
Happy Reading..!
Semoga suka dengan ceritanya😉
Mon maaf klo banyak kekurangan dan typo. Tapi, Mon dukungannya ding buat Author, dengan Like, comment, rate5 dan votenya klo boleh.. hehe😆
Risha
Pagi ini, jam menunjukkan pukul setengah 7. Aku baru saja bangun dari tidurku. Aku kesiangan. Ini semua karena semalam Aku hampir tidak bisa tidur, Aku baru saja akan terlelap saat jam akan menunjukkan pukul 2 malam.
Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang begitu menggangguku. Bahkan membuatku susah tidur. Aku harus ke kantor. Aku bangkit dan menghambur ke kamar mandi.
Saat aku sedang menggosok tubuhku, tatapanku kemudian tertuju pada cincin yang melingkar indah di jari manisku. Kilasan bayangan tentang kejadian semalam berputar kembali dalam pikiranku.
Sarapan pagi ini rasanya lebih terasa hangat dengan senyuman yang terpancar di wajah kedua Orang tuaku. Ntah karena keberadaan Kak Rasha atau karena keputusanku semalam atau mungkin karena keduanya.
Aku berangkat ke kantor setelah berpamitan dengan kedua orang tuaku. Sedangkan Kak Rasha, kulihat ia masih belum berangkat. Sepertinya Ayah dan Ibu juga masih ingin melepas rindu dengan putranya itu.
Aku melamun selama perjalanan. Saat sarapan tadi, Ibu memberitahuku bahwa siang nanti akan makan siang bersama Fahmi dan kedua Orang tuanya juga.
'Untuk menentukan tanggal pernikahan kalian. Semalam tidak sempat membicarakannya karena sudah terlalu larut' Ibu menjelaskan sebelum aku bertanya. Ucapan Ibuku ini terngiang di telingaku.
Tanggal pernikahan
Tanggal pernikahan
Tanggal pernikahan
"Nona"
"Nona" Panggilan dari Pak Budi menyadarkanku dari lamunanku.
"Kita sudah sampai, Nona" Ucap Pak Budi. Oh sudah sampai ternyata. Aku melamun sepanjang perjalanan. Ah, ini tidak seperti diriku yang biasanya.
Di kantor, Aku merasa kurang fokus. Kejadian semalam -lebih tepatnya- obrolanku dan Fahmi
Aku menyukaimu dan akan selalu menyukaimu sampai kapanpun. Aku akan membuatmu menyukaiku juga
Jika aku tetap tidak menyukaimu ?
Aku akan membuatmu berubah dan menyukaiku
Baiklah, berjuanglah
Huft.. Kenapa juga Aku malah menyuruhnya berjuang. Aku tidak tahu apakah dia bersungguh sungguh dengan ucapannya bahwa dia menyukaiku. Aku tidak tahu, Aku tidak mengerti. Ini pertama kalinya untukku.
Untuk sesaat aku merasa wajahku bersemu. Tapi, untungnya aku bisa segera mengatasinya.
Disaat aku tengah berusaha untuk mengontrol diriku. Dengan mudahnya dia -Fahmi- mengatakan 'Cantik' Segera kualihkan pada Bulan dan Bintang. Tapi lagi lagi dia mengatakan Aku cantik. Aku berusaha menampilkan wajah datarku.
Ahh.. Aku harus bekerja. Aku memijat batang hidungku.
"Anda baik baik saja, Nona ?" Anne bertanya padaku.
"Hm.. Ah ya. Aku baik. An, sepertinya aku ingin minum jus"
Tak lama, Anne datang dengan Jus Alpukatku. "Silakan, Nona" Ucapnya penuh hormat. "Terima kasih" Jawabku.
°
"Iya Bu. Aku segera kesana"
Jadi, kamu belum berangkat?
"Aku baru akan berangkat Bu" Aku menjawab Ibu yang bertanya diseberang sana dan mengangguk pada Pak Budi agar segera menjalankan mobil pada alamat yang Ibu kirimkan.
Cepatlah, mau berapa lama lagi kamu membuat calon suami dan calon mertuamu menunggu, hm?
"Iya, iya Bu. Aku tutup telp nya ya."
Huft. Pertanyaan Ibunya memang tidak susah. Ibu bertanya dengan pelan dan tersenyum, tapi aku bisa merasakan aura kemarahan Ibu dari suaranya itu. Akhirnya kuputuskan untuk segera menutup telp nya.
Aku membuka aplikasi Whatsapp di Handphone ku. 1 Pesan dari kontak dengan Nama Fahmi. Ah aku ingat. Aku membalas pesannya tadi pagi. Aku membaca kembali pesan pesan itu. Pesan sederhana.
Fahmi :
Selamat Pagi. Semoga harimu
menyenangkan
Saya :
Pagi. Semoga harimu
menyenangkan juga.
Fahmi :
Terima kasih
😉😘😘
Aku tidak mengerti. Kenapa tadi Aku membalas pesannya? Ah aku ingat. Ibu yang menyuruhku. Ibu memintaku untuk bersikap baik pada Fahmi. Yah, pasti karena itu. Karena Ibu yang memintaku.
"Kita, sudah sampai Nona." Pak Budi
"Terima kasih Pak."
°
"Ayah, Ibu. Maaf telat. Om, Tante. Maaf membuat kalian menunggu." Aku meminta maaf dan sedikit membungkukkan badanku.
"Tidak apa sayang. Mari, duduklah" Bukan suara Ayah maupun Ibuku. Tapi, suara Tante Melinda yang memintaku duduk disamping nya. Aku menatap Ibu, Ibu menatapku dan mengangguk.
"Terima kasih, Tante. Sekali lagi, saya mohon maaf membuat kalian menunggu" Ucapku sambil mendudukkan tubuhku di kursi.
"Sudahlah sayang. Kami mengerti." Tante Melinda tersenyum padaku. Begitupun Om Wisnu dan Fahmi yang tersenyum. Aku membalasnya dengan tersenyum juga.
°
°
Aku menghempaskan tubuhku diatas kasur setelah memakai piyamaku. Kulihat jam menunjukkan pukul 8 malam.
2 Minggu lagi, Ya? Kenapa mereka begitu terburu buru? Huft. Kupijat pelipisku. Aku merasa agak pusing.
Yah, sudah diputuskan. Pernikahan akan diadakan 2 minggu lagi. Aku agak terkejut, bahwa dalam 2 minggu lagi, Aku akan menikah.
Dalam 2 minggu ini, keluargaku dan keluarga Fahmi begitu sibuk mengurus pernikahan ini. Selama 2 minggu ini, Aku hanya bertemu dengan Fahmi saat memilih cincin pernikahan dan gaun pernikahan. Tidak ada pertemuan lagi sebelum maupun setelahnya.
Tidak terasa, Hari ini H-3 dari hari pernikahanku. Ibu memintaku untuk tidak pergi ke kantor, tapi Aku menolaknya dengan halus, bahwa aku harus mengurus beberapa hal sebelum aku mengambil cuti beberapa hari. Akhirnya, Ibu mengizinkanku.
"Baiklah, tapi mulai besok, kau harus tetap dirumah."
"Baik Bu. Hari ini terakhir. Aku berangkat Bu." Aku pamit dan mencium punggung tangan Ibuku dan Ayahku.
"Oh iya, Bu. Aku berangkat sendiri saja ya? Takutnya Ibu membutuhkan Pak Budi disini."
"Tapi, sayang.."
"Tidak apa, Bu. Aku juga tidak akan lama."
"Bagaimana kalo kamu minta Fahmi untuk mengantarmu?"
Oh tidak !
"Tidak perlu, Bu. Aku tidak ingin merepotkannya." Aku beralasan.
"Ooh. Hm Baiklah. Hati hati ya, Sayang."
"Baik, Bu."
Aku berangkat ke kantor dengan menyetir mobil sendiri. Ah senangnya, bisa mengendarai mobilku sendiri.
Saat Aku sedang menyetir. Tiba tiba, seorang perempuan muda menyeberang jalan sembarangan. Nasib baik aku masih sempat menghentikan mobilku sehingga tidak sampai menabraknya. Bisa merepotkan kalo Aku sampai menabraknya.
Aku akan melajukan mobilku kembali ketika perempuan tadi sudah menyingkir, tapi dia malah mengetuk kaca mobilku. Aku ingin tidak peduli. Tapi, ntah kenapa Aku malah membuka kaca mobilku.
Nafasnya memburu, wajahnya terlihat gusar dan ketakutan. Aku ingin mengabaikannya. Toh itu juga bukan urusanku. Tapi, saat kulihat sekali lagi wajahnya, Aku mempersilakan dia masuk ke mobilku.
"Aku dikejar kejar penagih utang" Jelas gadis yang duduk disampingku.
"Kenapa?" tanyaku yang sebenarnya tidak begitu ingin tahu.
"Kenapa? Orang tuaku punya utang pada mereka."
"Kau salah. Seharusnya kau membayar utang utangmu."
"Tapi, Aku belum punya uang, sekarang."
"Tapi, tidak seharusnya kau kabur"
Ishh.
Kulihat, dia memgerucutkan bibirnya.
"Baiklah, bisa kau menolongku dengan memberiku pekerjaan?" tanyanya.
"Kenapa aku harus menolongmu? Kau bukan siapa siapaku. Aku bahkan tidak mengenalmu."
"Kau harus menolongku. Namaku Sinta Elisa. Siapa namamu?" Tanyanya dengan santai
"Risha, namaku Risha."
"Baiklah, Risha. Sekarang kita sudah saling mengenal dan sekarang kita berteman. Sebagai seorang tem..."
"Siapa yang mau jadi temanmu?" Aku tersenyum sinis padanya.
Dia cemberut. Matanya mulai berkaca kaca. "Baiklah, jika kau tidak mau menjadi temanku, tapi aku akan menganggapmu sebagai temanku, Kau sudah menolongku, maaf aku merepotkanmu. Turunkan Aku didepan sana." ucapnya.
Seharusnya Aku senang dia menyerah dan tidak memaksaku membantunya lagi. Tapi, mendengar ucapannya, sudut kecil hatiku merasa iba.
Bersambung..