Dry Ice

Dry Ice
Part 28


Happy Reading...!


😉😘


Sshh, Risha meringis saat Fahmi mengusap kakinya.


"Sakit?" Tanya Fahmi, yang Risha jawab dengan anggukan kepala.


"Lalu ini..." Fahmi membelai pipi Risha "Pipi kamu agak merah, apa terbentur sesuatu saat jatuh?"


Pipi kamu agak merah, apa terbentur sesuatu saat jatuh? Ucapan itu bergema di telinga Risha.


Deg!


Pertanyaan yang tidak Risha harapkan!


"Ti-tidak"


"Kenapa kamu begitu gugup? Atau kamu sedang merona, hm?" Fahmi tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.


Doeng


Hanya itu yang terpikir di pikiran Mas Fahmi? Tapi, tapi itu lebih baik daripada Mas Fahmi tau yang sebenarnya.


"Emm" Risha menempelkan ujung jari telunjuknya di bibir mungilnya, matanya bergerak ke kiri dan ke kanan berlagak bak orang yang sedang berpikir


"Mungkin!" Jawab Risha sambil tersenyum. Ayo tersenyum dengan benar, Risha!


"Mungkin? Mungkin apa?" Fahmi mengernyit heran.


"Sini, Risha bisikin" Tanpa membantah, Fahmi mendekatkan telinganya ke mulut Risha.


Cup


Kecupan -hanya kecupan- yang Risha hadiahkan pada pipi Fahmi. Ah, sepertinya Aku sudah benar-benar gila! Tapi, tak apa kan? Mas Fahmi kan suamiku!


"Maaf, merepotkan Mas" Ujar Risha sambil menutupi rasa malunya setelah mengecup Fahmi.


Kau begitu menggemaskan, sayang! Batin Fahmi


"Ya, Kau merepotkan. Padahal Aku sedang sakit, tapi terpaksa harus menggendongmu" Ucapan Fahmi dibuat seakan Dia sedang marah. Dia bermaksud menggoda Risha. Dia tidak tau, mungkin saja Risha menganggapnya dengan serius!?


Entah kenapa Aku jadi agak emosional. Mendengar ucapannya yang seperti itu, Aku jadi...bersedih? Eh, kenapa juga Aku jadi sedih? Tapi, Mas Fahmi bilang Aku merepotkan, jadi itu benar ya? Risha.


Huft.


"Maaf" Ucap Risha.


"Aku juga kerepotan mengurus Mas yang sakit" Gumam Risha lirih.


Hening.


"Sha, Maaf! Kamu jadi kerepotan, bahkan Kamu sampai jatuh segala. Itu semua karena Mas, maaf" Fahmi mengatakannya dengan sedikit menunduk. Dia menyesal telah berbicara seperti tadi.


Seharusnya Aku tidak menggodanya seperti itu. Fahmi


Apa Mas Fahmi mendengar gumamanku? Bukankah Aku hanya bergumam dalam hati? Risha


"Ke-Kenapa Mas bicara begitu? Itu kan sudah tugasku"


Deg


Tugas, ya? Selama ini Risha melakukannya karena Dia ingin memenuhi tugasnya.


"Ya, kau benar. Tapi, Aku tetap minta maaf. Maafkan Aku!"


Ya, Risha memang orang yang seperti itu. Dia selalu mengerjakan tugas apapun itu yang ditugaskan padanya. Termasuk menikah denganku.


Risha hanya berpikir sedang melaksanakan tugasnya seperti yang orang tuanya inginkan. Tapi, itu tidak salah, kan? Iya, Aku lah yang salah. Salah, karena berpikir Risha memang sudah menerimaku.


"Tidak apa, Mas"


°°°


°°


°


1 Minggu kemudian


Kaki Risha sudah membaik dan semuanya kembali seperti biasa. Kecuali, Kegelisahan Fahmi karena Dia masih menyembunyikan sesuatu dari Risha. Pun dengan Risha yang merasa sikap Fahmi tidak biasa dan...


Apa Mas Fahmi tidak akan mengatakan apapun, padaku? Atau, apa aku harus menanyakannya dengan jelas?


Walaupun Mas Fahmi mencoba menutupinya, Aku tetap bisa merasakannya. Sebenarnya, Apa yang sedang Mas Fahmi cemaskan?


Hari ini juga. Batin Risha.


"Mas, makanannya tidak enak?" Tanya Risha, karena melihat Fahmi yang nampak melamun dan menatap kosong pada piringnya.


"Ah iya, tidak. Makanannya enak" Jawab Fahmi agak kaget, tapi kemudian Dia tersenyum sekilas.


"Apa ada yang mau Mas katakan?"


"Mas bisa katakan apa saja padaku. Katakan saja jika Mas punya masalah, berbagilah denganku!"


Tapi...


Jika Aku mengatakannya,


"Aku percaya pada Mas"


Benarkah kamu akan percaya?


"Atau... Mas tidak percaya padaku?"


"Mas percaya pada kamu"


Tapi, benarkah Aku percaya? Ya, Aku percaya! Tapi, Jika Aku percaya, kenapa Aku meragukan kepercayaan Risha padaku? Apa itu artinya Aku tidak percaya? Kenapa? Fahmi.


Tidak ada lagi percakapan! Mereka sarapan dalam diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Esok harinya, Risha pergi ke kantor di antar Fahmi. Seperti biasa, Risha mencium punggung tangan Fahmi sebelum Dia turun dari mobil.


Fahmi tersenyum dan mencium kening Risha. Dia menatap Risha yang semakin jauh kemudian di telan pintu gedung itu.


Aku akan mengatakannya pada Risha. Makan siang! Ya, Aku akan mengajaknya makan siang bersama hari ini. Batin Fahmi


Secercah senyum cerah dan optimis terpancar dari raut wajah tampannya. Bahkan, Dia sampai bersenandung ria di dalam mobilnya.


Hari ini, Fahmi tidak ada jadwal perkuliahan, karena mulai hari ini adalah UAS. Jadi, Dia hanya akan bertugas menjadi pengawas.


Fahmi adalah sosok Dosen yang banyak di kagumi, baik oleh para Mahasiswa/i atau pun rekan sesama profesinya. Kenapa? Karena Dia dikenal sebagai sosok yang jujur, berwibawa, disiplin dan tentu saja kompeten dalam pekerjaanya.


Tidak ada yang berani berbuat macam-macam atau bermasalah dengan Fahmi. Selain ada banyak yang mengaguminya, tentu ada juga yang tidak menyukainya. Tapi, Fahmi tidak mempermasalahkannya.


"Pak Fahmi, gaes. Hari ini Pak Fahmi, Dia sedang menuju kemari" Seru seorang gadis dengan rambut terurai.


"Yaah... sayang deh usaha gue" Timpal seorang pria sambil menunjukkan catatan kecil yang ia ambil dari balik jasnya.


"Usaha apanya njeer" Mereka semua tertawa mendengarnya.


Sunyi, sepi.


Saat Fahmi memasuki kelas, semuanya terdiam.


Padahal, tadi mereka sangat berisik. Fahmi tersenyum dalam hatinya.


"Ehm" Fahmi berdehem, semua perhatian tertuju padanya "Keluarkan alat tulis dan kartu ujian kalian, kamudian simpan handphone kalian di meja ini!" Fahmi menunjuk meja di depannya dengan matanya.


"Sebelum kita mulai ujian hari ini, silakan berdoa terlebih dahulu dalam hatinya masing-masing" Ujar Fahmi.


Semua Mahasiswa menundukkan kepalanya.


Setelah berdoa, Fahmi membagikan lembar soal dan jawaban, Fahmi mengantarkannya sendiri pada meja tiap-tiap peserta ujian. Sambil mengecek kartu ujian dan mengisi absen.


Fahmi selalu fokus. Seperti sekarang, Dia tidak menyentuh handphone nya sedikit put. Dia hanya fokus mengawasi mahasiswa/i nya. Dia tidak melepaskan perhatiannya. Terkadang, Dia berkeliling memeriksa agar Mahasiswa/i nya mengerjakan ujian dengan jujur.


"Mana kartu ujian kamu?" Pertanyaan Fahmi pada seorang Mahasiswi membuat semua mata menatap ke arahnya.


"Ada Pak" Jawab Mahasiswi itu dengan tenang dan percaya diri.


"Dimana? Keluarkan"


"Dihatimu" Jawab Mahasiswi dengan name tag Fresya Riana. Jawaban gadis itu mengundang kebisingan seisi kelas. Mereka sudah tahu dengan kelakuan gadis ini.


"Wah, sikat Sya, pepet terus" Ucap seorang Pria.


"Jawab Pak! Ayo Pak, jan mau kalah" Ucap yang lain menimpali.


Gadis ini...ada ada saja kelakuannya. Batin Fahmi.


Tak banyak dari Mahasiswa yang mengetahui tentang pernikahannya. Apalagi mereka sudah terbiasa dengan kelakuan Fresya yang selalu menggoda Fahmi.


"Kalo kartu ujian kamu tidak ada, silakan keluar! Kamu tidak bisa mengikuti ujian tanpa kartu ujian" Ucap Fahmi tegas.


"Kartu saya ada kok Pak" Jawab Fresya santai.


"Keluarkan!" Perintah Fahmi.


"Ok ok, Bapak jangan galak galak. Entar makin tampan lho Pak" Fresya masih sempat mengeluarkan godaannya pada Fahmi, kemudian mengeluarkan kartu ujiannya dari dalam tas yang tergeletak di samping kursinya.


Huft, Mahasiswa/i sekarang banyak bertingkah. Fahmi


Bersambung...


Hai hai hai, gimana kabar kalian? Semoga sehat selalu ya, biar bisa selalu dukung saya.. hehe


Btw, Saya lagi masa ujian nih, Doa-in dong biar lancar ya...😉


Semoga semua urusan kalian dilancarkan juga ya.. Aamiin


Termia kasih🙏