
Happy Reading..!
Jan lupa dukungannya ya..
👉 Like
👉 Comment, Krisan
👉 Vote
👉 Rate5
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanyaku pada Fahmi yang berdiri tepat disamping pintu kamar mandi.
"Menunggumu. Aku juga mau ke kamar mandi" Jelasnya.
"Oh" Aku melanjutkan langkahku dan membuka pintu ruang ganti. Baru saja kupegang knop pintu, langkahku terhenti.
Fahmi menahan pergelangan tanganku. Ia menunduk dan mencium punggungku yang terbuka. Aku menutup mataku dan menggigit bibir bawahku.
"Wangi" Ucap Fahmi yang masih asyik menciumi punggungku.
"Itu wangi sabun, Aku baru selesai mandi, kan?" Jawabku sambil melepaskan cengkeramannya di pergelangan tanganku.
Pagi pagi begini, apa yang akan kau lakukan? batinku menggerutu
"Aku akan segera memakai pakaianku" Aku masuk ke ruang ganti, dapat kudengar Fahmi menghembuskan nafas panjangnya.
°
°
Aku tidak pergi ke kantor, begitupun dengan Fahmi, katanya Dia mengambil cuti beberapa hari.
Aku menuruni anak tangga dengan Fahmi disampingku. Terlihat Ayah dan Kak Rasha sudah duduk dengan rapi di meja makan. Kami berjalan ke meja makan.
"Selamat Pagi" "Selamat Pagi, Ayah, Kakak Ipar" Kami mengucapkannya bersamaan, meskipun kalimat sapaan kami berbeda.
"Pagi" Balas Ayah.
"Uuuu, Pagi pagi kompak bener.. hehe" Kak Rasha mulai melancarkan aksinya menggoda kami. Uh, Kak Rasha.
"Duhh, Kalian masih pagi begini udah turun?" Tanya Ibu yang baru keluar dari dapur bersama Para Pelayan yang menyiapkan sarapan.
Eh!?.
"Justru karena ini sudah pagi, makanya kami keluar. Ini waktunya sarapan, kan?" Tanyaku
"Haha, siapa tau pengantin baru masih butuh istirahat gitu. Pasti cape, kan?" Ucap Ibu sambil tersenyum senyum.
Cape?
"Nggak cape kok, Bu" Jawabku santai. Ibu ada ada saja, Semalam kan udah istirahat. Orang segar bugar begini ditanya cape?
"Waah, ternyata Adikku ini kuat ya.. haha" Kak Rasha memberikan pernyataanya. "Atau, Adik Ipar yang kurang kuat?" Lanjut Kak Rasha dengan memasang wajah herannya yang sok polos.
Uhuk.. uhkk..
Fahmi yang sedang minum tersedak mendengar pertanyaan Kak Rasha. Fahmi meletakkan gelas bekas minumnya.
"Aduh Adik ipar, Maaf. Aku tidak bermaksud menyinggungmu.. Maaf ya.. hehe" Fahmi hanya tersenyum menanggapi Kakakku.
Aku melirik Fahmi. Dia, Aku tidak bisa menebak apa yang dirasakannya sekarang.
Oh, sepertinya sekarang Aku mengerti,
Pengantin baru
Cape
Kuat
Aku mengerti arah pembicaraan mereka, Aku mengerti apa yang mereka maksud..
"Kakak, Apa ini terasa menyenangkan bagimu, hm?" Tanyaku datar tanpa menatapnya.
"Sudah sudah, lebih baik kita sarapan" Ayah mengeluarkan suaranya. Semuanya diam.
Seperti biasa, Ibu melayani Ayah, mengambilkan sarapan untuk Ayah. Kemudian Ibu melihat kearahku sambil tersenyum.
"Risha, sayang. Ayo layani suamimu" Ucap Ibu lembut. Aku mengangguk.
Aku tidak tahu apa yang disukai ataupun yang tidak disukai oleh Fahmi. Aku terlalu malas untuk bertanya, ku ambilkan saja yang paling dekat. Fahmi tidak protes sedikit pun. Berarti Dia menyukainya, kan?
"Terima kasih" Ucap Fahmi. Aku hanya mengangguk padanya.
°
Setelah sarapan, Kami hanya menghabiskan waktu dengan menonton TV dan mengobrol di ruang keluarga.
"Eh, ngomong ngomong, kapan kalian pindah?" Ibu bertanya tentang rencana Fahmi yang akan mengajakku tinggal di rumahnya.
"Em, sepertinya besok, Bu. Kalo Ayah sama Ibu izinkan." Jawab Fahmi.
"Iya, biar bisa mandiri mengurus rumah tangga kalian" Timpal Ayah tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV.
"Gak kecepetan tuh?" "Nggak" Jawabku cepat memotong ucapan Kak Rasha.
"Kalian kan baru nikah kemarin, Kakak juga masih kangen sama Adik kesayangan Kakak" Lanjut Kak Rasha yang memasang cemberut yang dibuat buat.
"Atau, kalian gak sabar pengen berduaan yaa? Biar gak ada yang ganggu, kan?" Goda Kak Rasha.
"Iya, disini mah ada Kak Rasha yang ganggu" Ucapku datar dan menatap Kak Rasha dengan tajam.
Setidaknya setelah pindah ke rumah Fahmi, tidak ada Kak Rasha yang selalu menggodaku dan membuatku kesal.
"Hahaha.. Iya deh iya, yang gak mau di ganggu.. Gak akan Kakak ganggu lagi deh biar cepet bikin ponakan buat Kakak.. haha"
"Udah ah terserah" Ucapku. Kulihat dari tadi Fahmi hanya senyum senyum melihat interaksi antara Aku dan Kak Rasha.
Tak terasa, Kami menghabiskan waktu sepanjang pagi untuk mengobrol dan membicarakan banyak hal. Terkadang Ibu menceritakan masa kecilku dan kulihat Fahmi begitu antusias mendengarkannya.
Tanpa sadar, sedari tadi Aku memandang Fahmi. Sesekali Fahmi tersenyum padaku yang terus memandanginya. Aku merasa malu karena ketahuan mencuri pandang padanya. Tapi, setelah itu Aku akan kembali memandanginya.
Entahlah, sepertinya ada sesuatu yang membuat kehadirannya mempengaruhiku.
Plak.. Aku menepuk kedua pipiku, mencoba menyadarkan pikiranku. Kemudaian kualihkan pandanganku pada layar TV.
"Sha, Kamu kenapa?" Tanya Fahmi, nampak segurat kekhawatiran di wajahnya.
"Ah, nggak. Nggak kenapa napa" Jawabku. He, apa karena barusan Aku menepuk pipiku?
"Beneran? Sini Mas lihat" Fahmi menangkup kedua pipiku. Dia menatap lekat wajahku.
Sial, Semuanya menatap kepadaku sekarang. Aku malu, pipiku pasti sudah merah sekarang.
"Ini kok pipi kamu sampai merah gini. Pasti sakit, ya?" Fahmi mengusap pipiku lembut.
"Aduh, hei hei. Kalo mau pacaran, di kamar aja sana. Mau pamer ya sama jomblo kayak Kakak.."
Aku melepas tangan Fahmi yang menangkup pipiku.
"Makanya, Kak Rasha cepat nikah" Ucapku tersenyum mengejek, lumayan kan bisa ngeledekin Kak Rasha.
Ish..Huh.. Kak Rasha mendengus kesal.
"Ibu, Ayah.. Aku ke atas" Pamitku pada Ibu dan Ayah. Ibu dan Ayah hanya mengangguk.
Aku bangkit dari sofa tempatku berdiri. Sebelum ke kamar, Aku menghampiri Mbak Nela di dapur.
"Mbak, boleh bikinin Jus sekalian anterin ke kamar?"
"Boleh, Nona"
"Baiklah. Saya tunggu di kamar ya Mbak"
"Baik, Non"
Saat Aku keluar dari dapur, Aku berpapasan dengan Fahmi yang akan masuk ke dapur. Aku berjalan melewatinya.
Hari sudah menjelang siang, Aku merasa bosan seharian berada di rumah, ini diluar kebiasaanku. Rasa bosan ini membuatku mengantuk. Aku terkantuk di sofa kamarku saat sedang menunggu Jus ku yang tak kunjung datang.
Aku hampir terlelap dalam tidurku, saat kurasakan sofa disebelahku sedikit berguncang. Aku berusaha membuka mataku. Samar samar, kulihat seseorang duduk dan meletakkan segelas Jus di meja kecil didepan sofa.
"Eh, kebangun ya.. Ini Mas cuma mau nganterin Jus buat kamu. Kalo Kamu mau lanjut tidur lagi mending pindah di kasur gih, biar nyaman"
Aku mengucek kedua mataku.
"Hm, Aku ke kamar mandi dulu" Ucapku sambil berjalan ke kamar mandi karena Aku ingin buang air kecil sekalian mencuci mukaku.
Selesai dengan urusanku di kamar mandi. Akuu keringkan wajahku dengan handuk kecil dan duduk kembali di sofa di samping Fahmi.
"Ngomong ngomong, Mbak Nela kemana? Kok bukan Dia yang nganterin Jus nya?" Tanyaku setelah menyeruput Jus Alpukat kesukaanku.
"Ada di dapur. Tadi Mas yang minta biar Mas yang bawa Jus kamu" Ucapnya, kemudian merebut Jus yang kupegang dan meminumnya.
"Lho, Fah... Mm Mas, itukan punyaku" Protesku. Huh, hampir saja Aku menyebut Namanya langsung.
"Emm, Mas cuma mau nyobain Jus nya dikit. Ini Jus kesukaanmu, kan? Kenapa Kamu suka Jus Alpukat?" Tanya Fahmi
"Ya.. Suka aja" Jawabku sambil menyeruput kembali Jus yang sudah kurebut kambali dari tangan Fahmi.
Beberapa saat kemudian, segelas Jus Alpukat itu sudah habis. Kuletakkan gelas kosong itu di meja.
Aku duduk dengan menyandarkan punggungku di sofa. Fahmi mencondongkan tubuhnya padaku, wajahnya berada tepat di depan wajahku.
"A-Ada apa?" Tanyaku gelagapan.
Bersambung..
Ikuti terus kelanjutannya, ya..
Terima kasih.. 😉