Dry Ice

Dry Ice
Part 4


Happy Reading..!๐Ÿ˜˜


Jan lupa like nya dan tinggalkan jejak, Comment dan Vote nya klo boleh.. hehe๐Ÿ˜‰


"Aku baik" jawabku singkat, tanpa menanyai kabarnya karena Ibu sudah menanyakannya dan Kak Rasha sudah menjawabnya.


"Rupanya sikapmu itu masih belum berubah. Tapi statusmu sudah akan berubah... aa..a awhh."


Ibu menjewer telinga Kak Rasha.


"Jangan mengganggu adikmu" Kata Ibu membelaku.


Aku masih mengernyitkan dahiku mendengar perkataan Kakakku. Statusku akan berubah, Hah ?.


Aku memikirkan perkataan Kak Rasha. Apa maksudnya ? Aku ingat, Ibu juga bilang ini hari yang istimewa. Ada apa sebenarnya ? Huh, sudahlah. Aku tidak perlu pusing pusing memikirkannya. Aku akan segera tahu.


Bi Neni mengetuk pintu kamarku dan memberitahu bahwa tamu sudah datang. Kami harus segera turun untuk menyambutnya.


Ibu sudah turun terlebih dahulu. Sekali lagi aku menatap cermin memastikan penampilanku rapi. Aku membiarkan rambutku terurai. Kak Rasha menghampiriku dan menatapku dari cermin.


"Adikku ini sudah besar dan dewasa ternyata."


"Hmm" hanya itu jawabanku.


"Ayo kita turun. Kasian tamunya nungguin kamu kelamaan, gak turun turun, hihihi.."


"Menungguku ? Bukankah Ayah dan Ibu sudah menyambutnya ?"


Aku mengerutkan dahiku. Ntahlah, hari ini banyak sekali yang membuatku bingung. Meski itu tidak terlalu mempengaruhiku.


Kak Rasha mengangguk sambil tersenyum.


"He'em. Karena hari ini, kamulah pemeran utamanya."


He.. !? Aku semakin bingung di buatnya. Aku menutup mataku dan sedikit memijat batang hidungku.


"Tenanglah. Relax aja jangan terlalu tegang, jangan terlalu dikhawatirkan. Mungkin ini awal yang akan memberikanmu kebahagiaan." Kak Rasha berkata dengan begitu tenang dan yakin. Aku menganggukkan kepalaku.


"Percayalah Ayah dan Ibu selalu memikirkan dan menginginkan Kebaikan dan kebahagiaanmu." Nasihat Kak Rasha padaku.


"Iya, aku tahu."


Kami menuruni satu persatu anak tangga. Kulihat mereka sedang berkumpul dan berbincang di ruang keluarga. Aku dan Kakakku menghampiri mereka.


"Ini dia anak gadis kesayanganku, kemari, nak" pinta Ayah, Ibu menggeser duduknya, menyisakan ruang agar aku bisa duduk. Aku menurutinya dan duduk diantara Ayah dan Ibu.


"Sayang, kau masih ingat ? Dia Om Wisnu dan Tante Melinda, mereka teman sekaligus rekan bisnis Ayah dulu sebelum kita pindah ke kota ini, dan Itu Fahmi anak dari Om sama Tante."


"Oh iya, apa kabar Om, Tante ?" tanyaku sambil mencium punggung tangan Om dan Tante yang sebenarnya tidak begitu kuingat. Aku juga menjabat tangan pria yang katanya bernama Fahmi. Dia tersenyum padaku.


"Kami baik. Bagaimana denganmu ? kau sudah besar sekarang dan semakin cantik saja."


"Baik juga Tante. Tante bisa saja."


"Sayang, sebenarnya. Om sama Tante kesini untuk melamarmu untuk Putra Kami satu satunya, Fahmi." Om Wisnu menyampaikan maksud kedatangan mereka.


Deg


Aku terkejut bukan main. Tapi aku berusaha untuk tidak memperlihatkannya. Aku tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Aku hanya bisa menatap Ayah dan Ibuku bergantian.


"Dulu kami memang berencana untuk menjodohkan anak anak kami. Tapi, siapa sangka. Nak Fahmi ternyata juga memang menyukaimu dan berniat untuk melamarmu." Ayah menjelaskan padaku dengan senyum bahagia yang terus menghiasi wajahnya, begitupun dengan Ibu.


Aku mencerna setiap kata yang aku tangkap lewat indra pendengaranku. Dia menyukaiku ? Bagaimana bisa ? Aku bahkan tidak ingat kapan aku bertemu dengannya. Jikapun sewaktu kecil aku pernah bertemu dengannya, tapi aku benar benar tidak ingat.


"Ayah, Ibu, bisakah kita berbicara sebentar di kamarku ?" Aku bertanya dengan lembut dan sedikit memelas.


Ayah dan Ibu saling tatap dan kemudian menatap Om Wisnu dan Tante Melinda.


"Om, Tante. Sebelum memutuskan, Saya ingin bicara dulu sebentar dengan Ayah dan Ibu saya, Boleh kan Om, Tante ?"


"Baiklah, tidak masalah sayang."


Aku berjalan di depan Ayah dan Ibuku menuju kamarku. Kenapa tiba tiba seperti ini ?


"Ayah Ibu, Ada apa ini ?" Aku bertanya dengan tenang.


"Mereka ingin melamarmu, Nak. Mereka orang orang baik. Mereka pasti bisa menyayangimu dan menjagamu dengan baik." Ibu menjelaskan dengan lembut padaku.


"Ayah tidak akan memaksamu. Keputusannya ada di tanganmu." Ucap Ayah bijaksana. Tapi aku bisa merasakannya, Ayah berharap Aku menerimanya.


"Bagaimana menurut Ayah dan Ibu ? Apa kalian ingin Aku menerimanya ?" Tanyaku untuk meyakinkan keputusanku.


"Sebenarnya kami harap kamu menerimanya. Tapi, seperti yang Ayah katakan, Keputusannya berada di tanganmu. Kami akan menerima apapun keputusanmu." Kata Ayah.


Baiklah, Aku sudah memutuskannya.


"Aku akan menerimanya." Ucapku, seketika Ayah dan Ibu menjadi berbinar.


"Benarkah ?" Ayah dan Ibu bertanya berbarengan.


Aku mengangguk dan tersenyum. Itulah prioritasku, agar Ayah dan Ibu bahagia dan bangga padaku.


"Baiklah, ayo kita turun dan sampaikan kabar bahagia ini." Ibu nampak bersemangat sekali, Ayah terkekeh melihat semangat Ibu. Kemudian beliau berbalik dan bertanya padaku..


"Apa kau benar benar yakin, Sayang ?" tanya Ayah.


"Aku yakin Ayah" Ucapku penuh keyakinan untuk meyakinkan Ayah. Ayah tersenyum bahagia.


Setelah mendengar keputusanku, mereka memutuskan agar aku bertunangan terlebih dahulu. Malam itu juga aku bertunangan dengan pria bernama Fahmi Alfa Prayoga, Putra satu satunya dari pasangan Wisnu Prayoga dan Melinda Prayoga, yang bahkan namanya saja baru ku ketahui malam itu.


Aku dan Fahmi bertukar cincin. Sekilas, kulihat wajah pria itu bersemu merah.


"Terima kasih" Ucap Fahmi lirih.


"Untuk ?" tanyaku heran. Aku baru mendengar suaranya, dan kata pertama yang terucap dari bibirnya adalah 'Terima kasih' ?


"Karena kamu mau menerimaku."


"Hm"


"Sudah sudah, nanti di lanjut lagi ngobrolnya. Sekarang lebih baik kita makan malam dulu. Kasihan itu makanannya dianggurin.. hehe" Ucapan Kak Rasha menghentikan percakapanku dan Fahmi. Walau sebenarnya percakapan itu memang sudah terhenti.


Obrolan obrolan ringan menemani makan malam kami. Tentang Bagaimana Ayah dan Om Wisnu bertemu, Tentang hubungan baik mereka, tentang Fahmi yang suka ikut Om Wisnu berkunjung ke rumah kami. Tentang kami yang pindah ke kota ini dan menyebabkan kedua keluarga ini tidak berkomunikasi selama bertahun tahun.


Yah begitulah. Makam malam ini berlangsung dengan sangat lancar.


"Om, Tante, Boleh saya bicara berdua dengan Risha ?" Pertanyaan Fahmi pada Ayah dan Ibuku membuat semuanya kini menatap ke arahnya, begitupun denganku.


"Tentu saja, Nak. Kalian tentu perlu bicara berdua. Kalian sudah bertunangan dan kalian harus saling mengenal satu sama lain." Ayah memberi izin pada Fahmi.


Fahmi menatapku, Aku mengangguk dan bangkit dari dudukku. Aku mengajaknya ke taman di belakang rumahku.


Kami duduk berdua di kursi yang tersedia disana. Sesaat, keheningan menyelimuti kami seperti Langit malam yang menyelimuti bumi kala itu.


"Sekali lagi, terima kasih." Fahmi memecah keheningan.


"Hm, jangan berterima kasih terus." jawabku.


"Baiklah, Aku ingin bertanya. Apa kau masih ingat padaku ?" Tanya Fahmi kemudian.


"Sebenarnya, Aku tidak begitu mengingatnya." Aku menjawabnya dengan jujur.


"O oh. Yah, waktu itu kau memang masih kecil. Mungkin masih 3 tahunan, usiamu belum genap 4 tahun saat Aku dan Ayahku sering berkunjung ke rumahmu."


"Heem..."


Fahmi terdiam sejenak, kemudian..


"Kenapa kau mau menerima lamaranku, yang bisa dibilang kau bahkan belum mengenalku ?" tanya Fahmi pada akhirnya.


"Hn.. Ntahlah.. Tapi itu sudah menjadi keputusanku." Jawabku.


"Jadi, Apa kau benar benar yakin dengan keputusanmu ?"


Bersambung..