Dry Ice

Dry Ice
Part 3


Happy Reading..!


Maafkan klo banyak typonya. Tapi, Mohon dukungannya dengan Like, Comment dan Votenya deng.. hehe..😆


Akibatnya, banyak yang tidak menyukaiku. Mereka memanggilku 'Dry Ice' karena ketidak pedulianku.


Apa aku salah, pikirku. Aku hanya ingin belajar dan mereka ingin bermain. Tentu tujuan kita berbeda. Jadi, sudah seharusnya aku menolaknya. Karena hal itu hanya akan mengganggu waktu belajarku dan aku tidak suka itu.


Aku mengakhiri pikiranku yang melayang layang. Aku harus bekerja.


Segera ku selesaikan pekerjaanku sebelum Ibuku sampai.


Ketukan di pintu menghentikan pekerjaanku.


"Masuk" kataku memberi izin pada yang mengetuk pintu.


Salah satu staf sekretarisku masuk. Ia menundukkan kepalanya tanda hormat.


"Nyonya menunggu anda Nona" kata Mely, staf sekretarisku.


"Baiklah" Ucapku menutup berkas yang sedang ku kerjakan dan mengambil tas dan Ponselku.


Kulihat jam yang menempel indah di tangan kiriku. Tak terasa waktu istirahat makan siang sudah tiba.


"Ibu, Ibu datang cepat sekali" ucapku sambil meraih tangan Ibuku dan mencium punggung tangannya kemudian Ibu mencium pipi kanan dan kiriku serta keningku.


"Iya, sebelum belanja Kita makan siang dulu di tempat makan favorit kamu sayang"


"Oh ok, berangkat sekarang Bu ?" tanyaku.


"Ayo" ajak Ibuku.


Tibalah kami di tempat makan favoritku, tempatnya tenang, damai dan tidak banyak pengunjung. Itulah kenapa ini jadi tempat makan favoritku.


Lingkungannya asri dan sederhana, bangunannya tidak terlalu mewah, dengan kombinasi warna Coklat dan krem, keheningannya mampu mengalirkan ketenangan. Tidak ada kebisingan dan hiruk pikuk. Bahkan jumlah meja dan kursinya bisa dihitung jari. Tapi, kebersihannya dan kualitas makanannya tidak kalah dengan tempat makan dan restoran restoran lainnya.


Kami duduk di kursi kosong. Salah satu pelayan menghampiri kami dan menuliskan setiap pesanan kami.


Tak lama kemudian, pesanan kami datang. Kami menyantapnya dengan tenang dan khidmat.


Aku menyeruput jus alpukatku, jus kesukaanku. Aku sudah menyelesaikan makan siangku. Begitupun dengan Ibu.


Selesai membayar bill, kami beranjak pergi menuju.. ah aku pun tidak begitu tahu. Aku mengikuti Ibuku dengan patuh.


Pak Budi membukakan pintu mobil untukku dan Ibuku. Mobil berjalan dengan sedang. Aku melihat keluar kaca mobil, dari arah jalan yang kulihat, sepertinya aku tahu kemana Ibu akan membawaku. Jika tebakanku benar, Ibu akan membawaku ke... dan yah benar sekali. Pak Budi menghentikan mobil di tempat yang aku duga. Butik.


"Ayo cepat sayang.." Kata Ibu dengan semangat.


Ah aku ragu. Ibu ingin membantuku atau beliau sendiri yang menginginkannya ? Ntahlah. Asalkan Ibu senang.


"Baiklah" Jawabku singkat.


Setelah turun dari mobil, Ibu menggandeng tanganku seakan aku akan kabur darinya. Oh ayolah Bu, aku tidak akan kabur..


"Selamat siang, Nyonya. Ada yang bisa kami bantu ?" tanya salah satu pegawai butik.


"Siang. Apa manager kalian ada ?" tanya Ibuku dengan tersenyum ramah.


"A..Ada, Nyonya" Jawab pegawai itu gelagapan. Sepertinya ia ketakutan, iyalah, secara Ibuku menanyakan manager nya. Seperti orang yang ingin mengadukan kesalahan si pegawai.


"Ada apa nyonya Weinhard mencariku" Sontak kami menoleh ke sumber suara. Tante Rinjani. Manager butik ini sekaligus temannya Ibu.


"Ah, hai Rin. Lama tidak berjumpa" Ibuku menghampiri tante Rin dan bercipika cipiki ria.


"Ya hai. Tentu saja, sepertinya nyonya Weinhard ini sangat sibuk."


Pfft.. Hahaa hahaha..


Mereka tertawa bersama.


Aku menghampiri mereka, sekedar untuk menyapa.


"Selamat siang tante Rin" sapaku.


"Siang. Ah kamu sudah besar Rishaaa. Kenapa kamu begitu formal."


Oh tidak..! Tante Rin mencubit pipiku gemas. Ayolah tan, pipiku bisa melar. Aku tidak merespon tante Rin, hanya terpaksa sedikit tersenyum.


"Erika, kenapa wajah anakmu selalu seperti itu. Apa dia tidak bisa tertawa, menangis, marah atau apapun ? Coba kau lihat. Ah tapi tetap saja menggemaskan bagiku.. hihihi"


"Belum" jawabku.


Aishh...


"Rin, apa ada pakaian yang cocok untuk putriku ini ?"


"Ya tentu saja. Biar kucarikan." Ucap Tante Rin bersemangat.


"Nah, ini dia, cobalah" Tante Rin membawa beberapa baju untuk kucoba. Aku melirik Ibu dan beliau menganggukkan kepalanya. Huft, baiklah..


"Akan kucoba"


Aku mencoba beberapa baju dan memperlihatkannya pada Ibu. Ada 4 sampai 5 baji yang kucoba. Ibu menyarankan agar aku memilih baju yang ke 3.


Dress selutut dengan lengan panjang berwarna Coklat. Tidak terlalu banyak pernak pernik yang menempel, hanya renda renda cantik di bagian leher dan pita kecil di sisi pinggang kiriku. sederhana tapi nampak elegan


Aku tidak terlalu menyukai dress. Tapi aku suka warna coklat ini. Ibu pintar sekali. Ia tahu aku tidak terlalu suka dress, makanya ia memilih dress dengan warna yang kusuka agar Ia memiliki alasan saat aku menolak.


Ah baiklah, Aku tidak akan menolaknya. Untuk sekali ini. Not so bad.


Ibu mengajakku ke salon tapi aku menolaknya. Kami memutuskan untuk pulang.


Di rumah, Ibu sibuk mengawasi para pelayan untuk memasak makanan untuk makan malam. Sedangkan Aku, Aku sedang duduk bersantai di bangku taman belakang rumahku. Sepertinya, Aku menyadari sesuatu. Sesekali bersantai seperti ini, tidak terlalu buruk juga.


Hari semakin sore, warna jingga menghiasi langit sore ini. Aku bangkit untuk kembali ke kamarku dan membersihkan diri. Saat aku keluar dari kamar mandi, jubah mandi membungkus tubuhku dengan handuk melilit rambutku dan kulihat Ibuku sudah duduk manis di tepi ranjangku.


Aku di dudukkan di depan cermin. Ibu menyisir dan mengeringkan rambutku


Ibu memintaku memakai pakaian yang baru dibeli tadi. Kuturuti permintaan Ibuku. Toh, tidak ada salahnya kan ?


Kulihat hari ini Ibu ceria sekali.


"Bu, kulihat hari ini, Ibu begitu ceria ? Apa ada sesuatu yang istimewa ?" Tanyaku pada akhirnya.


"Sangat. Hari ini sangat istimewa bagi Ibu, Kamu dan bagi kita semua." Kata Ibu dengan senyuman tak lepas dari wajahnya yang sudah tidak muda, tapi tetap terlihat cantik dan anggun.


" Jadi itu alasan Ibu menemaniku membeli pakaian ini. Tapi, memangnya ada apa dengan hari ini ?" Tak ku pungkiri aku sedikit penasaran.


"Nanti, Kamu akan tahu sendiri sayang. Bersabarlah."


"Baiklah"


Tok tok tok


Perbincangan terhenti tepat saat seseorang mengetuk pintu kamarku.


"Masuk" Ucapku.


Pintu kamar terbuka mengantarkan seseorang untuk masuk.


"Disini rupanya kedua perempuan yang kusayangi." Suara seseorang yang baru saja masuk.


"Kakak" "Rasha" suaraku dan Ibuku bertubrukan dan memenuhi ruangan kamarku. Aku bangkit dari dudukku.


Kak Rasha mencium punggung tangan Ibu dan Ibu mencium Pipi kanan dan kiri Kak Rasha dan mencium keningnya.


"Akhirnya kamu datang juga, Nak" seru Ibu dengan senang bercampur haru.


"Iya Bu, bagaimana kabar Ibu ? sehat kan ?" tanya Kak Rasha.


"Ibu baik dan sehat, dan jauh lebih sehat lagi saat kau datang. Bagaimana denganmu, apa kamu makan dengan benar ?"


"Ibu bisa aja. Tenang saja bu, aku sangat baik dan sehat. Oh ya, bagaimana kabar adikku ini ?" Kak Rasha beralih bertanya padaku.


"Aku baik" jawabku singkat, tanpa menanyai kabarnya karena Ibu sudah menanyakannya dan Kak Rasha sudah menjawabnya.


"Rupanya sikapmu itu masih belum berubah. Tapi statusmu sudah akan berubah... aa..a awhh."


Ibu menjewer telinga Kak Rasha.


"Jangan mengganggu adikmu" Kata Ibu membelaku.


Aku masih mengernyitkan dahiku mendengar perkataan Kakakku. Statusku akan berubah, Hah ?.


Bersambung.