Dry Ice

Dry Ice
Part 20


Happy reading...!


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. ±3 bulan sudah Aku menikah dengan Mas Fahmi.


Sarapan bersama, Makan malam bersama, terkadang makan siang bersama jika tidak ada kesibukan yang menghalangi. Bahkan, Menghabiskan waktu bersama di akhir pekan, entah itu jalan-jalan atau sekedar bersantai di rumah.


Seperti akhir-akhir ini, Mas Fahmi terus saja merengek ingin menonton bersama.


Saat sarapan


"Entar malem, Kita nonton yuk"


"Kayaknya gak bisa, Mas. Akhir-akhir ini Aku lagi sibuk banget"


Istirahat makan siang


"Ada apa, Mas?" Tanyaku pada Mas Fahmi yang terus saja menelepon meski sudah beberapa kali Aku mereject panggilannya.


Bioskop, yuk! Ajaknya dari seberang sana.


"Nggak bisa, Mas. Udah dulu ya Mas. Aku gak bisa terima telepon lama-lama"


Saat makan malam


"Sayang, kapan Kita mau pergi ke bioskop?"


"Nggak tau, Mas. Saat ini Aku lagi benar-benar sibuk, Mas"


Hampir setiap hari Mas Fahmi mengajakku pergi ke bioskop. Memangnya ada apa sih sampai Mas ngotot banget pengen ke bioskop?


Lama-lama, Aku benar-benar jengkel di buatnya. Aku tahu Mas terkadang suka merengek seperti anak kecil. Tapi, ini sudah keterlaluan. Anak kecil saja akan mengerti jika Kita bilang tidak bisa.


"Sha, bioskop?" Lagi-lagi Mas Fahmi membahas bioskop.


"Kamu tuh sibuk mulu sama pekerjaan Kamu"


"Mas tahu kan? Aku suka pekerjaan ini, ini adalah hal yang penting bagiku. Aku tidak bisa mengabaikan pekerjaanku, Mas"


Setelah itu, Mas Fahmi tidak pernah mengganguku lagi saat Aku sibuk dengan pekerjaanku. Saat Aku mengecek pekerjaanku di malam hari, Dia hanya menungguku dan melihatku.


Suatu malam Aku bertanya.


"Tumben Mas tidak banyak bicara Mas juga tidak lagi mengajakku ke bioskop?"


"Eh, iya? Karena Kamu lagi sibuk. Pekerjaanmu adalah hal yang penting bagimu, kan? Maka itu juga penting bagiku, Aku tidak mau mengganggumu" Mas Fahmi tersenyum lembut.


"Terima kasih" Ucapku tersenyum.


Esok harinya, Aku bekerja seperti biasa. Setelah sarapan, Mas Fahmi mengantarku ke kantor. Aku duduk di kursi depan di samping Mas Fahmi yang sedang menyetir. Tanpa sengaja, Aku melihat 2 kertas kecil di dashboard mobil. Setelah kuperhatikan baik-baik, sepertinya itu tiket untuk menonton di bioskop.


Kulihat tanggalnya sudah terlewat. Tepat di hari dimana Aku lebih mementingkan pekerjaanku. Ada sekelebat rasa dalam hatiku, rasa bersalah. Mas Fahmi sudah menyiapkannya dan Aku selalu menolaknya.


"Mas"


"Iya, kenapa Sha?"


"Mau nonton akhir pekan ini?"


"Seriously? Oke, tentu saja" Mas Fahmi menjawab dengan semangat.


"Mas akan menyiapkannya. Ada film yang ingin Kamu tonton?" Tanya Mas Fahmi


"Film apa saja, terserah. Aku ikut"


"Baiklah, akhir pekan ini" Ucap Mas Fahmi terlihat senang.


Tanpa sadar, Aku tersenyum melihat raut wajah bahagia dari Mas Fahmi. Yah, sepertinya Aku memang sudah berubah. Dulu, Aku tidak akan peduli pada orang-orang sekitarku kecuali Ayah dan Ibu. Aku tidak pernah memikirkan perasaan orang lain. Bahagia atau sedih, senang atau kecewa, menangis atau tertawa, asal tidak merugikanku itu urusan orang lain.


Sesaat berikutnya Aku melamun dengan berbagai pernyataan dan pertanyaan yang muncul ke permukaan dari kedalaman diriku. Ada yang salah dengan diriku. Sejak kapan Aku jadi seperti ini? Apa Aku boleh seperti ini?


"Sha"


"Eh, iya Mas" Panggilan dan belaian lembut di tanganku menyadarkanku.


"Kamu ngelamunin apa? Kita sudah sampai"


"Nggak, Mas. Sudah sampai, ya? Aku turun Mas" Aku melepas sealbelt dan segera membuka pintu mobil.


"Tunggu. Ada yang ketinggalan" Tanganku terhenti, Aku berbalik menatap Mas Fahmi.


"Apa yang ketinggalan? Kayaknya nggak ada yang ketinggal...." Kata-kata ku terhenti saat kulihat Mas Fahmi menyodorkan tangannya.


Oh Aku mengerti. Kuraih tangan Mas Fahmi, kucium punggung tangannya. Setelah itu, Mas Fahmi mencium keningku.


Huft.


Seperti biasa, Anne sudah berdiri di depan meja resepsionis menungguku dan segera mengikutiku.


~Akhir pekan~


"Sayang, Kamu sudah selesai?"


"Sebentar, Mas"


Celana jeans panjang dan baju dengan lengan panjang dengan tas kecil yang ku kaitkan di bahu kiriku, tak lupa flatshoes warna hitamku. Aku menghampiri Mas Fahmi yang terbengong melihatku.


"Hello, Mas~" Panggilku


"Eh, iya cantik"


Pfft, "Aku emang cantik, Mas. Setiap hari juga Mas lihat, kan?"


"Tapi, hari ini Kamu emang cantik banget, sayang" Mas Fahmi menyelipkan rambutku ke belakang telingaku.


"Terus biasanya aku gak cantik, ya?"


"Cantik. Malah setiap hari Kamu tambah cantik" Ucapnya dengan senyuman mengembang menghiasi wajahnya.


"Udah ah, Ayo berangkat, Mas. Nanti telat lho, apalagi kalo macet, ntar ketinggalan film nya" Aku mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah. Ayo berangkat"


"Eh, sebentar Mas"


"Kenapa lagi?"


Tanpa menjawab pertanyaan dari Mas Fahmi, Aku mengetuk pintu kamar bawah.


"Bi...Bi Mina!" Panggilku samil mengetuk pintu. Tapi nihil, tidak ada jawaban.


Apa di belakang, ya? gumamku


Aku berjalan ke halaman belakang. Tidak ada juga. Oh, mungkin di halaman depan. Pikirku.


Aku berjalan menuju pintu depan.


"Oh, Bibi disini ternyata"


"Eh, iya kenapa, Non?"


"Ini Bi, Risha mau pamit"


"He...Eh. Pamit kemana, Non?" Tanya Bi Mina agak panik.


Mas Fahmi terkekeh melihat reaksi Bi Mina yang nampak panik.


"Nggak kemana-mana, Bi. Cuma jalan-jalan terus nonton ke bioskop"


"Oh, sama den Fahmi toh. Kirain Non mau pamit kemana, sendirian"


"Nggak lah Bi. Risha takut Bibi nyariin, makanya...Risha pamit mau keluar sama Bibi"


Eh, tuh kan? Sejak kapan Aku mengkhawatirkan kekhawatiran orang lain? Ini tidak apa-apa, kan?


"Ayo, Sha" Ajak Mas Fahmi


"Iya, ayo Mas. Bi, Kami keluar dulu" Aku menganggukkan kepala pada Bi Mina. Bi Mina mengangguk dan tersenyum kemudian melambaikan tangannya "Hati-hati" Ucapnya. Aku tersenyum menanggapinya.


Di bioskop


"Nonton film apa Kita Mas"


"Ada lah pokoknya" Ucap Mas Fahmi diikuti seringaiannya.


Apa yang Mas Fahmi rencanakan?


"He!? Serius ini, Mas?"


"He'em. Kirain mau diajak nonton film romance gitu, ini malah...Huft" Gumamku lirih.


"Ini juga bakalan bikin suasana romantis, kok" Ucap Mas Fahmi, sepertinya Dia mendengar gumamanku


Romantis dari mananya coba? yang ada bikin merinding. Tapi, Aku tidak mau dan memang tidak boleh memperlihatkan ketakutanku.


"Yaudah ayo, Mas" Aku menggandeng lengan Mas Fahmi. Sesaat Mas Fahmi nampak terkejut dengan kelakuanku. Tapi, kemudian Dia tersenyum.


Kenapa pas di tengah-tengah sih duduknya? Batinku menggerutu. Tepat ditengah-tengah Kami duduk.


Aku mencengkeram lengan Mas Fahmi saat tiba-tiba saja hantu itu muncul di depan layar. Aku membenamkan wajahku di balik lengannya. Kudengar Mas Fahmi terkekeh pelan.


Segera Aku merapikan dudukku. Tapi, Mas Fahmi menarik lenganku dan menjatuhkan kepalaku di dada bidangnya, tangannya merangkul bahu kiriku.


Aku hendak menarik diriku. Tepat saat adegan menakutkan itu muncul lagi, bukannya melepaskan diri, Aku malah memegangi kemeja Mas Fahmi dan menutup mataku.


Deg deg deg


Aku bisa mendengar suara debaran Mas Fahmi, atau kah suara debaran jantungku? Ah entahlah. Suara debaran itu seakan bersautan hingga Aku tidak bisa membedakan yang mana suara detak jantungku sendiri.


Aku sudah tidak bisa fokus lagi melihat film yang sedang di putar itu. Aku menikmati suasana ini, suasana yang kurasakan saat Aku berada di dekat Mas Fahmi.


Bersambung...


Hallo semuanya, maaf baru up lagi..


Minal Aidzin walfaidzin semuanya


Selamat hari raya Idul Fitri 1441 H bagi yang merayakan...


Salam hangat, sehat selalu...😘