
Happy Reading..😊
Jan lupa like dan tinggalkan jejak. Vote nya jga deng, hehe.. klo boleh sih..😅Mon maafkan typonya ya..😉
Saat Aku masuk, aku sudah disambut Ibuku.
"Nak, kenapa baru pulang ? Jangan terlalu memaksakan diri dan jangan terlalu sering lembur. Apalagi setelah kamu menikah nanti."
Pembicaraan itu lagi.
Lagian aku tidak akan menikah dalam waktu dekat, kan ?. Ayolah bu, Umurku bahkan belum genap 25 tahun.
Aku menghembuskan nafas pelan. Kucium punggung tangan Ibuku.
"Ayah dimana, Bu ?" Tanyaku pada Ibu, karena aku tidak melihat keberadaan Ayahku.
"Ayah sedang istirahat di kamar. Sepertinya dia kelelahan." Jawab Ibu sambil berjalan dan aku mengikutinya.
"Kelelahan ? Kenapa Ayah bisa kelelahan ?" Ayolah bu, Aku dan Kakak mengambil alih perusahaan agar kalian tidak kelelahan, dan sekarang, Ayah kelelahan ?
"Iya, tadi Ayahmu bertemu dengan teman lamanya dan katanya main golf bareng. Ayahmu gak enak mau nolak ajakan temannya itu"
"Oh" Yah, hanya seperti itu tanggapan yang bisa kuberikan. Kebiasaan, Ayah selalu merasa tidak enak, Beliau selalu memikirkan perasaan orang lain, seperti Kakak. Lalu bagaimana denganku, ah entahlah..
"Kamu mau makan atau mandi dulu ?"
"Aku mau mandi dulu Bu, lengket"
"Yaudah sana mandi, yang wangi biar cepet dapet suami,, hihihi" Seru Ibu sambil terkekeh. "Makanannya Ibu suruh Mbak Nela buat panasin, jadi kamu tinggal makan nanti." Teriak Ibu karena aku sudah masuk kamarku.
Aku melepas pakaianku dan menyimpannya di tempat cucian. Aku mengisi bathup dengan air hangat dan berendam sebentar. Tidak lebih dari 10 menit Aku berendam, kubersihkan badanku.
Aku memasuki ruang ganti dengan jubah mandi yang melekat di tubuhku dan handuk yang melilit di rambutku. Ku kenakan piyama ku, menyisir rambutku dan mengeringkannya dengan Hairdryer.
Aku turun dari kamarku dan berjalan ke ruang makan. Makanan telah dihangatkan. Aku duduk dan mulai menyantap makan malamku sendirian. Aku tidak masalah dengan kesendirianku. Aku menikmatinya.
Selesai makan malam, aku kembali ke kamarku. Mbak Nela dan beberapa pelayan lainnya membereskan meja makan.
Sebelum tidur, aku terbiasa memeriksa setiap pekerjaanku hari ini dan untuk hari esok. Memeriksa beberapa email atau sekedar menonton berita di Tv di kamarku.
Jarum pendek pada Jam sudah menunjuk pada angka 10 dan jarum panjangnya menunjuk angka 12. Kuputuskan untuk tidur. Tak butuh waktu lamu bagiku untuk menyelami alam mimpi. Aku terlelap dengan nyenyak.
°°°
Pagi hari,
Seperti biasa Aku sudah Rapi dengan pakaianku. Sekarang Aku duduk di depan cermin, sekedar untuk memoles sedikit make up di wajahku. Aku tidak terlalu suka make up, tapi ini lebih seperti tuntutan pekerjaanku. Ku ikat rambutku ke belakang, memperlihatkan leher jenjangku. Tapi, bukan itulah maksudku, Aku hanya tidak ingin rambutku membuatku kesulitan dalam bekerja.
Selesai mematut diriku di depan cermin, Kuambil tas yang selalu ku pakai untuk ke kantor.
Aku menuruni setiap anak tangga dan berjalan ke ruang makan.
"Pagi, Ayah" sapaku pada Ayahku yang sedang membaca koran pagi dengan secangkir teh di hadapannya. "Pagi" jawab Ayah tanpa mengalihkan perhatiannya dari korannya.
Ibu dan beberapa pelayan datang dari arah dapur.
"Pagi, sayang" sapa Ibu dan mencium pucuk kepalaku.
"Pagi, Bu" balasku.
"Hari ini, pulanglah lebih awal. Jangan kerja lembur" kata Ayah yang terdengar seperti sebuah perintah. Ayah melipat korannya dan meletakkanya.
"Baiklah" ucapku. Karena Aku tahu, sebisa mungkin Aku tidak boleh membantah Ayah. Itu sudah seperti aturan yang tercatat di dalam kepalaku, tapi Aku tidak merasa terganggu dengan itu.
"Kamu tidak ingin bertanya 'Ada apa ?' sampai kami menyuruhmu pulang lebih awal ?" tanya Ibu padaku.
Aku menggeleng pelan.
"Jika Ibu dan Ayah ingin mengatakannya, kalian pasti akan mengatakannya."
Ayah dan Ibu menghela nafas mereka mendengar jawabanku.
"Teman lama Ayah dan keluarganya akan berkunjung dan bertamu kesini nanti malam. Kita akan makan malam bersama di rumah." jelas Ayah.
Aku mengangguk anggukan kepalaku.
"Apa kakak juga akan pulang ?" tanyaku.
"Ya, Ayah sudah menyuruh kakakmu untuk pulang."
Sarapan sudah tertata di meja makan, para pelayan kembali ke dapur.
Aku hanya mengangguk. Ibu mengambilkan semua makanan kesukaanku. Aku baru sadar, makanan yang tertata di meja makan ini, kebanyakan adalah makanan kesukaanku.
Selesai sarapan, Aku pamit pergi ke kantor.
" Hati hati di jalan, sayang." Ayah mengusap kepalaku lembut.
"Iya, Ayah"
Bergantian, kini Ibu yang mencium pipi kanan dan kiriku.
"Jangan lupa, pulang lebih awal" ucap Ibu.
"Baik, Bu"
Aku berjalan keluar rumah. Pak Budi segera membuka pintu mobil untukku.
Setibanya di kantor, Aku bergegas masuk ke ruanganku. Anne yang sudah menungguku di depan meja resepsionis, mengikutiku ke ruanganku.
Ku duduki kursi kebesaranku dan mulai berkutat dengan berkas berkas dan segala pekerjaanku.
"An, Aku akan pulang lebih awal hari ini. Tidak ada jadwal pentingkan ?"
"Kebetulan sekali. Tidak ada jadwal yang begitu penting."
"Baiklah"
Drrt..Drtt Ponselku bergetar. Ibu menelpon. Segera kuangkat telponnya.
"Iya, Bu."
"Sayang, Ibu akan ke kantormu nanti siang." terdengar suara dari seberang.
"Untuk apa, Bu ?"
"Ibu akan menemanimu belanja hari ini"
"Tidak perlu Bu. Aku tidak sedang ingin belanja."
"Tidak sayang. Kau perlu baju baru untuk nanti malam."
"Tapi, Bu.."
"Tidak ada tapi tapian.. "
Tutt..tuuut. Ibu menutup telponnya.
Huft. Aku menghela nafas panjang dan sedikit memijit pelipisku.
"Anda baik baik saja, Nona ?" tanya Anne padaku. Yah, tentu saja padaku karena tidak ada orang lain lagi disini.
"Hemm, Aku baik... An.."
"Iya, Nona"
"Kosongkan semua jadwalku setelah makan siang."
"Eh, ah Iya, Nona" jawab Anne gelagapan. Mungkin dia heran dan terkejut ? ku tebak pasti dalam hatinya ia merasa aneh padaku.
Aku melihat laporan rapat kemarin. Laporan ini menunjukkan peningkatan yang lumayan pesat dari periode sebelumnya.
Aku merasa bangga dengan ini. Ini membuktikan kinerja perusahaan kami meningkat semakin baik. Hal ini membuatku semakin semangat untuk bekerja dan membuat pencapaian lainnya.
Kerja, pencapaian. Itulah prioritasku saat ini, setelah kedua orang tuaku.
Tidak ada yang kupikirkan saat ini selain meningkatkan kinerja dan pencapaian pencapaianku, agar kedua orang tuaku bangga padaku. Aku tidak mengerti hal lain lagi yang membuat orang tuaku bangga.
Seperti saat aku masih seorang pelajar dulu. Peringkat satu, itulah prioritasku saat itu. Belajar, belajar dan belajar. Peringkat satu adalah suatu keharusan untukku. Karena hal itu membuat orang tuaku bangga padaku.
Bisa dikatakan aku hampir tidak punya teman. Meski masih ada beberapa orang yang mengajakku mengobrol. Tapi, aku tidak tahu apakah mereka menganggapku sebagai temannya atau tidak. Firasatku mengatakan, tidak. Tapi aku tidak peduli.
Setiap kali teman sekelasku mengajakku bermain ke suatu tempat, aku selalu menolaknya dengan alasan belajar.
Akibatnya, banyak yang tidak menyukaiku. Mereka memanggilku 'Dry Ice' karena ketidak pedulianku.
Apa aku salah, pikirku. Aku hanya ingin belajar dan mereka ingin bermain. Tentu tujuan kita berbeda. Jadi, sudah seharusnya aku menolaknya. Karena hal itu hanya akan mengganggu waktu belajarku dan aku tidak suka itu.
Aku mengakhiri pikiranku yang melayang layang. Aku harus bekerja.
Bersambung..