Dry Ice

Dry Ice
Part 23


Happy Reading...!


Ceklek


"Sha" Mas Fahmi memanggilku dan membuka pintu. Melihatku sedang duduk di tepi ranjang, Dia menutup pintu dan duduk di sebelahku.


"Apa Kamu ada masalah?" Tanya Mas Fahmi.


Aku terdiam sambil menatap Mas Fahmi. Dia balas menatapku lamat-lamat. Tapi, sesaat kemudian Mas Fahmi menjadi salah tingkah.


"A-Ada apa?" Tanya Mas Fahmi sambil menggaruk tengkuknya. "Apa ada yang ingin Kamu sampaikan?" Lanjut Mas Fahmi.


"Seharusnya Aku yang bertanya begitu. Apa ada yang ingin Mas sampaikan?" Tanyaku.


"E...Ehh...itu..sepertinya tidak ada" Ucapnya agak ragu.


"Hmm, baiklah" Jadi Kamu tidak berniat untuk memberitahuku? Baiklah, kita lihat sampai kapan Kamu akan menyembunyikannya dari ku.


"Apa tidak ada hal lain lagi?" Tanya Mas Fahmi. Biasanya Mas Fahmi tidak pernah bicara seperti itu, pertanyaanya terdengar seakan Dia ingin segera mengakhiri percakapan ini?


"Sha" Panggil Mas Fahmi setelah beberapa saat terdiam.


"Hm" Jawabku tanpa menatapnya. Aku sibuk dengan handphone di tanganku. Aku mengangkat kepalaku dan menatap ke arahnya karena Mas Fahmi tak kunjung bersuara.


"Apa ada yang ingin Mas sampaikan?" Tanyaku. Aku jadi gemas sendiri, Mas Fahmi seperti ingin mengatakan sesuatu tapi nampak sulit sekali baginya untuk menyampaikannya. Dia menatap manik mataku dalam-dalam.


"Tidak apa Mas. Jika Mas sulit untuk mengatakannya. Lupakan saja" Sarkasku.


"Maaf" Ucapnya. Aku tidak mengerti, Maaf untuk apa? Untuk kebohongannya? Untuk mengakui perbuatan selingkuhnya? Maaf karena menipuku? Maaf karena tidak bisa jujur padaku? Maaf dan menyesalinya? Atau maaf karena tidak bisa memilihku? Ah Aku tidak tau.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Mas tidak perlu minta maaf. Memangnya kesalahan apa yang sudah Mas perbuatan?"


"Ah...ti-tidak, tidak ada. Aku hanya meminta maaf jika Aku ada berbuat salah tanpa kusadari"


"Ooh... Risha maafkan" Ucapku membuat Mas Fahmi melongo mendengar jawabanku.


"Maaf Mas, Risha mau keluar sebentar, ada urusan mendadak" Ucapku lagi.


"Urusan apa Sha?" Tanya Mas Fahmi


"Biasa Mas" Jawabku asal.


Jika Kamu tidak mau memberitahuku, maka Aku akan mencari tahu nya sendiri.


Aku mengganti pakaianku dan mengambil tas kecil yang ku selempangkan di lengan kiriku. Tak lupa handphone dan dompet yang ku masukan kedalam tas.


"Aku keluar dulu Mas" Pamitku.


"Ah, baiklah. Mas juga sebenarnya ada urusan di luar. Mau Mas antarkan sekalian?" Tanya Mas fahmi.


"Tidak perlu, Mas. Mas pasti ada urusan penting, kan?" Kilahku. "Kalo begitu, Aku duluan Mas" Ucapku sambil berjalan menuju pintu.


Jika Kamu tidak mau memberitahuku, maka Aku akan mencari tahu nya sendiri. Begitulah niat awalnya, tapi....


Huft. Apa yang kulakukan? Aku malah membuang-buang waktuku. Sekarang Aku terdampar di mall ini tanpa tujuan yang jelas.


Apa yang kupikirkan? Aku merasa tidak nyaman hanya karena ada seorang wanita yang menghubungi Mas Fahmi? Aku pasti sudah gila. Kenapa itu mempengaruhiku?


Seharusnya Aku bisa berpikir dengan jernih. Kenapa juga Aku ingin mencari tahu siapa Dia? Bisa saja itu keluarga Mas Fahmi, kan? Arrgghhh.


Aku memijat pelipisku, kepalaku terasa berdenyut. Ah, Aku tidak mau memikirkan hal itu lagi. Disini sangat ramai, lebih baik Aku pulang.


Puk


Eh, seseorang menepuk bahuku. Siapa? Aku berbalik dan...


"Hai..." Sapa seseorang yang kurasa tak asing bagiku tapi tak begitu ku kenal juga.


"Kau? Ah maksudku, kita pernah bertemu sebelumnya, kan?"


"Ternyata Kau masih ingat padaku? Yah, Aku Dysa yang waktu itu bersama Kakak mu"


"Kamu sendirian?" Tanyanya. "Dimana suamimu? Bukankah ini akhir pekan, apa kalian tidak pergi bersama? Em..?" Tanyanya bertubi-tubi sambil menyenggol lenganku dan tertawa jahil.


Sok akrab, batinku.


"Suami saya ada urusan dan kebetulan saya juga ada sedikit urusan jadi kami tidak pergi bersama" Jawabku tersenyum tipis setipis-tipisnya


"Kamu tidak perlu bersikap formal begitu padaku. Tapi sudahlah, apa urusanmu sudah selesai?"


"Emm...sepertinya begitu" Jawabku, yang sebenarnya memang tidak ada urusan apapun.


"Kalo begitu, Mau pergi bersamaku?" Ajaknya.


"Kemana? Kakak sendirian?"


"Hanya melihat-lihat didalam sini dan Ya, Aku sendirian. Jadi, Kamu mau menemaniku, kan?"


Sepertinya tidak masalah. "Baiklah" Jawabku pada akhirnya, Lagi pula Aku tidak memiliki alasan untuk menolaknya.


Kami berjalan-jalan melihat-lihat ke toko baju, tas, sandal dan sepatu, aksesoris dsb.. Tapi, pada akhirnya tidak banyak yang kami beli. Aku bahkan hanya membeli sebuah jam tangan kecil yang menurutku desainnya sangat elegan dan kurasa cocok di tanganku.


Sebelum pulang, Kak Dysa mengajakku ke coffe yang berada di lantai bawah. Sebenarnya Aku ingin segera pulang, tapi Aku merasa tidak enak untuk menolaknya.


Eh!? Entah sejak kapan Aku bisa merasa tidak enak pada orang lain. Biasanya Aku tidak akan mempedulikan orang lain. Bagaimana pun perasaan orang lain, biasanya tidak pernah menggangguku.


Kami membicarakan beberapa hal sambil meminum kopi. Atau lebih tepatnya, Dia membicarakan tentang kisahnya.


"Harus bagaimana lagi agar Kakakmu percaya padaku?" Tanyanya setelah Dia mengatakan bahwa Dia menyukai Kakak ku -Kak Rasha.


"A-Aku tidak tau" Memang benar Aku tidak tahu, walaupun Aku adiknya Aku tidak bisa menebak isi hati Kak Rasha, Aku tidak tahu keinginan hati kecil Kak Rasha.


"Memangnya alasan apa yang membuat Kak Rasha tidak percaya padamu?" Tanyaku.


"Aku pernah menyukai seseorang dan Kakakmu tau hal ini karena Aku pernah meminta bantuannya untuk mendekatkan kami" Kak Dysa menghembuskan nafasnya pelan.


"Namun, akhirnya Aku malah mulai menyukai Kakakmu. Saat itu Aku berencana untuk memberitahunya bahwa Aku mulai menyukai Kakakmu. Tapi..." Kak Dysa terdiam sejenak.


"Tapi kenapa, Kak?"


"Tapi, sebelum Aku sempat memberitahunya tentang perasaanku, Rasha memberitahuku bahwa Aku sudah tidak memiliki kesempatan lagi dengan orang yang kusukai itu, karena Dia sudah menyukai orang lain dan akan segera menikah"


"Rasha menyampaikannya dengan raut wajah sedih. Padahal seharusnya Aku yang sedih, bukan? haha.. Aku bahkan tidak merasa sedih atau kecewa sedikit pun"


"Saat itu Aku mengatakan bahwa Aku sudah tidak menyukainya dan Aku sudah menyukai orang lain. Kemudian Aku katakan bahwa orang itu adalah Rasha -Kakakmu. Kau tau bagaimana reaksinya?"


Aku hanya mengangkat bahuku.


"Dia menatapku, kemudian sesaat berikutnya Dia tertawa seperti mengejekku. Dia bilang 'Kau pasti bercanda, kan? hahaha. Aku tau kamu sedang sedih dan berusaha menghibur dirimu. Tapi, kenapa harus Aku yang jadi pelarianmu?' Seketika tawanya menghilang, Dia mengatakannya dengan serius"


"Aku ingin mengatakan bahwa Aku tidak menjadikannya pelarian, tapi, belum sempat Aku menjelaskan, Dia mengajakku untuk pulang dan mengantarku. Selama perjalanan itu tak satu pun dari kami yang bersuara"


"Dan sampai sekarang, Aku terus mengatakan bahwa Aku menyukainya, Aku mencintainya, tapi Dia tak pernah menganggap serius perkataanku"


"Hah...sepertinya Aku terlalu banyak bicara. Maaf, karena Kau harus mendengar celotehanku"


"Tidak masalah. Justru Aku minta maaf atas sikap Kak Rasha"


"Tidak tidak, Kamu tidak perlu meminta maaf. Sebenarnya Kakakmu tidak salah, wajar saja jika Dia menganggap Aku menjadikannya pelarianku"


"Ah sudahlah. Oh iya, Ini hadiah pernikahan untukmu dariku. Maaf Aku tidak bisa menghadiri pernikahanmu" Ucap Kak Dysa tiba-tiba sambil menyerahkan sebuah paper bag padaku.


"Oh, terima kasih. Padahal Kak Dysa tidak perlu repot-repot, Kakak bahkan tidak tau Kami menikah, kan?. Kami memang tidak mengundang banyak orang"


"Tidak apa. Terimalah"


"Baiklah. Sekali lagi terima kasih" Ucapku.


Bersambung...