak apa kalo kau cemburu" Ucap Anne sambil merangkul bahuku.
"Tandanya kau benar-benar mencintainya, ya..." Bisik Anne di telingaku membuatku agak merinding?
Si*lan kau An..
Arghh, Apa-apaan sikapku tadi, memalukan.
Bersambung..