
Happy reading..
Jan lupa dukungannya ya..😉
👉 Like, comment, vote sama rate5 jga..
Terima kasih😘
Hari ini, Mas Fahmi akan berangkat ke kantor. Aku berpikir, mungkin sebaiknya Aku juga segera bekerja lagi.
Aku sudah memutuskan, besok akan bekerja lagi dan mengakhiri masa cuti ku.
Mas Fahmi sudah siap dengan kemeja Abu nya dan celana dengan warna senada. Aku mengambil dasi yang akan dipakai oleh Mas Fahmi.
"Biar Aku yang membantumu" Ucapku dan tanganku mulai beraksi melaksanakan tugasnya, memasangkan dasi.
"Terima kasih" Mas Fahmi tersenyum padaku.
"Hm" Jawabku sambil fokus memasangkan dasi.
"Eh Mas. Sarapannya gimana? Kamu bilang gak ada bahan masakan, kan?" Tanyaku dengan tangan yang masih sibuk merapikan dasi dan memakaikan Jas pada suamiku.
Ternyata Mas Fahmi sangat tampan. Apalagi saat memakai setelan dengan Jas seperti ini. Saat pernikahan juga Mas Fahmi memakai tuxedo putih, tapi saat itu Aku tidak begitu tertarik untuk memperhatikannya. Saat itu juga, pasti tampan seperti ini, kan?
Ah, kenapa Aku jadi memikirkan hal ini? Aku pasti sudah gila.
"Gimana kalo kita sarapan diluar?"
"Eh, hah?!"
"Sebelum ke kampus, Mas ke kantor Papa dulu, sebelum ke kantor Kita bisa ke Restoran buat sarapan. Atau, Kita bisa pesan sarapan dari kantor, Kamu ikut ke kantor Mas"
"Emm" Aku berpikir sejenak. Apa Aku ikut aja ya?
"Emang boleh ikut ke kantor Kamu, Mas?"
"Ya boleh dong, masa gak boleh. Kamu kan istri Mas"
Di rumah juga sendiri..
"Baiklah. Aku akan siap siap"
Selesai mengganti pakaianku dengan celana panjang dan baju lengan panjang, setelan yang biasa kupakai untuk bekerja. Rambutku kubiarkan tergerai.
"Aku sudah siap Mas" Ucapku
"Baiklah. Sepertinya Kita sarapan di kantor Papa aja ya? Ada yang harus Mas kerjakan" Mas Fahmi berkata tanpa menoleh kearahku, Dia tampak sibuk dengan telepon genggamnya.
"Mas" Panggilku sambil menepuk bahunya. Entah kenapa Aku ingin Mas Fahmi melihat penampilanku.
"Eh iya" Sontak Mas Fahmi menatapku. Sesaat kemudian Ia tersenyum.
"Cantik" Ucapnya seolah mengerti yang Aku inginkan.
"PT Green Alfa Tbk" Gumamku saat Mas Fahmi berhenti di depan sebuah gedung.
"Ini kantor Papa?" Tanyaku
"Iya. Papa memintaku untuk membantunya mengurus perusahaan ini. Kenapa?" Tanya Mas Fahmi seolah membaca ekspresi wajahku.
"Ah tidak. Sepertinya Aku tahu perusahaan ini"
"Benarkah?"
"Tapi entahlah. Apa benar perusahaan ini atau bukan. Ah sudahlah, Bukankah ada yang harus Kamu kerjakan Mas?"
"Eh iya, Ayo turun. Sarapannya nanti biar di pesankan sama sekretarisku" Ucap Mas Fahmi.
Mas Fahmi menggandeng tanganku mengajakku masuk. Beberapa karyawan yang melihat Kami nampak memberikan salam kemudian berbisik bisik. Ah tapi, Aku tidak peduli. Toh Dia suamiku, kan?
Eh?! Kalo begitu, Aku sudah mengakui bahwa Mas Fahmi suamiku? Tapi itu memang benar kan? Huft..
"Selamat pagi, Pak" Sapa seorang wanita cantik, sepertinya Dia sekretaris yang di maksud Mas Fahmi.
"Pagi, El" Sapa Mas Fahmi. Wanita itu melirik ke arahku.
"Ini istri saya, Risha. Risha, ini sekretaris Mas, namanya Ellaine"
"Risha, salam kenal" Ucapku sambil mengulurkan tangan kananku.
"Salam kenal, Nyonya. Saya Ellaine" Ucapnya dan menjawab uluran tanganku. Dia tersenyum manis, lesung pipinya menambah porsi cantiknya.
Aku hanya tersenyum tipis dan mengikuti Mas Fahmi masuk ke ruangannya.
"Cantik, kan Mas?"
"Siapa? Kamu memang cantik, sayang" Ucap Mas Fahmi yang sudah duduk di kursi kebesarannya. Aku duduk di sofa yang tersedia.
"Maksudku Sekretaris Mas" Jawabku datar.
"Ellaine? Ya dia juga cantik"
Jleb
Ah ternyata bukan hanya Aku yang cantik di mata Mas Fahmi. Rasanya agak.. gimana ya?
"Tapi, Kamu tetap yang paling cantik" Lanjut Mas Fahmi disertai senyuman andalannya.
Wajahku terasa agak panas, tapi Aku berusaha menetralkannya dengan ekspresi datarku.
"Ah iya El. Tolong pesankan sarapan seperti biasa untuk 2 orang dan pesankan juga Jus Alpukat" Mas Fahmi sepertinya menelepon sekretarisnya untuk memesankan sarapan.
"Oh iya, jam berapa Mas ke kampus?"
"Jadwal hari ini kalo gak salah, jam 10 an. Oh iya, Kamu mau langsung pulang atau gimana?"
"Emm. Kayaknya Aku.. pulang aja deh Mas"
°
°
"Kamu yakin pulang sendiri? biar Mas antar ke rumah ya? Mas masih ada waktu sebelum ke kampus"
"Nggak usah Mas. Aku bisa naik Taxi sendiri"
"Tapi Mas khawatir, sayang"
"Khawatir gimana sih Mas. Kalo gak ada Taxi, Aku bisa telp Pak Budi buat jemput Aku"
"Baiklah. Nanti telepon Mas kalo sudah sampai rumah"
"Iya Mas"
"Sha.."
"Hm?"
"Kemarilah" Pinta Mas Fahmi. Aku menghampiri Mas Fahmi.
Mas Fahmi bangkit dari duduknya dan Kami sudah berdiri berhadapan. Mas Fahmi memegang kedua bahuku. Ia menatap mataku intens
"A-Ada apa, Mas?"
"Boleh cium?" Aku terdiam sebentar mendengar pertanyaan Mas Fahmi. Aku mengangguk juga pada akhirnya.
Tangan Mas Fahmi menarik pinggangku membuat jarak diantara kami terkikis. Dia mendekatkan wajahnya membuatku merasakan hembusan nafasnya di wajahku.
Bibir lembutnya sudah menempel di bibir kecilku. Dia mengecupnya dengan lembut, Aku terbuai dengan kelembutannya hingga Aku membuka mulutku dan membiarkan lidahnya masuk.
Aku mengalungkan tanganku di lehernya dan entah kapan Aku mulai membalas ciumannya meski terasa kaku dan memperdalam ciumannya. Ciuman itu menjadi semakin panas, tangan Mas Fahmi mulai bergerilya.
Aku merasa geli saat tangan Mas Fahmi mengabsen setiap lekuk tubuhku. Sebelah tangannya merayap dan meraup payudaraku.
Ahh...sh
Aku mendesis saat Mas Fahmi mrem*s buah dadaku. Aku merasakan sensasi yang aneh, bagian intiku rasanya bersenyut. Sesuatu yang keras terasa menusuk di perut bawahku.
Milik Mas Fahmi sepertinya juga menegang. Aku menarik lenganku dari leher Mas Fahmi membuatnya melepaskan ciuman panas kami. Kami mengatur nafas yang terasa tidak beraturan.
Mas Fahmi menarikku lagi, menempelkan dahinya dengan dahiku, Masih dengan nafas tak beraturan Ia berkata..
"Terima kasih.. Boleh Aku meminta lebih?" Tanyanya
Aku menarik diriku dari Mas Fahmi. "Mas, Kamu akan terlambat. Sebaiknya Aku segera pulang" Aku mengalihkan topik kemudian mengambil tangan Mas Fahmi dan mencium punggung tangannya.
Cup
Mas Fahmi mencium keningku.
"Take care" Ucapnya tersenyum lembut. Aku mengangguk.
Aku sedikit merapikan pakaianku sebelum meninggalkan ruangan Mas Fahmi.
"Sampai jumpa di rumah" Ucap Mas Fahmi mengerlingkan sebelah matanya. Aku tidak membalasnya, segera ku balikkan tubuhku dan keluar dari ruangan Mas Fahmi dengan jantung yang berdebar.
Sebelum pulang ke rumah, Aku menyempatkan untuk belanja bahan masakan. Aku sudah berjanji bahwa Aku akan belajar.
Aku memilih beberapa sayuran, daging dan telur dan yang lainnya yang mungkin diperlukan.
"Oh, ada Nyonya Fahmi Prayoga, sedang berbelanja ya?" Sebuah suara yang familiar tertangkap indera pendengaranku.
Suara ini.. Aku berbalik ke arah sumber suara.
"Hai, Adik"
"Kak Rasha? Kenapa ada disini? Siapa Dia?" Tanyaku beruntun melihat Kak Rasha disini dan bersama seorang wanita cantik.
"Kau menanyakan kenapa Aku disini dan siapa ini. Tapi tidak bertanya kabarku? Kau sungguh adik yang durhaka" Ucapnya dengan ekspresinya yang menggelikan.
"Kakak ada disini, itu berarti Kak Rasha baik baik aja kan? Jadi, Aku tidak perlu berbasa basi menanyakan kabar" Kataku datar.
"Ishh, Kau ternyata belum berubah sama sekali, ya?"
Ehm.. Wanita disamping Kak Rasha berdehem.
"Oh iya, Ini Dysa teman Kakak. Dysa ini Risha, Adikku satu satunya" Kak Rasha memperkenalkan Kami.
"Dysa" Ucapnya sambil mengulurkan tangannya padaku.
"Risha" Jawabku dan membalas uluran tangannya singkat. Aku merasa tidak suka dengan aura wanita ini.
"Bagaimana kabar Fahmi dan pernikahan kalian?" Tanya Kak Rasha.
"Baik, begitulah"
Bersambung..
Bila ada kesamaan Nama tokoh, tempat, alur. Itu adalah unsur ketidak sengajaan dari Author..🙏🙏