Dry Ice

Dry Ice
Part 30


Happy Reading.. !


"Sayang sekali ya, kita tidak bisa makan siang bersama tadi"


"Hm, Iya" Jawab Risha singkat.


"Sebenarnya aku merasa sedih harus makan sendirian, tapi, untunglah seorang Mahasiswi mengajakku makan siang bersama. Sungguh, Dia Mahasiswi yang baik"


Nah, bagaimana perasaanmu sayang, mengetahui pasanganmu pergi dengan orang lain? Fahmi menyeringai, Risha terdiam dan membatu di tempatnya.


°°°


Melampiaskan rasa kesalnya, Fahmi sengaja memanasi Risha untuk membuatnya kesal.


Tapi, apa benar Risha akan merasa kesal? Atau Dia tidak akan peduli? dan, Bagaimana kalo Risha menggunakan kesempatan ini untuk bisa lepas dari ikatan pernikahan ini? Pertanyaan-pertanyaan tersebut memenuhi kepala Fahmi dan membuatnya semakin kesal.


"Sha-"


"Oh, begitu ya" Risha menyela.


"Dia sungguh baik, mengajak Dosennya makan siang bersama. Kamu pasti menikmatinya, kan? haha.." Risha tersenyum kecut.


Hatinya mencelos mendengar pernyataan suaminya.


Pantas saja kamu bersikeras beralasan dengan kesibukanku. Rupanya kamu hanya sekedar basa-basi mengajakku, kan? Risha.


"Aku mandi dulu Mas" Ucap Risha dingin tanpa menatap Fahmi dan berlalu memasuki kamar mandi.


Aku begitu senang saat kamu meneleponku dan mengajakku makan siang bersama hingga aku ingin memastikan bahwa aku tidak salah dengar.


Saat dengan bodohnya Aku berharap dan menunggumu, Kamu bahkan tidak mau mendengar perkataanku dengan benar dan menyimpulkannya sendiri. Barusan kamu mengatakan bahwa seorang mahasiswi mengajakmu makan siang bersama?


Apa kau benar mencintaiku? Kenapa kau tidak mengerti perasaanku?


Risha menumpahkan air matanya di bawah guyuran shower.


Kau sengaja mau memanasiku? Apa kau tidak tau bahwa Aku cemburu? Eh!? Ya, benar juga ternyata Aku mencintaimu, Mas. Aku cemburu mendengar pengakuanmu, Mas!


Sedangkan Fahmi, Ia merutuki kebodohannya.


Sial, kenapa Aku jadi seperti ini? Seharusnya Aku tidak berkata seperti itu, toh sebenarnya Aku menolak ajakan Fresya.


Apa Risha marah? Tapi, bukankah bagus kalo Risha marah dan kesal? Itu artinya Dia...dia mencintai...ku, kan? Tapi, bagaimana kalo Risha benar-benar marah, dan saking marahnya, bagaimana kalo Dia sampai meninggalkanku?


Arrgh, Aku tidak tahu, Apa Aku harus senang atau sedih sekarang? Fahmi mengacak rambutnya frustasi. Emosi dalam dirinya bergejolak, saling tumpang tindih, membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih.


Fahmi duduk di tepi ranjang menunggu Risha keluar. Tapi, Risha tak kunjung keluar.


Dari duduk, berbaring di ranjang, sampai berdiri di depan jendela kamarnya, Fahmi belum mendapati Risha keluar dari kamar mandi. Ia mondar mandir di depan pintu kamar mandi.


Tok tok tok


Fahmi mengetuk pintu kamar mandi.


"Sha" Panggilnya. Tapi, tidak ada jawaban yang Ia dengar.


Sementara di dalam kamar mandi,


Siapa? Mas Fahmi! Itu pasti Mas Fahmi. Dalam hati Risha. Uuh, Aku merasa mual? Kepalaku juga terasa pusing. Gumam Risha dalam hati.


"Apa terjadi sesuatu di dalam?" Gumam Fahmi dengan kekhawatiran yang nampak jelas dari raut wajahnya.


"Sha...Rishaa. Kamu baik-baik saja?" Fahmi menggedor pintu kamar mandi.


Krek, ceklek.


"Mas!" Kata Risha lirih. Wajahnya pucat dan tubuhnya agak bergetar.


"Sha, Kamu pucat. Kamu gak ap...pa- SHA, RISHA!" Fahmi berteriak panik, karena Risha tiba-tiba jatuh pingsan didada bidangnya.


Fahmi mengangkat tubuh Risha yang masih berbalut jubah mandi putih itu dan membaringkannya di tempat tidur.


Fahmi masih berusaha membangunkan Risha. Melihat usahanya tidak berhasil, Ia memanggil Bi Mina untuk membantu Risha memakai pakaian sebelum Ia memanggil Dokter.


"BI... Bi Mina!" Fahmi berteriak sambik menuruni anak tangga.


Bi Mina yang mendengar namanya di panggil, Ia segera meninggalkan pekerjaan memasaknya, tak lupa, Bi Mina mengecilkan api kompor.


"Iya den"


"Bi, tolong bantu Risha memakai pakaian" Pinta Fahmi.


Tanpa bertanya, Bi Mina segera melaksanakan apa yang Fahmi minta. Dia mengesampingkan pertanyaan besarnya tentang 'Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi?' Bi Mina bergegas menaiki tangga, kemudian berhenti saat ia akan tiba di anak tangga terakhir.


"Kenapa, Bi?"


"Biar Fahmi yang lanjutin setelah menghubungi dr. Arkan, Bibi tolong bantu Risha dulu" Pinta Fahmi yang kemudian berlalu ke dapur memeriksa masakan yang belum di selesaikan Bi Mina.


Dokter Arkan? Dalam hati, Bi Mina bertanya-tanya.


Kenapa den Fahmi mau menghubungi Dokter Arkan? Apa terjadi sesuatu dengan Non Risha? Bi Mina mempercepat langkahnya dan segera memasuki kamar Fahmi dan Risha.


Apa Dia ketiduran dengan masih memakai jubah mandi? Kalo begitu, kenapa tidak di bangunkan saja? Atau jangan-jangan...


"Non...Non Risha!?" Bi Mina mengguncang pelan tubuh Risha, tapi tak ada reaksi apa pun. Ia mengambil minyak kayu putih dari kotak obat dan mengangkat sedikit kepala Risha agar mencium aroma minyak kayu putih. Juga mengoleskannya di leher, perut dan sedikit di pelipis Risha.


Akhirnya, Risha mengerjapkan matanya, Ia sudah sadar.


"Non, Alhamdulillah Non Risha sudah sadar"


"Kepala saya pusing, Bi"


"Non berbaring saja. Bibi akan membantu Nona untuk berpakaian"


Berpakaian? Maksudnya sekarang Aku tidak memakai pakaian?


Nyut


Ahh, sepertinya Aku ingat, kepalaku pusing dan juga merasa mual, kemudian Aku pingsan setelah keluar kamar mandi dan...


"Mas Fahmi?" Tanya Risha, karena yang terakhir kali Ia lihat adalah suaminya, Fahmi.


"Den Fahmi sedang memanggil dokter untuk memeriksa Nona. Dia terlihat sangat khawatir. Mari non, Bibi bantu memakai pakaian"


"Terima kasih, Bi"


Bi Mina membantu Risha berpakaian.


Selesai memakaikan pakaian pada Risha dan membereskan semuanya, Bi Mina teringat dengan masakannya.


Bi Mina bergegas pergi setelah menyiapkan Risha.


"Bibi pamit dulu ya Non" Pamit Bi Mina.


Sebelum Bi Mina sampai di dapur,


Ting tong~


Seseorang membunyikan bel rumah. Bi Mina memutuskan untuk membuka pintu dulu.


"Mungkin itu Dokter Arkan" Gumam Bi Mina sambil berjalan menuju pintu. Sesuai dugaan Bi Mina,


"Silakan masuk Dokter, saya akan panggilkan den Fahmi" Seru Bi Mina.


"Terima kasih, Bi"


Bi Mina berjalan menuju dapur dan mendapati Fahmi sedang melamun dan membiarkan kompor terus menyala tanpa mematikannya.


"Astagfirulloh, den Fahmi! Kompornya!"


Teriakan Bi Mina menyadarkan Fahmi dari lamunannya. Asap mengepul, Wajan berisi minyak goreng itu dipenuhi asap.


"Astagfirulloh!"


Segera Fahmi mematikan kompor yang lupa Ia matikan setelah Ia selesai menggoreng ikan. Yah, beruntung Ikan yang digoreng tidak ikut hangus, karena Fahmi sudah mengangkat dan meniriskannya. Tapi, Ia lupa mematikan kompornya.


"I-Itu, dokter Arkan su-sudah disini den" Ucap Bi Mina agak tergagap memberitahu Fahmi.


"Oh, terima kasih Bi"


Segera Fahmi menemui Dokter Arkan dan membawanya untuk memeriksa Risha.


"Kenapa lagi dengannya?"


"Aku...gak tau, tiba-tiba saja Dia pingsan. Cepat periksa saja dan pastikan" Fahmi mendorong dr. Arkan agar segera memeriksa Risha.


Setelah sampai di depan pintu kamarnya, Fahmi membukakan pintunya dan mempersilakan dr. Arkan untuk masuk.


"Tolong periksa Dia!"


"Baiklah, baiklah. Kau duduklah dulu, Aku akan memeriksanya" Fahmi duduk di tepi ranjang, menatap lekat wajah Risha.


Risha yang menutup matanya karena pusing, mengerjapkan matanya saat dr. Arkan memeriksa tubuhnya.


"Dokter" Lirih Risha.


"Apa yang anda rasakan, Nona?" Tanya dr. Arkan.


Bersambung...