Dry Ice

Dry Ice
Part 8


Happy Reading..!😉


Jan lupa like dan tinggalkan jejak, Ok..


Ikuti terus ceritanya ya. Krisannya jga boleh, biar Author bisa jdi lebih baik lgi berkarya nya.. Thanks a lot..😉


Aku merasakan malam yang semakin larut dari udara yang semakin dingin. aku memutuskan untuk masuk ke kamarku.


Kubaringkan tubuhku diatas ranjang dengan selimut yang kutarik sampai menutupi dadaku.


Hanya tinggal menghitung jam. Apa aku siap?


°


°


°


Hari pernikahan


Akhirnya Aku sampai juga di hari Ini, setelah melewati hari kemarin yang kuhabiskan hanya dengan diam dirumah ditengah kesibukan persiapan pernikahan hari ini.


Tinggal Nikah aja, sah, udah kan? Risha, kamu pasti bisa melewati ini semua. Suara gadis batinku menyemangatiku. Aku mengambil nafas dalam dalam kemudian menghembuskannya dengan pelan.


Aku duduk di depan cermin. Kuperhatikan pantulan diriku dalam cermin di dalam kamarku. Akad nikah dan resepsi akan dilaksanakan di Rumahku, Aku yang meminta hal ini. Kami juga tidak mengundang banyak orang, hanya keluarga dan kolega dari kedua belah pihak.


Ibu menghampiriku dan menatap diriku lewat cermin. Beliau memegang bahuku seolah meyakinkanku bahwa semuanya baik baik saja semuanya memang sudah ditakdirkan.


"Nak, Kamu akan segera menikah. Kamu akan menjadi seorang istri. Setelah itu, kamu harus menjalankan kewajibanmu dengan benar. Hormati suamimu, hormati setiap keputusannya jika itu untuk kebaikan, bersikap baiklah padanya, berbahagialah selalu." Ucap Ibu panjang lebar menasehatiku. Aku mendengarkannya tanpa membiarkan setiap kata yang beliau ucapkan lepas dari kepalaku, Aku mengingat setiap kata yang Ibu ucapkan padaku.


°


Satu persatu tamu sudah berlalu. Meninggalkan para pelayan untuk mengembalikan rumah seperti sebelumnya. Ayah dan Ibu meminta Kami - Maksudku Aku dan Fahmi - untuk beristirahat.


Aku mengajak Fahmi ke kamarku. Ku bukakan pintu kamarku, Fahmi mengikutiku masuk ke kamarku. Aku membuka pintu ruang ganti, membuka lemari dan berbalik menatap Fahmi..


"Mau mandi?" tanyaku sambil menyodorkan handuk yang kuambil dari lemariku.


Blush.. Wajah Fahmi memerah. He..hey, kenapa wajahmu memerah. Aku hanya menawarimu untuk mandi.


"Bersama?" tanya Fahmi dan tangannya mengambil handuk yang ku berikan. Sedangkan aku hanya mampu membulatkan mataku mendengar pertanyaannya.


"E.. ng nggak, maksudku kamu bisa mandi duluan." Aku terkejut dan gelagapan menjawab pertanyaan Fahmi.


Aku segera duduk di depan cermin dan membersihkan Make up yang menempel di wajahku. Dari bayangan di cermin, Kulihat Fahmi berjalan masuk ke kamar mandi.


Huft, jantungku berdebar debar. Apa karena ini pertama kalinya seorang pria masuk ke kamarku? selain Kak Rasha tentunya.


Tok tok tok


Seseorang mengetuk pintu. Aku bangkit untuk membuka pintu. Kudapati Mbak Nela menunduk padaku saat Aku membuka pintu kamarku.


"Ada apa, Mbak?" tanyaku


"Maaf, mengganggu istirahat anda, Nona. Nyonya meminta saya memberikan ini pada Nona." Ucap Mbak Nela dan menyodorkan paper bag padaku.


"Oh, Baiklah. Terima kasih." Setelah mengucapkan itu, Aku menutup pintu perlahan.


Apa ini? Sepertinya ini pakaian untuk Fahmi. Gumamku.


Ehm. Fahmi berdehem. Aku menatap kearahnya. Uh, Dia bertelanjang dada. Aku berusaha menetralkan detak jantungku.


"Ini pakaianmu" Aku menyodorkan paper bag yang Ibu berikan lewat Mbak Nela.


"Terima kasih" Ucap Fahmi tersenyum lembut padaku. Aku berlalu ke kamar mandi meninggalkannya. Aku berendam dengan air hangat sebentar dalam bath up yang sudah menjadi kebiasaanku untuk melepas penat. Setelahnya, Aku membersihkan badanku dan membalut tubuh polosku dengan jubah mandi dan melilitkan handuk di rambutku yang basah.


Fahmi sedang duduk di sofa panjang, mengotak atik Handphone nya. Aku tidak menghiraukannya tatapannya yang teralihkan padaku dan masuk ke ruang ganti.


Selesai memakai baju, Aku keluar dari ruang ganti dan duduk menatap cermin sekedar untuk menyisir dan mengeringkan rambutku. Keheningan menyelimuti ruangan kamarku.


Uuh, Ini terasa canggung sekali. Kenapa Dia diam saja? Biasanya Dia begitu cerewet saat mengobrol lewat chat Whatsapp.


Handphone yang kuletakkan di atas nakas di samping ranjangku bergetar. Aku bangkit dan berjalan untuk mengambil Handphone.


Beberapa pesan masuk Whatsapp, salah satunya dari Fahmi. Ku buka pesan dari Fahmi karena Rasa penasaran yang menggelitik.


I love You, Istriku.


Begitulah isi pesan dari Fahmi. Gerakan tanganku mematung. Padahal Aku ada di hadapannya, Kenapa Dia harus mengirim pesan? Apa Aku harus membalas pesannya? Ah, tapi.. Jika dia mengatakannya langsung, apa yang harus ku lakukan? Ntah bagaimana, tapi Aku malah membayangkan saat Fahmi mengatakannya langsung Istriku dan Aku yang memanggilnya suamiku. Ahh, tidak tidak, itu sungguh menggelikan.


Saat pikiran pikiran itu memenuhi kepalaku,


Grep.


Sepasang tangan kekar melingkar di perut rampingku. Ya, itu tangan Fahmi.


Dia memelukku dari belakang, Dagunya menempel di pundakku. Dia membisikkan sesuatu di telingaku "I Love You"


Tubuhku rasanya bergetar saat dia mendaratkan bibirnya dengan lembut di leherku. Aku tahu itu hal wajar bagi pasangan suami istri. Tapi, ini hal yang asing bagiku.


"Fahmi maaf, Aku merasa tidak nyaman seperti ini" Aku melepaskan tangan Fahmi yang melingkar di perutku dengan perlahan, berharap dia mengerti.


"Baiklah. Tapi, bolehkah kau memanggilku dengan panggilan Mas?"


"Haruskah?" tanyaku


"Ya.. yah, nggak harus sih. Tapi kalo kamu mau Aku akan merasa.. Bahagia?" Fahmi mengatakannya dengan agak ragu, mungkin dia takut Aku menolaknya, apalagi dengan alasan -yang menurutku - tidak masuk akal. Tapi, Bahagia ya?


"Hm, baiklah. Mas" ucapku.


Raut wajah Fahmi, maksudku Mas Fahmi menunjukkan raut yang bahagia. Dia menarikku ke dalam dekapannya, menenggelamkan wajahku di dada bidangnya. Aku bisa mendengar detak jantung Mas Fahmi yang berdetak kencang.


Ah, ternyata tidak buruk juga berada dalam dekapannya yang hangat dan segar. Aroma tubuhnya yang segar menenangkanku. Kurasakan, beberapa kali Mas Fahmi mencium pucuk kepalaku. Aku memejamkan mataku.


Cekrik


Deg.. Deg. Itu, suara kamera.


Seketika mataku terbuka dan segera melepaskan diri dari Mas Fahmi. Kudapati Kak Rasha yang sedang terkekeh sambil memandangi layar Handphonenya yang kurasa menampakkan adegan barusan -saat Aku dalam dekapan Mas Fahmi.


"Kakak, Apa yang Kakak lakukan?" tanyaku dingin. Kekehan Kak Rasha terhenti kemudian menatapku, Aku balik menatapnya dengan tajam setajam pedang yang siap menghunus.


"Hei hei Adikku sayang. Aku hanya membantu kalian mengabadikan moment kalian."


Hah!? membantu? bilang saja kau sedang mencari senjata untuk menggodaku, kan?


"Kakak, kemarikan Handphonemu." Pintaku bernada perintah.


"Ini Handphoneku. Kau juga punya handphone, kan? pakai saja Handphone mu.." Ah, Kak Rasha bahkan masih bisa tersenyum.


"Baiklah... Ibu.. Ibu.." Aku memanggil Ibu. Tak kunjung datang, akhirnya kuputuskan untuk mencari Ibuku.


"Eh, iya iya. Ini. Kau ingin Handphoneku, kan? Ini ambilah" Kak Rasha memberikan handphonenya padaku. Eh tumben langsung dikasih? Tapi sudahlah, bukankah itu bagus. Aku tersenyum menang.


Kucari fotoku yang barusan. Ini dia. Delete? Ya. Aku tersenyum sinis pada Kak Rasha dibalas senyuman aneh dari Kak Rasha.


"Aku sudah mengirimnya pada Ayah dan Ibu" Ungkap Kak Rasha dengan entengnya.


What the hell. Ahh Kak Rasha, Aku benci kamu. Ah, Mas Fahmi.


"Mas Kak Rasha, Mas. Gimana ini Mas?" Aku menarik ujung lengan baju Mas Fahmi.


"Gimana apanya, Sha?" What, Gimana apanya, katanya..?


"Fotonya, Mas"


"Yaudah lah, Sha. Udah di kirim ini. Kita juga nggak ngapa ngapin, lagian udah sah juga, kan?"


Bersambung..