Dry Ice

Dry Ice
Part 19


Part 19


Happy Reading...😘


Ikuti terus cerita nya dan Jan lupa dukungannya ya..


👉 Like


👉 Comment-Krisan


👉 Fav


👉 Rate5


👉 Vote


Terima kasih..😉😘


Ruang dan waktu serta semua benda di kamar ini menjadi saksi bisu penyatuan Kami. Mas Fahmi mencium keningku dan Kami tertidur dengan berpelukan dibawah selimut tanpa sehelai benang yang menghalangi kulit Kami untuk bersentuhan..


°


°


°


"Maaf" Samar-samar kudengar suara lirih dari Mas Fahmi. Kenapa Mas Fahmi meminta maaf? Apa Dia merasa bersalah? Aku tidak terlalu memikirkannya, Aku ingin tidur.


Paginya, Aku membuka mataku. Yah, tangan Mas Fahmi memelukku. Aku menatapnya, ternyata Dia juga menatapku. Aku pikir Dia masih tidur, biasanya Dia masih tertidur saat Aku bangun.


"Maaf" Ucapnya.


"Kenapa meminta maaf?" Tanganku mengelus lembut wajah Mas Fahmi. Tanganku bergerak sendiri, tidak! itu bukan tanganku. Tapi jelas jelas itu tanganku sendiri, tanganku berkhianat, tapi Aku tidak membencinya.


"Semalam...."


Wajahku memerah mengingat kejadian semalam.


"Mas tidak sengaja. Mas tidak tahu kenapa, tapi rasanya Mas tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhmu"


Yah, Aku juga merasa seperti itu. Mas Fahmi lebih agresif dari biasanya. Mas Fahmi memang selalu menggodaku, tapi Dia selalu bisa menahan dirinya.


Apa ada sesuatu yang terjadi? Ah entahlah.


"Tidak apa Mas. Semuanya sudah terjadi dan itu memang hal yang wajar untuk dilakukan pasangan yang sudah menikah, kan?"


Hari ini hari sabtu, yang artinya Aku tidak akan pergi ke kantor. Biasanya Aku tidak menyukai hari sabtu karena Aku tidak bisa pergi ke kantor. Tapi, saat ini Aku bersyukur bahwa hari ini adalah hari sabtu. Karena, sepertinya Aku tidak bisa pergi ke kantor dengan rasa sakit yang kurasakan.


Mas Fahmi membantuku ke kamar mandi. Dia menggendongku ala bridal style. Dia masih saja merasa bersalah padaku. Padahal Aku tidak bisa marah padanya karena Aku yang sudah mengizinkan Mas Fahmi untuk melakukannya.


***


Satu minggu kemudian


Fahmi POV


Satu minggu sudah setelah malam dimana Risha menjadi milikku seutuhnya. Saat itu, Aku merasa ada yang salah denganku. Tubuhku terasa panas dan Aku merasa sangat bernafsu.


Aku sudah berusaha menahannya sampai kedua Orang Tua Kami pulang. Aku tidak sanggup menatap Risha. Aku memeluk pinggangnya dan membenamkan wajahku di ceruk lehernya. Tapi, tetap saja itu tidak bisa menahan gairahku.


Aku mengikuti Risha ke kamar mandi, berharap dengan mencuci muka dan menyikat gigi bisa meredakan nafsuku. Tapi, ternyata tidak.


Risha duduk bersandar di kepala ranjang. Nampaknya, Ia sedang mengecek sesuatu di Handphonenya. Kulihat Dia tersenyum. Entah Dia sadar atau tidak, Aku memperhatikannya sedari tadi. Dia terlihat lebih sexy dari biasanya, apalagi saat senyumnya terukir di wajah cantiknya. Runtuh sudah benteng pertahananku.


"Sha...." Panggilku padanya. Seharusnya Aku tidak memandanginya terus.


Ah, Aku sudah melakukannya dengan Risha. Setelah itu, Aku merasa bersalah. Karena secara tidak langsung Aku telah memaksanya dan membuatnya tidak bisa menolak. Aku ingin Risha sendiri yang menginginkannya, Aku ingin Dia sendiri yang memintanya, meskipun Aku tidak tahu pasti kapan itu akan terjadi.


Tidak apa Mas. Semuanya sudah terjadi dan itu memang hal yang wajar untuk dilakukan pasangan yang sudah menikah, kan?


Itulah yang Risha katakan waktu itu. Di satu sisi Aku merasa bersalah padanya. Tapi, di sisi lain Aku senang Risha bisa menerimanya.


Aku mengetahui yang sebenarnya pada keesokan harinya saat Aku berkunjung ke rumah Mama. Aku tidak sengaja mendengar percakapan Mama dan Papa.


Mama yakin, tidak lama lagi Kita akan segera punya cucu. Entah apa yang akan terjadi dengan Fahmi dan Risha di masa depan, yang pasti Mama juga menginginkan seorang cucu untuk penerus keluarga Kita.


Apa maksud Mama?


Mama menaruh sesuatu di minuman Fahmi. Fahmi pasti tidak bisa menahan diri untuk...


Mama tidak meneruskan ucapannya waktu itu karena mendengar kedatanganku. Aku berpura pura tidak mendengar apapun.


Aku semakin merasa bersalah pada Risha setelah Aku mengetahui bahwa penyebab terjadinya peristiwa malam itu karena Mama. Ya, Mama memasukan sesuatu pada minumanku.


Biarlah Aku menyimpannya sendiri. Hubunganku dan Risha sudah lebih baik sekarang, Aku tidak mau merusaknya.


Namun, ada sesuatu yang lebih menggangguku sekarang.


Entah apa yang akan terjadi dengan Fahmi dan Risha di masa depan....


Kalimat itu selalu terngiang di telingaku. Rasanya terdengar seperti benar-benar akan ada sesuatu yang terjadi di masa depan. Tapi, Aku berusaha untuk tidak memikirkannya, toh Aku dan Risha sekarang baik-baik saja.


"Mas" Panggilan Risha menyadarkanku dari lamunanku.


"Eh iya" Jawabku agak kaget karena tiba-tiba Risha sudah duduk di sampingku.


"Ini Teh nya" Risha menyodorkan Teh yang Dia bawa. Aku mengambilnya dan menyeruput Teh manis hangat buatan Istriku ini. Ya, akhir pekan ini Kami sedang bersantai di halaman belakang rumah Kami. Risha baru saja kembali setelah membuatkan Teh untukku.


Aku senang, Risha sudah tidak secuek seperti saat Kami baru menikah. Dia lebih memperhatikanku, Kurasa.


"Lagi ngelamunin apa sih Mas? Ada yang lagi di pikirin ya?" Tanya Risha kemudian menyeruput Teh nya.


"Emm... Mas lagi mikirin mau punya anak berapa ya?" Jawabku tak lupa dengan senyumanku.


"Ih, apa sih Mas" Wajah Risha memerah.


Aku merangkul bahu Risha, membuatnya menyenderkan kepalanya di bahuku. Risha memegang cangkir Teh itu dengan kedua tangannya dan sesekali menyeruputnya.


"Aku mencintaimu" Ucapku. Sudah sering Aku mengatakannya. Tapi, Aku tak pernah bosan untuk mengatakannya.


"Hm, Aku tahu" Selalu itu yang menjadi jawaban Risha.


Ayolah, Sha. Kamu tidak pernah membalas pernyataan cintaku. Apa sesulit itu untuk mengatakan 'Aku juga mencintaimu'?


Ah...Aku juga tidak bisa memaksanya.


Aku mencium pucuk kepala Risha.


"Aku sayang Kamu, Mas" Ucap Risha lirih. Tapi, indera pendengaranku masih bisa menangkap suaranya.


"Sayang, Kamu mengatakan sesuatu?" Tanyaku menggodanya, Aku ingin mendengarnya lagi.


"Memang apa yang Aku katakan?"


"Mas ingin mendengarnya lagi"


"Tidak ada. Mas sudah mendengarnya tadi, kan?"


"Katakan lagi atau Mas makan Kamu" Ancamku.


Pfft... "Mas mengancamku...Emm mmm" Aku membungkam mulut Risha dengan mulutku.


"Itu bukan ancaman" Ucapku menyeringai, tanganku masuk kedalam kaos yang Risha gunakan.


"Ahh...Mas, apa yang Kamu lakukan?" Tanya Risha gelisah, tangannya menahan tanganku yang sedang bermain dengan benda kenyal di balik kaos Risha.


Tangannya tidak cukup kuat untuk menghentikanku. Aku melanjutkan aksiku.


"Ok ok, Aku akan mengatakannya lagi. Hentikan, Mas"


"Baiklah" Aku menghentikan aksiku dan menarik tanganku dari balik kaos Risha.


"A-Aku sayang Kamu" Ucap Risha dengan mata tertutup.


Cup


Aku mencium bibir Risha, lagi.


"Itu hadiah buat Kamu karena Kamu sudah mau mengatakannya" Ucapku


"Hadiah ini atau hukuman tadi, tetap saja Kamu menikmatinya" Ucapnya ketus.


Aku terkekeh mendengarnya. Aku menikmati setiap saat yang Kami habiskan bersama. Aku menikmati setiap perlakuannya padaku. Aku menikmati semuanya, karena itu bersamamu, Risha.


End POV


Sepertinya, Aku mulai berubah sedikit demi sedikit. Aku terbiasa dengan keseharianku bersama Mas Fahmi. Kupikir tidak buruk juga punya perasaan peduli pada seseorang.


Semuanya berjalan dengan baik seperti biasanya. Tidak ada yang berubah, kecuali Aku mulai peduli pada seseorang, Mas Fahmi. Aku selalu ingin tahu bagaimana perasaanya? Apa Dia merasa nyaman? Apa Dia tidak merasa tersinggung? Apa Dia tidak marah? Apa Dia kecewa? Apa Dia bahagia? Apa yang sedang Dia pikirkan?


Walau terkadang Aku bingung, karena biasanya Aku tidak peduli apa yang orang lain rasakan atau apa yang orang lain pikirkan. Tapi, Aku menikmatinya.


Bersambung...