
Happy Reading..😘
Ikuti terus ceritanya ya. Jan lupa dukungannya juga :
👉 Like
👉 Comment - krisan
👉 Vote
👉 Rate5
"Jika Kamu tidak suka, Kamu bisa menyimpannya, tidak perlu memakainya."
"Aku akan memakainya" Ucapku. Fahmi masih tersenyum.
"Jika Aku tidak memakainya, nanti mereka curiga kalo ada sesuatu yang tidak beres" Lanjutku.
-------------------------------------
Fahmi POV
Sha, apa kamu tidak mencintaiku meski hanya sedikit?
Aku tau Kamu sangat menyayangi Orang tuamu, tapi..
"Apa tidak ada alasan lain?" Tanyaku lirih.
"Hah?!" Risha terheran dengan pertanyaanku. Kupikir Dia tidak akan mendengarnya.
Maksudku apa Kamu hanya ingin menjaga perasaan Ayah dan Ibu? Bagaimana dengan perasaanku?
Ah tidak, Aku tidak boleh egois. Setidaknya, Aku masih bisa bersamamu, Risha. Aku bersyukur karena bisa berada disampingmu.
Aku memegang dagu mungil Risha
"Apa benar benar tidak ada alasan karena ingin bersamaku, Hm?" aku tersenyum menggodanya.
Sepertinya Risha tersipu? "A-Aku.." Jawabnya gelagapan..
Sial, Dia terlihat menggemaskan saat tersipu begitu. Aku melepaskan tanganku yang memegang dagunya. Aku takut tidak bisa menahan diriku.
Ahahaha..
"Tidak apa, Sha. Kamu tidak perlu menjawabnya, Aku hanya ingin menggodamu.. Hahaha" Aku menarik ujung hidungnya gemas.
"Uhk.. Mas, Kamu selalu saja menggodaku. Sepertinya Kamu sangat berpengalaman dengan wanita, ya?" Risha mengucapkannya dengan datar.
Kamu salah, Sha. Hanya Kamu yang membuatku tergila gila dan terobsesi untuk memilikimu.
"Tidak, Aku hanya milikmu, selalu milikmu" Ucapku
Ya, dulu, sekarang dan selamanya. Aku milikmu, Sha.
Aku meraih tangan Risha dan mencium punggung tangannya. Maaf karena Aku sudah membuatmu menangis..
"Aku akan selalu berusaha agar Kamu bahagia" Ucapku menatap manik matanya yang jernih.
"Terima kasih" Ucapnya.
Meskipun Risha terlihat seperti orang yang dingin dan tidak peduli. Tapi, Dia orang yang tidak segan mengucapkan terima kasih ataupun meminta maaf jika itu diperlukan. Dia orang yang bisa menghargai orang lain. Bahkan Dia juga selalu berterima kasih pada supirnya. Aku tau itu karena Aku selalu mengawasinya.
Selama ini Aku selalu mengawasinya, melihatnya dari jauh. Dari itu Aku tau, Risha ini orang yang seperti apa. Aku sangat mengenalnya, meski Dia tidak mengenalku, Aku hanya bisa tersenyum kecut mendapati fakta bahwa Risha sama sekali belum mengenalku.
Baiklah, itu tugasku sekarang. Aku akan membuatmu selalu memandangku.
°
°
°
Hari ini, Aku akan membawa Risha ke rumahku. Kami akan mulai berlayar mengarungi bahtera rumah tangga dengan kapal Kami sendiri.
"Apa kamu sudah siap?" Tanyaku.
"Aku siap" Ucapnya yakin. Atau mungkin mencoba meyakinkan Aku dan dirinya sendiri. Aku mengakui usaha dan keberaniannya. Tapi, terkadang Aku juga takut dengan keberaniannya, Bagaimana jika Risha tidak merasa bahagia dan terus hidup dalam keterpaksaan?
Ah sudahlah. Sepertinya ini bukan saatnya Aku memikirkan hal itu. Risha sedang berjuang, maka Aku akan selalu mendukungnya. Aku akan membahagiakannya.
Risha sudah memasukan beberapa pakaiannya dalam koper. Aku memperhatikannya.
"Mas, kenapa memperhatikanku terus?"
"Mau aja"
Risha memutar bola matanya, mungkin Dia merasa risih atau malu jika Aku memperhatikannya.
Sumpah, gemes. Aku jadi gregetan sendiri. Huft..
Ayah dan Ibu mertuaku ingin mengantar Kami sampai rumah. Tapi Risha menolak dengan alasan mau membenahi rumahnya dulu.
"Iya kan, Mas?" Tanyanya
"Eh, iya."
"Ayah Ibu bisa main atau nginep disana, tapi ntar kalo rumahnya udah di beresin, kan Mas?" Tanya Risha lagi.
Aku hanya bisa meng'iya'kan Risha. Pasti Dia masih butuh waktu buat menata hidupnya lagi setelah menikah denganku.
Kami pamit dan mencium punggung tangan Ayah dan Ibu.
Ayah memeluk Risha dan mencium pucuk kepala Putri tersayangnya. Tak lupa, beliau juga memelukku
"Ayah titip putri Ayah. Tolong jaga dan sayangi Dia" Pinta Ayah padaku.
"Iya Ayah" Ucapku. Pasti
"Risha, sayang. Ingat pesan Ibu, jaga selalu pernikahanmu."
"Iya Bu" Risha tersenyum tipis. Risha hampir jarang tersenyum, sekalipun dengan orang terdekatnya. Ekspresi datar atau dinginnya, hampir menguasai tampilan wajahnya.
Dalam mobil, Risha hanya diam saja. Sepertinya, Dia tidak berniat mengeluarkan sepatah kata pun. Aku hanya meliriknya sesekali dari balik kemudiku. Keheningan tercipta, hanya suara deru mesin mobil yang terdengar.
"Mau makan siang dulu?" Tanyaku memecah keheningan.
"..Boleh" Jawabnya.
"Mau makan siang dimana?"
"Aku tau tempat yang bagus" Ucapnya sedikit antusias.
"Baiklah, tunjukkan padaku" Pintaku.
Risha menunjukkan jalannya dan sampailah Kami di sebuah tempat makan sederhana. Ternyata tempatnya tidak terlalu jauh dari kantornya Risha. Aku akui tempatnya sangat sederhana dan sangat tenang. Sangat cocok dengan kepribadian Risha.
Lingkungannya asri dan sejuk. Sepertinya pengunjungnya juga tidak terlalu banyak dan hanya ada beberapa meja. Pelayannya juga ramah.
Tak lama pelayan datang membawa pesanan kami. Suasana makan sangat tenang. Tidak ada obrolan obrolan yang terselip. Sepertinya Risha menikmati suasananya.
Selesai membayar, Kami memutuskan segera berangkat. Hanya memakan waktu sekitar 20 menit untuk sampai di rumah baru kami.
"Sudah sampai.." Ucapku seceria mungkin
"Sampai? Ini rumahnya?" Wajah Risha nampak berbinar
"Ya. Apa Kamu suka?"
"Suka" Jawabnya singkat.
Rumah ini memang tidak sebesar dan sebagus rumahnya Risha. Hanya rumah minimalis 2 lantai dengan halaman yang lumayan luas yang sengaja ku pilih untuk keluarga kecilku.
Aku meletakan koper di samping tangga. Sebelum istirahat, Aku mengajak Risha melihat lihat rumahnya.
Rumah yang di dominasi warna abu ini hanya terdapat garasi, ruang tamu, dapur dan ruang makan, 3 kamar tidur -1 di bawah, 2 di lantai atas- dengan kamar mandi di dalamnya.
Halaman depan dan belakang yang lumayan luas untuk tempat bermain anak anak kami kelak. Di halaman belakang terdapat kolam ikan kecil dan gazebo tempat bersantai atau sekedar menikmati langit malam dengan beberapa tanaman bunga yang ditata agar terlihat seperti sebuah taman kecil.
"Bagaimana menurutmu?" Tanyaku
"Hm.. Bagus" Jawabnya.
Setelah melihat halaman belakang, Aku mengajaknya masuk kembali.
"Dimana kamar kita?" Tanya Risha membuatku agak kaget. Aku pasti terlihat seperti orang bodoh. Tapi, Dia bilang "kamar kita?" Sial, kenapa Aku mudah sekali bersemu saat bersama Risha. Aku seperti remaja yang baru saja merasakan yang namanya kasmaran.
"Eh itu, k-kamar ki-kita di atas" Ucapku gelagapan. Ah memalukan.
"Ok ok"
"Ayo" Ajakku, berjalan mendahuluinya dan membawa koper menuju kamar yang akan kami tempati.
"Ini dia, ayo masuk" Ajakku setelah membuka pintu kamar.
"Lalu kamar sebelah tidak di gunakan?" Tanya Risha yang sudah terduduk di tepi ranjang.
"Kamar sebelah sudah Mas sulap menjadi ruang kerja. Rencananya untuk kamar anak kita, tapi, sepertinya untuk saat ini masih belum diperlukan." Aku menampilkan senyum terbaikku untuk istri tercintaku.
"Ooh"
"Mas ke kamar mandi duluan, boleh?" Tanyaku.
"Hm" Aku anggap itu sebagai jawaban. Tapi kemudian..
"Eh, boleh Aku duluan, Mas? Aku hanya akan mencuci mukaku, setelah itu aku akan istirahat"
"Baiklah"
Risha membuka kopernya, mengambil handuk dan pakaian santainya. Kemudian berhambur ke kamar mandi.
Tak lama, Risha sudah keluar dengan pakaian santainya.
"Letakkan saja pakaian kotornya di keranjang cucian. Nanti Mas panggil Bi Mina untuk mencuci pakaian dan membereskan rumah"
"Sepertinya Aku bisa mencucinya sendiri. Sebelum kembali bekerja, Aku akan belajar mengerjakan pekerjaan rumah."
"Kamu yakin?"
"Hm. Aku akan berusaha"
"Baiklah jika itu maumu. Tapi, jangan terlalu memaksakan diri." Ucapku.
Aku mengambil handuk dalam lemari dan berhambur ke kamar mandi.
Risha, Kamu selalu berusaha. Aku tidak akan mengecewakanmu.
End POV
Bersambung..