
Happy Reading...!
"Kartu saya ada kok Pak" Jawab Fresya santai.
"Keluarkan!" Perintah Fahmi.
"Ok ok, Bapak jangan galak galak. Entar makin tampan lho Pak" Fresya masih sempat mengeluarkan godaannya pada Fahmi, kemudian mengeluarkan kartu ujiannya dari dalam tas yang tergeletak di samping kursinya.
Huft, Mahasiswa/i sekarang banyak bertingkah. Fahmi
--------------------------------
"Waktu kalian 15 menit lagi!" Seru Fahmi
"Kok cepet banget sii Pak" Kata Fresya dengan suara manja.
"Yang sudah selesai, bisa kumpulkan di meja Bapak!" Intruksi Fahmi, tanpa mengindahkan rengekan dari Fresya. Melihat Fahmi tak menghiraukannya, Fresya mendengus kesal.
"Sabar Sya. Pak Fahmi pasti mau jaga image di depan Mahasiswa lain. Lo gak usah merasa putus asa" Teman Fresya menyemangatinya.
"Bukannya waktu itu, lo pernah ketemuan di cafe ya? Berarti masih ada kesempatan, kan?" Teman Fresya bernama Amel itu tersenyum.
Fresya hanya tersenyum hambar. "Itu kan karena urusan tugas" Ucap Fresya.
"Nah, itukan langkah pertama yang bagus Sya"
"Hm"
Pak Fahmi, Aku akan mendapatkanmu! Batin Fresya. Amel benar, tidak seharusnya Aku menyerah dengan mudah.
Akhirnya, selesai juga. Bisa istirahat sebentar sambil nelpon Risha. Pikir Fahmi.
Tut~ tut~ tut~ tut~
Sedang sibuk, ya?
Tidak diangkat? Coba lagi!
Tut~ tut~
Halo, Mas
"Halo, Sha. Makan siang bareng yuk?"
Makan siang? Tanya Risha dari seberang telepon.
"Tidak bisa, ya? Yasudah gak apa-apa, pasti Kamu lagi sibuk, ya?" Fahmi menyimpulkannya sendiri.
Ti-tidak, a-anu...Aku
"Tidak apa, Risha. Kalo kamu tid..."
Bisa! Jawab Risha cepat.
Sebenarnya..
"Tidak perlu memaksakan diri" Ucap Fahmi, karena Ia tidak mau Risha merasa terpaksa mengikuti ajakannya.
Tidak ada jawaban dari Risha selama beberapa saat.
"Sha" Panggil Fahmi karena Risha hanya terdiam.
Hm!? Baiklah. Jawab Risha dengan nada dingin dan datar.
"Baiklah, semoga hari...mu menyenangkan" Fahmi tetap merampungkan kalimatnya, meski Risha sudah menutup panggilan secara sepihak.
"Kenapa dengan Risha?" Fahmi bertanya -tanya pada dirinya sendiri.
Apa Kamu begitu sibuk, Sha? Kamu bahkan menutup telepon tanpa berpamitan atau apa pun. Tapi, Aku tahu Aku yang salah, seharusnya Aku tidak menelepon dan mengganggumu. Batin Fahmi.
Sedangkan disisi lain,
Huft. Aku jadi tidak berselera untuk makan. Risha menghela nafas panjang. Ia memesan segelas Jus Alpukat kesukaanya. Ia sudah duduk dari beberapa saat yang lalu, menunggu seseorang sebelum memesan agar mereka bisa makan bersama.
Risha duduk termenung sendirian, hanya ditemani segelas Jus Alpukat yang Ia aduk-aduk setelah menyeruputnya sekali. Tiba-tiba...
"Bukankah, ini Nona Risha Weinhard?" Sebuah suara menyebut nama Risha.
Merasa namanya disebut, sontak Risha melirik ke sumber suara. Seorang Pria dengan setelan Jas Abu dengan celana panjang dengan warna yang sama dan kemeja dengan warna Abu muda.
Pria itu tersenyum dan menghampiri Risha.
"Nona Risha sendirian?" Tanyanya
"Seperti yang anda lihat, Tuan" Jawab Risha datar.
"Sepertinya Nona sangat senggang!?"
"Tidak juga, saya baru selesai bertemu klien"
"Kebetulan melewati tempat ini, kemudian Nona mampir untuk memesan segelas Jus?"
"Bagaimana Anda bisa tahu kronologisnya, Tuan?"
"Hahaha... Kau selalu beralasan seperti itu, Adikku"
"Hei, Aku tidak beralasan" Sanggah Risha dengan geram tapi tetap dengan suara rendah.
"Kau menunggu seseo..."
"Kenapa Kak Rasha ada disini?" Risha menyela kalimat Rasha. Yah, Pria itu adalah Rasha -Kakak Risha satu-satunya.
"Tidak! Aku hanya ingin bertanya ada urusan apa Kak Rasha disini? Apa salah?"
"Tidak. Tapi, sejak kapan Adikku ini ingin tahu urusanku?"
"Tidak juga, Aku hanya berbasa-basi"
"Haha...baiklah, baiklah, Kau menang" Fahmi menatap Risha yang hanya mengaduk-aduk Jus itu tanpa meminumnya.
"Kau menunggu Fahmi?" Tanya Rasha
"Hm? Ah, tidak bisa disebut menunggu juga, karena kami tidak janjian"
"Begitu, Ya"
"Kalo begitu, Risha pamit duluan ya Kak. Oh iya, sekalian bayarin Jus ini" Risha menunjuk Jus Alpukat yang hampir masih utuh.
"Eh, tunggu-tunggu. Mau balik ke kantor?"
"Iyalah, Kak"
"Kakak anterin. Sebentar...Mba" Rasha membayar pesanan Risha terlebih dahulu, sebelum mereka meninggalkan tempat makan itu.
Mereka -Rasha dan Risha- keluar bersamaan. Melangkah menuju parkiran tempat mobil Rasha terparkir.
"Eh, Kak, sepertinya handphone Risha ketinggalan di meja. Risha ambil dulu"
"Oh, baiklah. Kakak tunggu di dalam, ya"
"He'em" Jawab Risha sambil berlalu dan kembali kedalam untuk mengambil handphonenya. Belum sampai Ia kedalam, Ia bertemu seorang pelayan disana.
"Nona mencari ini? Ini punya Nona, kan?" Pelayan itu memperlihatkan sebuah handphone di hadapan Risha dengan sopan.
"Oh iya, ini punya saya. Terima kasih" Risha mengucapkan terima kasih pada pelayan itu kemudian mengambil dan memasukkan handphone itu ke dalam handbag nya.
"Sama-sama, Nona" Jawab pelayan itu.
Risha segera kembali ke parkiran kemudian membuka pintu mobil dan masuk. Mobil Rasha segera melaju menjauh dari tempat itu.
"Bukankah tadi itu, Risha?" Seorang Pria merasa keheranan dengan apa yang dilihatnya dari dalam mobilnya.
"Sedang apa Risha disini? Bukankah Dia sedang bekerja di kantor? Ah, mungkin Dia baru saja bertemu dengan klien-nya" Fahmi menghibur dirinya sendiri.
Setelah gagal mengajak Risha makan siang bersama, Fahmi berniat pergi ke tempat makan kesukaan Risha yang selalu Ia kunjungi bersama Risha.
Tanpa disangka-sangka, Ia melihat Risha disana. Risha baru saja keluar dan memasuki sebuah mobil.
Apa benar Risha baru saja bertemu dengan klien-nya? Atau...Ia ada janji dengan orang lain, makanya Ia tidak bisa makan siang bersamaku? Fahmi mulai menaruh curiga.
Tapi, bukankah tadi Risha menjawab 'Bisa!' Ya? Apa itu untuk mengelabuiku agar tidak curiga padanya? Yah, kalo dipikir-pikir, tadi Risha menjawab telepon dengan ragu-ragu, pasti karena Dia tidak sedang sendirian. Untung saja kami tidak jadi makan bersama, atau Aku tidak akan menyaksikan itu barusan.
Kemudian, Fahmi mengambil kesimpulannya sendiri -lagi.
Merasa tidak berselera lagi untuk makan, Fahmi memutuskan kembali ke kampus karena ada 1 mata ujian lagi setelah istirahat makan siang.
Sesampainya di kampus, Fahmi duduk termenung di sebuah kursi panjang yang terletak di taman samping kampus.
"Mau makan siang bersama, Pak?" Ajak Fresya yang tiba-tiba duduk di sebelah Fahmi.
°°°
°°
°
Ting tong~
Ceklek
Risha membuka pintu rumah. Ia masuk dan mendapati Fahmi yang sedang duduk di sofa depan TV.
"Baru pulang?" Tanya Fahmi
"Iya, Mas" Setelah menjawab pertanyaan Fahmi dengan dingin dan datar, Risha berlalu menuju kamarnya.
Apa Risha menghindariku? Apa Dia marah? Seharusnya Aku yang marah dan kesal, kan? Dia makan siang bersama orang lain dan tidak mau bersamaku, kenapa jadi Dia yang marah?
Huft. Fahmi menyusul Risha ke kamar.
Ceklek
"Sha" Panggil Fahmi pada Risha yang sedang membersihkan riasan tipisnya.
"Hm" Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya pada si pemanggil.
"Sayang sekali ya, kita tidak bisa makan siang bersama tadi"
"Hm, Iya" Jawab Risha singkat.
"Sebenarnya aku merasa sedih harus makan sendirian, tapi, untunglah seorang Mahasiswi mengajakku makan siang bersama. Sungguh, Dia Mahasiswi yang baik"
Nah, bagaimana perasaanmu sayang, mengetahui pasanganmu pergi dengan orang lain? Fahmi menyeringai, Risha terdiam dan membatu di tempatnya.
Bersambung...
Mon dukungannya ya, jan lupa tinggalkan jejak.. ^^
Terima kasih...