Dry Ice

Dry Ice
Part 11


Happy Reading..!


Jan lupa berikan dukungannya ya..😉


👉 Like


👉 Comment - Krisan


👉 Vote


👉 Rate5


Beberapa saat kemudian, segelas Jus Alpukat itu sudah habis. Kuletakkan gelas kosong itu di meja.


Aku duduk dengan menyandarkan punggungku di sofa. Fahmi mencondongkan tubuhnya padaku, wajahnya berada tepat di depan wajahku.


"A-Ada apa?" Tanyaku gelagapan. Aku tidak tahu, tapi sepertinya jantungku berpacu lebih cepat dari beberapa saat yang lalu.


Sementara mataku menatap lekat matanya, Aku merasakan sentuhan lembut di tepi bibirku. Sebuah desiran terasa menyengat dalam tubuhku.


"Ada sedikit bekas Jus di bibir kamu" Ucap Fahmi yang kemudian membersihkan bekas di jempolnya dengan mulutnya. Aku memalingkan wajahku.


"Atau mau mas bersihkan dengan mulut mas langsung?" Goda Fahmi yang berhasil membuat mataku membulat.


"Mesum" Ucapku sambil menutup mulutku dengan punggung tanganku.


Fahmi terkekeh melihat reaksiku dan menarik tubuhnya kembali ke posisi semula. Aku menyentuh bibir yang disentuh Fahmi. Sensasi desiran tadi rasanya terbayang kembali di pikiranku.


Segera ku enyahkan pikiran pikiran itu.


Aku bangkit dari posisiku dan berjalan menuju Handphone yang ku simpan di atas nakas di samping tempat tidur. Aku duduk di tepi ranjang dengan Handphone di genggamanku.


Baru saja Aku hendak mengecek pekerjaanku saat Fahmi merebut Handphone di tanganku.


"Bukannya Kamu mau istirahat?" Tanya Fahmi


"Ya, sebentar lagi" Jawabku dan berusaha meraih Handphoneku yang kini ada di tangan Fahmi.


"Setelah menyentuh pekerjaan, Kamu pasti akan lupa waktu dan melupakan waktu istirahatmu" Ucap Fahmi tegas.


"Mas, sebentar saja, ya?" Pintaku dengan lembut berharap Fahmi luluh dan memberikan Handphone ku. Tapi, Fahmi terus saja menjauhkan Handphone itu dari jangkauanku.


"Tidak sayang. Barusan kau hampir tertidur pasti karena sedang lelah, kan?. Jadi, istirahatlah dulu sebentar." Fahmi mengucapkannya tak kalah lembut dariku.


"Kamu berani mengatur aturku?" Nada suaraku berubah, maksudku sengaja kuubah. Datar dan dingin.


"Ya? Mas hanya tidak mau kalau kamu terlalu lelah"


"Heh.. Baru sehari kita menikah dan Kamu sudah berani mengatur atur hidupku? Apa Kamu begitu percaya diri bahwa Aku akan menerimamu dan menuruti perkataanmu?" Aku mengatakannya dengan enteng dan begitu jelas. Entah kenapa Aku mengucapkan hal itu. Aku hanya tidak mau dipaksa.


"O-oh..Maaf, Aku tidak bermaksud memaksakan kehendakku" Fahmi menyerah dan memberikan Handphone itu kembali.


Aku senang akhirnya Dia menyerah dan mengembalikan Handphone nya. Tapi, setelah itu Fahmi hanya duduk diam di sofa dan mengotak atik Handphone nya juga.


Entahlah, tapi rasa bersalah menelusup dalam hatiku. Apa Aku sudah berlebihan? Apa ucapanku telah menyakitinya?


Fahmi.. Arghh Aku jadi tidak bisa fokus sama sekali.


"Mas.." Panggilku pelan dan sepertinya Fahmi tidak mendengarnya.


"Mas Fahmi, kenapa Kamu diam saja?" Tanyaku


"Ah.. eh iya Aku gak apa apa" Jawabnya


"Terus, kenapa sedari tadi diam saja?" Tanyaku, lagi.


Fahmi tersenyum. "Aku hanya tidak ingin mengganggumu saja" Jawabnya lagi. Aku tersadar, Fahmi menggunakan 'Aku' saat bicara barusan, biasanya Dia selalu menggunakan 'Mas'.


Rasanya hal ini menggangguku. Aku tidak tahu, tapi sikapnya ini membuatku merasa.. agak kurang nyaman?


"Maaf" Ucapku "Maaf jika perkataanku ada yang menyakitimu"


"Hm, tidak perlu meminta maaf seperti itu. Aku yang salah karena.."


"Tidak, Mas. Aku salah, sekarang Kamu suamiku. Mau tidak mau, suka tidak suka, Aku harus menghormatimu. Itu yang Ibu ajarkan padaku"


Iya, itulah yang Ibu ajarkan. Aku tidak boleh membuat Ibu kecewa dan sedih.


"Hem.. Baiklah. Mas maafkan"


He!?


Udah, langsung dimaafin gitu aja?


Fahmi bangkit dari duduknya, sepertinya Ia akan keluar. Segera Aku menghampirinya..


"Maaf, Mas sudah benar benar memaafkan Aku, kan?" Kataku dengan memeluk Fahmi dari belakang.


"Terima kasih" Ucapku


Fahmi berbalik dan memegang kedua bahuku "Mas yang harus bilang terima kasih dan juga maaf karena Mas tiba tiba datang dalam hidup kamu"


"Terima kasih, Sha. Maaf atas kelancanganku yang telah berani melamarmu dan mungkin Aku sudah mengusik hidupmu"


Apa yang kamu katakan? Mengapa pembicaraannya jadi seperti ini? Aku hanya ingin memastikan bahwa Kamu telah benar benar memaafkanku. Mengapa pembicaraannya agak..


"Jika Aku memang semengganggu itu bagimu,.."


Jangan bilang kau mau mengatakan..


"Mungkin lebih baik.."


Tidak, kumohon jangan..


"Sepertinya kau memang tidak mau menerimaku.."


Bukan, bukan seperti ini..


Ayah, Ibu.. Tidak. Ayah dan Ibu akan..


"Sepertinya, lebih baik.. Tidak usah kita lanjutkan"


..Kecewa


Tidak.


Ayah dan Ibu tidak akan menyukai ini.


Bulir air bening jatuh dari mataku. Aku berusaha menahannya, tapi Ia lolos begitu saja


"A-Apa yang.." Aku menyeka air mataku.


"Jadi, Mas cuma mau mempermainkan Aku? Yah, sepertinya begitu. Mas tiba tiba datang dan sekarang tiba tiba akan pergi lagi? Mas tidak benar benar.."


"Tidak, bukan begitu Sha. Aku benar benar mencintaimu. Jika tidak, mengapa Aku sampai nekat melamar dan menikahimu?"


"Apa kamu tahu, betapa Aku bahagianya saat kamu bilang mau menerima ikatan ini, Sha. Meskipun pada akhirnya Kamu sendiri bilang, bahwa Kamu menerimanya hanya karena Orang tuamu. Tapi, Aku yakin Aku akan bisa membuatmu menerimaku."


Lalu kenapa, apa sekarang kau sudah menyerah? Air mata sialan ini jatuh lagi dan lagi, tak bisa kuhentikan.


"Tapi sepertinya, Aku hanya akan membuatmu menderita dengan memaksamu terus bersamaku dan menerimaku, sedangkan dalam hatimu Aku tak pernah ada."


Aku menggelengkan kepalaku.


"Jadi, apa yang Kamu inginkan, Sha?" Fahmi bertanya dengan pelan, suaranya seperti bergetar.


Mungkin Aku memang egois jika memintanya. Tapi..


"Bertahanlah. Jika ini tidak dilanjutkan, apa yang akan terjadi dengan Ayah dan Ibu. Aku tidak mau mengecewakan mereka" Selalu Ayah dan Ibu lah alasan yang ku katakan, meski ada alasan lainnya. Aku terlalu malu dan belum yakin jika Aku mengatakan Aku mulai menyukaimu.


Yang pasti, Aku tidak mau kehilanganmu secepat ini. Ada banyak hal yang ingin ku ketahui dari dirimu. Aku tidak tahu apa Aku benar menyukaimu atau tidak. Apa bisa menyukai seseorang secepat ini? Aku masih belum yakin. Tapi, untuk saat ini Aku ingin terus bersamamu.


"Baiklah. Lagian, mulai besok Kita hanya akan tinggal berdua. Jadi, Kamu tidak akan perlu berpura pura menerimaku seperti disini. Ayah dan Ibu tidak akan melihat Kita disana. Kita hanya perlu mempertahankan pernikahan ini." Jelas Fahmi


Aku mengangguk setuju. Ku dengar, Fahmi menghela nafasnya. Fahmi, maaf. Aku juga akan berusaha untuk menerimamu.


"Jika pada akhirnya, Kamu masih tidak bisa menerimaku, atau kamu sudah menemukan Orang yang kamu cintai, Aku akan membebaskanmu dari ikatan ini."


Nyut..


Hatiku berdenyut ketika Fahmi mengatakan tentang melepaskanku. Huft. Ini pasti menyakitkan untukmu.


Maaf..


Maaf...


Fahmi menyeka air mata di pipiku, Dia bahkan masih bisa tersenyum. Aku memegang tangannya yang menyeka air mataku, kusimpan dalam genggamanku. Tak sengaja Aku melihat cincin pernikahan yang melingkar di jari manisku.


Aku memandangi cincin itu agak lama dan sepertinya Fahmi juga ikut memandangi cincin di jariku.


"Jika Kamu tidak suka, Kamu bisa menyimpannya, tidak perlu memakainya."


"Aku akan memakainya" Ucapku. Fahmi masih tersenyum.


"Jika Aku tidak memakainya, nanti mereka curiga bahwa ada sesuatu yang tidak beres" Lanjutku.


Deg.. deg..


Lagi lagi, Aku beralasan seperti itu.


Bersambung..