
WARNING18+ (Belum cukup umur, skip aja ya!)
Happy Reading...😘
Jan lupa dkungannya :
👉 Like
👉 Comment-krisan
👉 Fav
👉 Rate5
👉 Vote
Terima kasih...😉
Kamu begitu baik, tulus dan pengertian, bagaimana bisa Aku tidak menyukaimu? Kamu harus bertanggung jawab, Mas. Karena sepertinya, Aku memang sudah menyukaimu.
°
°
°
Sore hari, Ibu dan Ayah benar-benar datang dan untung saja Aku sudah pulang dari kantor. Tepat saat Aku baru saja selesai mandi dan berganti pakaian, Ayah dan Ibu datang berkunjung.
"Mari masuk Ayah, Ibu" Ajak Mas Fahmi setelah Kami menyalami keduanya.
"Waah, rumahnya bagus yah" Puji Ibu.
"Terima kasih, Bu. Ngomong-ngomong, dimana Kak Rasha? Tidak ikut kesini kah?" Tanya Mas Fahmi.
Aduh, Mas. Jangan bahas Kak Rasha, ntar orangnya no...ngol.
"Hai adik ipar" Kan, baru aja di omongin.
"Nah, ini Dia Rasha. Diajak berangkat bareng gak mau, tapi ini datangnya juga hampir barengan. Emang habis ngapain dulu, Kak?" Tanya Ibu.
"Haha, tidak ada Bu" Jawab Kak Rasha
"Oh iya, Ibu sengaja datang sekarang biar Kita bisa masak bersama. Tunggu sebentar lagi, Mereka belum datang juga ya?" Ucap Ibu setelah baru saja duduk di sofa
"Mereka siapa, Bu?" Tanyaku yang ikut duduk di sofa.
"Mama sama Papa nya Fahmi"
Aku melongo mendengar jawaban Ibu. Jadi mereka berencana untuk makan malam disini juga? Apa Mas Fahmi sudah tahu? Aku menatap Mas Fahmi, sepertinya Dia juga tidak tahu karena nampaknya Ia juga terkejut.
Ting tong
"Itu pasti mereka" Ucap Ibu sumringah. Aku bangkit untuk membukakan pintu diikuti Mas Fahmi.
"Sayang, Mama kangen. Bagaimana kabar kalian" Mama memelukku hangat
"Kami baik Ma. Mari masuk, Ibu juga sudah di dalam" Ucapnya sembari mencium punggung tangan Mama mertuaku.
Papa dan Mas Fahmi berpelukan dan Papa nampak menepuk punggung Mas Fahmi dengan penuh rasa bangga.
"Papa apa kabar?" Tanyaku setelah mencium punggung tangan Papa. Beliau mengelus kepalaku lembut. "Papa baik melihat kalian juga baik baik saja" Beliau tersenyum hangat. Aku tersenyum.
***
Seperti kata Ibu, Kami bertiga -Aku, Ibu dan Mama- dibantu Bi Mina sedang menyiapkan makan malam. Aku malu dan gugup karena Aku tidak bisa memasak.
"Maaf, Ma. Aku belum bisa memasak" Ucapku
"Tidak apa sayang. Mama senang lihat Kamu mau ikut membantu memasak meski Kamu belum bisa. Kamu bisa belajar, pasti Kamu bisa"
Ternyata Mama bisa menerimaku dan tidak menjudge ku seenaknya, Beliau bisa mengerti, Aku bersyukur mempunyai mertua seperti Beliau.
"Maka dari itu, Ibu nikahin Kamu supaya Kamu mau belajar memasak dan pergi ke dapur. Selama ini Kamu hanya tahu kerja dan kantor"
Sepertinya Aku harus berterima kasih juga pada Ibu karena memintaku menerima Mas Fahmi.
Aku tersenyum tipis berharap mereka tidak menyadari Aku tersenyum-senyum.
"Ibu senang melihat Kamu tersenyum, sayang" Ucap Ibu masih fokus dengan masakannya.
Sebenarnya Aku hanya membantu yang Aku bisa, seperti mencuci sayuran, mengupas bawang, sisanya Aku hanya menonton.
°
°
°
Ibu dan Mama membicarakan tentang honey moon untukku dan Mas Fahmi. Mas Fahmi mengatakan bahwa Kami sedang sama-sama sibuk, tidak bisa pergi jauh-jauh.
"Kalian kan pengantin baru, masa belum memikirkan honey moon kemana, gitu?" Tanya Mama.
"Nggak perlu kemana-mana, Ma. Toh setiap malam juga udah kayak honey moon, iya kan sayang?" Tanya Mas Fahmi sambil tersenyum dan merangkul bahuku membuat wajahku memanas.
"Uuh, manisnya. Jadi ngiri deh sama yang masih muda" Timpal Ibu.
Ibu hentikan, Mas Fahmi hanya mengarang saja.
"Duh, Risha sampai merah gitu, malu ya?"
Mereka tertawa melihat reaksiku. Ah kenapa Aku bisa bersemu segala sih.
°
Selesai makan malam dan mengobrol sebentar, Aku meminta Ayah-Ibu dan Papa-Mama mertuaku untuk menginap karena sudah lumayan larut. Tapi mereka menolak dengan alasan tidak mau mengganggu.
"Kakak nginap, boleh?" Tanya Kak Rasha bersemangat. Sebelum Aku menjawab, jeweran Ibu di telinga Kak Rasha sudah menjawabnya terlebih dahulu.
"Kakak, pulang sama Ibu, jangan ganggu Adikmu" Ibu menyeret Kak Rasha untuk ikut pulang.
"Kalian cepat istirahat ya! Kami pulang dulu" Ucap Ibu.
Aku dan Mas Fahmi menyalami mereka bergantian dan kembali masuk setelah kepergian mereka.
"Terima kasih, Bi. Sekarang Bibi bisa istirahat, pasti Bibi cape, kan?" Ucapku, sedangkan Mas Fahmi melingkarkan tangannya di pinggangku, kepalanya tertunduk di pundak kiriku.
"Iya, Non" Jawab Bi Mina, sesaat tatapannya tertuju pada tangan Mas Fahmi kemudian tersenyum. Sumpah, Aku malu.
"Bibi, saya kan sudah bilang, Bibi panggil saja saya Risha, tidak perlu pakai Nona segala, Bi" Ucapku sambil menyingkirkan tangan yang melingkar di pinggangku.
"Tidak apa, Non. Bibi nyaman seperti itu"
"Baiklah, senyaman Bibi saja. Selamat malam, Bi"
"Selamat malam, Non. Den Fahmi kayaknya sudah cape dan mengantuk" Bi Mina tersenyum dan kubalas dengan senyuman juga.
Bi mina sudah memasuki kamar di lantai bawah. Aku berjalan menaiki tangga.
"Mas, Kamu kenapa sih? Cape banget ya?" Mas Fahmi biasanya tidak seperti ini. Ada apa sebenarnya?
"Hmm" Hanya itu jawaban Mas Fahmi. Kok kesal ya? Apa Mas juga kesal jika Aku hanya menjawab 'Hm' atas pertanyaannya? Gini ya, rasanya.
Sesampainya di kamar.
"Mas, Aku mau cuci muka terus sikat gigi dulu"
"Hmm"
"Mas, gimana Aku ke kamar mandinya kalo kamu terus begini?"
Akhirnya Mas Fahmi melepaskanku. Tapi, Dia mengikutiku masuk ke kamar mandi.
"Mas juga mau sikat gigi" Ucapnya, Mas Fahmi tersenyum melihatku terus menatapnya. Segera kualihkan tatapanku.
Setelah mengganti pakaianku dengan piyama, Aku mengecek Handphone, takutnya ada email penting mengenai pekerjaan, dan benar saja ada proyek baru yang ingin bekerja sama dengan perusahaan yang Aku kelola ini. Aku tersenyum senang.
"Sha?" Panggil Mas Fahmi yang kusadari sedari tadi terus saja memperhatikanku.
"Eh, iya Mas" Aku meletakkan handphone ku. Aku akan memeriksanya lagi nanti.
Mas Fahmi terus menatapku. Dia mendekatkan wajahnya, jarak antara wajah Kami hanya beberapa senti saja. Aku bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya yang menerpa wajahku.
"Aku sudah tidak tahan" Ucap Mas Fahmi, wajahnya memerah dan agak berkeringat padahal AC menyala. Tapi, Mas Fahmi seperti kepanasan.
"A-Ada ap...." Mas Fahmi membungkam mulutku, yang awalnya ******* lembut berubah semakin bernafsu.
Ada apa dengan Mas Fahmi? Ini tidak seperti biasanya.
Sesaat kemudian, Mas Fahmi sudah menindih tubuhku.
Dia melepaskan pagutannya dan bertanya
"Apa boleh?" Tanyanya dengan suara yang berat dan serak. Entah apa yang kupikirkan saat itu, Aku hanya tidak ingin membuatnya kecewa, Aku mengangguk.
Ini pertama kalinya untukku. Ucapan Anne siang tadi, terngiang di telingaku. Apa benar sakit?
Benar saja, Sakit, itu yang kurasakan pertama kali. Darah segar mengalir menodai seprai warna abu ini. Mas Fahmi mencium bibirku mengalihkan rasa sakit yang kurasakan.
Ruang dan waktu serta semua benda di kamar ini menjadi saksi bisu penyatuan Kami. Mas Fahmi mencium keningku dan Kami tertidur dengan berpelukan dibawah selimut tanpa sehelai benang yang menghalangi kulit Kami untuk bersentuhan..
Bersambung..