
Happy Reading...!
Nyonya sedang bersama saya.
Jglarrr... Mati Aku!
Mendengar kalimat yang diucapkan Anne, tanpa sadar Aku menutup telepon secara sepihak.
Ibu akan kesini?!
°
°
°
Ibu akan kesini!
Obatnya! Aku harus sembunyikan obatnya.
Akhirnya, kusembunyikan obat itu di laci nakas. Ibu tidak akan memeriksanya, Aku yakin. Hah, Aku menghela nafas. Selanjutnya, Aku harus meminta Bi Mina untuk tidak memberitahu Ibu pasal keadaanku kemarin.
Kabar baiknya, Bi Mina setuju untuk membantuku dan tidak memberitahu Ibu. Tapi, sebenarnya ada apa Ibu ingin menemuiku?
Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, dan Ibu yang katanya 'akan kesini' tak juga menampakkan batang hidungnya.
Mas Fahmi juga tidak menghubungiku sama sekali, hanya sebuah pesan yang berbunyi
Maaf. Saat kamu bangun dan membaca pesan ini, Mas mungkin sudah berangkat. Mas tidak tega membangunkanmu. Mas ada urusan mendesak di kantor, jadi Mas harus berangkat lebih awal. Mas minta maaf tidak sempat berpamitan.
Ternyata benar kan, Mas pasti ada urusan mendesak sampai tidak sempat berpamitan padaku.
Apa Aku harus memberitahu Mas bahwa Ibu akan kesini? Sepertinya tidak perlu, Tapi, apa ku beritahu saja ya?
Huft, nanti saja. Kepalaku pusing. Aku memutuskan untuk berbaring dan meletakkan handphone diatas nakas.
Entah sejak kapan dan sudah berapa lama aku tidur. Seingatku, kepalaku pusing kemudian aku berbaring. Saat aku membuka mataku, Ibu dan Mas Fahmi sudah berada di dalam kamar, dan mereka sedang asyik mengobrol.
Ibu? Eh, Ibu beneran disini? Apa Aku bermimpi?
Aku mengucek mataku, memastikan bahwa Aku tidak salah lihat. Tapi kuharap Aku salah lihat atau kuharap ini mimpi.
Aku membuka mataku lagi perlahan. Masih ada!
"I-Ibu!?"
"Eh, Iya nak. Kamu sudah bangun?" Ibu segera menghampiriku, pun dengan Mas Fahmi.
"Kamu kebangun gara-gara Ibu, ya?"
"Tidak Bu, Aku hanya...hanya merasa pusing, jadi tidur sebentar"
"Jadi benar, akhir-akhir ini Kamu sering pusing dan juga mual?"
"Ba-bagaimana Ibu tahu?" Tanyaku
"Fahmi sudah menceritakannya pada Ibu" Ibu terlihat berbinar. Sedangkan Mas Fahmi terlihat agak pucat dan khawatir. Aku bertanya padanya lewat mataku, tapi Mas Fahmi hanya menggeleng dan mengendikkan bahunya.
"Eeh, kenapa Ibu terlihat senang? Ibu senang ya, melihat aku seperti ini?" Aku beralih bertanya pada Ibu.
"Akhirnya... Tubuhmu sudah menunjukkan gejalanya. Kenapa kalian tidak memberitahu Ibu-"
"Sebenarnya Ibu-" Mas Fahmi berusaha menjelaskan.
"Apa kalian mau membuat kejutan untuk Ibu? hm?"
"Bukan begitu Bu-"
"Katakan, sudah berapa bulan?" Tanya Ibu tanpa mendengarkan ucapan Mas Fahmi.
"Sebentar, Bu sebentar. Sebenarnya...apa maksud Ibu?" Tanyaku.
"Bukankah Kamu hamil?" Ibu balik bertanya padaku.
"Ti-tidak. Maksudku belum" Ah, wajahku pasti sudah merah padam, seperti kepiting rebus. "Kenapa Ibu menyimpulkan begitu?" Tanyaku.
"Suamimu -Fahmi, Dia bilang kamu pingsan dan merasa pusing juga mual, kan? Jadi-"
"Risha hanya melewatkan makan, asam lambung Risha naik" Jelas Mas Fahmi. Wajah Ibu berubah murung dan sedih.
Sesaat keheningan menyelimuti kami.
"Kenapa Mas baru menjelaskannya sekarang? Ibu jadi salah paham" Kataku pada Mas Fahmi, terdengar seperti menyalahkannya, Mas pasti tersinggung. Tapi, Aku tidak sanggup melihat wajah sedih Ibu.
"Mas sudah berusaha menjelaskannya, tapi Ibu-"
"Jadi Mas menyalahkan Ibu?" Tanyaku sarkas.
"Bu-bukan begitu. Mas..." Mas Fahmi menghentikan ucapannya ketika tatapan kami bertemu. Sepertinya Mas melihat air mata yang berusaha ku bendung.
"Mas minta maaf. Mungkin cara Mas menyampaikannya salah dan Ibu jadi salah paham" Ucap Mas Fahmi lirih sambil menunduk.
Aku semakin merasa bersalah melihat Mas Fahmi. Aku menumpahkan semua kesalahan pada Mas Fahmi.
"Maafkan Ibu, Ibu tidak mau mendengarkan penjelasan kamu nak" Ibu menepuk punggung Mas Fahmi.
"Tidak, kamu sudah cukup berusaha. Ibu yang keras kepala, dan sekarang Ibu malah membuat masalah untuk kalian" Ibu berhenti sejenak dan menghela nafas.
"Kalian jangan bertengkar seperti ini hanya karena Ibu, dan kamu Risha, kamu membiarkan suamimu memohon maaf padamu seperti itu. Apa kamu masih selalu begitu?"
"Tidak Bu. Risha selalu menghormati saya dan mengerjakan semua tugasnya dengan baik" Jawab Mas Fahmi cepat, membelaku.
"Hm, baiklah" Ibu menghampiriku, beliau mengusap dahi dan kepalaku kemudian memelukku. "Cepat sembuh" Ucap Ibu masih sambil memelukku.
Ibu melepas pelukannya, beliau duduk di tepi ranjang.
"Nak Fahmi kemarilah" Mas Fahmi mendekat pada Ibu.
Ibu mengambil tanganku dan tangan Mas Fahmi, kemudian disatukannya tangan kami. Kami saling tatap saat tangan kami bersentuhan.
"Kalian berdua baik-baik lah. Hiduplah dengan bahagia dan jaga selalu hubungan kalian. Percayalah! Kalian harus saling percaya dan menjaga kepercayaan kalian" Kami menatap Ibu yang sudah berkaca-kaca.
"Kami akan berusaha, Bu"
"Maafkan Ibu...hu hu hu... Ibu bukannya memaksa kalian, Ibu sudah terlalu tua. Mungkin, karena itulah Ibu terdengar mendesak kalian untuk memberikan Ibu 'cucu'."
"Anak adalah buah dari cinta kalian. Sepertinya Ibu terlalu tergesa-gesa ingin melihat buah itu. Tanpa Ibu sadari, mungkin kalian merasa terbebani dengan itu."
"Maaf. Maafkan Ibu...hu hu hu"
"Tidak, Bu. Tidak apa. Ibu jangan menangis. Soal anak, kami juga sedang berusaha dan dengan doa dari Ibu, Risha yakin, semuanya akan berjalan dengan lancar" Ayo tersenyum Risha!
"Melihat bagaimana pernikahan kami dimulai, pantas saja Ibu khawatir. Tapi sekarang, Ibu jangan khawatir lagi. Aku sudah menerima pernikahan ini" Ucapku tanpa ragu, kemudian menatap Mas Fahmi yang juga menatapku. Sesaat kemudian, Dia memutuskan tatapannya dan mengalihkannya.
Aku juga beralih menatap Ibu dan mengusap punggung tangan beliau.
"Terima kasih, Bu" Terima kasih karena memberiku kesempatan untuk merasakan kehidupan rumah tangga dan tak ku pungkiri aku mulai mencintai Mas Fahmi.
°
°
°
Malam hari,
"Terima kasih, Mas" Ucapku setelah Mas Fahmi membantuku makan dan meminum obat.
"Mas masih marah?" Tanyaku, karena Mas Fahmi masih tak bersuara. Dia hanya duduk di tepi ranjang dan menunduk.
"Maaf, Risha tidak akan mengulanginya lagi. Maaf ya" Pintaku sambil menggenggam tangan Mas Fahmi.
Huft. Kudengar Mas Fahmi menghela nafasnya panjang.
"Mulai sekarang, Mas akan selalu mengawasi makanmu. Mas sudah meminta Bi Mina mengantar sarapan untukmu dan Kamu malah tidak memakannya"
"Lupa, Mas" Belaku.
"Maka dari itu, Mas akan selalu mengawasimu" Ucapnya tegas. Senyumku terukir.
"Terima kasih Mas" Ucapku sambil memeluknya.
Ehem hm.. Mas Fahmi berdehem
"Baiklah, A-apa yang kamu ucapkan pada Ibu itu benar?" Tanya Mas Fahmi agak ragu.
"Yang mana?" Tanyaku tanpa melepas pelukanku.
"So-soal anak. Apa kamu mau memiliki anak bersama Mas?"
"Kenapa tidak?"
"Benarkah?"
"Apa Mas tidak percaya padaku?"
"Tidak, Mas percaya. Mas hanya ingin memastikan" Suara Mas Fahmi merendah.
Aku melepas pelukanku dan kutatap manik mata Mas Fahmi.
"Aku serius, Aku tidak berkata begitu hanya untuk menyenangkan Ibu."
Cup
Aku mengecup sekilas bibir Mas Fahmi. Entah bagaimana wajahku, tapi kulihat wajah Mas Fahmi juga, memerah?
"Ka-kamar mandi, M-Mas mau mandi dulu" Ucap Mas Fahmi dengan gugup.
"Baiklah..Pfft" Aku menahan tawaku.
Mas Fahmi sudah berlalu ke kamar mandi.
Haha ha haha...Mas Fahmi menggemaskan.
Aku mengusap bibir yang baru saja bersentuhan dengan bibir Mas Fahmi. Kemudian tersenyum.
Bersambung...