Dry Ice

Dry Ice
Part 1


Happy Reading..


Jan lupa like sama Vomment nya, Ok.. 😉


Namaku Risha Anastasia Weinhard. Cukup panggil aku Risha. Orang tua ku adalah pemilik dari perusahaan yang bergerak di bidang Property dan Entertainment yang masing-masing di pegang oleh Ayah dan Ibu ku. Aku memiliki seorang Kakak laki-laki, namanya Rasha Angga Weinhard. Umur kami hanya selisih 2 tahun.


Aku tidak perlu peduli pada orang lain. Tak peduli apapun yang terjadi, jika pada akhirnya aku yang menang, itu sudah cukup. Itulah motto hidupku.


Waktu aku duduk di bangku Sekolah Dasar, teman-teman sekelasku memanggilku "Dry Ice". Ada beberapa julukan lainnya juga, seperti, Si ratu Es - Si Muka datar - muka tembok, dan lainnya. Tapi aku tidak peduli. Aku tidak merasa terganggu karena aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal seperti itu. Not Important.


Orang-orang memandangku sebagai pribadi yang acuh, sombong, egois tapi ada juga yang memandangku sebagai pribadi yang mandiri. Tapi, lagi-lagi aku tidak peduli.


Berbanding terbalik denganku. Kakak laki-laki ku, Rasha. Dia adalah orang yang ramah, murah senyum dan selalu peduli pada orang lain. Tapi dia juga orang yang begitu mandiri. Karena, kami di didik untuk seperti itu.


Ayah dan Ibu mempercayakan kedua bidang perusahaannya padaku dan kakakku. Aku memilih bidang Property, dan Kakakku di bidang entertainment.


°°°


Aku turun dari kamarku, penampilanku sudah rapi. Kemeja lengan panjang dan celana panjang, khas wanita kantoran.


Langkah kakiku menuruni satu persatu anak tangga. Kulihat ayah dan ibu sudah menungguku di meja makan.


"Selamat pagi, Ayah Ibu" sapaku, kemudian menarik kursi yang hendak ku duduki.


"Selamat pagi, sayang" balas Ayah dan Ibu hampir bersamaan.


"Maaf, membuat kalian menunggu" pintaku, merasa tidak etis karena membuat kedua orang tuaku menungguku.


"Tidak apa sayang" kata ayah lembut. "Ayo kita sarapan" lanjut ayah.


Ibu bangkit dari duduknya dan melayani ayah. Seperti biasanya.


"Mau Ibu ambilkan, sayang" tawar Ibu padaku.


"Tidak usah, Bu. Terima kasih. Duduklah, Ibu sarapan juga" pintaku.


Ibu duduk di kursinya kembali dan mengisi piringnya.


Sarapan kami di mulai. Terkadang diselingi obrolan ringan. Ayah yang sekadar bertanya keadaan perusahaan dan kesehatanku. Ibu yang selalu menasehatiku supaya menjaga pola makanku dan jangan sampai melupakan makan. Atau


"Nak, kapan kamu mau perkenalkan calonmu ?" tanya Ayah. Pertanyaan yang membuatku malas dan terkadang aku ingin mengacuhkannya.


"Maksudnya ?" tanyaku dengan wajah datarku, masih fokus dengan sarapanku.


"Calonmu, calon suamimu, calon mantu Ibu sama Ayah" jelas Ibu yang nampak gemas mendengarku balik bertanya.


"Oh" begitulah tanggapan singkatku.


"Jadi ?" tanya Ayah dan Ibu berbarengan.


Aku segera menyelesaikan sarapanku. "Jadi, aku sudah selesai sarapan. Ayah, Ibu, aku berangkat dulu." ucapku dan mulai bangkit dari kursiku.


"Hei, kamu belum menjawab pertanyaan kami." Ucap Ibu.


"Ntar bu, kalo udah ada. Aku sudah telat, aku berangkat dulu" Kataku, kemudian mencium punggung tangan kedua orang tuaku.


"Anak kamu itu yah, susah banget kalo udah ngomongin soal calon suaminya" Adu Ibu pada ayah yang masih bisa kudengar.


"Sudahlah bu, tenang saja. Percayakan saja pada Ayah." Ucap Ayah menenangkan Ibu.


Huft. Aku tidak tahu apa yang akan Ayah rencanakan. Tapi setidaknya untuk saat ini, aku masih bisa tenang.


Oh ya, aku lupa mengenalkan Ayah dan Ibuku. Ayahku, Jade Weinhard. Sosok yang tegas, tidak suka dibantah dan penyayang. Jika melihat tubuh tegapnya, yang pertama melihat mungkin akan merasa takut. Tapi sungguh, dia sangat lembut.


Ibuku, Erika Crimson Weinhard. Sosok yang cantik, anggun tak kalah tegasnya dengan Ayah. Seperti Ibu yang lainnya, Ibuku juga sangat cerewet dan mudah khawatir apalagi menyangkut masalah anak-anaknya.


Aku berjalan dengan anggun menuju pintu utama, dan sudah ada supir yang menyambutku di balik pintu.


"Mari Nona" Ucap Pak Budi sambil membungkukkan badannya sedikit padaku.


"Makasih, pak" ucapku.


Pak Budi sedikit berlari kemudian masuk dan duduk di kursi kemudi.


"Berangkat pak" pintaku yang langsung dituruti Pak Budi.


Di dalam mobil, kusempatkan untuk memeriksa beberapa berkas di email. Saat aku sedang fokus dengan berkas-berkasku, Pak Budi mengerem mobil secara mendadak, membuatku sedikit terhuyung kedepan.


"Maaf, Nona" ucap Pak Budi.


"Ada apa Pak ?"


"Itu Nona, ada seseorang menyeberang sembarangan"


Ku arahkan pandanganku ke arah yang ditunjuk Pak Budi. Kulihat seorang Pria dengan seekor burung dipangkuan tangannya. Pria itu segera menyingkir ke trotoar jalan.


"Jalan lagi Pak" pintaku setelah melihat semuanya kembali normal, tak peduli dengan apa yang telah terjadi.


Pak Budi kembali menjalankan mobilnya, membelah jalanan kota hingga Ia berhenti dan memarkirkan Mobil saat kami sampai di tujuan kami. Segera Ia turun dan membukakan pintu untukku.


"Makasih Pak"


"Sudah tugas saya, Nona"


Aku berjalan memasuki kantor. Beberapa karyawan yang melihatku, membungkukkan badannya tanda hormat padaku. Aku berjalan menuju lift, mengabaikan mereka yang nampaknya sudah terbiasa dengan sikapku.


Meskipun aku tahu tidak semua karyawan murni menyukaiku, meski beberapa diantara mereka ada yang memandangku dengan tatapan tidak suka dan membicarakanku di belakangku. Aku tidak peduli.


Aku tahu mereka bekerja untukku, tapi aku juga membayar mereka, bukan ? jadi selesailah urusan.


Aku juga tidak begitu santai, sampai aku mencari tahu siapa saja karyawan yang tidak menyukaiku. Maaf, waktuku terlalu berharga. Ada banyak pencapaian yang menunggu untuk ku raih.


Asistenku, Anne. Dialah yang memberitahuku tentang kelakuan para karyawanku, padahal aku tidak memintanya. Dia selalu bertanya, apa yang harus ia lakukan untuk membungkam mereka.


"Tidak perlu. Tidak perlu merepotkan dirimu, An. Aku hanya ingin mereka melakukan pekerjaan mereka sebagaimana seharusnya sebanding dengan apa yang aku bayarkan pada mereka. Itu cukup." Ucapku pada Anne, dengan tetap fokus pada pekerjaanku.


Jari jemariku masih asik menari nari diatas keyboard. Membalas beberapa email yang masuk.


"Oh ya, An. Apa saja agenda hari ini ?"


"Makan siang dengan Direktur PT. Astrea, dan ada rapat rutin bulanan."


"Baiklah"


"Tentukan tempat untuk makan siang dengan Direktur PT. Astrea dan minta setiap divisi untuk menyiapkan laporan mereka untuk rapat".


" Baik, Nona"


Anne berjalan keluar ruanganku dan meminta staf sekretarisku untuk melaksanakan perintahku.


°°°


Pukul 8 malam, selesai sudah pekerjaanku hari ini. Ya, hari ini aku lembur. Tapi aku segera pulang setelah Ibu menelponku. Aku duduk di mobil dengan menyandarkan kepalaku. Sepertinya aku tertidur selama di jalan.


"Nona, kita sudah sampai" Suara Pak Budi membangunkanku.


Aku mengerjapkan mataku, benar saja aku sudah di depan rumahku. Pak Budi dengan sigap membukakan pintu mobil untukku. Aku sedikit merapikan penampilanku sebelum keluar.


Saat Aku masuk, aku sudah disambut Ibuku.


"Nak, kenapa baru pulang ? Jangan terlalu memaksakan diri dan jangan terlalu sering lembur. Apalagi setelah kamu menikah nanti."


Pembicaraan itu lagi.


Bersambung.