Dry Ice

Dry Ice
Part 31


Happy Reading.. !


"Dokter" Lirih Risha.


"Apa yang anda rasakan, Nona?" Tanya dr. Arkan.


"Agak mual, dan juga pusing. Saya juga merasa sangat lemas"


"Baiklah"


Dr. Arkan menuliskan resep obat, kemudian berkata sambil menyerahkan resep yang ia tuliskan pada Fahmi tanpa menatap ke arahnya.


"Sepertinya asam lambung anda naik karena perut anda kosong. Sebaiknya jagalah pola makan anda Nona"


"Hm, terima kasih, dok" Kata Risha.


"Terima kasih" Ucap Fahmi.


"Sama-sama. Semoga lekas sembuh, Saya permisi" dr. Arkan membereskan peralatannya dan berpamitan.


"Aku akan mengantarnya ke depan sebentar"


Risha mengangguk pelan.


"Tidak ada masalah serius, kan?"


"Tidak ada" Jawab Arkan "Seperti yang kubilang tadi, asam lambungnya naik karena perutnya kosong dan mungkin juga karena stress, mungkin Dia sedang banyak pikiran"


Bagaimana bisa, Dia melewatkan waktu makannya? Bukankah tadi siang Risha di tempat makan itu?


"Apa yang kau pikirkan, bung?" Tanya Arkan sambil menepuk bahu Fahmi.


"Eh, ah tidak tidak ada"


"Baiklah. Kalo begitu, jaga istrimu" Arkan tersenyum pada Fahmi, sebelum Ia masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumah Fahmi.


Setelah mobil Arkan melaju, Fahmi segera masuk kembali dan menemui Risha.


"Den Fahmi" Bi Mina memanggil Fahmi, tepat saat Fahmi akan menaiki tangga.


"Kenapa Bi?"


"Makan malamnya, mau Bibi antarkan ke atas?"


"Hmm, boleh juga. Terima kasih. Em, boleh buatkan bubur untuk Risha, Bi?"


"Boleh, akan Bibi buatkan"


"Terima kasih, Bi" Ucap Fahmi sambil berlari menaiki tangga.


Sementara itu di kamar,


Ah, bisa-bisanya Aku sampai pingsan segala, memalukan. Gerutu batin Risha.


"Sha"


"Ah iya" Risha menjawab dengan kaget. Ia tidak menyadari kedatangan Fahmi. Ia bangun dan terduduk di tempat tidur.


"Kamu, bagaimana keadaanmu? Kenapa kamu bisa jadi seperti ini? Bagaimana perutmu bisa kosong? Apa Kamu tidak memperhatikan kesehatanmu? Apa yang harus ku katakan pada orang tuamu, jika mereka bertanya? Apa kau... Hei...kenapa Kau menangis?"


Fahmi menghampiri dan memeluk Risha.


Huwaaa... huhu...huwaaaaa


Risha malah menangis lebih keras lagi dengan kedua tangan memukul mukul dada Fahmi. Tapi, Fahmi tak menghiraukan perlakuan Risha padanya.


Mungkin Aku sudah berbuat salah dan tanpa sadar Aku sudah menyakiti Risha. Batin Fahmi. Tangannya mengusap lembut punggung Risha untuk menenangkannya.


"Maafkan Aku, tenanglah" Kata Fahmi masih dengan usahanya menenangkan Risha.


"Kau bisa menghukumku atas semua kesalahanku, tapi sekarang kau harus sembuh dulu, oke?" Tanya Fahmi.


Risha hanya diam saja, tangannya meremas kemeja depan Fahmi mengalirkan semua perasaannya saat ini.


"Maaf karena barusan Aku malah marah dan mencercamu dengan bermacam pertanyaan, Aku terlalu khawatir padamu dan tanpa sadar malah membentakmu. Tapi, Mas benar-benar tidak suka kalau Kamu tidak memperhatikan kesehatanmu" Ucap Fahmi panjang lebar.


"Aku hanya jadi tidak mood untuk makan, Aku-"


"Tidak mood? Apa pun yang terjadi, tidak seharusnya Kamu mengabaikan waktu makanmu. Bukankah tadi Kamu pergi ke tempat makan kesukaanmu?"


"Jadi, Mas tahu Aku disitu? Kenapa-"


"Maksudmu, kenapa Mas bisa tahu? Mas lihat dengan mata kepala Mas sendiri"


Maksudku, kenapa Mas tidak masuk dan menemani Aku makan? Risha


"Mas tahu Aku disana tapi bahkan tidak menyapaku, Apa Mas kesana dengan 'Mahasiswi baik mu' itu?"


"Tidak-"


"Padahal sudah kubilang, kita bisa makan siang bersama, tapi Mas bersikukuh tidak usah karena berpikir Aku pasti sibuk"


"Dan memang kenyataannya begitu, kan? Kau sedang pergi dengan orang lain tanpa izin ku, artinya, Kau tidak ingin Aku tahu kalau Kau pergi dengan laki-laki lain dan-"


Plak


Risha menampar Fahmi dengan tenaga yang Ia punya. Meski tamparannya tidak terlalu keras, tetap saja hal itu membuat Fahmi kaget.


"Kamu Mas. Aku menunggu kamu Mas. Aku ingin mengajak Mas makan siang bersama saat tiba-tiba Mas menelepon dan mengajakku duluan"


Risha menumpahkan air matanya lagi.


Risha...menungguku? Mengapa Kamu tidak katakan bahwa kamu sudah menungguku? Fahmi.


"Sudah kubilang 'Aku bisa' tapi, Mas Fahmi bersikeras 'tidak usah' karena pasti Aku sedang sibuk tanpa mendengarkan penjelasanku dulu"


Isakan-isakan kecil membuat Risha berhenti sejenak, kemudian Ia menghapus air mata di wajahnya.


"Aku menunggu berharap tiba-tiba saja Mas sudah ada di depanku. Tapi tidak, Mas tak kunjung datang. Kemudian tiba-tiba saja-"


"Cowok lain datang dan mengantarmu dengan mobilnya, kan?" Fahmi masih bersikeras dengan tuduhannya.


Mata Risha membulat sempurna dan membuat air bening itu jatuh lagi dan melintas di pipinya.


Namun, sesaat kemudian, Risha terkekeh dan tersenyum pahit.


"Jadi, itu sebabnya Mas balas dendam dan menerima tawaran 'Mahasiswi yang baik' itu?"


Risha terkekeh lagi, kemudian Ia memegang kepalanya. Kepalanya tambah pusing karena Ia menangis.


"Hei, sudahlah. Sebaiknya sekarang Kamu istirahat dulu" Fahmi khawatir melihat Risha memegang kepalanya.


"Aku bertemu Kak Rasha tadi siang, tidak sengaja. Dia mengantarku kembali ke kantor" Ucap Risha datar sambil membaringkan tubuhnya dan memunggungi Fahmi.


Sekarang, giliran Fahmi yang membulatkan matanya, Ia terpaku di tempatnya mendengar pernyataan Risha bahwa Ia bertemu dengan Rasha, Kakak laki-lakinya.


Aku malah mencurigai dan menuduh Risha seenaknya tanpa mengetahui yang sebenarnya. Fahmi menunduk merasa bersalah.


Risha hanya bertemu dengan Kakak nya dan Aku malah mengatakan banyak hal yang menyakitinya. Fahmi


"Aku tidak menerima tawaran 'Mahasiswi' itu, Aku mengatakannya karena kesal membayangkanmu pergi dengan laki-laki lain"


"Seharusnya Mas tahu, Aku tidak akan melakukan hal seperti itu"


Risha berhenti sejenak dan membuat keheningan menyelimuti ruangan kamar mereka.


Syukurlah kalau Mas tidak menerima ajakan Mahasiswimu itu. Dalam hati kecilnya Ia merasa lega karena Fahmi tidak menerima ajakan makan siang dari Mahasiswinya itu.


Tapi!?


"Apa Mas tidak percaya padaku?" Tanya Risha.


Fahmi bungkam. Inilah pertanyaan yang Fahmi takutkan. Aku juga tidak tahu jawabannya, atau sebenarnya, mungkin Aku takut mendengar jawabannya.


"Baiklah, Aku mengerti" Ujar Risha, karena Fahmi tak kunjung menjawab pertanyaanya.


Jawabannya sudah jelas, Mas Fahmi tidak benar-benar percaya padaku. Risha.


"Bu-Bukan begitu, Aku sudah berusaha untuk percaya padamu, Aku...Aku, mungkin...hanya belum yakin"


"Belum yakin? Haha...Lalu, kenapa Mas mau menikah denganku?"


Pertanyaan yang lagi-lagi menohok bagi Fahmi.


"Itu, karena Aku-"


"Mencintaiku?" Risha menyela ucapan Fahmi.


"Apa Mas benar mencintaiku?"


"Ya" Jawab Fahmi yakin. "Lalu, bagaimana denganmu?" Tanya Fahmi.


"Kenapa denganku?"


"Perasaanmu. Bagaimana perasaanmu padaku, siapa aku bagimu?" Fahmi ingin mendengar pengakuan Risha langsung.


"Bukankah Mas sudah tahu? Apa Mas tidak bisa melihatnya?"


"Tidak! Aku tidak tahu. Aku tidak mengerti, Aku ingin kamu mengatakannya langsung!" Pinta Fahmi dengan lantang.


Aku ingin mendengar langsung dari mulutmu bahwa kamu mencintaiku, Sha.


"Kamu Suamiku, Mas. Aku mencintaimu"


"Kamu mencintaiku karena status 'suami' yang menempel padaku?"


"Apa itu salah?" Tanya Risha.


Fahmi tidak menjawab.


"Kalau Kamu tidak jadi suamiku, mana mungkin Aku bisa jatuh cinta padamu?" Ucap Risha lirih


Huft. Benar juga. Batin Fahmi.


Risha mencintaiku sekarang, itu sudah cukup. Fahmi memeluk Risha kemudian mengecup pucuk kepalanya dan keningnya. Menghapus bekas air mata di wajah Risha. Jari jempolnya mengusap bibir Risha yang pucat.


Fahmi mendekatkan wajahnya pada wajah Risha, jarak wajah antara keduanya semakin terkikis,


Tok tok tok~


Bersambung...