
Happy Reading...😘
Jan lupa dukungannya ya..hehe
👉 Like
👉 Comment-Krisan
👉 Vote
👉 Rate5
Terima kasih😉
Aku membuka mataku. Tangan Mas Fahmi melingkar di perutku. Sepertinya Aku harus terbiasa dengan semua ini. Setiap Aku membuka mataku di pagi hari, tangan Mas Fahmi selalu di posisi seperti ini.
Aku tidak mengatakan bahwa Aku membenci hal ini.
Semalam, Aku memberi tahu Mas Fahmi, bahwa hari ini Aku akan mulai bekerja lagi. Masih kuingat jelas wajah Mas Fahmi yang terkejut namun hanya mengangguk juga pada akhirnya. Ekspresi yang Mas Fahmi perlihatkan selalu terlihat menggemaskan.
Aku perhatikan saat tidur pun, Mas Fahmi terlihat sangat menggemaskan. Aku baru menyadarinya karena selama ini Aku tidak begitu memperhatikannya. Bulu matanya yang lebat, rambutnya yang nampak acak acakkan, hidungnya yang mancung dan tentu saja bibirnya yang sexy?
Ah tidak, Apa apaan pikiran liarku itu.
Aku mengusap wajahku dengan kasar. Aku harus cepat bangun. Hari ini Aku harus bekerja. Tapi, tangan ini seolah memenjarakanku.
"Mas...Maas bangun"
"Emzz, 5 menit lagi" Mas Fahmi malah mengeratkan dekapannya.
Baiklah Aku mengalah. 5 menit saja.
5 menit,
7 menit,
10 menit..
Aku jadi gemas sendiri.
Aku menatap wajahnya. Mas Fahmi masih tak bergeming meski berkali kali ku ketuk ketuk pipinya dengan jari telunjukku. Aku yakin sebenarnya Dia sudah bangun.
Baiklah, Ini cara terakhirku. Aku menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan. Huft....
"KEBAKARAAAN" Teriakku sangat keras. Aku yakin itu sangat memekakkan telinga.
"Hah!?. Kebakaran? Dimana? Dimana kebakaran?" Mas Fahmi Bangun dengan terkejut. Aku terkekeh melihatnya, Kena Kau.
"Risha!"
"Iya Mas?" Tanyaku memasang wajah datar.
"Kenapa sih Mas? Kamu masih mimpi ya?" Tanyaku lagi.
"Apa mimpi ya?" Gumam Mas Fahmi. Mas Fahmi terlihat lucu, Dia menganggap itu mimpi padahal itu suara teriakanku.
"Sebenarnya Ak..." Aku membulatkan mataku terkejut. Kalimatku tak dapat Aku selesaikan, karena Mas Fahmi membungkamku dengan mulutnya. Dia menciumku dengan mendadak. Aku tak dapat menghindari serangan dadakan ini.
"M...Mas" Ucapku disela ciuman itu. Aku berusaha mendorongnya, Tapi apalah daya tenagaku tak sampai menghentikannya.
Mas Fahmi memegang tengkukku, memperdalam ciumannya. Aku menepuk nepuk dadanya, agar Dia melepaskan ciuman itu, karena Aku sudah kehabisan nafasku.
Hah...hah...hah... nafasku memburu, Aku menatap tajam pada Mas Fahmi yang juga sedang mengisi Oksigen ke paru-paru nya.
"Itu hukuman karena Kamu sudah mengagetkan Mas" Ucapnya tersenyum tanpa dosa.
Uh, Aku mengusap bibirku. "Maaf" Ucapku lirih. Aku kapok, Aku tidak akan berteriak seperti itu lagi. Hukumannya sangat mengerikan, apa Dia mau membuatku mati kehabisan nafas?
Mas Fahmi mengacak acak rambutku. "Kalo Kamu mau membangunkan Mas, caranya gampang dan Kamu tidak perlu teriak-teriak seperti itu" Senyumnya semakin mengembang.
"Gimana?" Tanyaku penuh curiga.
Cium di bibir. Bisiknya dan dengan sengaja menghembuskan nafasnya di telingaku. Wajahku memerah, segera Aku mundur dengan waspada.
"A-Aku mandi dulu" Ucapku ber-alibi untuk bisa kabur dari situasi ini.
Aku mengambil handuk dan jubah mandi dan berlari ke kamar mandi. Aku mengatur nafas yang terengah engah dan mencoba menetralkan ritme jantungku.
Ritual mandi pagi memang sangat menyegarkan. Air mengguyur dari atas kepala sampai ke seluruh tubuhku.
Aku keluar kamar mandi berbalut jubah mandi dan handuk yang melilit di kepalaku. Aku tidak terbiasa memakai pakaian di kamar mandi.
"Sudah selesai?" Tanya Mas Fahmi mengalihkan perhatiannya dari telepon genggamnya. Aku mengangguk sebagai jawaban dan beralih membuka lemari pakaian.
Setelah Mas Fahmi berlalu ke kamar mandi, segera Aku memakai pakaianku dan mematut diriku di cermin. Mengeringkan rambutku dan mengikatnya ke belakang.
Aku sudah selesai bersiap saat Mas Fahmi menyelesaikan mandinya. Dia keluar dengan handuk yang hanya menutupi tubuh bagian bawahnya. Air menetes dari rambutnya dan melintasi dada bidangnya membuatnya terlihat sangat sexy.
Glek
Aku menelan ludahku. Melihat reaksiku, Mas Fahmi menyeringai. Bahaya! Alarm tanda bahaya dalam otakku berbunyi, menyadarkanku.
Sebelum Aku berhasil kabur, Mas Fahmi sudah berada di hadapanku. Aku mundur perlahan dan terhenti karena ada meja rias di belakangku.
"A-Aku bantu a...ambilkan pakaiannya aja ya" Jawabku gelagapan dan segera bergeser ke samping untuk mengambil pakaian Mas Fahmi di lemari.
"Aku keluar ya Mas" Ucapku setelah menyiapkan pakaian Mas Fahmi.
"Tunggu!" Pinta Mas Fahmi.
Langkahku terhenti mendengar perkataan Mas Fahmi. Mas Fahmi... apa maksudmu Aku harus melihatmu memakai pakaian? Tidak. Mas Fahmi hanya memintaku untuk menunggunya. Aku berdiri menghadap pintu dengan menunduk dan menutup mataku.
Tok tok tok
Aku terperanjat mendengar suara ketukan di pintu. Siapa? Bukankah hanya ada Aku dan Mas Fahmi di rumah ini? Aku mundur beberapa langkah dan menabrak sesuatu di belakangku yang ternyata Mas Fahmi.
"Mas" Ucapku menatapnya dengan mata bergetar.
Mas Fahmi tersenyum lembut dan merangkul bahuku. Seorang wanita paruh baya nampak tersenyum hangat di balik pintu saat Mas Fahmi membuka pintu kamar.
"Ada apa, Bi?" Tanya Mas Fahmi santai.
"Selamat pagi, Tuan. Sarapannya sudah siap, mari Tuan, Nyonya"
"Selamat pagi, terima kasih, Bi. Panggil saja saya seperti biasa Bi" Jawab Mas Fahmi, sedangkan Aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
"Oh iya sayang. Ini Bi Mina, Dia yang akan membantu mengerjakan pekerjaan rumah dan memasak. Bi Mina ini yang membantu Mama mengurus Mas dari kecil, Dia sudah seperti Ibu kedua bagiku. Bi Mina, ini istri saya Risha"
Aku menggamit tangan Bi Mina dan mencium punggung tangannya. "Salam kenal, saya Risha"
Mata Bi Mina nampak berkaca kaca. "Aden beruntung, Nyonya sangat cantik dan sopan"
"Bibi tidak perlu memanggil saya Nyonya, panggil Risha aja Bi" Ucapku.
"Tapi...."
"Tidak ada tapi Bi, Bibi sudah seperti Ibu kedua bagi suami saya, mana mungkin saya membiarkan Bibi memanggil saya Nyonya" Ucapku.
Bi Mina tersenyum "Baiklah, Nak Risha" Aku membalas senyuman Bi Mina.
"Ayo, Bibi sudah menyiapkan sarapan untuk kalian"
Kami mengangguk dan turun menuju ruang makan.
Mas Fahmi meminta Bi Mina untuk ikut sarapan di meja bersama Kami. Aku tidak keberatan untuk itu. Kami bertiga sarapan dengan khidmat.
Selesai sarapan, Aku membantu Bi Mina membereskan bekas sarapan Kami.
"Biar Bibi yang mencuci piringnya. Nak Risha mau berangkat kerja, kan?"
"Eh...ah iya Bi. Terima kasih" Ucapku.
"Sayang...Ayo Mas antar Kamu ke kantor"
"Iya Mas. Sebentar, Aku ambil tas dulu di kamar" Aku kembali ke kamar untuk mengambil handbag yang biasa kupakai untuk bekerja. Tak lupa juga Handphone yang sudah menjadi kewajiban yang harus dibawa saat keluar rumah.
"Bi, Risha sama Mas Fahmi berangkat dulu" Pamitku pada Bi Mina.
"Silakan Non" Bi Mina sepertinya belum terbiasa memanggil dengan namaku. Ah biarlah, Aku harus segera berangkat.
"Ayo Mas" Ajakku setelah masuk kedalam mobil. Mas Fahmi sudah berada di balik kemudi sedari tadi.
"Mas, ayo jalan" Pintaku lagi karena Mas Fahmi masih belum menjalankan mobilnya.
"Bensin nya abis"
"Yah, Mas gimana sih? Eh ini ada kok bensinnya masih penuh"
"Bukan mobilnya, tapi Mas"
"Lha, bukannya tadi udah sarapan?"
"Iti bensin buat tubuh Mas. Buat jiwa Mas bensinnya abis"
"Mas ngelantur apa sih?" Tanyaku jengkel.
Mas Fahmi menunjuk nunjuk pipinya kemudian menunjuk bibirku. Aku mengerti maksud Mas Fahmi.
Cup
Aku mencium pipi Mas Fahmi. Wajahku pasti sudah seperti kepiting rebus. Aku tidak peduli lagi asal Mas Fahmi cepat menjalankan mobilnya.
"Sini juga" Ucap Mas Fahmi menunjuk bibirnya.
"Ini udah siang Mas. Kita bisa terlambat"
Hahaha
"Baiklah. Lain kali saja" Mas Fahmi mulai menjalankan mobilnya.
Huft. Pagi yang penuh tantangan.
Bersambung..