
Seorang pemuda tinggi semampai berdiri tepat di depan kantor kepolisian. Menelisik seluruh dari bangunan itu. Mengambil napas dalam sebelum akhirnya menginjakkan kakinya di lantai dalam--bangunan besar itu. Menghampiri sebuah meja dengan nama si pemilik yaitu, Andi Pratama. Orang itu mendongakkan wajahnya demi untuk melihat pria yang menghampirinya itu. Kemudian mempersilahkan pria itu duduk di hadapannya.
“Ada yang bisa saya bantu?”
Pemuda ini masih terdiam sejenak seraya menarik napas dalam.
“Aku bukan pengecut.” Andi menampilkan smirknya.
Sementara di lain tempat. Seorang pria tengah bersiap-siap untuk berangkat ke tempat yang sama. Sang istri dan anak-anaknya menangis, tidak rela kehilangan orang yang mereka sayangi. Namun nasib berkata lain, bagaimanapun harus tetap bisa terima keadaan.
“Aku akan menunggumu pulang! Bagaimanapun kau adalah suamiku!” ujar Nia.
“Ayah! Cepatlah pulang, huhuhu... kami akan merindukanmu!” sambung sang anak, Ferry, seraya memeluk erat sang ayah sebelum kepergian.
“Tenanglah! Ayah tidak sendirian di sana. Jaga diri kalian, yah,” pesannya.
*-*-*-*-*
“Setiap orang pasti punya rasa takut. Takut mati, takut sakit, takut tidak dianggap atau diakui, takut disepelekan, dan lainnya. Akan tetapi, tidak semua orang dapat melampaui ketakutan itu. Jika tidak mau mengakui kesalahan hanya karena takut dijauhi orang lain, maka hukumannya adalah jauh dari orang lain. Mengapa? Karena itu sama dengan kebohongan. Setiap manusia akan selalu berbohong demi menutupi kebohongan sebelumnya. Oleh sebab itu, dia akan mencari cara untuk tetap berbohong sampai hayatnya. Maka, orang-orang seperti itulah yang disebut pengecut. Mereka tidak berani mengakui kesalahan dan lebih senang menyimpan kedustaan.”
“Aku tahu kau bukan sebagian dari mereka, jadi akui kesalahanmu itu jauh lebih mulia,” anjur Yunus terhadap Akbar.
Sehari sebelum penyerahan diri. . . . .
Akbar masih belum bisa menutup kedua kelopak matanya. Ia hanya ingin memandang Aisyah yang tertidur di sampingnya. Tangannya menggenggam tangan sang wanita membuat Aisyah tersadar akibat sentuhan itu.
“Kau belum tidur?”
“Ada sesuatu yang mengangguku.”
“Apa itu?”
“Saat aku pergi, kau akan tetap mencintai dan menungguku, ‘kan?”
Aisyah tersenyum dan mengangguk membuat hati Akbar sedikit tenang. Pria ini pun memeluk tubuh sang istri dan mengecup dahinya seraya memejamkan mata.
3 bulan kemudian . . . .
Mobil sedan putih berhenti di pekarangan rumah Aisyah, lalu si pemilik keluar dan langsung menyapa Aisyah yang ada di halaman rumahnya asik menyiram bunga.
“Bibi Reha,” ujar Nissya.
“Assalamu alaikum!”
“Walaikum salam, Bi, ada apa? Kok kayaknya terburu-buru begitu?” tanya Nissya.
“Iya nih, Bibi mau bilang sama kakak kamu kalau ada seseorang yang mau donorin matanya buat kamu, Aisyah.”
“Wah, Bibi serius?” tanya Nissya.
“Iya.”
“Alhamdulillah!” ucap Nissya dan Aisyah bersamaan.
Seminggu setelah penantian. . . .
2 pemuda tangguh datang memasuki rumah sakit yang begitu besarnya. Menaiki lift menuju lantai 3 ruang operasi mata. Dengan ditemani Dokter Arman, Aisyah menunggu pendonornya. Tidak berapa lama orang yang mendonorkan datang juga ke hadapan orang tua Aisyah dan mertua angkatnya. Yunus yang saat itu melihat langsung terkejut. Ternyata orang yang mendonorkan matanya untuk Aisyah adalah ....
“Akbar Daulay!” seru si perawat.
“Yah, saya di sini.”
“Mari masuk!”
Akbar tersenyum sebentar dan masuk ke ruangan untuk ganti baju. Setelah usai ia pun berbaring di samping kasur pasien milik Aisyah. Kepalanya terus menghadap sang istri yang sudah 3 bulan ia tinggalkan. Tanpa disadari, jarum suntik menyucuk lengannya dan saat itu kondisi retina mata mulai mengabur. Sebelum akhirnya kelopak mekelop penuh dan tidak sadarkan diri lagi.
Flashback on.
Sebelum Akbar menyerahkan diri sepenuhnya. Dia meminta ijin pada Andi untuk mendonorkan matanya kepada Aisyah. Walau ia tau sulit untuk keluar penjara saat itu.
“Kenapa kau melakukannya?”
“Karena aku mencintai istriku.”
“Baiklah! Akan aku coba. Tapi saat itu kau dalam pengawasanku,” ucap Andi.
“Aku mempercayakannya padamu.”
Flashback off.
Di puncak menara yang sama saat terakhir kali mereka pergi ke sana untuk berbulan madu. Namun kali ini ia pergi sendirian. Menikmati embusan angin yang menerpa wajah dan mengibarkan jilbab besarnya. Di balik mata itu terpantul keindahan kota yang asri dan di balik senyum itu tersimpan kenangan yang pasti. Eifel, menjadi saksi kisah cinta Aisyah & Akbar. Mawar yang digenggam Aisyah, itulah sebagai bentuk rasa cinta seorang Akbar terhadapanya, yang terkubur di dalam hatinya.
“Nak, kau bisa terima ‘kan—kalau suamimu seorang pengedar narkoba dulunya?”
“Bagaimana bisa aku tidak terima. Aku sudah lebih dulu mengetahui itu daripada kalian. Jauh saat aku pertama kali mengenali Akbar.”
Flashback on.
“Suara boriton ini, aku sangat mengenalinya. Kau yang menyusup masuk waktu itu, ‘kan?”
“Nona kau lihat seorang pengedar narkoba lewat sini?”
Suara dering ponsel dan tapakan kaki di subuh hari tempat Hanum dan bunga-bunganya tinggal. Menjadi awal perjumpaan mereka, karena saat itu juga Aisyah harus menghentikan mengajinya dan menyelidiki siapa yang berjalan di antara rumah itu.
“Aku harus pesan bunga sekarang jika tidak pacarku akan marah.”
“Aku, adalah seorang pengedar narkoba.” Akbar mengakuinya tepat di hadapan Yunus dan Herman.
“Tapi percayalah, aku mencintai putrimu dengan tulus. Seluruh harta yang kuberikan adalah yang halal.”
Flashback off.
*-*-*-*-*
“Akbar Daulay! Bersiaplah, seorang pengunjung datang untukmu!” seru penjaga penjara.
Akbar merasa senang, begitu pula dengan Cecep yang langsung memegang tangan Akbar.
"Bi Reha datang lagi."
"Iya, aku juga pengen tanya kabar Aisyah saat ini," ujar Akbar senang.
"Ya udah, temui sana!"
Akbar mendatangi ruang temu di penjara dengan dibantu petugas di sana. Setelah sampai di tempat, Akbar langsung didudukkan di hadapan seorang perempuan. Bibir merah muda perempmudaitu tersenyum. Di tangannya memegang tangkai mawar merah.
"Senang bisa ketemu Ibu lagi di sini. Oh ya, Akbar boleh tanya kabar Aisyah, tidak?"
Keadaan hening sejenak. Buliran air itu turun dari pelupuk matanya. Isakan juga terdengar di telinga Akbar.
"Ibu, menangis?"
Aisyah menggenggam tangan Akbar masih dalam isakan tangisnya. Kemudian mawar tersebut dibalutnya dengan tisu di bagian tangkainya dan dipegangkan di tangan Akbar.
"Apa ini?"
"Selamat ulang tahun, Sayang."
Mendengar ucapan itu membuat Akbar tersentak kaget. Ternyata prasangkanya salah. Sebab yang datang bukan Reha, melainkan Aisyah.
"Aisyah, kamu ...," Akbar kehabisan kata-kata.
"Aku kangen sama kamu."
"Tapi siapa yang beritahu kamu kalau aku di sini?" tanya Akbar tidak menyangka.
"Aku sudah tau sejak lama soal kamu. Kamu tidak perlu sembunyiin itu lagi, Bar. Sedari awal aku tau siapa kamu. Cuma aku percaya karena aku tau itu memang tulus."
Selain Aisyah, Akbar juga ikut menangis terharu. Tidak terbayangkan, orang yang dirindukannya muncul di hadapan juga. Akan tetapi matanya sudah tidak bisa melihat raut wajah sang istri.
"Aku juga kangen sama kamu, Aisyah. Terima kasih udah ingat ulang tahunku. Padahal aku tidak memberitahumu."
"Alisa yang memberitahuku. Aku ke sini menggantikan Bu Reha karena sebuah tujuan."
"Apa itu?" bingung Akbar.
"Aku hamil. Ini udah bulan yang ke empat. Sebulan setelah kepergianmu, aku positif hamil."
Senang bukan main. Akbar mengucapkan hamdalah yang sebesar-besarnya. Bersyukur dengan nikmat yang diberikan.
♡•♡•♡•♡•♡
28 tahun hidup dalam dunia yang gelap. Kemudian dalam lima bulan terakhir Akbar merasa jauh lebih hidup. Ternyata kebahagiaan itu sederhana. Cukup ikatan kepercayaan saja lebih dari cukup. MasyaAllah!
T.A.M.A.T