
Happy Reading...!
"Ah sudahlah. Oh iya, Ini hadiah pernikahan untukmu dariku. Maaf Aku tidak bisa menghadiri pernikahanmu" Ucap Kak Dysa tiba-tiba sambil menyerahkan sebuah paper bag padaku.
"Oh, terima kasih. Padahal Kak Dysa tidak perlu repot-repot, Kakak bahkan tidak tau Kami menikah, kan?. Kami memang tidak mengundang banyak orang"
"Tidak apa. Terimalah"
"Baiklah. Sekali lagi terima kasih" Ucapku.
"Oh iya, gimana kabar Kakakmu?" Tanya Kak Dysa.
"Em, sepertinya baik. Terakhir kali kami bertemu satu bulan yang lalu, Dia terlihat baik-baik saja"
"Satu bulan lalu? Kalian benar-benar orang sibuk ya" Ucap Kak Dysa. Mungkin Dia terkejut mendengar kapan terakhir kali kami bertemu.
"Begitulah Kak. Tapi, dari dulu memang seperti itu Kak, kadang Kakak tidak pulang kerumah selama beberapa bulan, jadi kami jarang bisa bertemu dan berkumpul. Kakak lebih sering tinggal sendiri di apartemennya"
He!? Kenapa Aku jadi membicarakan keluargaku?
"Oh, gitu ya..."
Hening beberapa saat, tak ada satu pun dari kami yang bersuara. Aku melihat jam yang melingkar di tangan kiriku. Jam menunjukkan pukul 3 sore.
"Ah sepertinya sudah sore ya, sepertinya kita sudahi saja hari ini. Terima kasih sudah menemaniku dan mendengarkan celotehanku" Ucap Kak Dysa tersenyum manis. Dia melambaikan tangannya dan meminta bill atas pesanan kami. Dia merogoh mencari sesuatu dari dalam tas nya.
"Iya Kak, terima kasih hadiahnya" Ucapku "Biar saya yang bayar Kak" Lanjutku.
"Tidak usah, kan Kakak yang ajak Kamu jadi Kakak yang akan bayar"
"Anggap saja ini ucapan terima kasih saya atas hadiah dari Kak Dysa"
"He'em, baiklah. Terima kasih, lain kali Kakak akan teraktir Kamu. Sampai jumpa lagi lain kali, dah~" Kak Dysa melambaikan tangannya padaku
Aku membalas lambaian tangannya.
Selesai membayar, Aku berniat untuk pulang. Tapi, langkahku terhenti. Pandanganku tertuju pada seseorang yang begitu ku kenal.
Aku menggigit bibir bawahku dan tanpa sadar mengepalkan tanganku.
Apa-apaan itu?
Jadi, itu urusan yang dimaksud Mas Fahmi?
Siapa yang sedang bersamanya? Apa itu wanita yang menelepon tadi?
Rasanya ingin ku luapkan emosi ku saat itu juga. Tapi untunglah akal sehatku masih bekerja dengan baik. Apa kata dunia jika seorang 'Risha' mengamuk di sebuah kafe karena melihat suaminya bersama seorang wanita?
Ah tidak! Aku masih menghargai diriku. Sebelum pergi Aku sempat mengambil foto pemandangan menyebalkan itu.
Aku keluar dari sana dan menelepon Mas Fahmi..
Tuut tutt~
tut tut~
Halo
"Hallo, Mas. Mas sudah pulang?"
Be-belum, Sha. Ada apa? Apa ada masalah?
"Ah tidak. Kebetulan Mas belum pulang. Apa Mas bisa menjemputku?"
"Mas lagi dimana sekarang?"
Em...Mas lagi ada urusan, tapi sebentar lagi selesai. Mas harus jemput kamu dimana?
"Aku di depan Mall XX"
Tidak ada tanggapan dari Mas Fahmi. kulihat teleponnya masih tersambung. Apa Kamu syok, Mas? Aku menyeringai.
"Mas... Hallo, Mas Fahmi. Masih disana? Jadi, Mas bisa menjemputku, kan?"
Ah, i-iya bisa.
Tut. Aku menutup telepon secara sepihak.
Aku beranjak dan berjalan ke tempat yang biasa digunakan untuk menunggu Bus. Kemudian Aku mengirim pesan dan memberitahu posisiku pada Mas Fahmi.
Aku memijat pelipisku. Ada apa denganku?
Beberapa menit kemudian. Sebuah mobil berhenti di depanku. Tak salah lagi, itu mobil Mas Fahmi.
Aku bangkit dari dudukku. Mas Fahmi keluar dari dalam mobil dan menghampiriku.
"Sudah menunggu lama?" Tanyanya.
Aku menggeleng "Hanya beberapa menit"
"Terima kasih" Ucapku. Mas Fahmi hanya tersenyum. Dia segera masuk dan menjalankan mobilnya.
"Urusan Mas sudah selesai?"
"Su-sudah. Oh iya, Kamu habis dari mana? Kok bisa ada di depan Mall XX?"
"Abis jalan-jalan. Tadi nggak sengaja ketemu teman Kak Rasha. Jadi mampir dulu di kafe sambil ngobrol-ngobrol sebentar"
"Mas Fahmi sendiri, ada urusan dimana? Kok jemputnya bisa cepat banget? Di dekat sini ya, urusannya?" Aku tersenyum tipis padanya.
"I-iya" Jawab Mas Fahmi. Sepertinya Dia hanya menjawab pertanyaan terakhirku, ya?
"Mas Fahmi tahu?" Tanyaku ambigu.
"Tahu apa?"
"Aku tidak pernah peduli pada orang lain. Tidak peduli bagaimana perasaan mereka atau apa pun urusan mereka, yang penting mereka tidak merugikanku. Aku selalu ingin menjadi pemenang, tak peduli apa pun yang terjadi, cukup asalkan Aku keluar sebagai seorang pemenang"
Apa yang ku katakan?
"Jadi, apa maksudmu mengatakan ini padaku?"
"Aku hanya ingin bertanya. Bagaimana Aku menurutmu? Apa Aku terlihat buruk atau mungkin aneh setelah Kamu tahu tentangku yang seperti itu?"
Kenapa Aku harus menanyakan hal itu?
"Tidak juga. Aku tetap menyukaimu, Kamu tidak aneh. Jika Kamu seperti yang Kamu katakan tadi, berarti memang Kamu orang yang seperti itu"
"Apa Mas tahu bahwa Aku kesal dan marah pada Mas?"
Sial, mulutku tak bisa diam
Ckiit... Mas Fahmi menghentikan mobil secara mendadak.
"Kamu marah?" Tanyanya.
"Tidak, bukan pada Mas. Mungkin sebenarnya Aku hanya kesal pada diriku sendiri. Tapi, Aku mengkambing hitamkan Mas Fahmi dan mencari dalih untuk membela diriku sendiri"
"A-Apa maksudmu? Mas tidak mengerti"
"Mas pernah dengar pepatah yang mengatakan bahwa 'rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau'?"
"Yah, sepertinya pernah. Lalu apa hubungannya?"
"Sepertinya begitu juga yang terjadi padaku. Setelah melihatmu, Kamu selalu terlihat lebih bersinar, Kamu begitu hidup, Kamu terlihat...ah Aku bahkan tidak bisa menjelaskannya, yang pasti Aku selalu tertarik tentangmu, tentang bagaimana Kamu hidup"
Pada akhirnya Aku mengatakan hal yang seperti itu
"Aku juga mulai tertarik untuk memperhatikan sekitarku. Kau tahu Kak Rasha? Dia memiliki sifat yang jelas berkebalikan denganku. Dia selalu peduli pada orang lain"
"Awalnya, Aku kasihan padanya karena Dia terkadang mengorbankan dirinya hanya demi orang lain. Apa Dia tidak bisa egois sedikit? pikirku. Tapi, Aku tak pernah mempermasalahkannya, toh itu urusannya, kan? Tak pernah terbesit sedikitpun Aku iri padanya"
"Namun, itu dulu. Akhir-akhir ini Aku merasa tidak terlalu buruk juga untuk peduli pada orang lain. Akhirnya, Aku mengerti bagaimana perasaan Kak Rasha. Kau tau karena siapa?" Suara ku agak bergetar.
"Karena mu, Mas" Jawabku tanpa menunggu jawaban Mas Fahmi.
"Aku mulai peduli padamu. Semua tentangmu mempengaruhiku, ini tidak seperti 'diriku' yang biasanya. Awalnya, kupikir tidak buruk juga. Tapi, saat Aku mengetahui bahwa seseorang yang mampu mempengaruhiku itu menyembunyikan sesuatu dariku, hal itu juga mempengaruhiku" Bulir air mata mulai jatuh melintas di pipiku.
Kenapa Aku jadi emosional begini?
Tidak apa, Sha. Kamu harus segera menyelesaikan ini.
Arghh, kenapa jadi perang batin begini?
"Mungkin karena itu, Aku hanya kesal pada diri sendiri yang terpengaruh dengan keadaan orang lain. Seharusnya hal itu tidak mempengaruhiku. Tapi, Aku sendiri juga tidak tahu"
"Mas, bagaimana perasaanmu, jika Aku menyembunyikan sesuatu darimu?" Aku tidak menghapus air mata yang mulai membasahi pipiku.
Mas Fahmi hanya diam, Dia menundukkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaanku.
"Kenapa diam saja, Mas?"
Huft,
"Kamu menyembunyikan sesuatu dariku, Mas?"
"A-"
"Ah, Mas tidak perlu menjawabnya" Aku menutup wajahku yang berurai air mata.
"Maaf membuatmu tak nyaman. Seharusnya aku tidak mempermasalahkannya, jika Mas tidak mau memberitahuku. Ah, Aku benci diriku yang seperti ini" Aku memukul mukul dadaku sendiri yang terasa sedikit sesak.
Sesaat kemudian, Mas Fahmi menahan tanganku. Dia menghapus air mataku dan membawaku kedalam pelukannya.
"Maaf sudah membuatmu menangis. Tolong berhentilah, Aku tidak sanggup melihatmu menangis"
Bersambung...