Dry Ice

Dry Ice
Part 25


Happy Reading...😘


Sesaat kemudian, Mas Fahmi menahan tanganku. Dia menghapus air mataku dan membawaku kedalam pelukannya.


"Maaf sudah membuatmu menangis. Tolong berhentilah, Aku tidak sanggup melihatmu menangis"


Mas Fahmi mengusap-usap punggung dan kepalaku lembut, berusaha menenangkanku. Tapi, ntah kenapa tangisanku semakin menjadi. Aku membalas dekapannya dan menumpahkan semua perasaanku, menangis sepuasnya karena setelah ini, Aku tidak boleh menangis lagi.


"Maaf" Berkali-kali ucapan itu terlontar dari mulutnya.


Beberapa menit sudah berlalu, tangisanku mulai mereda, hanya tersisa isakan kecil. Tangan Mas Fahmi masih mengusap lembut punggungku, sesekali Dia mengecup pucuk kepalaku.


Tok tok tok


Kami melepaskan pelukan kami saat mendengar ketukan di kaca mobil. Aku memperbaiki penampilanku, membersihkan bekas air mata di wajahku dengan tisu.


Mas Fahmi membuka kaca mobil yang diketuk.


"Ya, K-Kenapa ya Pak?" Tanya Mas Fahmi saat melihat seseorang dengan seragam abu-abu nya yang rapi.


"Anda berhenti di tempat yang tidak seharusnya, Pak. Ini bukan tempat untuk parkir, bisa perlihatkan surat-surat nya?" Pintanya pada Mas Fahmi dengan tegas dan berwibawa tanpa mengurangi kesopanan.


"O-Oh Iya maaf Pak, ini" Mas Fahmi memperlihatkan SIM dan STNK-nya.


°


°


°


Huft, Aku menjatuhkan tubuhku diatas ranjang empuk ini. Ah, hari yang panjang.


"Mas" Panggilku saat Mas Fahmi memasuki kamar. Dia baru saja dari ruangan kerjanya. Kulihat jam menempel di dinding kamar sudah menunjukkan pukul 10 malam, Aku juga baru saja mengecek beberapa pekerjaanku.


"Ya, Kamu belum tidur?" Tanyanya padaku. Kulihat wajah Mas Fahmi yang nampaknya sangat lelah.


Aku menggeleng. "Mas, sepertinya sangat lelah, Mau Risha ambilkan air?"


Huft, tetap saja Aku tidak bisa tidak peduli pada Mas Fahmi.


"Boleh" Jawabnya dengan tersenyum.


"Terima kasih" Ucapnya saat Aku melewati tempatnya berdiri. Aku berbalik dan tersenyum tipis padanya.


Mungkin, selama ini Aku kurang memperhatikan Mas Fahmi, sehingga Mas Fahmi tidak percaya padaku dan menyebabkan Mas Fahmi menyembunyikan sesuatu dariku.


Aku kembali ke kamar dengan segelas air di tanganku. Saat Aku membuka pintu kamar, kulihat Mas Fahmi sudah berbaring di ranjang dengan mata terpejam.


"Sepertinya Aku terlalu lama" Gumamku. Kuletakkan segelas air itu diatas nakas yang berada disamping ranjang.


Kuhampiri Mas Fahmi yang sudah tertidur. Kubelai lembut kepalanya dan kuperhatikan raut wajahnya saat tertidur. Dahinya berkerut, apa yang sedang Mas pikirkan? Apa tentang perkataanku tadi siang?


Bulu matanya yang teranyam sangat indah, hidung mancungnya dan rahang tegasnya, semua itu juga tak luput dari penglihatanku. Serta, bibir seksinya yang juga begitu...Uh, apa yang kupikirkan? Aku memejamkan mataku untuk menyingkirkan fantasi liarku dan kutarik lenganku dari kepalanya.


Aku mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur yang berada diatas nakas, kemudian ikut berbaring disamping Mas Fahmi. Ku pejamkan mataku berusaha beralih ke alam mimpi. Bayangan saat Mas Fahmi bersama wanita lain di cafe tadi siang, melintas di kepalaku membuat mataku kembali terbuka.


kulirik Mas Fahmi yang sudah terlelap, dahinya masih saja berkerut. Apa mimpi buruk, ya?


Sesaat kemudian, Dia berbalik ke arahku dan lengannya melingkar di perutku, menarikku semakin menempel padanya.


"Mas" Panggilku lirih


"Emm" Mas Fahmi membuka sedikit matanya, kemudian menutupnya lagi dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku. Hangat, hembusan nafasnya terasa hangat menerpa kulitku.


Benar juga, suhu tubuh Mas Fahmi terasa lebih hangat dari biasanya.


"Mas, sakit?" Tanyaku sambil menempelkan punggung tanganku di dahinya. Hangat.


"Gak apa-apa. Cuma sedikit pusing, nanti pasti lebih baik setelah tidur" Jawabnya. Kuusap dengan lembut lengan yang melingkar di perutku.


Tak lama kemudian, terdengar suara nafas teratur, sepertinya Mas Fahmi sudah tidur. Setelah itu, Aku juga ikut terlelap.


Ma-maaf... jangan, jangan pergi...jangan


Siapa? Suara siapa itu? Mas Fahmi? Samar-samar Aku mendengar suara seseorang yang mirip dengan suara Mas Fahmi.


Jangan pergi...jangan


Aku mengerjapkan mataku setelah kudengar suara itu lagi dan lagi. Dalam cahaya remang-remang, kuambil handphone yang kusimpan diatas nakas dan kulihat jam di handphone ku menunjukkan pukul 2 dini hari.


"Mas?" Panggilku, memastikan apakah Mas Fahmi masih tidur.


Jangan pergii....


Sepertinya, Mas Fahmi mengigau?


Jangan tinggalkan Aku


"Tidak akan, Aku tidak akan pergi" Ucapku, sambil mengusap kepala Mas Fahmi untuk menenangkannya.


Namun, badan Mas Fahmi bergetar, suhu tubuhnya bertambah panas dan agak berkeringat. Sepertinya Dia demam?


"Mas"


Tidak ada jawaban. Bagaimana ini? Ini masih jam 2 malam, gak enak kalo menelepon dr. Arkan sekarang. Ah ya, Aku akan mengompres Mas Fahmi.


Perlahan kuangkat lengan Mas Fahmi dari perutku dan segera bangkit untuk mengambil air untuk mengompres Mas Fahmi.


Brukk


Karena menuruni tangga dengan tergesa-gesa, Aku terpeleset dan jatuh. Auwh, kakiku sakit. Tapi, Aku tidak begitu mempedulikannya.


Sebelah tanganku membuka pintu kamar dan sebelah tanganku membawa se-baskom kecil air hangat. Ku letakkan air itu di meja dan mencari-cari sapu tangan untuk mengompres Mas Fahmi.


Ku letakkan sapu tangan yang sudah ku basahi di dahi Mas Fahmi. Ku genggam tangan Mas Fahmi yang terasa hangat di tanganku. Berkali-kali ku ganti kompresan itu.


°


°


°


Oh, Aku ketiduran. Mas Fahmi mengusap kepalaku lembut membuatku terjaga dari tidurku.


"Mas sudah bangun? Apa yang Mas rasakan? masih pusing?"


Bahkan Mas Fahmi masih tersenyum dalam keadaannya yang seperti ini.


"Mas tidak apa-apa, Mas hanya merasa lelah dan lemas"


"Aku akan memanggil dr. Arkan untuk memeriksa Mas"


Tak lama kemudian, dr. Arkan sudah tiba dan mulai memeriksa Mas Fahmi.


"Bagaimana, Dok?" Tanyaku. dr. Arkan tersenyum.


"Tidak apa-apa, hanya butuh istirahat saja. Oh iya, jangan terlalu memaksakan diri dan jangan terlalu banyak pikiran. Ini saya berikan resep obat dan vitamin"


"Baiklah, terima kasih Dok" Ucapku


"Terima Kasih, dokter" Ucap Mas Fahmi.


"Bi, tolong antarkan dr. Arkan kedepan" Pintaku pada Bi Mina.


"Baik, Non" dr. Arkan berlalu di antar Bi Mina.


Ku foto resep yang di tuliskan dr. Arkan dan ku kirimkan pada Anne, meminta Dia untuk membelikannya dan mengantarkannya kesini.


Anne : Nona, sakit?


Saya : Tidak, An. Mas Fahmi yang sakit.


Anne : Baiklah, Nona. Lalu, kemana saya harus mengantarkannya?


Ku kirimkan alamat rumahku dan Mas Fahmi.


Saya : Cepatlah


Anne : Baik, Nona


"Mas mau makan apa?" Tanyaku.


Mas Fahmi menggeleng perlahan. Aku duduk di ranjang dan ku genggam tangan Mas Fahmi.


"Mas harus makan, ya? Biar cepat sembuh"


"Tapi..."


"Baiklah, Mas tidak usah makan dan Risha juga tidak akan makan"


Mas Fahmi agak tersentak dengan ucapanku. "Baiklah" Ucapnya kemudian.


"Bubur?" Mas Fahmi mengangguk.


"Baiklah, Mas tunggu sebentar"


Aku turun ke dapur dan meminta Bi Mina untuk membantuku membuat bubur. Aku tidak mau mengambil resiko dengan membuat bubur tanpa bantuan Bi Mina. Tentu saja kontribusi Bi Mina lebih besar dalam membuat bubur ini.


"Terima kasih, Bi"


"Sama-sama, Nona. Tidak perlu sungkan-sungkan. Panggil saja Bibi kalau Non membutuhkan sesuatu"


"Baiklah, sekali lagi terima kasih" Bi Mina tersenyum padaku dan mengusap bahuku, menyalurkan kekuatan padaku.


Bersambung...