Dry Ice

Dry Ice
Part 27


Happy Reading...!


😉😘


"Tidak apa, Risha, tidak perlu malu. Tidak apa kalo kau cemburu" Ucap Anne sambil merangkul bahuku.


"Tandanya kau benar-benar mencintainya, ya..." Bisik Anne di telingaku membuatku agak merinding?


Si*lan kau An..


Arghh, Apa-apaan sikapku tadi, memalukan.


"Aku harus pergi sekarang" Ujar Anne yang segera melengang pergi memasuki mobil miliknya. Dia membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangannya padaku sambil tersenyum ceria. Aku hanya menatap kepergiannya.


Setelah kulihat mobil An menjauh dari pekarangan rumah, segera Aku masuk dan menutup pintu. Aku bersandar di pintu.


Plak


Kedua telapak tanganku mendarat di kedua pipiku dengan mata tertutup.


"Non!"


"Ah, iya" Jawabku seketika, mataku langsung terbuka.


"Kenapa, Bi?"


"Non tidak apa-apa?" Tanya Bi Mina dan berhambur memeriksa wajahku.


"Pipi Non agak merah. Kenapa Non menyakiti diri sendiri?" Bi Mina nampak khawatir, Aku hanya tersenyum melihatnya.


"Tidak apa, Bi. Itu cuma untuk menyadarkan diri sendiri, Bi. Bibi tidak usah khawatir. Risha tidak apa-apa" Aku berusaha menampilkan senyum terbaikku.


Bi Mina mengusap lembut pipiku.


"Tidak apa, Bi. Ini tidak sakit kok"


"Kalau den Fahmi melihatnya, Dia pasti khawatir"


"Tidak Bi. Mas Fahmi tidak akan menyadarinya" Ucapku sambil menggenggam tangan Bi Mina berusaha meyakinkan nya.


Lagian ini tidak seberapa, Mas Fahmi tidak akan menyadarinya. Tapi, kalo Bi Mina saja bisa melihatnya, apa Mas Fahmi juga...? Ah tidak, sebentar lagi bekasnya hilang dan Mas Fahmi pasti sedang istirahat sekarang.


"Risha mau lihat Mas Fahmi dulu, Bi" Ucapku pada Bi Mina yang diangguki Bi Mina.


Aw...sshhh Kupikir sakit di kakiku sudah lebih baik. Tapi, saat menaiki anak tangga rasanya jadi lebih sakit.


Dari tadi, Aku sudah menahannya. Seharusnya, sekarang juga bisa ku tahan.


Aku berhenti sejenak di anak tangga ke-empat, sekedar memberi kekuatan pada kakiku.


"Non!"


"Hm" Sontak Aku berbalik dan menatap Bi Mina.


"Kaki Non..."


"Tidak apa, Bi. Risha jatuh kepeleset dikit, dikiit kok Bi. Gak seberapa ini mah...Akhhh"


Brukkk


Aku jatuh-lagi. Aku salah, seharusnya Aku tidak gegabah. Aku melangkah sembarangan dengan kaki ku yang sakit.


"Astagfirulloh, Non. Non nggak apa-apa?"


"Non"


"Non"


Suara Bi Mina perlahan mulai meredup, pun dengan penglihatanku.


°°°


°°


°


Fahmi POV


Aku berbaring dan menutup mataku sepeninggal Risha dan temannya -Anne.


Aku harus mengatakannya pada Risha, Aku tidak mau Risha meninggalkanku.


Meski mataku terpejam, tapi Aku tidak benar-benar tidur. Risha sedang mengantar Anne ke bawah, Aku hanya menatap kosong pada langit-langit kamarku sampai Aku merasa bosan sendirian.


"Aakhhhh"


Mataku langsung melotot, Itu...suara Risha? Kenapa? Ada apa dengannya? Aku harus melihatnya.


"Risha!" Kulihat Bi Mina berusaha membangunkannya dan terus memanggil manggil namanya. Aku menuruni tangga secepat yang kubisa. Risha sudah tergeletak di pangkuan Bi Mina.


"Risha, bangunlah...sayang. Di- dia, kenapa Bi?"


"A-anu den...non Risha ja-jatuh dari tangga"


"Bantu saya angkat Risha, Bi" Pintaku pada Bi Mina. Aku merasa lemas, tapi Risha membutuhkanku.


Bi Mina membantuku mengangkat Risha dan membaringkannya di tempat tidur.


"Terima kasih, Bi"


"Sama-sama, den. Sebaiknya den Fahmi juga istirahat, aden kan belum sehat benar"


"Baiklah, Bi. Tapi sebelum itu, bisa tolong hubungi dan minta dr. Arkan kesini?"


Ku belai lembut kepala Risha, ku kecup keningnya agak lama. Kau akan baik-baik saja, kan?


"Syukurlah" Gumamku lirih setelah ku pastikan masih terasa hembusan nafas dari hidungnya.


Tok tok tok


Itu pasti Arkan.


"Masuk"


Benar saja, setelah pintu terbuka, nampak sosok Arkan yang berjalan menghampiriku.


"Hei dude! Ada apa ini? Tadi pagi Aku baru saja memeriksamu dan sekarang...sepertinya kau sudah lebih baik" Arkan mengernyitkan sebelah alisnya.


"Tolong periksa istriku!"


"Kenapa dengan istrimu? Tadi pagi, Dia masih baik-baik saja, kan?" Tanya Arkan sambil berjalan ke sisi ranjang di sebelah Risha.


"Dia jatuh dari tangga"


---


"Tidak perlu khawatir. Dia pingsan karena syok dan sepertinya kepalanya terbentur sedikit, dan lagi..."


"Kenapa?"


"Sepertinya Dia jatuh tidak hanya sekali"


"Apa maksudmu?"


"Kau lihat kakinya?" Arkan menunjuk kaki Risha yang nampak agak biru.


"Ah maaf, Nona memang bilang katanya Dia terpeleset sedikit" Bi Mina menyela.


"Begitu, ya. Secara keseluruhan, tidak ada yang serius. Tapi, pastikan Dia tidak memaksakan kakinya, dan jika ada keluhan lagi, periksalah ke Rumah sakit"


"Baiklah. Terima kasih"


Setelah selesai, Aku meminta tolong pada Bi Mina untuk mengantar dr. Arkan sampai depan. Sedangkan aku? Kuputuskan untuk berbaring di samping Risha dan kupandangi dengan puas wajah Risha sebelum menutup mataku.


End POV


Risha membuka matanya perlahan. Langit-langit kamar yang pertama kali Ia lihat nampak tak begitu asing baginya.


Ini, di kamar. Kenapa Aku malah tidur? Mas Fahmi? Batin Risha setelah Ia sadar.


Risha langsung bangkit dari posisi tidurnya. Dia lihat Fahmi juga tidur di sampingnya.


Huft. Kenapa kepalaku terasa pusing? Refleks tangank Risha memegang kepalanya.


"Kepalamu sakit?" Tanya Fahmi yang sudah terduduk dari posisi tidur nya dan menatap Risha, nampak wajah Fahmi yang khawatir.


"Sedikit Mas. Kenapa Mas bangun? Mas istirahat saja" Risha mendorong pelan tubuh Fahmi agar tidur kembali.


"Mas sudah baikan, kamu yang perlu istirahat. Untung saja kamu sudah bangun. Bagian mana lagi yang sakit?" Fahmi memeriksa tubuh Risha.


"Tidak Mas. Tidak ad.. Ahh" Pinggangku sakit. Kenapa ya? Risha bertanya-tanya dalam batinnya.


"Ah, kenapa? Mana yang sakit? Ini? Yang ini? Atau yang Ini?" Fahmi memeriksa dengan menyentuh beberapa bagian tubuh Risha. Nampak sekali kecemasan dalam raut wajahnya.


"Pinggangku agak sakit, Mas. Kenapa, ya? Padahal Aku gak ngapa-ngapain, cuma..." Risha berpikir sejenak... Ah iya, Aku ingat. Aku jatuh saat menaiki tangga dan setelah itu...Aku terbangun sudah berada diatas tempat tidur?


"Mas yang membawaku kesini?"


"Hm? Yah, Mas mendengar suara jeritan kamu dari bawah. Saat Mas periksa, Mas lihat, Kamu berada di pangkuan Bi Mina yang sedang berusaha membangunkanmu"


"dr. Arkan bilang, tidak ada yang serius. Tapi, Kamu tidak boleh memaksakan menggunakan kakimu dan harus periksakan ke Rumah sakit kalau ada yang terasa sakit"


"Yah, kita harus segera periksa ke Rumah sakit. Ayo bersiaplah!"


"Tidak..tidak, tidak perlu Mas. Cuma sakit sedikit kok. Risha bisa istirahat di rumah"


"Terima kasih, Mas" Ucap Risha sambil menatap lekat manik mata Fahmi.


"Tidak perlu berterima kasih" Fahmi menggenggam tangan Risha dan mengusapnya lembut.


"Jangan terus menatapku seperti itu" Kata Fahmi selanjutnya dengan sedikit tersipu.


"Kenapa? Mas tidak suka?"


"Tidak, bukan seperti itu..."


Grep


Mas Fahmi menarik Risha kedalam pelukannya. Risha hanya mematung tanpa membalas pelukannya. Hingga Dia mendengar helaan nafas Fahmi.


"Jangan terlalu memaksakan diri. dr. Arkan bilang, mungkin kamu..jatuh, tidak hanya sekali, benar?"


"Itu..."


Fahmi melepaskan pelukannya. Dia memeriksa kakiku. Eh, kenapa jadi bengkak begitu?


Sshh, Risha meringis saat Fahmi mengusap kakinya.


"Sakit?" Tanya Fahmi, yang Risha jawab dengan anggukan kepala.


"Lalu ini..." Fahmi membelai pipi Risha "Pipi kamu agak merah, apa terbentur sesuatu saat jatuh?"


Bersambung...