
Happy Reading..!
Ikuti terus ceritanya ya... ini masih akan berlanjut.
Jan lupa dukungannya juga ya hehe..
👉 Like, Comment, Vote, Rate5
Terima kasih..😉
Drrrt...Drrtt
Handphone ku bergetar
Kulihat Mas Fahmi meneleponku, segera ku angkat teleponnya.
Sayang, Kamu sudah sampai rumah? Terdengar suara dari seberang sana.
"Belum, Mas. Aku mampir ke Minimarket sebentar, buat belanja beberapa bahan masakan"
Lho, Kamu kan bisa telepon Mas, biar Mas temenin.
"Nggak apa lha Mas. Ini juga ke Minimarket dekat rumah kok. Aku gak mau merepotkan Mas"
"Siapa? Fahmi?" Tanya Kak Rasha di sampingku. Aku mengangguk.
Siapa? Pertanyaan penuh selidik terdengar dari suara Mas Fahmi.
"Oh, ini kebetulan Aku ketemu Kak Rasha"
"Aku akan mengantar istrimu pulang, boleh?" Kak Rasha merebut Handphone ku.
"Tenang saja, Aku akan menjaganya, Dia juga Adikku" Ucap Kak Rasha, kemudian Ia mengembalikan Handphone ku.
"Yaudah Mas. Aku pulang sekarang"
Iya, hati hati. Love you
"Hm" Jawabku, kemudian segera kumatikan telepon itu. Hah, kenapa akhir akhir ini Aku selalu berdebar bahkan saat hanya mendengar suaranya.
Kak Rasha memutuskan untuk mengantarku pulang sekalian mau tau alamat rumahku katanya.
"Oh iya, Dysa sepertinya Aku harus mengantar Adikku pulang. Sampai bertemu lagi" Ucap Kakak
"Ayo Dek" Ajak Kak Rasha sambil membawa belanjaanku.
"Lho, terus itu Kak Dysa gimana? Rumahku juga udah deket kok" Ucapku. Kasihan kan, Dia datang sama Kak Rasha terus malah ditinggalin.
"Oh nggak apa apa kok. Aku juga ada urusan bentar. Kalian duluan aja" Kak Dysa menjawab disertai dengan senyumannya.
"Ooh gitu ya. Ayo Kak"
"Kak, itu Kak Dysa gak apa apa ditinggal?" Tanyaku setelah keluar dari Minimarket.
"Nggak apa apa lha, orang Dia emang ada urusan di Minimarket itu"
"Ooh" Begitulah tanggapanku. Aku sama sekali tidak berniat mengetahui urusan apa yang akan dilakukan teman Kakakku itu.
"Kamu belanja banyak gini, emang mau masak? Kamu kan gak bisa masak" Ejek Kak Rasha padaku.
"Aku kan bisa belajar"
Hah!?
Wahaha hahaha
"Kamu! Kamu, Risha, mau belajar masak.. hahaha.. Kamu serius?"
Hey hey, Kak Rasha. Apa kau begitu tidak percaya padaku?
Aku menutup pintu mobil agak keras.
"Hey, kau mengagetkanku" Ucap Kak Rasha sambil mengelus dadanya.
"Sudahlah. Ayo jalan, Kak"
"Baiklah Tuan putri" Kak Rasha tersenyum mengejek. Aku memutar bola mataku jengah.
°
°
°
Kak Rasha segera pulang setelah mengantarku. Dia bahkan tak berkomentar tentang rumahku dan Mas Fahmi. Nampaknya setelah menerima telepon, Dia terburu buru pergi.
"Lain kali Aku akan mampir untuk minum teh dan mencicipi masakanmu" Kak Rasha mengedipkan sebelah matanya padaku.
Dia menantangku rupanya, lihat saja nanti Kakakku tersayang. Akan kubuat Kamu memakan masakanku bahkan sampai Kamu tak sanggup memakannya lagi akan kumasukkan dengan paksa makanan itu ke mulutmu Hahaha. Tawa jahat terbahak dalam batinku.
Huft....
Aku akan menyimpan ini dalam lemari pendingin. Aku membereskan belanjaanku.
Sepertinya Aku harus cari tahu bagaimana cara masak. Aku membuka Handphone ku. Youtube, ini dia.
Beberapa video telah Aku tonton. Kalo melihat ini, sepertinya akan mudah. Aku pasti bisa. Hoaamm... sepertinya, Aku akan tidur dulu.
Handphone ku tergeletak begitu saja di ranjang, Aku tertidur.
Sha
Risha
Sayang....
Sepertinya ada yang memanggilku? Siapa? Mas Fahmi? Apa aku bermimpi?
Rasanya ada seseorang yang mengguncang tubuhku. Aku membuka mataku perlahan..., Mas Ff...Fahmi.
Aku mengucek mataku. "Mas udah pulang? Maaf, Aku ketiduran"
"Nggak apa. Mas minta maaf karena gangguin tidur kamu. Tadi Mas khawatir, badan Kamu agak panas. Kamu sakit?" Kata Mas Fahmi cemas.
"Eh, nggak kok. Aku gak apa apa" Ah, bahkan aku masih memakai pakaian tadi pagi, Aku tak sempat ganti baju malah ketiduran.
"Oh, Aku mandi dulu ya Mas" Aku segera berlari ke kamar mandi.
Aku harus mandi dengan cepat, Mas pasti belum makan.
°
°
Saat Aku keluar dari kamar mandi, Aku tidak melihat sosok Mas Fahmi.
Lho, Mas Fahmi kemana? Ah paling Dia di kamar sebelah. Aku segera memakai pakaianku.
Setelah memakai kaos rumahan dan celana jeans diatas lutut. Aku melangkah keluar kamar, pertama tama, Aku melihat kamar sebelah, ruang kerja Mas Fahmi. Kubuka pintu yang tak terkunci itu. Tidak ada siapapun, tapi terdengar suara dari kamar mandi. Itu pasti Mas Fahmi.
Baiklah, Aku akan memasak sekarang. Satu persatu anak tangga mengantarku turun ke bawah. Sesampainya di dapur, Aku membuka lemari pendingin.
Masak apa ya? Gumamku.
Apa, capcay aja ya? Kalo lihat di youtube tadi, kayaknya tidak terlalu sulit.
Aku mengeluarkan beberapa sayuran yang akan ku masak menjadi capcay. Sebelum memasak, Aku mencuci beras terlebih dahulu dan menanaknya di rice cooker.
Setelah itu, Aku mencuci sayuran yang akan di masak.
Kupotong wortel itu dengan perlahan. Jujur, Aku takut melihat pisau yang tajam itu. Bagaimana jika pisau tajam itu mengiris jariku, Ah Aku takut meski hanya membayangkannya. Aku menahan tanganku yang bergetar. Aku harus bisa, gumam batinku.
Ternyata tidak semudah bayanganku.
Aku sedang berusaha fokus dengan pekerjaanku saat tiba tiba... Grep, sret....
Auwhh, Aku meringis.
Tangan yang melingkar itu terlepas dan membawaku berbalik menghadapnya.
"Astaga, Sha. Tangan Kamu berdarah. Maaf, Mas tidak sengaja, Pasti Mas sudah membuatku kaget" Mas Fahmi membawaku duduk di meja makan. Ia menghisap jari telunjukku. Nampak sekali kekhawatiran di wajahnya. Matanya memerah. Apa Mas Fahmi menahan tangis?
Mas Fahmi mengambil kotak P3K, memakaikan obat merah dan plester pada jariku yang tergores pisau.
"Maaf...maaf"
"Tidak apa Mas. Ini hanya luka kecil, Mas tidak usah khawatir" Kataku. Mendengar perkataanku Mas Fahmi malah menangis, air matanya mengalir. Melihat itu Aku juga ikut menangis.
Ah, Aku tidak tau, mengapa Aku juga ikut menangis? Mengapa Aku jadi emosional seperti ini? Aku tidak mengerti.
Aku mengusap air mata di pipi Mas Fahmi. "Kenapa jadi Mas yang nangis? Yang ke gores kan jariku" Ucapku tersenyum tipis.
"Justru karena Kamu yang terluka dan itu karena Mas" Mas Fahmi mengusap air mataku. "Mas membuatmu menangis" Lanjutnya
"Sudahlah Mas. Aku gak apa apa. Ini cuma ke gores sedikit. Aku juga gak tau kenapa Aku nangis, Padahal lukanya gak terlalu sakit. Tapi, lihat Mas nangis, Aku jadi ikut nangis"
Mas Fahmi memelukku, Aku terdiam sampai akhirnya kubalas pelukan itu. Aku mengusap punggung Mas Fahmi. Ternyata, Kamu juga bisa rapuh dan menangis, Mas.
"Kalo begitu. Biar Mas yang memasak. Kamu duduk dan tunggu aja disini, oke?"
"He'em" Aku mengangguk.
"Ini, Kamu mau masak apa?" Mas Fahmi bertanya padaku? Ya tentu saja padaku, karena hanya ada Aku disini.hehe.
"Capcay, Mas" Jawabku dengan tersenyum malu.
"Akhir akhir ini, Kamu sudah sering tersenyum ya, Mas suka"
"Benarkah?" Selidikku. Tapi sepertinya benar, Aku sudah sering tersenyum. Aku juga hampir tidak percaya, tapi begitulah kenyataannya.
"Iya, Apa ada yang terjadi?" Tanya Mas Fahmi yang masih fokus dengan pekerjaan memasaknya.
"Hm, tidak ada" SepertinyaTidak ada yang spesial kecuali, Sekarang ada Kamu, Mas Fahmi. Lagi lagi, Aku tersenyum.
Asyik dengan pikiranku, hingga tanpa sadar, Mas Fahmi sudah selesai dengan masakannya.
Makanan terhidang di meja makan.
"Selamat makan"
"Selamat makan"
Bersambung..