Dry Ice

Dry Ice
Part 21


Happy Reading...😘


Aku sudah tidak bisa fokus lagi melihat film yang sedang di putar itu. Aku menikmati suasana ini, suasana yang kurasakan saat Aku berada di dekat Mas Fahmi.


°


°


°


Tawa Mas Fahmi pecah saat kami sudah berada di Mobil dalam perjalanan pulang. Jujur Aku merasa malu.


"Sudah puas ketawa nya?" Tanyaku datar.


"Ahaha.. iya puas. Hahaha.. ternyata ada juga hal yang membuatmu bereaksi dan memperlihatkan ekspresi takutmu"


Selama ini tidak ada yang tau apa yang Aku sukai atau apa yang membuatku takut kecuali keluargaku. Tanpa sadar Aku memalingkan wajahku menatap jalanan melalui jendela mobil dan melamun.


Ego ku terusik. Aku adalah orang yang begitu menghargai diriku. Selama ini, tidak ada orang yang berani menertawakanku -kecuali Kakakku tentunya.


Orang-orang tak ada yang berani menatapku remeh. Selain karena status keluargaku, kemampuanku juga karena sifatku yang bisa dibilang dingin dan cenderung terlihat tak ramah.


Saat Mas Fahmi menertawakanku, Aku merasa agak terhina? Ego ku terluka. Mungkin Aku berlebihan, tapi itulah yang kurasakan.


"Sha!"


"Ah, Eh I-Iya" Sungguh, Aku benar-benar kaget saat Mas Fahmi memanggilku sambil menepuk bahuku.


"Ah maaf, Aku tidak bermaksud membuatmu kaget"


Sepertinya reaksi kaget ku tak terkendali. Biasanya Aku selalu menyembunyikannya dibalik ekspresi datarku.


"Tidak apa" Jawabku datar.


"Kamu, marah? Maaf, Aku tidak bermaksud melukai perasaanmu" Mas Fahmi meminta maaf dengan tulus.


Aku menggelengkan kepalaku. Bagaimana bisa Aku marah setelah mendengar permintaan maaf tulusnya?


Tembok kokoh yang membuatku selalu membatasi diriku dan membuat ego ku semakin tinggi, sepertinya mulai rapuh.


Tembok itu yang membuatku semakin kuat sekaligus membuatku tak pernah merasa perlu untuk peduli pada orang lain. Hanya untuk menang dan menjadi nomor satu. Tapi, Mas Fahmi berhasil mengikis sedikit demi sedikit tembok tebal dan tinggi itu.


"Mau jalan-jalan dulu ke taman sebelum pulang?" Tanya Mas Fahmi.


"Boleh" Jawabku. Entahlah, rasanya Aku tidak ingin menolaknya.


Kami duduk di sebuah kursi taman yang lumayan teduh karena berada di samping sebuah pohon rindang. Tak jauh dari sana, ada sebuah stand ice cream yang dikerumuni banyak orang.


Mulai dari anak-anak, remaja sampai orang tua. Mereka berdesakan untuk membeli ice cream itu.


Aku menatap pemandangan itu, merasa heran. Padahal mereka tidak perlu berdesakan seperti itu, apa mereka tidak merasa itu membuang-buang tenaga? Huft. Apa yang Aku pikirkan? benar-benar tidak berguna.


"Apa Kamu mau ice cream? Sebentar, Mas akan membelinya untukmu"


"Tid..." Belum selesai dengan kalimatku, Mas Fahmi sudah beranjak pergi untuk membeli ice cream. "padahal Aku tidak memintamu membelikannya, Aku tidak menginginkannya"


"Eh, Non Risha?" Seseorang menepuk bahuku dan tiba-tiba saja duduk di sebelahku.


"Ya, siapa ya?" Tanyaku


"Aku Sinta, orang yang Non Risha beri pekerjaan" Jelasnya.


Ah ya, Aku ingat. Gadis itu rupanya. Namanya Sinta, ya. Aku memang tak pandai mengingat orang.


"Oh iya, ternyata Nona suka ke tempat seperti ini juga, ya?"


"Tidak juga"


"O-oh"


"Apa yang Kamu lakukan disini?" Tanyaku berbasa-basi, walau mungkin basi beneran. Seharusnya Aku tidak perlu menanyakannya, tentu saja untuk menikmati waktu akhir pekannya, kan?


"Itu, Aku bekerja sambilan disini. Menjaga stand" Jawabnya ceria. "Lumayan, kan. Dari pada Aku membuang-buang waktu di akhir pekanku, Aku bisa mendapat tambahan penghasilan"


Hebat, Aku kagum padanya. Kerja kerasnya mengingatkanku pada diriku sendiri. Bedanya, sepertinya Dia orang yang ceria, ramah dan mudah bergaul.


"Ini, Sha. Eh, siapa Sha?" Tanya Mas Fahmi melihat seorang gadis yang duduk di sebelahku sambil menyodorkan ice cream dalam wadah sedang.


"Saya teman Nona Risha" "Dia karyawan di kantorku" Jawab kami bersamaan.


"O-oh" Jawab Mas Fahmi meski terlihat masih bingung dengan jawaban kami.


"Duduk, Mas?" Tanyaku sambil menepuk kursi samping kiriku. Mas Fahmi mengangguk kemudian duduk disamping kiriku


"Oh iya, Dia siapa, Nona?" Tanya Sinta dengan menaik turunkan alisnya, ekspresi wajahnya yang nampaknya ingin menggodaku mengingatkanku pada Kak Rasha


Mas Fahmi mengambil ice cream di tanganku kemudian menyendoknya dan menyodorkannya di depan mulutku. Aku menerima suapan dari Mas Fahmi.


"Dia suami saya" Jawabku jujur dengan ekspresi datarku.


"Sha, apa ini tidak apa?" Tanya Mas Fahmi. Aku mengangguk untuk meyakinkannya.


"Pernikahan kami masih baru. Saat Aku pertama kali bertemu denganmu, saat itu Aku belum menikah" Ntah kenapa, rasanya Aku tidak keberatan untuk menceritakan pernikahanku padanya.


"Ooh, begitu ya..."


"Emm, Sinta, boleh Aku minta satu hal padamu?" Tanyaku kemudian menerima suapan -lagi- dari Mas Fahmi.


"Tentu, apa itu?"


"Bisa Kamu rahasiakan tentang pernikahanku?" Pintaku.


"Tidak masalah" Jawabnya santai tanpa mempertanyakan permintaanku.


"Baiklah, terima kasih" Ucapku.


"Oh iya" Tiba-tiba gadis itu -Sinta- berdiri dari duduknya. Tangan Mas Fahmi yang hendak menyuapiku lagi menggantung di udara.


"Aku harus segera kembali" Ucap Sinta. "Ngomong-ngomong, kalian pasangan yang sangat serasi" Lanjutnya dengan tersenyum.


"Apa tidak masalah memberitahu orang lain tentang kita? Bukankah Kau ingin merahasiakannya?"


"Tidak apa. Siapa yang ingin merahasiakannya? Aku hanya tidak mempublikasikannya"


"Apa bedanya itu? Bukankah sama saja?"


"Tentu saja berbeda. Buktinya Aku memakai cincin pernikahan kita. Jika Aku ingin menyembunyikannya, bukankah Aku tidak akan memakai cincin ini?"


"Ah iya ya. Kau benar juga"


Aku merebut ice cream dari tangan Mas Fahmi. "Aaa..." Aku menginteruksikan agar Mas Fahmi membuka mulutnya. Mas Fahmi menerima suapanku.


"Em, sebentar" Mas Fahmi nampak merogoh sesuatu dari kantong saku celananya. Dia mengeluarkan handphone-nya.


"Foto, yuk!" Ajak Mas Fahmi.


Aku berpikir sejenak. "Baiklah" Jawabku kemudian.


Mas Fahmi mendekatkan wajahnya dengan wajahku, kulit wajah kami bersentuhan.


Cekrek


Cekrek


Mas Fahmi memeriksa hasil jepretan kameranya. Dia tersenyum.


Sesampainya di rumah, Bi Mina nampaknya sedang menyiapkan makan siang di dapur.


Mas Fahmi menaiki tangga menuju kamar. Sedangkan Aku, setelah menyimpan tas kecilku di meja makan dan mengikat rambutku, Aku menghampiri Bi Mina di dapur.


"Apa ada yang bisa saya bantu, Bi?" tanyaku sambil mencuci tanganku di wastafel.


"Ah, tidak usah Nona. Biar Bibi yang siapkan"


"Tidak Bi, saya ingin membantu"


"Baiklah, Apa Nona bisa mengupas kentang ini?" Tanya Bi Mina.


"Baiklah" Jawabku mulai mengupas kentang.


"Ini mau dimasak seperti apa kentangnya, Bi?" Tanyaku masih sibuk mengupas kentang.


"Itu mau dibikin perkedel, Non. Kesukaan den Fahmi"


"Ooh. Ini setelah di kupas diapain lagi, Bi?" Tanyaku lagi


"Setelah di kupas, selanjutnya di kukus. Kemudian kita haluskan Bawang merah, bawang putih, lada dan pala, kemudian haluskan juga kentang yang sudah di kukus tadi bersama bumbu yang sudah dihaluskan tadi"


"Setelah itu, sudah selesai kah?"


Bi Mina terkekeh mendengar pertanyaanku yang kulontarkan lagi dan lagi.


"Belum, Non. Setelah dihaluskan, kentangnya kita campur dengan telur lalu di goreng sampai matang"


"Emm, sepertinya mudah mudah susah ya, Bi"


"Memangnya kenapa, Non?"


"Susahnya itu ribet, mesti di kukus, di haluskan terus masih harus di goreng juga. Prosesnya lumayan ya, Bi"


"Iya Non. Tapi kalo sudah terbiasa, tidak akan terasa susah dan ribet, Non."


Baiklah, Aku akan berusaha..


Bersambung...