My Love From The Sky

My Love From The Sky
Katakanlah, hempaskanlah


Benda itu menyala di kala sang pemilik menekan lama tombol power. Menelisik isi telepon genggam yang sudah jadul itu. Di sana langsung muncul begitu banyak panggilan tidak terjawab dalam kartunya. Namun dia tidak mempedulikan itu semua. kartu itu di cabut dan dibuang karena sudah tidak berguna baginya.


4 bulan kemudian . . . .


Rambut itu terhempas angin dan bergerak bagaikan rerumputan ilalang. Kacamata hitamnya menutupi ketampanan yang tersirat. Dengan segelas kopi instan di atas sebuah menara yang tidak asing bagi setiap orang yang memandangnya. Menara tersebut memiliki pijakan kaca yang langsung terlihat jurang tinggi di bawah sana. Sedang di sisi kiri ujung, seorang pria dan wanita terlihat ketakutan saat hendak menapakkan kaki mereka di jembatan kaca transparan itu.


“Ayah, Ibu! Berapa lama lagi aku akan menunggu kalian?! Lihatlah antrian di belakang!”


“Ya udah, biarkan mereka duluan. Sayang ayo ke pinggir,” ajak Cecep. Ferry anak remaja mereka lebih dulu menginjakkan kakinya di lantai transparan itu.


“Eh, kau mau ke mana?”


“Aku tidak penakut seperti kalian. Lihat Kak Akbar, dia santai berada di atas kaca itu.” Akbar tersenyum mewah saat Ferry menunjuknya.


“Iya, tapi ....” Ferry berjalan dengan santainya menghampiri Akbar.


“Ada apa?” tanya Akbar melihat wajah kecewa anak dari temannya itu.


“Jika Kakak punya orang tua seperti ayah dan ibuku, bagaimana?”


“Entahlah. Memangnya kenapa?”


“Aku malu punya orang tua yang kampungan seperti mereka.”


Akbar melihat ke arah Cecep dan Nia yang masih saja ketakutan di sana.


“Membawa mereka jalan-jalan bersama seperti membawa ransel yang penuh dengan barang tidak berguna. Hanya beban.”


“Ssstt! Mereka datang. Jika mereka dengar kau akan kena omelan ibumu.”


Kedua orang tua Ferry sampai di sampaing mereka. Menatap pegunungan hijau yang juga jeruh. Cecep berteriak karena telah berhasil menaklukkan rasa takutnya. Sedangkan Nia berteriak melihat keindahan dari atas menara, di Cina itu.


“Sayang, ayo foto bersama. Moment kayak gini tidak bisa dilupakan. Akbar, cepat fotokan kami,” pinta Nia menyodorkan handphone canggihnya.


“Ferry! Ikutlah dengan ayah dan ibumu,” saran Akbar.


“Aku tidak mau.”


“Ya udah, tidak apa-apa. Fotokan kami berdua saja, Bar,” ujar Cecep.


“Oke, bersiap—senyum!”


Cekrek!


Akbar mengembalikan handphone Nia dan melihat keserasian Cecep membuatnya sedikit tenang. Setidaknya masih ada cinta sejati di dunia ini. Walau susah tetap bersama dalam tawa dan sedih. Kemudian irisnya melihat Ferry yang tampak menjauh dengan wajah gelisah. Akbar pun mendekatinya yang dirundung rasa kesal.


“Seharusnya kamu itu beruntung punya orang tua yang harmonis!” seru Akbar.


“Beruntung apanya? Harmonis tapi kampungan,” jawab Ferry jutek.


“Namanya juga tidak pernah jalan-jalan ke tempat yang indah dan ekstrim begini. Mereka biasanya kerja buat menghidupi anak-anak mereka dan menuhi keinginan anak mereka."


“Seharusnya kamu tetap bangga, di luar sana belum tentu ada orang tua yang seromantis juga sebaik  mereka. Yang hanya peduli sama anak.”


“Walau kadang mereka sering buat malu—tapi saat bersama mereka kita berasa ada, itu yang harusnya kamu cari.”


*-*-*-*-*


Pesawat mendarat di bandar udara Soekarno-Hatta. Pemuda dan remaja dengan style modis keluar membawa koper bersamaan dengan pria yang membawa istrinya di belakang mereka. Akbar tampak begitu menawan dan membuat banyak pasang mata para ladies terkagum-kagum. Dengan celana hitam, kemeja biru lengan digulung sesikut, dua kancing teratas terbuka membuat kesan menarik yang dilengkapi dengan kacamata, jam tangan, dan sepatu pantofel. Tiba-tiba langkahnya terhenti membuat yang di belakang menyudruk punggungnya.


“Akbar! Apa yang kau lakukan?” protes Cecep saat hidungnya menabrak bahu kekar temannya itu.


“Alisa! Ayo, apa lagi yang kamu tunggu?”


Alisa melanjutkan langkahnya menghampiri sang ayah dan berjalan berdampingan. Cecep yang melihat itu mencoba menenangkan Akbar dengan mengelus punggungnya.


“Ayo, pergi,” ajaknya Cecep.


Namun bukannya pergi, Akbar malah menghampiri keluarganya itu. Pemuda 27 tahun ini langsung menghentikan langkah kedua orang terdekatnya. Hendra dan Alisa terdiam dalam pijakan terakhir mereka. Awalnya sedikit bertanya-tanya tapi saat suara boriton itu ambil suara ....


“Papa.” Keduanya langsung terkejut.


“Kak Akbar!” Alisa yang sadar langsung memeluk sang kakak. Sedangkan Hendra dilanda ketakutan juga kegelisahan.


“Papa dan Alisa ke mana saja?” tanya Akbar seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


“Kami mau ke—“ Ucapan Alisa dipotong.


“New Zeland.” –Hendrik.


“Sayang, itu calon mertuanya Akbar?” tanya Nia.


“Bukan. Tapi Ayahnya.”


“Benarkah?! Kok tidak pernah cerita?”


“Ceritanya panjang. Sebaiknya ayo tunggu di luar bandara.”


Keheningan yang menyapa ketiganya ditepis Akbar akhirnya.


“Mau ngapai? Kalau begitu Akbar temani?” tawarnya dengan rasa kecewa sebenarnya.


“Tidak perlu! Lagipula, kenapa kau masih begitu baik padaku dan Alisa? Kupikir kau sudah benar-benar melupakan kami. Ada apa?! Apa kau bosan hidup seperti itu?” ketus Hendrik.


“Papa, kalau ngomong itu jangan sembarangan dong,” tegur Alisa.


“Minggirlah, kami akan telat.” Hendrik mendorong tubuh Akbar menyingkir.


“Ayo Alisa!”


• • •


Akbar keluar dari bandara dan langsung disambut oleh Cecep sekeluarga.


“Bagaimana? Apa kata mereka?” tanya Cecep. Akbar hanya bergidik.


“Bar, maaf yah, Kakak tidak tahu kalau kau ternyata anak broken home. Kakak sempat meresahkanmu saat kau datang,” ujar Nia.


“Tidak masalah. Aku hargai itu.”


“Aku juga minta maaf yah, Kak. Aku akan lebih sayang sama orang tua dan nuruti Kakak.”


“Ini bukan acara kata-kata terakhir, ‘kan? Kenapa kalian jadi sedih juga. Sudah, ayo pulang.”


Jari lentik itu mengetik sebuah memo dalam catatan di gadget miliknya. Dengan begitu mantap otaknya memikirkan setiap kata yang pantas untuk di tulis. Setiap kata memiliki makna yang begitu dalam. Pemuda yang memiliki watak keras tapi lembut di dalam memulai storynya dari sini.


Isi dari memo tersebut adalah :


Menjadi penjahat ternyata susah. Namun mau berubah dari keburukan itu juga sulit. Selalu dibuat berpikir kembali. Apakah ini yang namanya kehidupan? Seseorang pernah berkata, ‘Kau ingin mencari Tuhan? Maka cobalah cari dengan nalurimu sendiri. Tuhan itu ada dan itu ada dalam dirimu. Kau punya kebaikan maka itu adalah perintah Tuhanmu. Kau punya keburuan maka itulah kemauan Setanmu’. Namun saat ini aku dibingungkan dengan Tuhan dan Setan yang tidak bisa kukendalikan. Aku percaya Tuhan ada. Sejak aku menemukan oang yang dapat mengubahku secara perlahan. Mereka adalah orang yang kuanggap keluarga. Pak Herman, Bu Reha, Rizka, Aisyah, Pak Yunus, mereka kerabatku yang baik. Cecep, Nia, Ferry, juga kerabat baikku. Aku ingin berubah Tuhan, tapi dengan satu syarat yaitu tunjukkan siapakah jodohku? Usiaku bulan depan adalah 28 tahun jika kau menjawabnya di hari ultahku, maka aku akan langsung melamarnya dan menikah. Aku juga bosan hidup sendiri. Aku sudah puas menikmati masa lajangku ini. Aku rasa cukup sampai di sini, karena aku malu menulis ini sendiri. Amin!


~Bersambung~