Dry Ice

Dry Ice
Part 5


Hai hai hai..


Dilanjut nih.. Mon maaf kalo bnyak Typo yang bertebaran. Tapi, mon dukungannya ding, Like-Comment sma Vote klo boleh.. hehe😅


Happy Reading.. !


Fahmi POV


Aku terdiam sejenak, kemudian..


"Kenapa kau mau menerima lamaranku, yang bisa dibilang kau bahkan belum mengenalku ?" tanyaku pada gadis di depanku ini


"Hn.. Ntahlah.. Tapi itu sudah menjadi keputusanku." Jawabnya.


Aku tidak tahu, tapi aku rasa gadis ini tidak menerimaku sepenuhnya.


"Jadi, Apa kau benar benar yakin dengan keputusanmu ?"


"Hmm" Jawaban Risha. Aku tidak dapat memastikan jawabannya itu sebagai 'Iya' atau keraguannya ?


Tapi, Aku sudah membulatkan tekadku. Aku akan membuatmu menerimaku sepenuh hatimu. Aku akan membuatmu memperhatikanku.


Keheningan kembali menyelimuti kami. Kami memandangi langit diatas kami. Sesekali Aku meliriknya, angin malam membelai lembut wajah cantiknya, rambutnya menari nari dengan lembut diterpa angin. Sesekali, Ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya.


Tuhan, betapa indahnya ciptaanmu ini.


"Cantik" tanpa sadar Aku bergumam.


"Iya, bulannya cantik, bintangnya juga." Risha menanggapi gumamanku dengan matanya yang tak lepas dari pemandangan diatas kami.


"Kenapa kau menyukaiku ?" pertanyaan Risha membuatku agak terkejut.


"Karena Aku.. menyukaimu" jawabku.


Risha mengangguk anggukan kepalanya. Ekspresi wajahnya tidak berubah.


"Aku akan mengatakan yang sebenarnya" Ucap Risha. Aku sedikit merasa gelisah. Apa yang akan dia katakan ?


"Aku menerima lamaran dan pernikahan ini, karena orang tuaku." Lanjut Risha. Ah, ternyata benar. Dia terpaksa menerimanya.


"Apa kau bahagia ?" tanyaku pada Risha. Dia mengalihkan pandangannya padaku.


"Jika orang orang tuaku bahagia, kenapa tidak ?" Jawab Risha yang masih menatapku.


"Baiklah" ucapku "Jadi, apa ada yang ingin kau tanyakan padaku ? ada yang ingin kau ketahui tentangku ?" tanyaku


"Hn.. Tidak ada" jawabnya, itu membuatku agak kecewa. Dia benar benar tidak ingin peduli tentangku ?


"Oh iya. Boleh ku minta nomor Handphone mu ?" pintaku


"Ok" jawabnya singkat.


Kami bertukar nomor Handphone.


'My Sweet heart' ku ketikkan Nama untuk nomor kontak gadisku. Aku tersenyum sendiri.


"Kenapa kau tersenyum ?" tanya Risha


"Aku menyukaimu dan akan selalu menyukaimu sampai kapanpun. Aku akan membuatmu menyukaiku juga" Jawabku, menyimpang dari pertanyaannya.


"Jika aku tetap tidak menyukaimu ?" tanya Risha dengan sedikit senyum yang ia tunjukan padaku.


"Aku akan membuatmu berubah dan menyukaiku" Jawabku yakin.


"Baiklah, berjuanglah" ucapnya. Apa dia sedang memberikan kesempatan untukku ?


"Tapi, aku punya beberapa syarat untukmu" lanjut Risha membuatku sedikit khawatir. Apa syarat yang akan dia minta...?


"Aku akan memenuhinya" Aku berusaha meyakinkannya dan meyakinkan diriku juga.


"Aku akan tetap bekerja setelah Aku menikah nanti." Ucap Risha. Sebuah pernyataan yang tidak bermaksud untuk meminta izin padaku, tapi lebih seperti sebuah pernyataan yang tidak ingin di bantah.


Dia tidak meneruskan atau menambahkan ucapannya. Hanya itu saja ? Ah kupikir dia akan meminta syarat yang aneh aneh seperti tidak boleh menyentuhnya, atau tidur terpisah atau syarat syarat aneh lainnya. Kekhawatiranku mereda.


"Baiklah. Tapi, Aku juga punya syarat untukmu." Ucapku


"Syarat apa ?"


"Kita akan tinggal berdua setelah menikah. Di rumahku. Tidak di rumah orang tuaku ataupun rumah orang tuamu." Aku sengaja mengajukan syarat ini agar aku bisa lebih dekat dengannya dan mengenalnya. hehehe..


Untuk beberapa saat, dia terdiam. "Baiklah" jawabnya pada akhirnya.


"Ini sudah terlalu larut. Apa kalian begitu menikmati kebersamaan kalian dan melupakan waktu.. " Itu suara calon Ibu mertuaku. Dia mengatakannya dengan tersenyum senyum. Aku tersenyum malu pada calon Ibu mertuaku.


Aku mengikutinya masuk kedalam rumah.


"Apa aku boleh menelepon atau mengirim pesan padamu ?" Aku bertanya dengan ragu.


Dia hanya menatapku, tapi tidak menjawabku. Hei Nona, kenapa bicaramu irit sekali. Kau tidak akan kehabisan energi hanya karena menjawab pertanyaan dariku, kan ?


Meskipun Risha belum menerimaku sepenuh hatinya. Tapi, hari ini Aku bersyukur sekali. Setidaknya, lamaranku di terima. Aku akan membuatmu menerimaku, pasti suatu hari.


Sebelum kami benar benar masuk kedalam rumah.


"Kamu cantik" Ucapku. Risha menghentikan langkahnya.


Risha berbalik dan menatapku. "Terima kasih" jawabnya, menampilkan wajah tanpa ekspresinya. Bodoh, bodoh. Dia pasti sudah banyak mendengar pujian seperti itu.


°


Aku dan Orang tuaku berpamitan. Risha dan Kedua orang tuanya mengantar kepergian kami.


Kulihat calon Ibu mertuaku menatap putrinya. Risha yang ditatap Ibunya mengangguk, kemudian Ia mengambil tanganku dan mencium punggung tanganku.


Ini kedua kalinya aku menyentuh tangannya, yang pertama saat aku memasangkan cincin tadi. Tapi, rasanya tetap sama. Jantungku rasanya bekerja dua kali lipat lebih cepat dari biasanya.


°


°


°


Aku pulang dan menginap di rumah Mamaku. Ya, malam ini aku memutuskan untuk menginap di rumah Orang tuaku. Memang biasanya aku selalu pulang ke rumahku sendiri yang baru ku beli beberapa bulan lalu. Aku mendapatkannya dari hasil keringatku sendiri.


Oh iya, sepertinya Aku belum memperkenalkan diriku.


Namaku Fahmi Alfa Prayoga. Tahun ini usiaku menginjak 28 tahun. Aku seorang Dosen. Aku menjadi Dosen di beberapa Universitas di kota Ini. Aku juga membantu di perusahaan Papaku.


Orang tuaku selalu menanyakan kapan aku akan menikah. Apalagi Mamaku, katanya tidak sabar ingin segera menimang cucu. Aku selalu mencari alasan bahwa aku ingin punya rumah sendiri dulu.


Beberapa bulan lalu, Aku membeli rumahku sendiri yang akan aku tinggali dengan Dia dan anak anak kami nanti. Orang tuaku menagih janjiku untuk menikah setelah aku bisa membeli rumah. Mereka mengancam akan menikahkanku dengan pilihan mereka jika aku tidak juga menemukan calon istriku.


Akhirnya, Aku menyampaikan keinginanku untuk menikahi gadis yang selama ini kusukai. Yang selalu kuperhatikan dalam diam, dari jauh.


Aku tersenyum mendapati kenyataan bahwa gadis itu akan segera menjadi milikku, pendamping hidupku. Setelah sekian lama, Aku hanya bisa memperhatikannya dari jauh, sekarang - tidak lama lagi, dia akan menjadi milikku.


Orang tuaku juga bahagia mendengar keinginanku. Apalagi setelah mereka tahu, gadis yang ingin aku nikahi itu ternyata putri dari teman mereka.


Aku membaringkan tubuhku di kasur. Kupandangi langit langit kamarku. Wajah Risha menghiasi langit langit kamarku atau mungkin - sebenarnya - menghiasi pikiranku dan memenuhi pelupuk mataku.


Tanpa kusadari aku terjatuh ke alam mimpi dengan senyum tersungging di bibirku.


Sinar mentari pagi menerobos masuk ke celah jendela. Aku mengerjapkan mataku berkali kali. Aku masih memakai kemeja yang semalam. Aku ingat, semalam aku langsung tertidur.


Aku tersenyum, lagi. Mengingat kejadian semalam. Aku dan Risha sudah bertunangan dan kami akan segera menikah.


Aku membuka ponsel yang semalam ku letakkan begitu saja di kasurku. Kubuka aplikasi Whatsapp di ponselku, Aku mencari cari kontak seseorang. Ini dia


'My Sweet Heart'.


Saya : Selamat pagi. Semoga harimu


menyenangkan.


Kutunggu sampai beberapa saat, tidak ada balasan. Tanda centang 2, tapi sama sekali belum dibaca.


Aku melihat jam di ponselku. Jam 7 pagi. Apa dia sedang menikmati sarapan bersama keluarganya ? pikirku.


Aku jadi malu sendiri. Aku baru bangun dari tidurku, sedangkan dia - mungkin - sudah rapi dan bersiap pergi ke kantornya.


Aku Segera bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Kebetulan sekali hari ini Aku tidak ada jadwal mengajar. Siang ini, kami akan makan siang bersama lagi untuk menentukan tanggal pernikahan dan mempersiapkannya.


End POV


°


Drrt, drrt


Handphone Fahmi berbunyi. Sebuah pesan menunggu Fahmi untuk membukanya. Layarnya yang masih menyala memperlihatkan pesan Whatsapp yang masuk dengan nama kontak 'My Sweet Heart'..


Bersambung..


Hai, bagaimana kabarnya hari ini ? Semoga sehat selalu ya.


Dan, oh iya.. Bagi yang menjalankan Ibadah Puasa, semoga selalu diberi kelancaran dan kesehatan ya..😉