Dry Ice

Dry Ice
Part 37


Happy Reading!


Warning! Memuat konten dewasa, bagi yang belum cukup umur lewat aja ya!


Mas Fahmi tidak menyahut, hanya menatapku tajam. Aku menelan ludahku. Apa aku sudah membuat kesalahan lagi?


"Mas" Panggilku lirih. Dia masih tak bergeming dan tak menghiraukan panggilanku.


Aku berjalan perlahan mendekatinya. Ada apa dengan Mas Fahmi?


"Mas...sshhh sakit mas" Aku meringis kesakitan, karena tiba-tiba Mas Fahmi mencengkeram pergelangan tanganku. Menarik tanganku dan menaruhnya di belakang punggungku. Sebelah tangannya menahan tubuh bagian depanku, tepatnya di dadaku.


Mas Fahmi mencengkeram bahuku dengan kuat. Tubuhku semakin menempel pada tubuhnya, nafasku terasa sesak. Dia juga tidak melepaskan tangan kiriku dan menahannya. Tak habis sampai disitu, Mas Fahmi menggigit leherku, aku yakin itu akan berbekas.


"Lepas mas, sakit mas" Aku meronta mencoba melepaskan diri. Tapi tenagaku tak sebanding dengannya.


Awwh...ssh. Tiba-tiba Mas Fahmi mendorong tubuhku pada dinding. Kedua tanganku di taruhnya di atas kepalaku dengan sebelah tangannya. Tubuhnya mengunci tubuhku membuatku tidak bisa bergerak.


Tanpa aba-aba, Mas Fahmi membungkam mulutku dengan mulutnya dengan kasar. Dia bahkan menggigit bibirku karena aku mengunci rapat mulutku. Aku hanya bisa menutup mataku dan menangis tanpa suara. Air mataku luruh.


"Mas...sakit...kamu menyakiti...ku mas"


"Le...lepas mas..."


"Lepas? Kau ingin aku melepaskanmu? Kau tidak ingin aku, suamimu, menyentuhmu, tapi kau bahkan membiarkan orang lain memelukmu, hah?!" Bentak Mas Fahmi. Suaranya memenuhi ruangan kamar ini.


Seketika, aku mematung. Aku menghentikan aksi berontakku. Aku menatapnya tidak percaya. Baru kali ini Mas Fahmi membentakku.


Aaah...bruk


Dengan penuh amarah, Mas Fahmi menghempaskan aku ke tempat tidur. Dalam sekejap, dia sudah berada di atasku dan entah kemana pakaian yang menutup tubuh bagian atasnya. Sebelah tangannya menahan kedua tanganku. Sebelah tangannya lagi menyelusup ke dalam kemejaku.


"Dimana saja dia menyentuh mu, hah?!" Tangannya bergerilya menelusuri setiap inci tubuhku.


Sshhh...


"Apa dia juga bermain disini?" Mas Fahmi merm*s p*yud*raku dengan kasar.


"Aah...sakit mas. Tidak- ahh aku tidak- mas, aku tidak pernah...mengkhianatimu"


"Apa dia sudah menyentuh semua milikmu ini?"


"Tidak- emmp


Mas Fahmi membungkam mulutku lagi. Lagi-lagi, aku menangis.


Lama-kelamaan, perlakuannya melembut. Dari bibir, selanjutnya mengabsen leher jenjangku. Membuat beberapa tanda di sana.


Aku melenguh karena perlakuannya. Yang tadinya kasar, sekarang menjadi lembut dan penuh perasaan.


Mas Fahmi mengangkat kepalanya menatapku. Tatapan kami bertemu. Tiba-tiba Mas Fahmi melepaskanku dan mundur dengan perlahan. Dia mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian duduk tertunduk di tepi ranjang.


Apa ini karena kejadian tadi siang? Apa Mas Fahmi melihatnya? Tapi itu tidak disengaja!


Aku bangkit dari posisiku. Ku beranikan diri untuk mendekatinya. Ku peluk dia dari belakang.


Hangat. Kulit punggungnya bersentuhan dengan kulit tubuhku. Aku tidak menyadari, kapan kancing kemejaku terbuka dan membuat tubuh bagian depanku terekspos.


"Mas, kejadian tadi siang itu tidak disengaja" Aku harus menjelaskannya.


"Dia hanya membantuku supaya tidak menabrak peralatan kebersihan dan terjatuh" Aku berbicara masih dengan posisi memeluknya dari belakang.


"Mas jangan salah paham. Mas harus percaya padaku! hiks..." Aku mulai terisak.


Percayalah, mas!


"Aku tidak pernah melihat pada yang lain selain mas. Hanya kamu mas!"


Aku melepas pelukanku dan kuraih wajah Mas Fahmi yang masih menunduk dengan kedua tanganku.


"Lihat aku mas! Mas percaya padaku, kan?"


Kami bersitatap. Tapi Mas Fahmi hanya diam memandangiku, menatap lekat pada manik mataku. Aku balas menatapnya. Membiarkan dia mencari kebenaran di mataku. Sesaat kemudian, Mas Fahmi mengangguk.


Cup


Aku mengecup bibirnya sekilas kemudian mengukir senyum terbaikku. Detik berikutnya, Mas Fahmi menarik tengkukku. Aku menikmati dan membalasnya.


Perlahan, Mas Fahmi melepas kemejaku tanpa melepas pagutannya. Membimbingku dan membuatku terbaring di bawahnya.


Oh tidak!


Aku mendorong tubuh Mas Fahmi perlahan. Mas Fahmi menatapku dengan heran.


"A-Aku belum mandi" Ucapku lirih.


"Tidak apa" Mas Fahmi hendak melanjutkan aktivitasnya.


"Ta-Tapi aku ba-bau keringat mas"


"Nanti juga berkeringat lagi" Ucapnya dengan suara serak.


Dan benar saja. Keringat ini menjadi bukti sejarah malam ini. Kami terlelap setelahnya.


°°°


Aku membuka mataku perlahan. Aku tersenyum karena yang pertama kali kulihat di pagi hari ini adalah wajahnya.


"Pagi" Balasku. "Sudah berapa lama mas bangun dan memandangiku?" Tanyaku sambil membelai pipinya. Wajahnya terlihat lelah dan kantung matanya berwarna hitam.


"Dari semalam" Jawabnya lembut.


"Mas tidak tidur?" Tanyaku lagi.


"Maaf" Ucapnya.


"Hm...aku mengerti. Aku juga minta maaf. Tapi, mas harus percaya padaku"


"Aku takut kau meninggalkanku. Aku takut kehilanganmu. Tapi, aku malah menyakitimu" Sorot matanya penuh penyesalan.


"Bagaimana aku harus membuktikannya agar kau yakin padaku?"


"Tetaplah di sampingku" Pintanya. Mas Fahmi memelukku.


Bzztt


Seperti ada aliran listrik yang mengalir di tubuhku saat kulit kami bersentuhan. Aku baru menyadarinya. Di bawah selimut ini, tubuh polos kami bersentuhan secara langsung.


"Baiklah"


"Jam berapa sekarang?"


"Hm" Mas Fahmi tak bergerak dari posisinya. Aku melirik jam yang menggantung di dinding kamarku.


"Mas, aku harus mandi dan ke kantor" Ucapku lirih tak ingin menyinggungnya.


"Ayo" Ajaknya. Ia bangkit dan menarik tanganku. Ia berdiri dengan tubuh polosnya tanpa malu.


"Ke-kemana?" Tanyaku sambil memalingkan wajahku. Mas, bisa-bisanya kau berdiri tanpa malu begitu tanpa sehelai benang pun di tubuhmu.


"Mandi, bukankah kau mau mandi?"


"I-iya. Tapi, aku bisa sendiri"


"Kita bisa mandi bareng. Biar lebih cepat!"


"Tapi- Ah" Mas Fahmi mengangkat tubuhku beserta selimut yang ku balutkan di tubuhku.


°°°


Aku memasang sealbelt dan duduk dengan cemberut.


"Sayang, kamu kok cemberut terus sih"


Aku sengaja tidak menanggapinya.


"Maaf, ok. Mas tidak bisa mengendalikan diri. Lain kali mas tidak akan mengulanginya lagi. Maaf ya~" Mas Fahmi membujukku, senyuman menghiasi wajahnya.


"Tidak ada lain kali karena aku tidak akan mau mandi bersama lagi" Kataku.


"Bukannya lebih cepat malah jadi lebih lama" Aku mendelik padanya.


Mas Fahmi terkekeh. "Iya iya. Mas tidak keberatan melakukannya lagi"


Aku melotot padanya. "Padahal tadi kamu juga menikmatinya" Mas Fahmi menaik turunkan alisnya, menggodaku.


Blush


"Duh, lucu banget sii istriku ini" Mas Fahmi malah mencubit kedua pipiku dengan gemas.


"Aduh mas, sakit"


"Ah maaf" Mas Fahmi menyelipkan rambutku ke belakang telingaku.


"Kamu membiarkan rambutmu terurai, tidak mengikatnya seperti biasa?"


Aku menggeleng. "Aku tidak mau mengikatnya. Ini semua karena ulahmu, mas"


"Hei, kenapa jadi mas?"


Aku menyibak rambutku memperlihatkan leherku.


"Mas sudah mengerti?"


"Ha haha ha...me-mengerti"


"Ayo mas. Ini udah kesiangan" Aku mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah tuan putri"


"MAS"


"Iya iya..haha ha. Sarapan aja dulu yuk, barusan kan gak sempat sarapan"


"Ok"


"Mau sarapan apa? Dimana?"


"Terserah mas. Aku ikut"


"Istri yang baik" Mas Fahmi mengusap pucuk kepalaku.


Bersambung...