
Happy Reading...!
Mon maaf banyak typo, maaf juga kalo ceritanya bosenin..
Tpi, jan lupa dukungannya ya, tinggalkan jejak - kritik/sarannya juga. Terima kasih😘
Haha ha haha...Mas Fahmi menggemaskan.
Aku mengusap bibir yang baru saja bersentuhan dengan bibir Mas Fahmi. Kemudian tersenyum.
Aku membaringkan tubuhku, sesekali Aku menguap yang ku tutup dengan tanganku.
Tak butuh waktu lama untuk mataku terpejam. Aku tak ingat kapan Mas Fahmi keluar dari kamar mandi dan tidur di sampingku.
°
°
°
Saat Aku terbangun di tengah malam, Mas Fahmi tertidur di sampingku dan memelukku erat. Aku berusaha melepaskan pelukannya tanpa membangunkannya. Tenggorokanku kering, tapi tak ada air setetes pun dalam gelas di atas nakas.
Baru saja Aku bangkit dan menurunkan kaki kiriku, Mas Fahmi menahan tangan kananku dan bertanya
"Mau kemana?" Tanyanya sambil mengucek sebelah matanya.
"Ke bawah, Risha mau ambil air" Jawabku sambil mengacungkan gelas kosong di tangan kiriku.
"Biar Mas ambilkan" Ucapnya sambil bangkit dari posisi tidurnya.
"Nggak usah, Mas istirahat saja. Risha bisa ambil sendiri, ok?"
Tanpa berkata, Mas Fahmi menatapku tajam dengan tangan kanan terulur meminta gelas kosong yang ku pegang.
"Oke oke" Ucapku sambil memberikan gelas kosong itu ke tangan Mas Fahmi dan naik kembali ke tempat tidur.
Sementara Mas Fahmi turun untuk mengambil air, Aku duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Anak, ya?" Gumamku lirih.
Aku belum memikirkannya sebelumnya. Apa Aku sudah siap? Yah, selama itu bisa membuat kedua orang tua kami bahagia dan tidak menghambat pekerjaanku, Kurasa tidak masalah. Aku juga bisa mempekerjakan seorang baby sitter untuk membantuku, kan?
Aku membayangkan bagaimana jika kami punya anak nanti. Jika mereka perempuan, pasti cantik dan lucu. Jika mereka laki-laki, bertambahlah laki-laki tampan yang begitu ku sayangi.
Bayangan bagaimana kami mengurusnya bersama-sama, main bersama. Saat Dia sudah besar, kami bisa jalan-jalan bersama, olahraga bersama, dan tertawa bersama. Sepertinya sangat menyenangkan.
"Sedang melamun apa, sampai tersenyum-senyum begitu, hm?" Tanya Mas Fahmi menghampiriku dengan segelas air.
"Senyum-senyum?" Tanyaku sambil sedikit memiringkan kepalaku. Sepertinya tanpa sadar aku tersenyum-senyum sendiri karena larut dalam apa yang ku bayangkan.
"Ya, Mas lihat kamu senyum-senyum sendiri tadi, nggak kesambet kan?" Tanya Mas Fahmi sambil menyodorkan segelas air itu padaku.
Aku menerima air yang Mas Fahmi sodorkan.
"Haha, nggak Mas. Risha cuma mikirin..." Ups!
Damn it! Mas tidak boleh tahu apa yang baru saja ku bayangkan, malu! Ah, kuharap wajahku tidak-
"Kenapa wajahmu memerah?"
Huh, kenapa kau tidak bisa berbohong wahai wajahku.
"Me-merah? Nggak tuh!" Tidak, aku tidak mau mengatakannya.
"Mikirin sesuatu yang mesum, ya?" Bisik Mas Fahmi padaku dengan senyum menggodanya.
"Eh, Nggak ya!" Jawabku cepat.
Dia bahkan sengaja menghembuskan nafasnya di dekat telingaku. Huft.
"Haha, iya enggak. Sekarang tidur lah lagi!" Mas Fahmi mengacak rambutku sambil tersenyum. Aku menatap Mas Fahmi agak lama.
"Sudah sudah, jangan terus menatapku seperti itu. Tidurlah!" Mas Fahmi mengambil gelas yang sedari tadi berada di genggamanku. Menidurkanku dan menyelimutiku. Kemudian dia berbaring dan menutup matanya
"Kenapa?" Tanyaku.
"Kenapa apanya?" Mas Fahmi balik bertanya tanpa membuka matanya.
"Kenapa aku tidak boleh menatap suamiku?"
Mas Fahmi membuka matanya lagi dan menatapku.
"Sudah larut malam, tidurlah" Kata Mas Fahmi lembut sambil menyelipkan rambut ke belakang telingaku.
"Hm" Aku pun menutup mataku, berusaha untuk tidur kembali.
Cup
Kurasakan kecupan Mas Fahmi di dahiku. Kemudian, dia berkata "Selamat malam, My Love"
Jantungku berpacu lebih cepat dan semakin cepat. Untunglah aku bisa menetralkannya lagi karena mataku tertutup. Jika tidak, aku tidak tahu.
Malam itu, aku tidur dengan nyenyak.
°°°
"Kamu mau kemana?"
"Hm? Kerja, mas" Jawabku masih menatap cermin dan menyisir rambutku.
"Tidak apa-apa mas. Kerja nya juga cuma duduk-duduk aja"
"Tapi...Ah, baiklah. Tapi jangan lupa makan. Atau, nanti mas temenin kamu makan siang"
"He'em" Senyumku mengembang menghiasi wajahku. Mas Fahmi menatapku agak lama.
Apa ada sesuatu di wajahku? Atau Aku terlihat aneh saat tersenyum? Haha, mungkin yang kedua.
"Apa ada sesuatu di wajahku?"
"Iya"
"Ada apa sih? kotor ya?"
"Nggak, manis malah"
"Apa sih mas" Ucapku malu-malu.
"Mas suka lihat senyum kamu, dan...ekspresi malu-malu di wajah kamu yang jarang sekali.. hihi"
Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.
"Hm, jangan di tutupi. Ah sudahlah, ayo sarapan dulu" Ajak Mas Fahmi sambil menarik pergelangan tanganku.
Seperti biasa, kami sarapan bertiga dengan Bi Mina.
"Selamat pagi, Den, Non. Udah baikan Non?" Sapa Bi Mina.
"Selamat pagi, Bi" Kami menjawab bersamaan, membuat mata kami saling bersitatap.
"Alhamdulillah, udah baikan Bibi. Terima kasih Bibi sudah merawat Risha dan maaf Risha merepotkan Bibi"
"Tidak apa-apa Non. Bibi senang Non sudah sehat kembali"
Begitulah. Sarapan kami diselingi obrolan-obrolan ringan.
Selesai sarapan, Mas Fahmi mengantarku ke kantor seperti biasa. Anne menyambutku dengan senyum bahagianya. Dia pasti sudah sangat kerepotan saat Aku tidak masuk.
Haah, Akhirnya... Aku merindukan ruangan ini. Aku duduk di kursiku dan menatap meja kerjaku. Tatapanku terhenti pada sebuah foto dengan bingkai cantik dan elegan yang berdiri di mejaku.
Aku tersenyum melihatnya. Foto keluargaku. Ayah, Ibu, Kak Rasha dan Aku. Hanya kurang satu. Foto Mas Fahmi. Sepertinya kami pernah foto bersama, kalo nggak salah waktu di taman. Aku akan mencetaknya.
"Apa ada sesuatu yang baik terjadi hari ini?" Tanya Anne tiba-tiba.
"Memangnya kenapa?"
"Saya lihat, anda terus saja terseyum dari tadi"
"Benarkah? Apa aku terlihat aneh?"
"Ah Tidak Nona"
"Katakan yang sebenarnya An!"
"Ah iya. Sebenarnya memang aneh. Maksudku aneh karena biasanya Nona tidak seperti itu. Tapi, itu tidak membuat Nona jadi aneh. Malah terlihat semakin cantik"
"Begitu, ya?"
"He'eh. Para karyawan yang kita lewati tadi juga sepertinya merasa heran tapi juga terpesona dengan senyuman Nona"
"Kau selalu berlebihan An"
"Tidak Nona. Memang begitu adanya"
"Ah, sudahlah. Apa saja jadwal hari ini?"
Anne menyebutkan jadwalku hari ini yang ku respon dengan anggukan kepala.
Seperti ucapan Mas Fahmi, Dia akan menemaniku makan siang. Bahkan, Dia datang sendiri untuk menjemputku. Tapi, aku memintanya agar tidak menjemputku tepat di depan kantor.
Kami makan siang di tempat biasa, seperti permintaanku.
"Jangan mengabaikan waktu makanmu lagi"
"Iya mas"
"Makanlah"
"Ayo mas juga makan"
"Kamu bawa obatmu kan?"
"Hehe"
"Kamu tidak membawanya?"
"Nggak apa lha mas. Udah sehat ini kan, obatnya juga tinggal 2 lagi kok"
Mas Fahmi menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Baiklah. Tapi, nanti malam kamu harus memakannya"
"Tapi Mas-"
"Nggak ada tapi-tapian" Tegas Mas Fahmi tak terbantahkan
Bersambung...